Kisah Seorang Nenek di Cina yang Melafalkan Amitabha Sampai Akhir Hidupnya

Kisah  Nyata  seorang  perumah tangga biasa, seorang nenek  di cina yang  bernama  Zhao Rung Fang.  Panggilan nya SeMu. Berusia  94 tahun, sejak tahun 1994 Menganut ajaran  Buddha,  vegetarian dan rajin melafal nama Buddha Amitabha. Dia menjalani ajaran Buddha selama 5 tahun.  Pada tanggal 12 april 1999, dini hari,  dia meninggal saat sedang melafal Buddha Amitabha.

Setelah  dikremasi, tubuh dan tulangnya menghasilkan relik yang luar biasa. Berupa biji relik, bunga relik,  dan tulang yang membentuk rupang Buddha beserta teratai tempat berdirinya Buddha. Ini sungguh luar biasa. Keajaiban yang nyata dan tak terpikirkan.

SeMu lahir pd thn 1906, lahir di keluarga Guan Huan. Masa sekolahnya, dia anak yang baik hati, ramah, dan sopan.

Pada tahun 1987 mulai percaya Ajaran Buddha , seluruh keluarga dari anak , menantu, cucu dan istrinya, cicit semuanya juga mulai percaya Ajaran Buddha. Mereka semuanya vegetarian.

Pada tanggal 14 oktober 1994, SeMu datang ke Ning, dan tanggal 20 oktober 1994 bersama para Bhikkhu mulai belajar agama Buddha. Mulai rajin melafal nama Buddha dan vegetarian. Dia bahkan mengulanginya 40ribu kali.

Bhiksu Hung Yu berkata : “Buddha Amitabha adalah tabib tiada bandingannya. Tidak memohon pertolonganNya tergolong bodoh. Buddha Amitabha adalah obat A Qi Tuo, tidak gunakan berarti salah besar.”

Awalnya SeMu mengidap penyakit jantung akut dan maag, sejak melafal Nama Buddha Amitabha, kesehatannya mulai membaik.dan sejak tahun 1996, dia mulai berhenti mengkonsumsi segala jenis obat.

Menurut sutra Buddha , Melafal Nama Buddha bisa meringankan karma buruk dan menambah pahala kebajikan. Pada tanggal 15 bulan 7(penanggalan imlek), jam 3 subuh tahun 1998, Semu terbangun dan memandang keluar jendela, melihat Kwan Se Im Phu Sa(Avalokitesvara Bodhisattva) berjubah putih berada di udara, lalu sekitar jam 4 pagi, dia melihat cahaya terang, di dalamnya muncul Buddha Amitabha. Sejak itu, setiap malam sebelum tidur, SeMu selalu berdoa memohon agar dibawa menuju Alam Sukhavati Buddha Amitabha. Lalu pada akhir tahun lalu, dia berkata kepada semua orang , bahwa tahun depan dia akan meninggal. Sejak itu SeMu semakin mendalami pelafalan Nama Buddha Amitabha.

SeMu berkata : ” saat melafal Nama Buddha Amitabha, dia tidak berpikir apapun, sangat bebas.”

Mendekati waktu meninggalnya SeMu, pada suatu hari siang,
SeMu berkata : “waktuku sudah tidak banyak, sekali serangan penyakit datang, maka aku akan pergi.”
Keluarganya  bertanya : “kemana SeMu akan pergi?”
SeMu menjawab :” ke Alam Sukhavati Buddha Amitabha.”
Keluarganya bertanya :”apakah  kau yakin bisa kesana?”
SeMu menjawab dengan tegas dan semangat: “Yakin.”
Kemudian keluarga bertanya lagi : ” menjelang kematian, disekelilingmu mungkin banyak hantu dan roh jahat , semua menunggumu. Apakah kau tidak takut.”
SeMu menjawab: “tidak takut.”
Keluarga bertanya : “kenapa?”

SeMu menjawab : “Ada Buddha Amitabha.”

Maha guru Ying Guang mulai membacakan :

“Sesuai dengan 48 Ikrar  suci Agung Buddha Amitabha, orang yang berbuat kejahatan pun saat kematian tetap ditolong/disambut Buddha Amitabha. Apalagi SeMu seumur hidup begitu baik hati. Sekarang dia menuju kematian. Mana mungkin Buddha Amitabha tidak menjemputnya?”

Pada hari itu juga, seluruh bunga Mu tan di halaman bermekaran, burung-burung terus berkicau, SeMu terus memimpin semua orang yang hadir melafalkan Nama Buddha Amitabha. Semua ini sungguh menakjubkan. Ini pasti hasil pengaturan Buddha Amitabha.

SeMu juga telah melihat Alam Sukhavati telah hadir di hadapannya. SeMu beranjali dan bersikap sangat serius, sepenuh hati dan kekuatan melafal Nama Buddha Amitabha, begitu juga dengan semua orang yang hadir disitu. Saat itu, seluruh kamar terang benderang, sungguh penerangan tanpa batas, penerangan luar biasa, suara menjadi lembut merasakan ketenangan. Bukan SeMu saja yang melihat fenomena cahaya luar biasa itu, namun semua yang hadir disana juga melihat dan merasakan cahaya luar biasa ini.

Pada tanggal 12 April sekitar pukul 01.01 dini hari, SeMu mendadak bergerak  dalam tidurnya, dan keluarganya merasakan bahwa SeMu akan segera pergi. Anaknya berkata kepadanya : “Ibu, Engkau harus menuju Alam Sukhavati Buddha Amitabha.Engkau harus mengucapkan nama Buddha Amitabha.”

Anaknya tanpa sadar berteriak : “SeMu telah ke Alam Sukhavati.”

Semua yang hadir disana juga mengelilingi SeMu dan berteriak : “Namo Amitabha Buddha.”  Baru selesai bicara, dari belakang muncul cahaya terang, cahaya itu setinggi 1 meter 20 cm. ,menyebar di sekitar. Proses ini berjalan sangat cepat, hanya sekitar 1-2 menit. Setelah itu baru disadari bahwasannya SeMu telah berhenti bernapas. Akhirnya SeMu berbaring dengan damai, wajahnya mengembangkan senyum.

Setiap orang yang tahu melafal nama Buddha pasti mengerti. SeMu selalu berbuat baik. Anak cucunya sangat berbakti. Terima kasih Buddha telah membantu mengantarkan kepergian SeMu. Terima kasih atas belaskasih Buddha Amitabha. Terimakasih atas ajaran SeMu agar kami selalu melafal Nama Buddha. Terimakasih atas handai taulan yang membantu dengan tulus.

Pada tanggal 16 April 1999, banyak sekali orang yang datang ke bukit tempat dimana SeMu akan dikremasikan. Mereka datang untuk mendoakan SeMu. Semua orang yang berbuat baik akan menerima karma baik. Buddha memberkati orang yang berbakti padaNya sehingga bisa merasakan berkah yang diberikannya. Bagi orang yang melakukan perbuatan baik, tersiar kabar tempat ini adalah tempat yang suci, siapapun yang ikut dalam upacara ini, ataupun yang menonton video kaset ini, dan menyaksikan keajaibannya, akan bisa menjadi pengikut setia Buddha Amitabha.

Pada saat dikremasi, seberkas cahaya muncul di bawah, banyak cahaya kecil yang turun dari atas ke bawah, bagian atas muncul cahaya merah dan biru, udara sekitar terasa penuh.

Pada tanggal 18 April 1999,  diadakan pembukaan peti hasil kremasi tubuh SeMu. Saat itu, muncul pelangi di sebelah barat. Setelah dibuka, disadari dan disaksikan bersama-sama, tubuh SeMu selain menjadi abu putih, juga menjadi relik. Relik nya berupa relik kelopak bunga, relik biji-bijian, juga terdapat relik tulang yang berbentuk rupang Buddha sedang berdiri di atas teratai beserta dengan teratai Buddha sebagai tempat berpijak. Setelah diperiksa lebih detail, ternyata relik tersebut berbentuk tubuh seorang Buddha, berwajah Avalokitesvara Bodhisattva, tangannya berbentuk mudra tangan Buddha Amitabha. Kepalanya adalah Buddha Sakyamuni. Ini sungguh luar biasa.

SeMu sejak 20 oktober 1994, mulai mengahut ajaran Buddha.  Belajar Ajaran Buddha dijalani selama 5 tahun, menjalani jalan suci menuju alam sukhavati atas bimbingan Buddha.

Bhiksu Xia Lian bersabda :

“Seorang Buddha menjadi raja segala raja, berbagai godaan tak jadi penghalang. Awan Buddha menyelimuti seluruh langit. Dunia penuh dengan pancaran cahaya suci. Melafal Nama Buddha adalah satu-satunya obat penolong nyawa. Juga merupakan cara seorang Boshisattva menjadi Buddha . juga merupakan obat untuk membantu ketegaran dalam hidup. Karma baik yang diperoleh tidak terbatas, diperdebatkan ribuan kali pun tetap berkesimpulan yang sama.”

Orang yang baik dikasihi semua orang. Semasa hidup, SeMu selalu dibantu oleh putranya. Semasa tua, dikelilingi oleh handai taulan. Dibantu didekati dan dihormati oleh sahabat dan keluarga setelah meninggal, seluruh sahabat berdatangan beserta seluruh keluarga membantu membaca doa. Juga mendapat doa-doa dari bhiksu membantu SeMu untuk terlahir  di alam Sukhavati Buddha Amitabha mencapai kehidupan abadi. Kebaikan ini demikian besar dan tak terbalaskan. Hanya bisa menghaturkan ucapan terimakasih, kita dihimbau agar rajin melafal nama Buddha dan mencapai kebahagiaan sejati. Namo Amitabha. ¾»ÍÁͼ£ºÎ÷·½¼«ÀÖÊÀ½ç

[box type=”info” fontsize=”12″ radius=”10″]48 Ikrar Buddha Amitabha

1) Apabila aku telah menjadi Buddha,andaikata,jika masih terdapat Alam kesedihan seperti Neraka,setan kelaparan,hewan-hewan dan sebagainya dinegeriku,maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!.

2) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata usianya telah habis dan mereka masih diterjunkan di 3 alam Kesedihan, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!

3) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata semua badannya tidak berwarna emas sejati, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!

4) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata warna kulit dan jasmaninya tidak serupa, paras dari mereka juga berbeda-beda ada yang cantik dan ada yang jelek, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
5) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak menguasai pengetahuan Purvanivasanu ( daya yang dapat mengingat tumimbal-lahir yang lampau ), dan mereka hanya mengerti segala kejadian dari ratusan ribu Koti Nayuta Kalpa, , maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
6) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak memiliki Caksu (mata batin) dan mereka hanya biasa melihat ratusan ribu Koti Nayuta negeri-negeri Buddha, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
7) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak memiliki Divyasrotra (teliga Surga) dan hanya bisa mendengar khotbah-khotbah dari ratusan ribu Koti Nayuta Buddha dan banyak ajaran Buddha mereka tidak mampu menerima seluruhnya, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
8) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak memiliki pengetehuan Paracittajnana (daya intuisi), mampu membaca pikiran makhluk-makhluk dari ratusan ribu Koti Nayuta negeri-negeri Buddha, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
9) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak memiliki pengetehuan Rddhividhi (langkah Surga) dan mereka dalam selintas merenung hanya dapat mengarungi ratusan ribu Koti Nayuta negeri-negeri Buddha saja, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
10) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata mereka belum memiliki pengetehuan Asravaksaya (daya mampu memusnahkan kekotoran batin) dan mereka hanya memiliki ide-egois dan selalu memikirkan keperluan tubuh diri sendiri, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
11) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak ditempatkan pada Samyaktveniyatasi (hakikat mutlak untuk mencapai pahala yang sesuai Sang Praktek Dharma) agar semua dapat mencapai Nirvana, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
12) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata sinar hidupku terbatas sehingga tidak dapat memancar ratusan ribu Koti Nayuta negeri-negeri Buddha, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
13) Apabila aku telah menjadi Buddha, andaikata masa hidupku terbatas,meskipun sampai dengan ratusan ribu Koti Nayuta Kalpa, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
14) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Sravaka yang berada di negeriku, andaikata jumlahnya dapat dihitung oleh para pratyekabuddha yang berasal dari rakyat-rakyat di dunia Trisahasra-Mahasahasra Lokadhatu hingga lamanya ratusan ribu Kalpa, mereka dapat mengerti jumlahnya dan tidak salah hitung seorangpun, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
15) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, kehidupan atau usianya tidak terbatas,kecuali atas kehendaknya mereka senang panjang atau pendek, jika tidak demikian, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
16) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata diantara mereka kelakuan mereka terbukti kurang baik atau berdosa, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
17) Apabila aku telah menjadi Buddha, andaikata para Buddha yang berada di sepuluh penjuru dunia jumlah tak terhingga tidak memuliakan namaku, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
18) Apabila aku telah menjadi Buddha, para makhluk yang berada di 10 penjuru dunia setelah mendengar namaku lalu timbul keyakinan dengan riang gembira, ingin dilahirkan di negeriku dengan cara merenung atau menyebut namaku (Namo Amitabha Buddhaya!), andaikata setelah pelaksanaanya genap 10 kalitidak dilahirkan di negeriku, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha.Kecuali mereka telah memiliki dosa Pancanantarya (5 perbuatan durhaka ) dan pernah memfitnah Sad-Dharma dari para Tathagata.
19) Apabila aku telah menjadi Buddha, para makhluk yang berada di 10 penjuru dunia yang telah membangkitkan Bodhicitta (bercita-cita ingin mencapai Kebuddhaan dan ingin menyelamatkan para makhluk), telah mempraktekkan dan mengamalkan berbagai kebajikan dan Dharma,dengan ini mereka berjanji bertekad dilahirkan di negeriku.Pada saat mereka akan mengakhiri kehidupannya,andaikata aku tidak bersama-sama dengan rombonganku mengelilinginya serta menampakandiri di depan mereka, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha! Supaya aku menjadi perwira terunggul di Triloka!
20) Apabila aku telah menjadi Buddha, para makhluk yang berada di 10 penjuru dunia setelah mendengar namaku mengarahkan hatinya kepada negeriku dan menanam berbagai benih kebajikan, kemudian jasa-jasanya di-Parinamanakan (disalurkan) di negeriku.Andaikata cita-citanya tidak dipenuhi, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
21) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa,manusia,yang berada di negeriku, andaikata seluruh badannya tidak dilengkapi dengan Dvatrimsa-Maha-Purusa Laksana (32 macam tanda fisik agung) seperti badan Buddha dan Bodhisattva,maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
22) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka para Bodhisattva yang lahir di negeriku yang berasal dari pelbagai alam Buddha, semua memiliki identitas disebut Ekajatipratibaddha (hanya satu kali menitis telah menjadi Buddha-pilih) kecuali: a) Jika mereka telah mempunyai cita-cita akan menjelmakan raganya secara bebas, kemudian dengan badan Nirmitanya dilengkapi perisai-ikrar. Demi makhluk-makhluk sengsara mereka akan menimbun jasa-jasa sebanyak-banyakknya untukmembebaskan segala umat dari belenggu penderitaan dan cita-citanya ini akan tetap sukses; b) Jika mereka akan menjelajah ke pelbagai negeri Buddha, guna mempraktekkan Bodhisattva-Carita (pelaksaan tugas Bodhisattva) disana, cita-citanya juga akan sukses; c) Jika mereka bermaksud ingin mengadakan kebhaktian untuk mengabdi para Buddha yang berada di 10 penjuru dunia, ini juga akan tercapai; d) Jika mereka akan membimbing para umat yang banyaknya bagaikan butiran pasir Sungai Gangga,agar umat-umat tersebut dapat menegakkan Saddharma terangung di dalam hatinya dan dapat meningkatkan status mereka hingga melampaui Bhumi-Bodhisattva yang setarap,agar segala contoh-contoh tentang “Samantabhadra-Guna” dapat dihayati oleh para umat yang dibimbingnya hingga sukses. Andaikata, keadaan mereka tidak demikian,maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
23) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di negeriku, setelah menerima Adhisthana (dikuatkan) tentang Rddhibala Buddha ( tenaga gaib Buddha) dan hendak mengabdi para Tathagata,andaikata mereka tidak dapat megunjungi negeri-negeri Buddha yang banyaknya ber-Koti-Koti Nayuta yang tak terhingga dengan waktu sekali santapan, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
24) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di negeriku itu, tiba di depan para Buddha di pelbagai dunia dan mereka sedang menampilkan jasa-jasanya guna menhasilkan bermacam-macam sajian agung serta alat-alat pujaan untuk mengabdi para Buddha. Andaikata, segala niat yang dimaksudkan oleh mereka itu tidak muncul dengan memuaskan, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
25) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di negeriku itu, tidak mampu berkhotbah tentang pengetahuan Sarvajna ( segala pengetahuan Buddha) kepada pengikutnya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
26) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di negeriku itu, tidak memiliki badan Vajra-Narayana (badan sekuat seperti Narayana) , maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
27) Apabila aku telah menjadi Buddha,para Dewa, manusia, serta segala sesuatu yang berada di negeriku itu, bukan saja bermutu suci murni, bercahaya indah rupawan, melainkan juga berbentuknya, jenisnya serta warnanyapun demikian unik. Baik umat-umat maupun benda-benda semua demikian cantik, halus dan menakjubkan! Jumlah jenis-jenisnya pun sulit diperhitungkan! Juga, terdapat banyak umat yan berbakat cerdas, bahkan memiliki Mata-batin. Andaikata, mereka dapat mengamati jenis-jenis benda tersebut; mereka dapat menjelaskan namanya serta jumlahnya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
28) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di negeriku itu, karena tidak memiliki jasa sehingga tidak dapat melihat atau mengerti warna dan cahaya pohon Bodhi dari Mandalanya; Bahkan tinggi pohon yang hanya 4 juta Yojana pun juga tidak terlihat oleh mereka, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
29) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di negeriku itu, telah menerima ajaran-ajaran Buddha seperti Sutra-Sutra, Gatha-Gatha, Dharani penting,Vibhasa-Vibhasa (keterangan-keterangan yang amat luas) dan sebagainya, tetapi mereka masih belum memiliki ketrampilan tentang Prajna (kebikjaksanaan terluhur) dan Pratibhana (berlidah fasih), maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
30) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di negeriku itu hanya memiliki ketrampilan Prajna dan Pratibhana yang terbatas, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
31) Apabila aku telah menjadi Buddha, bumi-bumi di negeriku itu akan tetap berkwalitas mulus, rapih, dan bersih; Sinar hidupku tetap menembus segala alam Buddha di 10 penjuru dan jumlahnya banyak sekali tak dapat diperkirakan, dan alam-alam tersebut tidak berbeda seperti wajah orang yang dicerminkan pada kaca mengkilap, seluruhnya amat terang benderang. Andaikata tidak demikian adanya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
32) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka seluruh lingkungan di negeriku mulai dari permukaan bumi terus ke angkasa terdapat banyak istana mestika yang mewah, gedung-gedung tinggi, kolam-kolam yang penuh dengan air 8 budijasa, bunga teratai yang bermacam-macam warna, pohon-pohon dari 7 mestika serta segala harta benda seperti terdapat di pelbagai dunia. Dan benda-benda tersebut semua terbuat dari berbagai permata dan ribuan jenis wewangian. Setiap bangunan dihias dengan amat teliti, indah, megah, halus dan menakjubkan! Kemuliaannya melampaui alam-alam manusia atau Surga; keharumannya meliputi 10 penjuru dunia, sehingga para Bodhisattva yang berada di dunia itu setelah mencium harumnya lalu melaksanakan Buddha-Carita ( pelaksanaan tingkat Kebuddhaan), andaikata tidak demikian adanya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
33) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka makhluk apa saja yang berada di 10 penjuru alam Buddha tak terhingga serta sulit diperkirakan, bila badan mereka tersentuh oleh sinar hidupku, baik hati (pikiran) maupun jiwa-raganya akan merasakan kehalusan, lembut dan tanda sifat yang unik ini tetap melampaui para Dewata. Andaikata tidak demikian adanya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
34) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka makhluk apa saja yang berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga dan sulit diperkirakan, setelah mendengar namaku, andaikata mereka tidak dapat memiliki Anutpatika-Dharma-Ksanti (menetap batin pada Nirvana) serta berbagai Dharani penting, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
35) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat para wanita yang berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga dan sulit diperkirakan, dimana setelah mendengar namaku timbul keyakinan dan merasa amat riang gembira lamtas membangkitkan Bodhicittanya. Dan jika sejak itu mereka tidak senang akan tubuh wanitanya dan ingin menjelma menjadi tubuh pria pada masa mendatang. Andaikata mereka masih tetap memiliki tubuh wanita dalam kehidupan berikut, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
36) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat banyak Bodhisattva yang berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga dan sulit diperkirakan, dimana setelah mereka mendengar namaku,baik sekarang maupun di masa mendatang selalu menjalankan Sila-Sila Brahma-Carita (mengendali nafsu indera,bebas dari perzinahan) hingga memperoleh Kebuddhaan. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
37) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat para Dewa, manusia, yang berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga dan sulit diperkirakan, dimana setelah mendengar namaku maka dengan sikap sangat khidmat memberi penghormatan kepadaku sambil menimbulkan keyakinan dengan amat riang gembira, kemudian melaksanakan Bohisattva-Carita (memanfaatkan para umat serta diri sendiri agar sama-sama mencapai Kebuddhaan) dan berkelakuan amat suci dan agung, sehingga selalu dimuliakan oleh para manusia dan para Dewa. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
38) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka jika para Dewa, manusia, yang berada di negeriku menginginkan beberapa stel pakaian atau jubah, mereka akan menerimanya dan selintas merenung pakaian lengkap serta jubah-jubah khusus untuk Dharma yang tertentu; Yang selalu dipujikan oleh Sang Buddha itu, dimana semua akan berada di atas tubuhnya. Andaikata pakaian yang mereka terima itu tidak sesuai kehendaknya atau bahannya belum jadi, harus dijahit, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
39) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka jika para Dewa, manusia, yang berada di negeriku tidak dapat menikmati kebahagiaan yang sama besar dengan para Bhiksu yang berstatus Asravaksaya (segala kotoran batin dan penderitaan telah musnah), maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
40) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka para Bodhisattva yang berada di negeriku jika bermaksud ingin melihat alam Buddha yang suci murni dan indah di 10 penjuru banyaknya yang tak terhingga, biar pada saat apapun mereka dapat melihatnya melalui pohon-pohon mestika dan jelasnya seolah-olah wajah seseorang tercemin pada kaca yang mengkilap, Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
41) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika terdapat para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia, dimana setelah mendengar namaku dan tinggal sedikit saat lagi mereka akan mencapai Kebuddhaan, tapi pancainderanya atau organ-organ lain masih cacat atau fungsinya kurang normal, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
42) Apabila aku telah menjadi Buddha, dan terdapat para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku maka semua akan memiliki suatu Samadhi luhur yang disebut Suvibhaktavati (terbebas segala ikatan) dan mereka hanya sepintas piker semua telah berada di depan Buddha yang tak terhingga sulit diperkirakan mengadakan pemujaan, dan saat itu mereka masih tetap didalam keadaan Samadhi pada semula belum diakhirinya. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
43) Apabila aku telah menjadi Buddha, dan terdapat para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku, andaikata, demi suatu tugas penting mereka ingin dilahirkan di salah satu anggota keluarga yang mulia saat ia telah tutup usianya, jika tidak dipenuhi keinginannya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
44) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia setelah mendengar namaku merasa amat riang gembira dan tekad melaksanakan ‘Bodhisattva-Carya’ yang terluhur hingga sukses, disamping mereka mengumpulkan jasa-jasa yang terangung selengkap-lengkapnya guna perbekalan menyeberang ke Pantai-seberang. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
45) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku semua akan memiliki suatu Samadhi lebih luhur yakni Samantanugata (secara luas dan seimbang terhadap batin sepemuja), dan dalam Samadhi itu mereka bisa dengan Mata-batin melihat para Buddha yang banyaknya tak terhingga dan sulit diperkirakan; Dan disamping itu dengan pelaksanaan Samadhi ini mereka mencapai Kebuddhaan. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
46) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Bodhisattva yang berada di negeriku itu, bila ingin mendengar khotbah Dharma biar pada waktu apapun tetap dapat ditangkap secara otomatis; Dan suara dari khotbahan Dharma dikumandangkan melalui sinar, arus, jarring-jaring, pohon-pohon, unggas-unggas dan sebagainya. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
47) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku, tidak segera memiliki Avinivartaniya (memiliki status tanpa mundur atau berpaling terhadap Kebodhian) dari Anuttara Samyaksambodhi itu, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
48) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku, tidak segera memiliki 3 jenis Dharma-Ksanti, atau hanya yang pertama: Ghosanugata-Dharma-Ksanti (dengan suara dapat mengerti makna-makna Dharma); atau hanya yang kedua: Anulomiki-Dharma-Ksanti (batinya sangat halus dan lembut); atau komplet dengan yang ketiga: Anutpattika-Dharma-Ksanti (batin tetapdi Nirvana atau dalam keadaan tanpa lahir tanpa musnah); Demikian pula tentang Avinivartaniya yang berasal dari Dharma luhur yang dipegang oleh para Buddha itu, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
Semoga semua makhluk hidup tenang dan bahagia! Sadhu… sadhu ..sadhu…!
Sumber : Sutra tentang Amitabha jilid 1 ( Buddhavaca Amitayus Tathagata Sutra)[/box]
Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

Satya Jaya

Kalau Pencerahan tidak mungkin dicapai, Buddha tidak akan repot-repot mengajar - Ajahn Chah

Read Previous

STEVE JOBS: Bagaimana Ia Akhirnya Menemukan Ajaran Buddha

Read Next

EMMA WATSON: Bicara Tentang Meditasi,Cinta, Yoga, dan Ajaran Buddha

64 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.