Ajaran Buddha dan Ilmu Pengetahuan

Suatu ketika, sekelompok cendekiawan yang berjumlah lebih dari 10.000 orang memohon kepada Buddha untuk menjelaskan tentang kejadian dan cara munculnya kehidupan dan alam semesta. Hal ini berlanjut dengan serangkaian ceramah dan demonstrasi harian yang berlangsung selama tiga bulan. Penjelasan Buddha mendatangkan kepuasan penuh bagi setiap orang yang hadir.

Yang paling mengagumkan adalah ketika penuturan Buddha dirangkum menjadi prinsip-prinsip dasar, ternyata banyak pernyataan di dalam naskah-naskah Buddhis yang selaras dengan penemuan-penemuan ilmiah modern. Ajaran Buddha bersifat ilmiah dalam hal menggabungkan pengamatan, pengujian, dan penelaahan objektif dalam semangat penyelidikan bebas.

Ajaran Buddha melebihi ilmu pengetahuan karena ajaran Buddha dapat bersumbangsih dalam kehidupan modern dengan menyediakan panduan moral dan spiritual kepada orang banyak pada era teknologi yang semakin maju dan semakin materialistik, menunjukkan kepada kita jalan menuju Kebahagiaan Sejati. Seperti yang dikatakan Einstein, “Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta; ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang.”

ANDA TERPANAH!

Pada kenyataannya, Buddha tidak pernah berkeinginan untuk menghabiskan waktu untuk perkara-perkara spekulatif (atau metafisik) tentang alam semesta karena hal ini kecil nilainya bagi pengembangan spiritual menuju Kebahagiaan Sejati. Ia hanya mengajar kepada orang-orang atas dasar Welas Asih-entah membabarkan suatu ajaran pokok atau memuaskan keingintahuan orang-orang yang mau mendengarkan ajaran-Nya yang sesungguhnya. Buddha meyakinkan kita bahwa pada saat Pencerahan, semua pertanyaan spekulatif akan terjawab dengan sendirinya, dan oleh karena itu kita tidak perlu menanyakannya saat ini.

Buddha mengibaratkan orang yang terus-menerus mengajukan pertanyaan-pertanyaan spekulatif dengan seseorang yang tertembak anak panah beracun, yang menolak untuk mencabutnya sebelum dia tahu siapa yang memanahnya, kenapa panah itu ditembakkan, dari mana anak panah itu ditembakkan…. Pada saat semua pertanyaannya terjawab, dia sudah akan mati lebih dahulu. Begitu pula, kita pun “terpanah” oleh anak panah ketidakpuasan dan kematian yang tak tertunda dan tak terduga; janganlah pernah melupakan tujuan kita untuk mencapai Pencerahan.

WUJUD

Ajaran Buddha: “Wujud adalah Kesunyaan; Kesunyaan adalah Wujud. Wujud tidak berbeda dari Kesunyaan; Kesunyaan tidak berbeda dari Wujud,” merujuk pada fakta bahwa materi tidak benar-benar serupa maupun berbeda sama sekali dari “Kesunyaan” energi, karena dengan tidak adanya inti yang “solid”, materi dapat menjadi non-materi, dan sebaliknya. Ini adalah kaidah terkenal E=mc2 versi Buddhis (E=energi, m=massa, c=kecepatan cahaya). Bom atom adalah sebuah contoh tentang bagaimana sebuah materi kecil dapat diubah menjadi energi yang dahsyat. Begitu pula, energi dapat diubah menjadi materi! Meskipun ilmu pengetahuan belum menemukan bagaimana hal itu bisa terjadi, Buddha tercatat telah menunjukkan “prestasi” yang sedemikian menakjubkan. Buddha berbuat demikian semata-mata atas dasar Welas Asih, untuk merendahkan hati orang-orang yang angkuh, yang Ia ketahui telah siap mendengarkan ajaran-Nya, yang hanya terhalangi oleh keangkuhan.

PIKIRAN

Buddha menyatakan bahwa faktor utama dan kekuatan paling dahsyat di alam semesta adalah pikiran. Para ilmuwan dewasa ini tengah melihat Kebenaran ini-menyadari bahwa pikiran seseorang mampu menciptakan realita menurut apa yang dicerap. Energi pikiran belum dimengerti sepenuhnya oleh ilmu pengetahuan, namun Buddha telah mengajarkan kepada kita dengan sangat rinci tentang dinamika pikiran. Penguasaan pikiran adalah hal terpenting karena ini merupakan kunci menuju kebebasan dan Kebahagiaan Sejati.

RELATIVITAS

Buddha, seperti Einstein, menemukan kebenaran tentang relativitas-bahwa ruang dan waktu tidaklah mutlak, namun relatif, berfungsi dengan saling bergantung. Ruang dan waktu dialami secara berbeda-beda oleh makhluk-makhluk di pelbagai alam dan keadaan pikiran. Dunia yang dialami dalam keadaan Pencerahan adalah kesadaran jernih dari penembusan ruang dan waktu.

WAKTU

Buddha mendefinisikan waktu sebagai “ukuran untuk perubahan”. Ini adalah definisi ilmiah karena waktu dikaitkan dengan gerakan materi (atau energi) dalam ruang, yang menciptakan gaya (tenaga). Konsep waktu tidak memiliki arti jika tidak ada perubahan. Menurut ajaran Buddha, waktu tidak memiliki awal atau akhir karena segala sesuatu (kecuali keadaan Pencerahan) mengalami perubahan terus-menerus. Hanya ada saat penting “saat ini” yang berarti bagi keberadaan kita.

RUANG

Dalam ajaran Buddha, ruang didefinisikan sebagai Kesunyaan di antara materi yang memungkinkan pergerakan dan interaksi. Karena ruang meluas secara tak terbatas ke segenap penjuru, sebuah titik di alam semesta dapat dianggap sebagai suatu pusat. Demikian pula, para ilmuwan melihat ke jagad raya dan menemukan bahwa posisi kita di alam semesta hanya seperti halnya titik-titik yang lain di ruang angkasa. Tidak ada posisi istimewa di alam semesta karena alam semesta secara homogen terpenuhi dengan sistem-sistem dunia yang lain. Hanya ada tempat penting “di sini” yang berarti bagi keberadaan kita.

ATOM

Karena atom (yang diduga sebagai zat yang tidak dapat dibagi) baru-baru ini terbukti dapat dibagi dengan tak terbatas, karena itu atom bukan kesatuan materi yang mendasar. Dengan demikian, sebuah atom bukan benar-benar sebuah atom (Latin: ‘yang tak terbagi’); ia disebut demikian untuk memudahkan saja. Begitu pula, Buddha mengatakan bahwa ketika Ia berbicara tentang “alam semesta” (tersusun dari energi dan atom-atom), Ia tidak benar-benar mengartikannya “alam semesta”-Ia menyebutnya demikian hanya sebagai penamaan.

FISIKA KUANTUM

Para ilmuwan menemukan dalam fisika kuantum bahwa partikel-partikel atom dan sub-atom tidak memiliki lokasi-lokasi yang tertentu (pasti) atau gerakan yang “berarti”, tampak acak dan tidak dapat diperkirakan. Hal ini membuat mereka menyimpulkan bahwa “bangunan realita” merupakan “hantu-hantu khayalan”. Cara pandang seorang pengamat menentukan perwujudan fenomena yang diamati. Hal-hal yang terwujud hanyalah potongan dan interaksi pikiran pengamat dengan fenomena. Teori ini juga menyarankan bahwa realita tidak hanya tersusun oleh pikiran pengamat, tetapi ada realita-realita yang tak terhitung banyaknya yang tersusun oleh pikiran yang tak terhitung banyaknya-masing-masing sama-sama nyata atau sama-sama tidak nyata. Mungkin mereka sangat banyak kemiripannya satu sama lain, atau malah sebenarnya saling bertentangan.

Demikian pula, dalam ajaran Buddha, pikiranlah yang membangun sifat tak menentu dari perwujudan realita tertinggi dengan suatu cara tertentu. Dalam kondisi-kondisi tertentu, pikiran membangun realita dalam suatu cara tertentu, secara umum dalam hal eksistensi atau non-eksistensi, dan secara lebih spesifik dalam bentuk enam alam kehidupan atau tiga puluh satu alam kehidupan.

SALING BERGANTUNG

Unsur-unsur penyusun alam semesta, baik materi maupun mental, berinteraksi satu sama lain sedemikian hingga tidak satu pun yang berdiri secara terpisah, segala sesuatu sama-sama pentingnya. Buddha mengajarkan hal ini sebagai Musabab yang Saling Bergantung pada segala fenomena.

PERUBAHAN

Keberadaan objek apa pun merupakan ilusi karena alam semesta sekadar proses rumit dari berbagai aktivitas yang tiada hentinya yang saling terkait, yang mana tidak ada sesuatu yang bergerak sendiri di antara yang lain. Buddha mengajarkan hal ini sebagai fluktuasi konstan dan sifat perubahan dalam segala sesuatu yang terkondisi-bahkan sampai tingkat materi terkecil.

JASAD RENIK

Suatu ketika Buddha memegang sebuah cawan dan mengatakan bahwa ada 84.000 (sebuah angka untuk menunjukkan “banyak” atau “tak terhitung”) makhluk di dalamnya. Pada masa itu, tidak seorang pun mengerti apa yang Ia maksud. Saat ini, dengan mikroskop kita mengerti bahwa Buddha merujuk pada jasad renik yang tidak kasad mata.

EVOLUSI ALAM SEMESTA

Buddha mengajarkan bahwa alam semesta mengalami dua periode perubahan besar yang berulang-ulang tiada akhirnya-mengembang dan mengerut. Ini seperti model alam semesta yang berdenyut, yang mengatakan bahwa alam semesta dimulai dengan sebuah Ledakan Besar (Big Bang), ketika segala sesuatu meledak dan meluas, membentuk galaksi-galaksi. Ketika kekuatan ekspansi surut, alam semesta menguncup dengan sendirinya melalui gaya gravitasi dengan sebuah Kerutan Besar (Big Crunch), sebelum mengembang sekali lagi. Dengan demikian, kemungkinan besar ada, pernah ada, dan akan ada alam semesta yang tiada batasnya. Evolusi alam semesta merupakan sebuah siklus tertutup-menyerupai siklus air di mana air menguap membentuk awan lalu jatuh sebagai hujan dan menguap lagi. Dengan demikian, keberadaan air (dan segala fenomena lain) tidak memerlukan sesosok pencipta karena hal ini merupakan sebuah proses alami dari dirinya sendiri.

SUSUNAN ALAM SEMESTA

Menurut Buddha, alam semesta ada dalam berbagai deretan, yang terkecil adalah Sistem Dunia Kecil-ini melukiskan sebuah galaksi (misalnya Bima Sakti), yang mengandung jutaan bintang dan planet. Deretan berikutnya disebut Sistem Dunia Sedang-ini melukiskan gugus-gugus galaksi (misalnya Coma Berenices). Sistem Dunia Sedang terdiri dari ratusan atau ribuan gugus galaksi. Berikutnya adalah Sistem Dunia Besar, yang terbentuk oleh gugus-gugus Sistem Dunia Sedang-ini melukiskan metagalaksi (misalnya Big Dipper yang “membingkai” setidaknya sejuta galaksi). Meskipun ini merupakan penemuan terjauh yang dapat diamati oleh peralatan-peralatan modern yang canggih, Buddha mengajarkan pandangan kosmik ini jauh sebelum teleskop ditemukan.

GALAKSI

Naskah-naskah Buddhis menjabarkan bahwa ada “dunia-dunia yang berbentuk seperti bunga”-ini berhubungan dengan kabut gas antargalaksi yang bergelombang (yang mengandung miliaran bintang) yang diamati dengan berbagai teleskop-radio. “Beberapa di antaranya luas seperti lautan, berpilin bagai roda yang berputar. Sebagian lagi ramping (seperti galaksi yang dapat diamati di Cetus, Pegasus, dan Hercules). Sebagian lainnya kecil. Mereka memiliki bentuk-bentuk yang tak terhitung banyaknya (galaksi memiliki bentuk yang tak terhitung). Mereka berputar dalam berbagai cara (galaksi berputar mengelilingi pusatnya)…. Beberapa dunia tampak seperti roda yang bercahaya (beberapa galaksi memiliki pancaran yang kuat).”

KUASAR

Beberapa sistem dunia (galaksi) digambarkan dalam naskah-naskah Buddhis meletup-letup dengan dahsyat seperti gunung berapi. Ini berkenaan dengan kuasar yang meletus secara aktif, memuntahkan materi yang luar biasa banyaknya dari inti galaksi.

LUBANG HITAM

Beberapa dunia kosmik dilukiskan di dalam naskah-naskah Buddhis menyerupai “mulut singa” yang memangsa segala sesuatu-ini adalah lubang hitam yang menelan segala sesuatu yang berada di dalam jangkauan gravitasinya.

PLANET

Naskah-naskah Buddhis melukiskan bahwa “banyak sistem dunia penuh dengan tanah berkarang tajam-berbahaya dan membinasakan”. Hal ini tidak hanya benar untuk planet-planet dari berbagai sistem bintang yang lain, namun juga terbukti benar untuk planet-planet Tata Surya kita seperti Mars dan Venus. Bumi juga digambarkan terbentuk dari sebuah massa materi yang tebal dan berat yang secara berangsur mengeras hingga padat-hal ini disetujui oleh ilmu pengetahuan.

EVOLUSI

Hingga tahap tertentu, ajaran Buddha setuju dengan teori Darwin tentang Evolusi dan Seleksi Alam. Buddha mengajarkan bahwa semua makhluk hidup, dengan naluri untuk mempertahankan hidup, terus berevolusi ke bentuk-bentuk kehidupan yang lebih tinggi (dan lebih cerdas) atau “mundur” ke bentuk-bentuk kehidupan yang lebih rendah (melalui kekuatan Karma-dalam satu kehidupan tunggal atau melalui Kelahiran Berulang). Hal ini berlangsung dalam jangka waktu yang tidak terbatas hingga suatu makhluk mencapai tingkat evolusi yang tertinggi, menjadi Buddha-yang telah berkembang penuh secara fisik dan mental.

Penjelasan Buddha tentang bagaimana kehidupan muncul dan berkembang di dunia kita secara mengejutkan mirip dengan bagian-bagian dari teori evolusi yang diajukan oleh Charles Darwin. Dalam Aganna Sutta, Buddha menceritakan pemunculan dan pembentukan kembali alam semesta dalam periode jutaan tahun yang tak terhitung lamanya dalam kaitannya dengan evolusi umat manusia, munculnya kebaikan dan kejahatan dalam masyarakat, dan bagaimana masyarakat berkembang. Buddha juga mengajarkan tentang bagaimana kehidupan yang pertama terbentuk di permukaan air di Bumi, dan lagi-lagi, selama jutaan tahun yang tak terhitung, organisme berkembang dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks. Semua proses ini tanpa mula dan akhir, dan bergerak karena sebab-sebab alamiah. Di dalam Brahmajala Sutta juga tercatat tentang bagaimana alam semesta yang lampau berakhir dan menjadi stabil, berkembang kembali dan stabil kembali dengan pemunculan makhluk-makhluk dari alam kehidupan yang berbeda.

ENERGI

Ajaran Buddha meyakini sifat energi yang tidak dapat dimusnahkan atau bersifat kekal. Ini selaras dengan hukum kekekalan energi, yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan; energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Ajaran tentang Kelahiran Berulang, adalah satu contoh tentang perpindahan pikiran atau energi mental yang tidak dapat mati dari satu tubuh ke tubuh lainnya.

MAKHLUK PLANET LAIN

Buddha menggambarkan dunia-dunia lain di luar dunia kita dalam ruang angkasa yang mahaluas dan dimensi lain yang dihuni oleh banyak makhluk hidup lain yang cerdas, yang kebanyakan tidak seperti kita. Kemungkinan adanya kehidupan di luar kehidupan dunia kita sangat bisa diterima oleh para ilmuwan dewasa ini.

SEBAB-AKIBAT

Buddha mengajarkan bahwa semua fenomena fisik dan mental muncul oleh kombinasi berbagai sebab dan kondisi. Hukum Karma sama dengan hukum kausalitas (sebab-akibat) dalam ilmu pengetahuan. Dipercaya bahwa ada sebab untuk setiap hal (akibat) yang terjadi atau eksis. Dengan kondisi-kondisi yang tepat, setiap akibat pada gilirannya dapat berubah menjadi sebab bagi akibat yang lain. Dalam ajaran Buddha tidak ada fenomena yang tidak dapat diterangkan, acak, atau adikodrati. Fenomena adikodrati hanyalah gejala yang belum dimengerti oleh mereka yang belum tercerahkan.

PSIKOLOGI

Buddha adalah yang pertama kali melihat dengan dalam ke batin manusia dan berbagai pengalamannya. Ajaran-Nya merupakan pengobatan mujarab bagi ketidakpuasan batin. Orang-orang Barat menemukan bahwa psikologi modern hanya merupakan perluasan ajaran Buddha. Meditasi Buddhis tidak disangkal lagi menawarkan motode-metode penyembuhan diri dan psikoterapi yang tak lekang oleh waktu sekaligus paling maju.

KEKUATAN BATIN

ESP (Extra Sensory Perception), telekinesis, dan fenomena-fenomena semacamnya telah diterangkan oleh Buddha sebagai kekuatan-kekuatan batin yang dapat dicapai oleh siapa saja yang mampu berlatih memusatkan pikiran (ini adalah “pikiran mengatasi materi”). Karena pikiran adalah kekuatan yang paling dahsyat di alam semesta, penguasaan pikiran membuka gerbang menuju kekuatan yang tidak terbatas. Buddha sendiri memiliki kemampuan penuh atas berbagai kekuatan gaib karena Ia telah menguasai pikiran-Nya dengan sempurna. Akan tetapi, menguasai berbagai kekuatan gaib tidak membawa Kebahagiaan Sejati. Berbagai keajaiban yang dipertunjukkan Buddha sekadar “pertunjukan sampingan” untuk mengilhami keyakinan, dan merupakan hal yang sekunder bagi ajaran-Nya.

ELEKTRON

Ahli fisika kenamaan dari Amerika, Robert Oppenheimer mengatakan, “Jika kita ditanya, misalnya, apakah posisi elektron tetap sama, kita harus menjawab ‘tidak’; jika kita ditanya apakah posisi elektron berubah bersama waktu, kita harus menjawab ‘tidak’; jika kita ditanya apakah elektron bergerak, kita harus menjawab ‘tidak’.” Buddha juga telah memberikan jawaban senada ketika ditanya tentang kondisi-kondisi diri seseorang setelah kematiannya.

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Buddhisme, Satu-Satunya Sains Yang Sejati

Read Next

Paradoks antara Stephen Hawking, Albert Einstein & Agama

33 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.