DOKUMENTASI Penyerahan Bantuan & Nama Donatur Berbagi Kebahagiaan WAISAK 2563

57. 10 orang umat Buddha di desa Ngadas, Tengger

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada 10 orang umat Buddha suku Tengger di Vihara Paramitha desa Ngadas, Kabupaten Malang. Para penerima adalah para lanjut usia yang sudah tidak bekerja dan kebanyakan dalam kondisi sakit-sakitan. Secara ekonomi mereka sangat tidak mampu, bahkan ada yang untuk makan saja menunggu pemberian dari orang lain.

56. Anak Sekolah minggu Buddha Dipa, Lampung

Diserahkan dana donatur sebesar 2 juta kepada SMB Buddha Dipa, dana ini akan dipergunakan untuk menyemarakkan Waisak sebagai hadiah lomba, dan dibagikan juga angpao Waisak untuk anak-anak SMB.

55. 4 Orang di Lampung Tengah

Diserahkan dana donatur masing masing sebesar 500 ribu kepada 4 orang umat Buddha yang berdomisili di Lampung tengah yaitu mbak Lina, mbah Poniyem, ibu Kariati, ibu Nurhayati dan suaminya Tukiman. Kondisi mereka selain ekonomi yang kurang, juga dalam kondisi sakit-sakitan. Semoga dana dari para donatur ini dapat sedikit membantu meringankan kesulitan mereka.

54. Ibu Paikem – Lampung Timur

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Ibu Paikem adalah umat Buddha di desa Tridatu Rajabasa lama, Lampung Timur. Semenjak tahun 2013 ibu Paikem terkena stroke, sehingga sampai saat ini mengalami kesulitan untuk menggerakkan tangan dan kakinya. Untuk duduk ia bisa, namun harus dibantu. Kebanyakan ibu Paikem menghabiskan waktunya di tempat tidur saja. Suaminya yang bernama Pak Kardi juga menderita kesulitan mendengar, sehingga agak sulit untuk mencari nafkah. Suaminya ini bekerja serabutan, jika ada yang meminta bantuan, baru ia ada pekerjaan.

53. Bapak Sankasmin, Kabupaten Pesawaran – Lampung

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Bapak San Kasmin adalah sesepuh sekaligus salah satu pendiri Vihara Sakya Vijaya di desa Tri Rahayu, Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Usia beliau sendiri diperkirakan sekitar 100 tahun, karena beliau sendiri tak tahu pasti kapan beliau lahir. Namun di usia tua beliau hidup kekurangan, beliau tinggal bersama anaknya yang bernama Sri, yang kebetulan menderita cacat pada bagian tangannya. Sri saat ini memiliki anak kecil yang juga ditinggal pergi oleh suaminya. Untuk makan biasanya mereka hanya mengambil singkong yang tumbuh dibelakang rumahnya,karena tak mempunyai uang untuk membeli beras. Bapak San kasmin sudah tidak bisa pergi kemana-mana, berjalan pun harus memakai tongkat.

52. Mbah Ranto & mbah Dalinem – Lampung Tengah

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Mbah Ranto dan istrinya Mbah Dalinem, mereka berdua adalah umat Buddha di Vihara Dipa Mulya,desa Binjai ngagung,kecamatan Bekri, kabupaten Lampung tengah. Mbah Ranto diperkirakan telah berumur 90 tahun lebih, beliau tinggal berdua bersama istrinya. Mbah Ranto sering berobat karena sering sakit-sakitan, pendengaran nya juga berkurang dan penglihatan nya sudah rabun.

51. Bapak Narianto – Lampung Tengah

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Narianto (52 tahun) adalah umat dari Vihara Dipa Mulya,desa Binjai ngangung,Lampung Tengah. Beberapa hari yang lalu ia mengalami kecelakaan tunggal saat mengendarai motornya sepulang dari kerja sebagai buruh pabrik. Akibat terhempas tersebut mengakibatkan tulang bahunya patah. Ia hanya berobat secara tradisional saja yaitu ke dukun tulang, saat ini ia susah untuk bergerak dan harus dibantu untuk berdiri atau berjalan. Jika malam hari rasa ngilu dan sakitnya bertambah. Memiliki 3 orang anak yang masih sekolah di SD dan SMP, pendapatan sebagai buruh adalah sebesar 700 ribu setiap bulannya. Kondisinya saat ini membuatnya terpaksa untuk berhenti sementara dari pekerjaannya, yang berarti pendapatannya juga harus terhenti.

50. SMB Vihara Tendaun Girisena – Lombok

Penyerahan dana donatur dari segenggam daun sebesar Rp 2.000.000 untuk Anak-anak Sekolah Minggu Buddha (SMB) Vihara Tendaun Girisena. Dana digunakan untuk hadiah lomba dalam rangka memeriahkan Perayaan Waisak 2563 BE/2019.

49. 6 Anak Yatim di Lombok

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada 6 orang anak yatim umat Buddha di Lombok : 1. Sita Dewi, merupakan putri dari Ketut Kartika dan almarhum Romo Sulaeman, sekarang dia tinggal sama ibunya setelah bapaknya meninggal sekitar 10 tahun yang lalu. 2. Jayanto anak kedua dari murni dan almarhum repe (Amaq Budi) sekarang dia baru kelas 3 SMA dan kesehariannya selalu bekerja serabutan membantu orang-orang untuk bisa mendapatkan uang guna menyelesaikan sekolahnya. Sekarang Jayanto akan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi agama buddha di STAB kertajasa Batu Malang Jawa timur 3. Wandana, sekarang tinggal bersama kakeknya semenjak bapaknya meninggal dan sekarang kakeknya sakit-sakitan dan untuk kesehariannya kadang-kadang untuk makan saja susah. 4. Aditia, saat ini dia tinggal sama pamannya karena orang tua meninggal sejak dia baru berusia 1 tahun dan ibunya sudah menikah lagi dan untuk kesehariannya selalu kekurangan kadang-kadang kalau kesekolah gak sarapan dan tanpa membawa bekal tapi semangat juang untuk bisa mengikuti teman-teman kesekolah dia sangat rajin walaupun tanpa bekal. 5. Arya, ini sama persis seperti Aditia karena bapaknya meninggal ketika dia masih berumur 1 tahun dan ibunya sudah menikah lagi. 6. Sas, sekarang tinggal bersama pamannya semenjak dia umur 2 tahun karena bapaknya meninggal dan ibunya menikah lagi.

47. 4 orang di kabupaten Pesawaran – Lampung

Diserahkan dana masing-masing sebesar 500 ribu kepada: 1.) Ibu Tum, beliau adalah salah satu umat yang paling Tua di vihara Giri Pramono, ia tinggal bersama cucu nya karena anaknya merantau bekerja untuk menyokong kehidupan Ibu Tum. 2.) Romo Mujito, beliau ini adalah orang yang sangat berjasa di Vihara Giri Pramono,karena telah menghibahkan tanah nya untuk membangun vihara Giri Pramono. Kini ia hanya tinggal bersama putra nya, istrinya telah meninggal 6 tahun yang lalu. 3.) Mbah Karta hidup sendiri dirumahnya yang kecil, selama ini keperluan sehari-harinya hanya mengandalkan pemberian anaknya, anaknya pun secara ekonomi tidak mampu. 4.) Bapak Kasun adalah umat buddha Sakya vijaya, beliau hidup mengandalkan pekerjaan serabutan sebagai petani jika ada yg menggunakan jasa tenaganya.

46. Pemuda Buddhist Dusun Krecek – Temanggung

Diserahkan dana donatur sebesar 2 juta rupiah kepada Komunitas Pemuda Buddhist dusun Krecek yang nantinya akan dipergunakan untuk menunjang kegiatan acara-acara dalam perayaan Waisak. Dusun Krecek sendiri berada di Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Temanggung. Hingga saat ini, hampir semua masyarakat Dusun Krecek menganut agama Buddha sebagai pedoman hidup sehari-hari.

45. 4 orang di kabupaten Pesawaran – Lampung

Diserahkan dana masing-masing sebesar 500 ribu kepada: 1.) Bapak Karjo dan ibu Kamisah, bapak karjo saat ini sudah tidak mampu lagi ke vihara karena kondisi fisiknya yang sudah renta, tapi istrinya ibu Kamisah adalah orang yang sangat aktif, kehidupan beliau sangat memperhatikan karena anak-anaknya banyak yang merantau. 2.) Romo Sukadi, beliau ini mantan ketua vihara Giri Pramono, ia tinggal bersama istri nya,untuk biaya hidup sehari-hari ia dibantu oleh anaknya,istri nya pun karena masih kuat bekerja ia turut membantu mencari nafkah se bagai pekerja srabutan. 3.) Bapak Ngatijan adalah umat yang sangat aktif datang ke Vihara, demikian juga istrinya, karena keaktifannya itulah beliau juga dipercaya sebagai penjaga juga yang mengurus vihara. Beliau aktif di vihara sakya vijaya negeri katon pesawaran lampung. 4.) Romo Suripto, beliau sesepuh di vihara Giri Pramono, tapi karena sakit & beberapa hari yang lalu bliau terjatuh hingga tidak dapat berdiri.

44. Kakek Ngadimon & Nenek Siyem – Lampung Tengah

Diserahkan dana sebesar 1 juta kepada Kakek Ngadimon dan istrinya nenek Siyem, mereka berdua adalah umat Buddha vihara Tri ratna, Lampung Tengah. Keduanya bekerja sebagai buruh tani, memiliki 4 orang anak dan semuanya sudah menikah namun dengan keterbatasan ekonomi. Umur kakek nenek ini diperkirakan telah lebih dari 85 tahun, sekarang sering sakit-sakitan.

43. Nenek Sinem – Lampung Tengah

Nenek Sinem adalah umat Buddha Vihara Tri Ratna kota Gajah, Lampung tengah. Ia telah ditinggal suaminya sekitar 5 tahun lalu karena sakit. Nenek Sinem merawat anaknya yang nomor 2 lantaran menderita lumpuh sudah 30 tahun, dan tidak hanya merawat ananknya yang lumpuh nenek Sinem juga merawat anaknya yang nomor 3 lantaran 5 tahun lalu mengalami kecelakaan sehingga kakinya patah dan tidak dapat bekerja. Nenek Sinem bekerja sebagai buruh tani, bekerja di sawah dengan upah 1 hari 30 ribu rupiah. Dan harus membiayai kebutuhan anaknya yang lumpuh dan kakinya patah.

42. Ibu Sumiyem – Lampung Tengah

Ibu Sumiyem, merupakan umat Vihara Dipa Mulya, Lampung Tengah. Beliau saat ini berusia 70 tahun dan telah menjanda selama lebih dari 40 tahun. Memiliki 3 orang anak yang telah bekeluarga semua, saat ini ia tinggal berdua dengan seorang cucunya. Saat ini sering sakit-sakitan terutama batuk yang tak sembuh-sembuh, mungkin karena dulu pernah menderita jantung bocor.

41. 6 Orang – Desa Jojog, Lampung

Diserahkan dana masing-masing 500 ribu kepada 6 orang umat Vihara Asri desa Jojog yaitu: 1.) Mbah Tugiman, beliau dulu bekerja sebagai buruh tani, namun semenjak terkena stroke beliau sekarang istirahat dirumah saja, dan tidak bekerja. 2.) Mbah Darso, dulunya bekerja sebagai buruh tani, namun saat ini karena usia tua dan sering sakit sakitan, mbah harus beristirahat dirumah saja. 3) Ibu Sarwasti, beliau dulu bekerja sebagai buruh tani , sekarang tinggal sendiri. Ibu Sarwasti menderita sakit stroke sehingga tidak dapat beraktifitas normal dan bekerja. 4.) Mbah Kromo, beliau dulu bekerja sebagai buruh tani, sekarang tinggal dengan anak laki lakinya yg berumur 38 tahun, mbah kromo sudah tidak bekerja lagi karena beliau sering sakit sakitan. Sakit komplikasi, sehingga membutuhakan biaya hidup. 5.) Mbah Sugiyem, dulunya beliau bekerja sebagai buruh tani, namun saat ini tidak dapat bekerja lagi karena kondisi tubuh yang sering sakit sakitan. 6.) Mbah Rakiyah, saat ini tidak dapat bekerja karena kondisi kakinya yang sakit. Untuk biaya hidup selama ini, mengharapkan bantuan dari kerabatnya.

40. Bapak Sarip & Bapak Nusalim – Lampung

Diserahkan dana donatur kepada: 1.) Bapak Sarip adalah pendiri sekaligus sesepuh vihara Metta Dipa Karuna. Desa Bangunsari kec. Negeri katon, Lampung. 25 hari yang lalu istrinya meninggal dunia, karena beliau tinggal sendiri saat ini ada anaknya yang untuk sementara mengurus beliau. 2.) Bapak Nursalim adalah umat buddha desa Trirahayu, saat ini istrinya sakit asam lambung yang tidak kunjung sembuh. Saat ini pekerjaan beliau untuk menghidupi keluarga megandalkan pekerjaan jika ada yang menyuruh bekerja.

39. 5 Keluarga di Kabupaten Ngabang, Kalimantan Barat

38. Mbah Suparto – Tulang Bawang Barat

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Mbah Suparto (97 tahun), umat vihara Boddhi Dharma, Kec. Gunung Terang, Kab.TBB. Mbah Parto merupakan pandita dan aktif dalam dhamma serta perjuangan berdirinya vihara dulu. Namun sekarang beliau sudah sepuh dan mengalami sakit-sakitan seperti rabun, tuna runggu dan sehari-hari berbaring di atas ranjang.

37.Mbah Ontong (92 tahun) – Lampung

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Mujiono (seorang duda 48 tahun) dan ayahnya mbah Ontong (92 tahun) merupakan umat Buddha Vihara Boddhi Dharma yang aktif mengikuti kegiatan di vihara. Bpk Mujiono yang seorang diri merawat ayahnya yang sudah tua dan sering sakit sesak nafas. Ia bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk memenuhi kebutuhannya.

36. 7 Orang Keluarga di Tulang Bawang Barat, Lampung

Diserahkan dana donatu masing-masing sebesar 500 ribu kepada 7 orang umat Buddha dari beberapa Vihara yang berlokasi di daerah Tulang Bawang Barat. Para penerima adalah Ibu Sriyatini, Sukkha,Budi, Giman, Trubus dan Sumulyadi. Mereka semua rata-rata dengan kondisi ekonomi yang sulit dan ada yang tengah menderita sakit.

35. 12 Keluarga di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat

34. 6 Orang di Tulang Bawang Barat

Berikut ini telah dilakukan penyaluran dana donatur masing-masing sebesar satu juta rupiah kepada : 1. Mbah Saminem (89 tahun) adalah umat buddha vihara Dwipa jaya, desa daya sakti kec. Tulang bawang udik kab. Tulang bawang barat. Di usianya yang sudah senja ia sering sakit-sakitan, terutama bagian lutut dan tulangnya hingga kemampuan mengingatnya juga sudah tidak berfungsi dengan baik ( mengalami kepikunan) yang membuatnya tidak mampu mengingat dengan normal lagi dan tak bisa untuk berjalan jauh apalagi untuk bekerja . Beliau dulu aktif datang kevihara untuk mengikuti kegiatan divihara, untuk kebutuhan sehari-hari didapat dari anaknya yang bekerja sebagai penderes karet dengan cara bagi hasil karna lahan milik orang lain. 2. Ibu Supiyah ( 54 tahun), merupakan umat budha vihara Dharma Metta desa Gedung Rayu, kec. Tulang bawang udik, Kab.TBb. Bu Supiyah umat yang aktif ke vihara, tetapi 3 tahun belakangan ini beliau mempunyai penyakit darah tinggi dan terjatuh hingga akhirnya mengalami sakit struk sehingga tidak mampu untuk beraktivitas dengan normal. Bu rupiyah sudah banyak menjalani berbagai alternatif pengobatan, namun hingga saat ini belum begitu membaik. Untuk kebutuhan dan biaya pengobatan ibu supiyah, suami dan anak anaknya berusaha memenuhi dengan bekerja serabutan (buruh). Suaminya juga aktif dalam kegiatan di vihara dan pernah menjadi ketua vihata selama 6 tahun. 3. Mbah Sumiati (82 tajun) merupakan seorang janda yang merupakan umat Buddha di vihara dwipa jaya daya sakti, kec. Tumijajar, Kab.TBB. Mbah sumiati tinggal seorang diri di rumahnya yang kecil. Di usianya yang senja beliau sudah sering mengalami sakit-sakitan, dan saat ini telah mengalami struk. Mbah sumiati aktif kevihara , meski tinggal seorang diri tetap yakin dlm dharma, untuk kebutuhan sehari-hari mbah sumiati ia mendapatkan pemberian dari anak yang seorang petani dan dari pemberian tetangganya. 4. Ibu Sukiyem (57 thn), umat Buddha dari Vihara Dharma Mulya, Tulangbawang Barat. Sudah satu tahun terakhir menderita gagal ginjal, dan beliau harus menjalani cuci darah 2 kali setiap minggunya. Setiap bulan juga harus menjalani cek laboratorium, dan ini tidak ditanggung BPJS. Saat ini beliau tinggal dirumah singgah klinik tempat cuci darah, karena jarak rumahnya cukup jauh dan kondisinya tidak stabil. 5. Mbah Nasirah (77 thn) adalah umat buddha vihara Darma Jaya, yang tinggal di Tiyuh Sakti Jaya. Ibu Nasirah saat ini sudah tidak mampu berjalan dan juga sudah mengalami kebutaan sehingga sehari-harinya duduk dan berbaring diatas ranjang. 6. Romo Sudharmo (68 thn) adalah romo pandita vihara Boddhi Dharma tiyuh setia bumi, kec. Gunung Terang, Kab. TBB. Beliau dahulu aktif membabarkan dharma di vihara dan kegiatan vihara, namun saat ini beliau jarang hadir dalam kegiatan dikarenakan sering sakit dan beberapa kali masuk RS karena sakit radang dan lambung yang diderita.

33. Mbah Suwoto – Lampung Tengah

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Mbah Suwoto (80 tahun), adalah umat buddha Vihara Porwodadi kota Gajah, Lampung tengah. Dahulunya beliau adalah seorang umat yang antusias dan aktif membabarkan Buddha dhamma, aktif di semua kegiatan keagamaan, dan beliau juga aktif membabarkan ajaran kebenaran ke berbagai vihara di desa desa. Mbah Suwoto sendiri setelah matanya terkena paku saat bekerja dan akhirnya mengalami kebutaan. Sekarang beliau sudah tidak bisa berkerja dan hanya berdiam di rumah saja. Sedangkan istrinya juga menderita sakit asam urat yang kalau sedang kambuh menyebabkan tidak bisa berjalan. Terkadang juga istrinya sudah tidak bisa mengenali siapa yang datang. Mbah Suwoto dan istrinya sering kali sakit, dan sering juga keluar masuk rumah sakit. Kehidupan sehari hari mbah Suwoto dan istrinya di tunjang oleh anak anaknya itupun tidak seberapa, sebatas kemampuan anak. Mbah Suwoto tidak memiliki apa apa, baik sawah ataupun lain sebagainya, hanya sebidang rumah yang beliau tempati.

32. 4 Orang di Lampung Tengah 

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ibu kepada: 1.) Ibu Karsi (70 tahun), umat Buddha Dipa Mulya, beliau saat ini mengidap penyakit paru-paru dan tak bisa beraktivitas di luar rumah lagi. 2.) Ibu Sumarmi, sudah menjada 35 tahunan, ditinggal suami saat anaknya berusia 1 tahunan. Anaknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Ia tinggal sendiri dan untuk kebutuhan sehari-hari mengandalkan hasil tanaman kebunnya. 3.) Bapak Senin, umat Buddha Vihara Buddha Traya, hidup seorang diri semenjak istrinya meninggal. Memiliki 7 orang anak yang telah bekeluarga semuanya. Bapak Senin dulunya bekerja sebagai buruh serabutan, namun sekarang ia hanya bisa dirumah saja karena sering sakit-sakitan. 4.) Ibu Sepiatun, beliau tinggal sendiri karena suaminya telah meninggal dunia. Memiliki 5 orang anak yang telah bekeluarga dengan ekonomi sederhana.Ibu Sepiatun bekerja sebagai buruh sawah. Jika ada yang menyuuhnya membersihkan rumput di sawah, beliau dengan senang hati melakukannya demi memenuhi kebutuhan hidup.

31. Nenek Tirusen & Kakek Karlin, Sungai Durian – Kalimantan Selatan

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ibu kepada: 1) Nenek Tirrusen, semenjak 1 tahun terakhir menderita stroke ringan dan sulit untuk beraktivitas, juga maag kronis. Ia mencari nafkah dengan bercocok tanam di sekitar halaman rumahnya. Anak-anaknya juga ekonomi sangat terbatas. 2. ) Kakek Karlin, sudah menduda 6 tahunan, keseharian menjadi buruh menggarap lahan palawija dan menjualnya ke pasar yang berjarak 7 km dan ditempuh berjalan kaki. Merupakan umat yang aktif di Vihara Saddhamula, Sungai durian.

30. Kakek Wakidi & istrinya – Temanggung

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Kakek Wakidi (78 tahun) dan istrinya. Mereka tinggal di dusun Kemiri desa. Getas, beliau sakit stroke sudah selama 10 bulan ini.. Tidak mampu beraktifats lagi. Untuk bangun juga istrinya yang membangunkan. Mereka memiliki 2 orang anak yang tinggal jauh mengikuti suaminya. Istrinya yang mencari kebutuhan sehari hari, mengambil kayu diladang, sayur mayur untuk mencukupi kebutuhan.

29. Kakek  Mangun – Temanggung

Diserahkan dana donatur sebesar 2 juta kepada Kakek Mangun (90 tahun), berdomisili di dusun Gandon, kecamatan Kaloran, Temanggung. Beliau dulunya adalah seorang pejuang agama Buddha diwilayah Kaloran. Beliau selalu aktif kevihara, dan mengajar kedaerah daerah sekitarnya. Dulu belum ada transportasi yang mendukung, beliau iklas berjalan kaki mengajarkan agama Buddha. Sampai usia lanjut beliau masih aktif bahkan beberapa kali mengikuti pabbhaja. Katanya selagi masih sehat beliau akan selalu aktif dalam keagamaan.

28. Kakek Moyong & Mbah Woh – Jepara

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Kakek Moyong (72 tahun) dan istrinya yang biasa dipanggil nenek Woh (70 tahun), mereka pasangan suami istri yang tinggal berdua saja. Mereka berdomisili di dusun Kemiri getas, Temanggung. Semasa kondisi masih sehat mereka berdua aktif berkegiatan di Vihara Dhamma sosila. Saat ini sudah hampir 2 tahun, kakek Moyong tidak bisa berjalan sendiri dan harus dibantu untuk berdiri. Semua kebutuhan kakek dilakukan oleh istrinya, mulai dari mandi, buang air sampai menyuapi makan.

27. 8 Keluarga di desa Tulang Bawang, Lampung

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada: 1.) Mbah Muniran (90 thn) dan istri mbah Tiwol (82 thn) sepasang suami istri yang tinggal hanya berdua. Adalah umat buddha Vihara Dharma Jaya, tiyuh marga jaya. Umat buddha ini merupakan umat buddha yang dulu aktif mengikuti kegiatan divihara namun karena sudah tua dan kakinya sering sakit tidak mampu lagi untuk berjalan jauh lagi. 2.) Mbah Prapto Utomo merupakan umat Buddha vihara Dharma Mulia, Tiyuh Toto Mulyo, Kec. Gunung terang, Kab. TBB. Beliau merupakan sesepuh vihara yang dari dulu aktif kevihara sampai saat ini. Beliau dulu merupakan pengurus vihara yg berperan aktif dalam kebersihan lingkungan vihara dan saat ini beliau sudah tidak memiliki istri. 3.) Mbah Jani (72 thn) adalah umat vihara dharma jaya, Tiyuh marga jaya kec. Gunung terang kab. Tulang bawang barat. Kesehariaannya aktif membersihkan vihara dharma jaya dan memberikan dhammadesana 4.) Ibu Tri mariana dan suaminya bapak heri yang memiliki 2 anak merupakan umat Buddha vihara Buddha Dharma, tiyuh kibang budi jaya, kec. Lambu Kibang, kab.Tulang Bawang Barat. Kesehariannya hanya sebagai penderes karet dari lahan orang lain. Degan harga karet yang murah dan juga tidak memiliki lahan milik sendiri, sehingga penghasilannya yang 1 minggu sekali hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. 5.) 6.) Bapak Suparlan umat Buddha vihara Buddha Bharma tiyuh Kibang Budi Jaya, Kec. Lambu Kibang, Kab. TBB. Beliau memiliki keluarga dengan 5 orang anak dan 3 orang masih tinggal bersamanya serta istrinya. Pekerjaan beliau sebagai seorang petani dimana hanya panen dalam jangka yang panjang sehingga dengan kebutuhan keluarga yang besar hasil panen dan dengan bekerja semampunya dan sebisanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 7.) Bude Rumi (64 tahun) seorang janda dan aktif di vihara Dharma Jaya tiyuh marga jaya kec. Gunung tarang kab tulang bawang barat. Beliau memiliki anak yang bujang,  untuk peghasilan keseharian hanya dari anaknya bekerja nderes karet itupun kerja tempat orang hasilnya di bagi 2 sama yang punya ladang 8.) Bapak Sukimin (66 thn) dan istrinya merupakan umat Buddha vihara Boddhi Dharma tiyuh Setia Bumi,Kec. Gunung Terang, Kab.TBB. Keluarga ini berpenghasilan sebagai petani dengan lahan yang seadanya tidak terlalu luas, dan bekerja sebisanya yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari

26. 4 orang Dayak Meratus – Kalimantan Selatan

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada 4 orang umat Buddha yang berasal dari suku dayak meratus di Kalimantan Selatan. Daerah tempat tinggal mereka dikatakan terpelosok dan jalan juga masih susah untuk diakses, listrik dan telekomunikasi juga belum ada. Sebagian suku dayak meratus beragama Buddha. Yang menerima dana donatur adalah: 1.) Ibu Aren, sehari-harinya bercocok tanam padi, ia tinggal sendirian di sebuah rumah yang sudah rapuh, kondisi kesehatan telinga bermasalah sehingga pendengaran tidak jelas dan susah diajak berkomunikasi. 2.) Ibu Tiamat, sehari-hari mengolah tanaman palawija di pekarangan alakadarnya , dan menanam padi setahun sekali karena hanya mengandalkan air hujan. Sudah seberapa tahun suaminya meninggal sehingga beliau mencukupi kebutuhan sehari – hari sendiri. 3.) Bapak Kisah, tinggal berdua bersama adiknya yang tuna rungu dan tuna bicara. Mereka berdua juga tidak bekeluarga. Ia bercocok tanam padi dan tanaman palawija. 4.) Bapak Dominsun, sehari-hari hanya buruh di ladang orang bila ada yang menyuruh, bila tidak ada yang menyuruh beliau hanya menganggur, bahkan bisa berminggu-minggu. Beliau hanya hidup sendiri karena belum menikah.

25. Ibu Rubingan – Lampung

Diserahkan dana donatur sebesar 500 ribu kepada Ibu Rubingan, beliau adalah seorang janda yang hidup berdua dengan anaknya yang masih lajang. Untuk menghidupi keluarganya sehari- hari beliau bekerja sebagai buruh tani disawah milik orang.

24. Bapak Kasno & Bapak Subardi, Lampung

Disalurkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada: 1.) Bapak Kasno, adalah pandita Vihara Sakya Vijaya-Lampung, beliau adalah pelayan umat, ketika ada kematian beliau juga yang mengurusi. Kehidupan beliau secara ekonomi bisa dibilang kurang mampu karena tidak lagi bekerja. 2.) Bapak Subardi adalah salah satu sesepuh vihara Sakya Vijaya, saat ini beliau tinggal bersama anaknya. Walaupun kondisi tubuhnya sudah agak susah untuk berjalan, tapi beliau sangat rajin mengikuti aktivitas keagamaan.

23. Siska, Saputra & Ilham – Jepara

Diserahkan dana donatur sebesar 2 juta kepada Siska (16 tahun), Saputra (13 tahun) dan Ilham (10 tahun) , mereka bertiga adalah siswa sekolah minggu Buddha Seker Teratai Vihara Muryantoro desa Tanjung, Gronggong Pakis Aji, Jepara – Jawa Tengah. Mereka bertiga bersaudara adalah anak yatim piatu. Lima tahun yang lalu, ibunya meninggal dunia karena penyakit demam berdarah. Disusul 2 tahun kemudian, Bapaknya meninggal karena mengalami kecelakaan kerja ditempatnya bekerja sebagai buruh bangunan. Akhirnya ketiga anak ini tinggal bersama kakek neneknya yang sudah sepuh, sedang kakek neneknya juga hidup serba kekurangan karena pekerjaan kakeknya hanya sebagai pencari rumput yang nantinya dijual kepada penduduk yang membutuhkan untuk makan hewan ternak.

22. Adik Farel & Ibu Muntar – Jepara

Penyerahan dana bantuan donatur kepada: 1.) Adik Farel Viryadhana, anak didik SMB Bodhi Citta dan siswa kelas 4 SD N 1 Tanjung, kec pakis aji Jepara. Farel tinggal bersama ibunya yang singgle parents. Ibunya bekerja sebagai buruh mebel dengan upah yang minim ditambah seringnya libur karena sepi kerjaan. Adik farel kalau pergi sekolah berjalan kaki, ,sedangkan anak yang lain ada yang bersepeda bahkan banyak juga yang diantar ortunya pakai motor. 2.) Ibu Muntar (71 tahun), beliau adalah umat wihara Virya Manggala ds Tanjung kec Pakis aji Jepara. Mendiang suaminya adalah ketua wihara selama puluhan tahun hingga akhir hayat, perjuangannya sangat besar. Sedangkan ibu Muntar kini hidup dan bekerja sebagai buruh tani yang hasilnya hanya dapat mencukupi kebutuhan sederhananya. Dengan ada bantuan ini semoga dapat membantu meringankan bebanyna

21. Bapak Reja & Bapak Rasiman, Pesawaran – Lampung Timur

Diserahkan dana donatur sebesar 500 ribu kepada: 1.) Bapak Reja salah satu umat buddha Vihara Sakya Vijaya, saat ini beliau tinggal sendiri, dengan rumah ukuran 6 x 3, yang dibuat saat beliau masih mampu bekerja. Saat ini kondisinya sangat memperhatinkan karena tinggal sendiri dan untuk memenuhi sehari-harinya hanya menunggu uluran tangan dari orang lain. 2.) Bapak Rasiman dan ibu Suwarti tinggal hanya berdua, dan anaknya saat ini tinggalnya cukup jauh. Bapak Rasiman adalah sesepuh Vihara Sakya Wijaya desa Trirahayu kec Negeri katon kab. Pesawaran. Bapak Rasiman mengalami sakit mata dan akhirnya saat ini tidak dapat melihat, ibu Suwarti beberapa bulan ini juga sering sakit-sakitan.

20. Sdr. MARYONO , Desa Rantaubuda – Kalimantan Selatan

Diserahkan dana donatur sebesar 2 juta rupiah kepada saudara Maryono yang berasal dari Pati Jawa Tengah, sudah hampir 2 tahun ini, ia mengabdikan dirinya menjadi guru agama Buddha di SMKN 1 Sungai Durian , kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Daerah tempatnya mengabdi dapat dikatakan berada di pelosok, karena kondisi jalan yang masih susah diakses, sinyal telekomunikasi yang baru bisa diperoleh sekitar 8km dari tempat tinggalnya, dan juga penerangan listrik yang belum ada. Kota terdekat yang dapat dicapai adalah kota Banjarmasin selama 8 jam perjalanan. Selain menjadi guru, ia juga membimbing sekolah minggu dan kegiatan puja bakti di Vihara dan kegiatan anjangsana kerumah-rumah umat. Didesa tempat Maryono mengabdi, agama Buddha banyak dianut oleh masyarakat setempat yaitu suku Dayak Maratus. Dana yang diterima Maryono akan dipergunakan untuk berladang Labu, dengan harapan dapat meningkatkan perekonomian dirinya dan masyarakat sekitar.

19. 6 Orang umat Buddha Vihara Tendaun Girisena , NTB

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada :1.) Inaq Sedenah (59 tahun), sudah lebih dari 15 tahun ditinggal sama suaminya. Ia bekerja serabutan membantu tetangganya berladang. Mempunyai 2 orang anak, yang besar menjadi buruh bangunan , dan yang nomor 2 menjadi samanera di perguruan STB Kertajasa Batu Malang Jawa timur. 2.) Inaq Rupiah (70 tahun), Pekerjaan sehari-hari memelihara sapi milik tetangga dan juga mencari rumput untuk makan sapi. 3.) Inaq Kandik (71 tahun), sudah lebih dari 20 tahun ini ia hidup seorang diri, ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bekerja di gunung tapi tempatnya jauh untuk menanam padi yang kadang berhasil namun kadang gagal panen. Kalau anak nya pergi dia mengharap dana makanan dari tetangga setempat. 4.) Amaq Masun (60 tahun), selama masih sehat dia sangat aktif ke vihara, tapi kondisinya sekarang sering di bawa kerumah sakit jiwa, kalau obat nya habis kumat lagi penyakitnya. Tiap bulan harus ngontrol terus ke RS. Tidak bekerja lagi dan istrinya yang menjadi tulang punggung bekerja sebagai pemikul beras di penggilingan padi. 5.) Inaq Maitah (65 tahun), sudah lebih 17 tahun ini ia hidup seorang diri. Ia mempunyai 2 anak, anak pertama laki-laki pergi merantau untuk mencari nafkah ke Malaysia, namun sampai sekarang belum memberi kabar. Perkerjaan sehari-hari Inaq membuat minyak kelapa kalau ada yang memesan. 6.) Inaq Gatun (64 tahun), seorang janda yang tak bekerja lagi karena kondisi kesehatan yang tak memungkinkan.

18. SMB Vijjadhara, Vihara Dharma Sosila – Temenggung

Diserahkan dana donatur sebesar 2 juta kepada Sekolah Minggu Vijjadhara, Vihara Dharma Sosila, Dusun Kemiri ds. Getas Kaloran, Temanggung. Dana direncanakan untuk digunakan membuat seragam batik sekolah minggu, dan sisanya dipakai untuk pembelian perlengkapan yang mendukung kegiatan pengajaran di SMB tersebut.

17. Mbah Batin & Mbah Jiyem, Lampung Tengah

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada: 1. Mbah Batin, beliau aktif berkegiatan di Vihara Dhraya Purwosari. Diusia senjanya beliau tinggal seorang diri, saat ini tak dapat bekerja lagi karena kondisi kesehatan yang tak baik. 2.) Mbah Jiyem, juga tinggal seorang diri, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bekerja serabutan membantu sekitarnya yang mebutuhkan tenaganya.

16. 5 Orang Lansia di Kecamatan Negeri Katon – LAMPUNG

Telah diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada 5 orang lanjut usia yang berdomisili di kecamatan Negeri Katon, Lampung. Mereka aktif beribadah di Vihara Sakya Murti, antara lain: 1.) Ibu Klarah (83 tahun), Beliau tinggal dan menempati rumahnya dibagian belakang rumah anaknya yang bernama pak Supardi. Untuk kebutuhan dan biaya hidup sehari hari beliau ditanggung oleh anaknya yang bekerja hanya sebagai buruh serabutan. 2.) Bapak Miran,, hidup berdua dengan istrinya. Perekomonian sangat sulit karena tidak punya lahan untuk bercocok tanam, beliau hanya bekerja serabutan yang tak menentunya. 3.) Bapak Warmak, perokomonian sangat sulit ditambah sedang sakit tidak dapat berjalan dengan normal. 4.) Bapak Sarman, hidup sebatang kara perekomonian sangat terbatas rumahnya bantuan dari pemerintah. 5.) Ibu Rajinem, hidup sebatang kara perekomonian sangat sulit rumahnya bantuan dari pemerintah

15. 8 orang umat Buddha di Kecamatan Pekalongan, Lampung Timur

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada 8 orang penerima dari beberapa desa yang berada di kecamatan Pekalongan, Lampung Timur. Para penerima yaitu: Ibu Suparti, Nenek Tinah, Nenek Kasiyem, Ibu Tentrem, Ibu Misaten, Bapak Hartato, Mbah Sugiyem , dan mbah Supri. Mereka semua adalah para lanjut usia ataupun janda yang secara ekonomi sangat minim. Semoga dana donatur ini dapat sedikit membantu kehidupan mereka.

14. Nenek Bundeng & Nenek Timasa – Desa Rantaubuda Kalimantan Selatan

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada: 1.) Nenek Bundeng, beliau hidup bersama anaknya yang hanya berdagang rotan ala kadarnya di karena kan terbentur masalah modal. Suaminya sudah lama meninggal. Beliau hanya mengandalkan hasil rotan, sedangkan rotan mulai langka akibat banyak berdiri pabrik perkebunan sawit. 2.) Nenek Timasa, beliau tinggal bersama anak dan cucunya Virla. Nenek mencari nafkah dengan bekerja serabutan memuat batu kali, itupun jika ada permintaan untuk bekerja.

13. Ibu Sumaen & Bapak Kocu, Desa Rantaubuda – Kalimantan Selatan

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada: 1.) Ibu Sumaen , berdomisili di desa Rantaubuda, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Ibu Sumaen, memiliki 2 orang anak yaitu Hairudin dan adiknya Melinda. Suaminya telah meninggal dunia. Hairudin menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja serabutan di ladang. 2.) Bapak Kocu, beliau hidup sendiri karena belum menikah hingga sekarang, dan bekerja serabutan kalau ada orang yang menyuruh bekerja. Biasanya membantu di ladang milik para tetangganya.

12. Nenek Kotik & Nenek Sadup, Dusun Getas – Jepara

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada: 1.) Nenek Kotik (98 tahun) yang berdomisili di dusun Kemiri. Beliau tinggal bersama anak dan cicitnya yang yatim piaatu. Cicitnya ditinggal meninggal ibunya sejak masih kecil. Saat ini cicitnya kelas 1 SMP. Nenek Kotik sudah tidak mampu melakukan aktifitas, hanya berjalan sekitar rumah saja. Anaknya bekerja sebagai buruh diladang, dari hasil inilah dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan. 2.) Nenek Sadup (85 tahun), Beliau seorang nenek yang tinggal bersama anak perempuan nya yang janda. Memiliki 2 orang cucu. Nenek Sadup baru saja keluar dari rumah sakit, karena penyakit vertigo dan darah tinggi. Keseharian nya nenek Sadup hanya dirumah karena usia yang sudah tua. Anak perempuannya sehari-hari bekerja seadanya kadang buruh tanam padi, kadang sebagai buruh mengisi tanah untuk pembibitan. Untuk mengisi tanah dia diberi upah 5 ribu rupiah untuk satu bakinya.

11. Nenek Musi & Nenek Giri – Dusun Krajan, Jepara

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada : 1.) Nenek Musi (65 tahun). Beliau seorang janda yang tinggal sendiri. Beliau aktif di Vihara Buddha Metta Dsn. Mranggen. Untuk memenuhi kebutuhan beliau bekerja sebagai buruh petik cabai diladang tetangga. Kalau tidak Ada yang memintanya memetik cabai beliau diladang miliknya untuk menanam jagung maupun menanam sayur seadanya. 2.) Nenek Giri (95 tahun), beliau tinggal seorang diri setelah anak laki lakinya meninggal. Anak laki lakinya meninggal 7 bulan yang lalu saat tengah bekerja senagai buruh angkat kayu. Nenek Giri sudah susah berjalan karena usia, padahal beliau harus melakukan semua keperluannya sendiri.

10. Nenek Sumini & Nenek Wagini – Dusun Mranggen , Jepara

Telah diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu kepada: 1.) Nenek Sumini (60 tahun) yang berdomisili di Dusun Mranggen Desa Tempuran. Beliau adalah seorang janda yang tinggal sendiri. Suaminya sudah meninggal cukup lama. Sehari hari nenek Sumini bekerja diladang untuk memenuhi kebutuhan nya. Mencari rumput,juga menanam jagung untuk nantinya dijual guna memenuhi kebutuhannya. 2.) Nenek Wagini (75 tahun). Nenek Wagini tinggal sendiri, dan aktif di Vihara Buddha Metta Dsn. Mranggen. Setiap hari bekerja diladang, mencari kayu bakar, dan merawat ladang untuk ditanami jagung maupun singkong sebagai pemenuh kebutuhan sehari hari.

9. Ibu YATI – Temanggung

Diserahkan dana donatur sebesar 2 juta kepada ibu Yati, beliau adalah istri dari mendiang Pak Kirwanto yang telah meninggal dunia pada bulan September 2018 lalu. Pak Kirwanto sendiri dahulunya adalah seorang guru agama Buddha di SDN 3 Kalimanggis. Ia sendiri berdomisili di Desa Kalimanggis Kecamatan Kaloran, Temanggung. Mengabdikan diri menjadi pendidik semenjak tahun 1999. Mendiang meninggalkan 3 orang anak, yang pertama telah tamat SMA dan bekerja sebagai penjaga toko, anak yang ke 2 baru masuk ke jenjang SMP, dan yang bungsu baru masuk TK. Semoga sedikit dana ini dapat membantu ibu Yati dan keluarganya.

8. MBAH WARSONO & Istrinya – JEPARA

Diserahkan dana donatur sebesar 2 juta rupiah kepada mbah Warsono & istrinya, 1 juta dalam bentuk uang tunai, dan 1 jutanya dalam bentuk sembako, pampers, pakaian dan mie instant. Mbah Warsono (84 tahun) dan istrinya mbah Dasemi (81 tahun), adalah sepasang suami istri umat Vihara Virya Manggala desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji kabupaten Jepara. Saat masih sehat, mbah Warsono sangat aktif mengikuti kegiatan di Vihara. Kini mbah dan istrinya untuk berjalan pun sudah tak kuat lagi, waktu mereka banyak dihabiskan diatas tempat tidur saja. Mbah Warsono harus merawat dan menjaga istrinya yang lumpuh.

7. 10 Orang Umat Buddha di Singaraja

Diserahkan dana donatur masing-masing sebesar 500 ribu rupiah kepada 10 orang umat Buddha di Singaraja Buelelng Bali. Hampir semua adalah para lanjut usia yang kebanyakan hidup sendiri. Dan rata-rata karena faktor umur sehingga sering sakit-sakitan. Semoga dana ini bisa bermanfaat.

6. Romo Sutoro – Lampung

Diserahkan dana donatur sebesar 2 juta kepada romo Sutoro yang baru saja menjalani operasi pada tulang kakinya. Beliau adalah sesepuh di Vihara Giri Pramono, desa Sukosari, kabupaten Pesawaran, Lampung. Sudah hampir satu tahun ini beliau tidak bisa berjalan karena mengalami patah tulang akibat kecelakaan. Selama ini hanya diobati secara tradisional saja, dan tak banyak memberi perubahan. Karena rasa sakit yang makin parah,akhirnya keluarga membawa ke Rumah sakit Mitra Husada, Pringsewu Lampung dan dilakukan pemeriksaan, ternyata tulang kaki nya tidak menyambung dan tumbuhnya saling menumpuk.

5. Ibu Herlisa – BEKASI

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta rupiah kepada ibu Herlisa, yang baru saja pada tanggal 28 Febuari lalu menjalani operasi pada kakinya. Empat tahun yang lalu, ia pernah mengalami kecelakaan sehingga kakinya patah. Hanya berobat secara tradisional saja, dan selama 4 tahun itu selalu merasakan nyeri. Pada tanggal 25 Febuari, ia terjatuh dirumah dan mengalami kembali patah pada bekas luka yang lama. Setelah diobati secara tradisional, ternyata tak mengalami kemajuan, bahkan kakinya tak dapat digerakkan sama sekali. Setelah dibawa kerumah sakit dan diperiksa teryata harus menjalani operasi pemotongan dan penyambungan tulangnya. Semua operasi tersebut menggunakan BPJS. Dana donatur ini diharapkan dapat digunakan untuk mendukung biaya transportasi dan biaya hidup.

4. 4 Orang Umat Buddha di desa Sumber agung, Lampung Timur

Disalurkan dana donatur kegiatan Berbagi Kebahagiaan Waisak 2563, masing-masing sebesar 500 ribu kepada: 1.) Nenek Ipah, merupakan umat buddha Vihara Buddha Amerta desa Sumber Agung kecamatan Batanghari kabupaten Lampung timur. Nenek Ipah berusia 77 tahun, beliau memiliki anak 4 sudah menikah. Beliau sekarang tinggal dengan anak yang ke 3. Pekerjaan anaknya ini adalah petani. Nenek ipah sering sakit-sakitan dikarenakan usia tua terutama di bagian pinggangnya. 2.) Mbah Paimon (72 tahun) , beliau juga umat Vihara Buddha Amerta, sekarang tinggal sendiri karena istrinya telah meninggal. Untuk biaya hidup beliau bekerja serabutan dengan penghasilan tak pasti. Saat ini menderita asam urat, bila kambuh maka akan kesulitan untuk berjalan. 3.) Nenek Sainem (70 tahun), beliau memiliki anak 5, 4 sudah menikah dan yang 1 sudah meninggal dunia menjadi samanera. Pekerjaan adalah buruh serabutan, nenek saat ini menderita sakit diabetes dan sering masuk rumah sakit. 4.) Nenek Trahma (75 tahun), beliau tidak memiliki anak. Beliau semasa masih muda bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan saat ini beliau tidak dapat bekerja lagi lantaran usia tua. Dan untuk kebutuhan sehari-hari di sokong tetangga atau umat dari vihara.

3. IBU WARTINI – Desa Marga, Lampung

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Ibu Wartini, beliau adalah istri dari mendiang romo Ponijo yang meninggal pada bulan Desember 2018. Romo Ponijo sendiri adalah romo yang dulunya aktif membina di Vihara Dhamma Marga desa Marga kecamatan Batanghari Nuban, kabupaten Lampung timur. Semoga dana dapat bermanfaat.

2. MBAH POTURANI – Trititsan, Lampung

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada mbah Potaruni yang berdomisili di daerah Tritisan, Lampung. Ia sehari-hari bekerja sebagai pengupas singkong. Aktif mengikuti kegiatan puja bakti di Vihara Buddha Dipa. Diusia senjanya mbah sering sakit-sakitan, sehingga tidak bisa bekerja setiap harinya. Semoga Waisak kali ini dapat dirayakan oleh mbah dengan penuh kebahagiaan.

1. BAPAK NGADIMIN – Lampung Timur

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada bapak Ngadimin yang merupakan umat Buddha dari Vihara Dipa Muly, desa Binjai Agung, Lampung. Sehari- harinya ia bekerja sebagai buruh tani dan penghasilannya cukup untuk membiayai istri dan seorang putrinya. Baru-baru ini ia terpaksa dirawat di RS dikarenakan menderita sakit Typus. Ia sendiri belum memiliki BPJS, sehingga biaya rumah sakit menghabiskan tabungan yang ia miliki. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat bagi bapak Ngadimin, terutama dalam menghadapi moment Waisak kali ini.

Berikut ini adalah nama harum para dermawan yang telah berkontribusi pada kegiatan berbagi kasih Waisak 2563 yang dikoordinir oleh segenggamdaun.com.

Semoga dengan  dana yang diberikan dengan keyakinan dimanapun juga, dapat segera terkondisi berupa kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang berlimpah; elok dipandang, tampan/cantik, bagaikan keindahan bunga teratai yang mengagumkan.

“Di dunia ini ia berbahagia, di dunia sana ia berbahagia; pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia itu, ia akan berbahagia ketika berpikir, ‘aku telah berbuat kebajikan’, dan ia akan lebih berbahagia lagi ketika berada di alam bahagia.” (Dhammapada, 18).

[box type=”Note” fontsize=”20″]Total Dana Terkumpul per 20  MEI 2019  Pukul 13.30 wib: Rp. 150.186.410,- Dana yang telah disalurkan adalah sebesar: Rp. 149 juta, kepada 203 orang penerima. [/box]

Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

Read Previous

WAISAK 2563: MARI KITA BERBAGI KEBAHAGIAAN

Read Next

AYO KITA DUKUNG PENYELESAIAN PEMBANGUNAN GEDUNG SMB VIHARA PARAMITTA DESA NGADAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *