[CLOSED] WAISAK 2561: Mari Kita Berbagi Kebahagiaan

Hari Raya Waisak 2561 yang jatuh pada tanggal 11 Mei 2017 nanti, tentulah menjadi hari yang penuh makna bagi umat Buddha. Tak terasa datang lagi hari yang penuh KemuliaanNya, Hari yang mengingatkan kita pada ke Agungan Sang Guru. Berbagai kegiatan pun dilaksanakan oleh berbagai Vihara dan komunitas untuk merayakannya. Mulai dari kegiatan puja bakti, meditasi, perlombaan, hiburan sampai ke bakti sosial. Tak dapat dipungkiri kegembiraan dan sukacita meliputi kita para Umat Buddha.

Namun ternyata semua kebahagiaan itu mungkin ternyata tidak dapat dirasakan oleh beberapa umat Buddha dibawah ini. Berdasarkan hasil bincang-bincang kami dengan umat tersebut, ternyata mereka memiliki kesulitan untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Untuk itu kami kembali mengajak pada perayaan Waisak kali ini mari kita mulai dengan sikap sederhana yaitu berbagilah kebahagiaan yang kita miliki kepada mereka,sesederhana itu saja. Kegiatan serupa telah dilaksanakan pada tahun 2016, dokumentasinya dapat dilihat pada link berikut: https://goo.gl/DtNSbX

Ketika berbagi kebahagiaan, kita membuat mereka ikut berbahagia, ketika mereka berbahagia karena kita, cenderung kita juga berbahagia. Itulah sikap yang sederhana dalam jalan cinta kasih. ketika kita bisa berbagi kebahagiaan dan membuat mereka ikut berbahagia, tidak sia-sia rasanya kehidupan kita, demikianlah sikap seorang Umat Buddha.

“Dengan semangat kasih Waisak, kiranya kegiatan ini dapat bermanfaat bagi umat yang membutuhkan yang akan merayakan Waisak tahun ini. Juga diharapkan umat lain  yang berkecukupan dapat termotivasi dalam kepedulian kepada sesama”.

[box type=”custom” color=”#530084″ bg=”#dd9933″ fontsize=”14″ radius=”12″]Rencana bentuk bantuan yang akan diberikan ke pada para umat berikut ini adalah berupa dana tunai dan hewan ternak. Untuk Contoh penyerahan dana dapat dilihat pada kegiatan Waisak tahun lalu yang telah dilakukan pada link berikut ini :

Yang paling penting bagi kami, adalah bukan seberapa besar nilai yang anda sumbangkan, tetapi kami lebih berharap seberapa besar kita peduli kepada para saudara sedhamma kita ini.

BANER DONATUR WAISAK

Berikut ini gambaran beberapa profil umat Buddha yang wajib kita bantu bersama :

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]1. Mas Bardi & Istrinya[/highlight]

Mas Bardi berasal dari Desa Tempuran Kab. Jepara- Jawa Tengah. Pada tahun 1997 setelah lulus SLTP dia pun merantau ke daerah Labuan, dikota inilah dia gantungkan angan dan harapan untuk merubah kehidupan yang lebih baik, diapun akhirnya diterima bekerja di toko emas. Selama bekerja di toko emas ini Bardi juga aktif di Cetiya Buddha Dipa yang sekarang bernama Vihara Buddha Ratana, sampai sekarangpun saudara Bardi masih aktif di Vihara Buddha Ratana, disamping itu disela-sela dia menjaga toko perhiasan peraknya kalau ada kegiatan keagamaan serta undangan dari Bimas Buddha Banten dia selalu datang untuk mewakili Majelis.

Saudara Bardi bersama istrinya Mbak Lena dan anak-anak mereka.

Pada tahun 2001 iapun menikah dengan gadis setempat yang sama-sama Buddhis dan dikaruniai 2 orang putra dan seorang putri. Setelah dirasa cukup mempunyai pengalaman setelah bekerja di toko emas selama 15 tahun lebih, dia pun keluar dan mandiri sendiri dengan membuka toko perhiasan perak walau masih ala kadarnya. Pasang surut dalam usaha jual beli perhiasan perak tak dapat dihindari, semua tergantung dari kondisi masyarakat setempat yang notabene petani dan nelayan, adakalanya ramai kalau musim panen demikian sebaliknya kalau lagi musim paceklik mereka berbondong-bondong untuk menjual perhiasan peraknya.

Saudara Bardi dalam beberapa kesempatan kegiatan rohani.

Kini dengan berlalunya waktu dalam mengarungi bahtera rumah tangga kurang lebih 15 tahun tanpa kendala yang berarti kini harus menghadapi kenyataan pahit yang harus dialami dengan sakit yang dialami oleh istri tercintanya, Pada bulan November 2016 istrinya dibawa kerumah sakit Al’Furkon di Labuan untuk rawat inap sehari semalam dan dokter rumah sakit setempat memvonis istri Saudara Bardi ( Ibu Lena) gagal ginjal.

Karena keterbatasan alat-alat medis akhirnya dirujuk ke rumah sakit Sari Asih Serang selama 4 hari, setelah pulang dari Rumah Sakit Sari Asih Serang akhirnya di perbolehkan pulang dengan anjuran selalu cuci darah seminggu 2 kali, dalam 2 minggu berturut-turut rutin menjalani kontrol serta cuci darah, namun karena sesuatu hal akhirnya diambil jalan menggunakan metode pengobatan alternatif yang disarankan oleh seseorang. Selama 1 bulan itu pengobatan alternatif itu di jalani tanpa disadarinya hal itu telah menyebabkan bertambah parahnya penyakit yang dialami oleh istrinya, walaupun awal-awalnya tak menunjukkan gejala-gejalanya.

Foto bersama putra mereka saat mengikuti kegiatan menjadi samanera.

Pada awal bulan Januari 2017 gejala akibat penggunaan pengobatan altrnatif menyebabkan penyakit istrinya kritis dan mengalami koma, lalu dibawa ke RSUD Serang, karena melihat kondisi pasien yang sudah parah disarankan untuk dibawa ke Rs. Bethsaida di Serpong Tangerang. Selama 2 hari 2 malam istrinya mengalami koma di ruang ICU Rs. Bephsaida Serpong Tangerang.

Demi kesembuhan istri dan ibu dari anaknya saudara Bardi tak berpikir panjang mengenai biaya pengobatan selama istrinya dirawat di rumah sakit, walaupun dia harus pinjam sana-sini (dikarenakan kondisi keuangan yang lagi sulit) sampai dia juga nekat pinjam ke bank keliling yang kesemua biaya selama istrinya keluar masuk rumah sakit telah menghabiskan 140 jt lebih. Kini keadaan keuangan dia semakin sulit, karena biaya cuci darah sekali cuci darah 3jt selama seminggu disisi lain dia harus melunasi hutang-hutangnya. Baru pada bulan Maret ini, proses cuci darah dapat menggunakan BPJS.

Kondisi Mbak Lena saat ini yang harus menjalani cuci darah 2 kali setiap minggunya.

Seminggu sebanyak 2 kali, saudara Bardi mengantarkan istrinya ke RSUD serang untuk melakukan cuci darah. Perjalanan selama kurang lebih 4 jam dari kampungnya di Labuan. Ia harus pergi subuh dengan menyewa mobil agar mendapatkan nomor antrian. Kondisi keluarganya saat ini benar-benar memprihatinkan, disatu sisi waktu Mas Bardi habis untuk mengurus istrinya sehingga usaha dagangnya menjadi terbengkalai, disisi lain ia hampir setiap saat dikejar dan didatangi oleh mereka yang uangnya dipinjam. Terutama dengan Bank keliling yang jika tidak segera dilakukan penyelesaian, maka bunganya akan terus berbunga bertambah banyak.

Seperti dituturkan mas Bardi, bahwa apapun yang ia miliki saat ini, yang dapat dijual dan dijadikan uang telah dilakukannya. Marilah kita bersama-sama di moment menjelang waisak ini dapat bersama-sama meringankan sedikit beban yang dipikul oleh mas Bardi.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]2. Bapak Sepon Widodo (70 tahun)[/highlight] 

Bapak Sepon Widodo adalah salah satu pendiri Vihara Punna Sampada yang berlokasi di Perum Cibodas Tanggerang. Saat ini beliau hanya bisa terbaring di ranjang karena penyakit syarad yang dideritanya. Saat ini beliau tinggal dirumah anaknya di Duku Kebolanjam, Desa Ngablak Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati- Jawa Tengah. Semasa sehatnya beliau bekerja di Tanggerang sebagai seorang tenaga security, dan sangat aktif mengabdikan dirinya di Vihara Punna Sampada.
Kondisi tempat tinggal Bapak Sepon yang berdinding gedek, dan sudah banyak yang rusak. Bagian atap juga nyaris roboh dan bocor dimana-mana.
Semenjak menderita syaraf terjepit ia harus berhenti dari segala aktivitasnya. Makin hari penyakit yang dideritanya makin parah saja. Anaknya sendiri hanya bekerja menggarap sawah milik orang. Penghasilan juga tak menentu, kadang untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja sudah sulit. Tidak dibawanya Bapak Sepon memeriksakan diri ke rumah sakit, karena lokasi dusun mereka yang jauh dari RS terdekat, dibutuhkan biaya transportasi yang tinggi untuk itu. Harapan kita agar nantinya Bapak Sepon segera dapat memperoleh pengobatan yang layak, agar ia dapat segera pulih kembali.
[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]3. Ibu Kamirah (80 tahun)[/highlight]

Ibu Kamirah pada saat masih sehat sangat aktif bersama suaminya di Vihara Amurwa Bhumi desa Tluwah. Semenjak suaminya meninggal, akhirnya ibu Kamirah memutuskan untuk tinggal bersama anaknya di kampung. Anak ibu Kamirah yang bernama Saman, mencari nafkah dengan menjadi petani mengolah sawah milik orang.

Foto kanan adalah Bp. Saman putra dari ibu Kamirah yang dengan penuh bakti merawat beliau. Bp Saman sendiri berprofesi sebagai petani.

Ibu Kamirah pada awalnya terkena stroke. Saat ini hanya diobati dengan pengobatan tradisional saja.  Dijelaskan anaknya, karena selain tidak memiliki biaya untuk tranportasi membawa kerumah sakit, juga kondisi ibu yang dikhawatirkan bertambah parah apabila harus menempuh perjalanan yang melelahkan.

Rumah ibu kamirah juga yang sangat sederhana, juga mengalami banyak bagian yang lapuk dan bocor.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]4. Ibu Sulikah, S.Ag & Putranya Ariya Wisnu[/highlight]

Ibu Sulikah,SAg berasal dari Labuhan Maringgai Lampung Timur. Setamat SMA Way Jepara di Lampung Tengah, kemudian melanjutkan pendidikan ke STAB Nalanda mengambil D3 Jurusan Dharma Acharya pada tahun 2000. Setelah itu kemudian melanjutkan mengambil pendidikan S1 nya di STAB Mahaprajna. Untuk membiayai kuliahnya Ibu Salikah bekerja pada sebuah toko baju di tanah abang. Pada tahun 2010 menikah dengan Wakijo, dan pada 11 Maret 2014 melahirkan putra semata wayang yang diberi nama Ariya Wisnu.

Ibu Sulikah (berbaju batik) bersama rekan guru saat masih aktif mengajar, Foto kanan adalah Ariya Wisnu saat kondisinya masih sehat.

Pada awalnya kehidupan Ibu Sulikah berjalan lancar dan bahagia,layaknya sebuah keluarga kecil lainnya. Namun semenjak bulan Januari 2016 semuanya berubah.Awalnya Ariya hanya menderita batuk pilek dan panas. Dibawa ke dokter umum, sembuh namun 5 hari kemudian pasti kambuh lagi. Hal ini berlangsung sampai 2 bulanan. Bolak-balik ke beberapa rumah sakit, namun kondisi Ariya tak kunjung membaik. Sampai mata membengkak, dan badan putih semua, dan sempat ditransfusi darahnya. Karena sibuk membawa anaknya berobat kesana kemari, akhirnya Ibu Sulikah otomatis berhenti mengajar di Sekolah Tunas Karya III, Kelapa Gading Jakarta Utara. Selain itu ibu setiap minggunya juga mengajar di sekolah Minggu Buddist di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Sempat selama 3 bulanan mengajar Agama Buddha di Gandhi International School.

Telah beberapa kali mendapat bantuan donatur melalui segenggam daun. Kondisi Ariya sendiri sudah berlangsung 1 tahun lebih.

Saat ini Ariya melakukan perawatan rutin di RS Cipto, dalam seminggu hampir setiap hari Ariya harus rutin bolak balik ke RS untuk dilakukan perawatan pada matanya dan pemberian obat-obatan. Memang pengobatan menggunakan BPJS , namun beberapa obat-obatan harus dibayar sendiri dan beberapa alat kesehatan yang digunakan juga tak ditanggung BPJS. Biaya transportasi setiap hari paling tidak menghabiskan 50 ribu dengan naik bajaj. Belum lagi untuk susu, pampers dan makan. Saat ini Ariya divonis dokter menderita kanker, harus menjalani pengobatan dan terapi yang memakan waktu tahunan. Kondisi mata bengkak, terdapat benjolan-benjolan pada kepala, hati membengkak.

Kondisi Ariya saat ini setelah menjalani banyak kemoterapi dan pengobatan lain. Kondisi fisik sangat banyak kemajuan. Masih harus menjalani beberapa kemoterapi lagi.

Saat ini Ariya masih menjalani Kemoterapi Di RS Cipto Mangunkusumo. Jenis penyakit Ariya adalah Neuroblastoma. Kondisi Ariya terus membaik, sudah dapat berjalan sendiri dan rewelnya yang biasanya menangis terus sekarang telah berkurang.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]5. Ibu Potaruna[/highlight]
Ibu Potaruna atau yang biasa dipanggil ibu Po berasal dari Yogyakarta. Semenjak tahun 1980 ia bersama suaminya merantau ke Lampung. Suami ibu Po telah meninggal dunia pada tahun 1990. Ibu Po sekarang tinggal di daerah Tritisan . Sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan ibu Po bekerja mengupas singkong.
Ibu Po disela kesibukkanya mengambil upahan mengupas kulit singkong, selalu menyempatkan diri mengikuti puja bakti di Vihara ataupun di rumah umat.
Ibu Po sangat aktif mengikuti puja bakti baik di Vihara Buddha Dipa ataupun dirumah-rumah umat. Kondisi rumah ibu Po sudah sangat jelek sekali, jika turun hujan maka air akan menggenang. Harapan ibu Po agar dapat memperbaiki rumah dan mendapatkan modal untuk beternak ayam yang bisa dijual telurnya.
Kondisi tempat tinggal Ibu Po yang sudah banyak bocor dan rapuh. Bahkan untuk menghindari tetesan air hujan, terpaksa bagian atas tempat tidurnya dipasangi plastik.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]6. Ibu Patrinem[/highlight]

Ibu Patrinem aktif mengikuti puja bakti di Vihara Buddha Gantimulyo kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur. Beliau dulu berasal dari Jawa Tengah, dan merantau ke Lampung pada tahun 1951. Semenjak lahir beliau telah memeluk agama Buddha.

Pekerjaan beliau dulu adalah jual beli ayam, dengan profesi inilah ia membesarkan ke-2 anaknya. Ia sendiri telah berpisah dengan suaminya semnjak tahun 1958, saat itu anak-anaknya masih Balita.

Ibu Patrinem sekarang hanya tinggal dirumah saja karena kondisi usia, dan sering sakit-sakitan. Ia juga sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Beliau tinggal bersebelahan dengan putranya yang bernama Mukayat. Mukayat sendiri berprofesi sebagai buruh menyadap pohon karet, namun mukayat juga menderita penyakit radang paru-paru. Sehingga ia tidak dapat bekerja dengan baik dan lebih sering beristirahat dirumah.

Bapak Mukayat yang merupakan putra dari ibu Patrinem. Mereka tinggal bersebelahan rumah seperti nampak dalam foto kanan.

Harapan Ibu Patrinem agar dapat memperoleh bantuan untuk biaya berobatnya dan memperbaiki beberapa bagian rumah yang rusak.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]7. Ibu Rustiani [/highlight]

Ibu Rustiani adalah istri dari pensiunan tentara yang hidup dengan sederhana bersama suaminya yang bernama Bapak Murdiono yang saat ini berprofesi sebagai petani. Beliau berdomisili di dusun Wringinanom, Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.

Sudah beberapa bulan ini Ibu Rustiani menderita penyakit Maag Kronis, sudah beberapa kali berobat kerumah sakit Al Rohmah yang harus ditempuh 2 jaman dari dusunnya. Namun belum mengalami kemajuan yang berarti, malahan kondisi beliau makin hari makin melemah. Setiap kali berobat kerumah sakit terdekat, harus merogoh kocek paling sedit Rp. 300 ribu untuk transportasi, belum lagi biaya obat dan pemeriksaannya. Ibu Rustiani sendiri belum memiliki BPJS, mungkin karena orang desa yang bingung untuk urusan administrasi.

Saat ini ibu Rustiani belum melanjutkan pengobatan dikarena terbentur masalah biaya. Ibu Rus sendiri sebenarnya diwajibkan dokter untuk menjalani opname. Mudah-mudahan dana dari donatur dapat disalurkan untuk membantu biaya pengobatan ibu Rustiani. Ibu Rustiani sendiri adalah umat Buddha yang aktif beribadah dan membantu di Vihara Dhamma Sagara Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]8. Mbah Kasumi[/highlight]

Mbah Kasumi saat ini telah berusia 86 tahun. Ia tinggal sendirian di gubuknya yang sangat sederhana di desa Pakis Aji, Jepara. Almarhum Suami Mbah Kasumi dulu adalah salah seorang yang berjasa turut serta dalam mendirikan Vihara Manggala di desanya. Sampai saat ini diusia senjanya si Mbah tetap aktif mengikuti kegiatan di Vihara walaupun ia harus berjalan dengan tongkat.

Mbah Kasumi sendiri  memiliki dua orang putra, namun seorang telah meninggal dunia. Putra yang lainnya tinggal dirumah sendiri,namun juga dengan latar belakang kesulitan ekonomi karena berprofesi membantu di sawah milik orang lain. Untuk makan sehari-hari mbah kadang terpaksa berhutang di toko, nanti jika anaknya sudah memiliki uang baru dibayar. Kadang mbah juga mendapatkan bantuan makan sehari-hari dari para tetangganya.

[divide icon=”circle” color=”#dd8d13″]

[iconbox title=”Keterangan” title_align=”center” content_align=”center” layout=”boxed” title_color=”#dd0000″ content_color=”#D94A1A” align=”center” type=”vector” icon=”momizat-icon-pawn” icon_align_to=”box” size=”32″ icon_bg=”square” icon_bg_color=”#ededaf” icon_bg_hover=”#c8f298″ icon_bd_color=”#dd7a7a” icon_bd_hover=”#508bbf” ] 8 kasus diatas mewakili keadaan lebih dari 40 keluarga umat Buddha yang tersebar di pelosok Indonesia yang rencananya akan dibantu pada Waisak kali ini.  Dana yang terkumpul nantinya akan dialokasikan sesuai kebutuhannya. Bukti-bukti penyerahan nantinya juga akan diupload di situs ini, berikut foto dan tanda terima bantuannya. Nama-nama donatur juga akan dilampirkan disini. [/iconbox]

Untuk turut serta BERDANA dapat disalurkan ke No. Rekening berikut dengan akhiran 9, misal Rp. 100.009,-

bca1

[iconbox title=”KETERANGAN Lainnya dapat menghubungi Kontak berikut” title_align=”center” content_align=”center” layout=”boxed” bg=”#a9d689″ border=”#59d600″ content_color=”#0a0405″ align=”left” type=”vector” icon=”momizat-icon-phone” icon_align_to=”box” size=”32″ ]

King Tony  – 0878 8121 9798 (Pin: 5526FAA1)

Sdri. Sumarah – 0821 788 16776 (Pin: 2B902CAD)

Yudianto Tjandranata  – 0811 58338 17 (Pin: 2BF36E79)

[/iconbox]

BANER DONATUR WAISAK

Vinkmag ad

Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

[CLOSED] Mari Kita Dukung Pemugaran Kembali Vihara DharmaGiri Vanna Lombok Utara

Read Next

[CLOSED] AYO KITA DUKUNG KELANGSUNGAN TRANSPLANTASI GINJAL BAPAK TAN TANOTO

Leave a Reply

Your email address will not be published.