IMLEK 2017 : Mari Kita Rayakan Dengan Berbagi Kebahagiaan

Tahun baru Imlek 2567  yang jatuh pada tanggal 28 Januari 2017 tentulah merupakan hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian orang keturunan Tionghoa Indonesia yang merayakannya. Kerja keras dan usaha sepanjang tahun akan terbayar dengan perayaan Imlek yang meriah dan penuh sukacita. Mulai dari bersih-bersih rumah, persiapan kue-kue dan makanan untuk para tamu, mengecat rumah agar terlihat bagus, membeli baju baru, dan tentunya mengisi angpao untuk dibagikan pada kerabat dan sanak saudara.

Namun ternyata semua kebahagiaan itu ternyata tidak dapat dirasakan oleh beberapa keluarga dibawah ini. Hal ini dikarenakan kesulitan hidup mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang sudah sangat sulit dirasakan. Apalagi untuk merayakan Imlek. Yang ada di benak mereka hanya apakah besok bisa makan. BUKAN apakah yang akan kita makan besok. Tidak pernah terbayang untuk makan makanan yang lezat, minum minuman bersoda bahkan untuk menerima angpao dari kerabat mereka. Bisa makan nasi besok pun mereka sungguh sangat bersyukur.

cn-new-year-banner

Ini adalah tahun ke-3 segenggam daun kembali mengajak  para sahabat sekalian, untuk kiranya sudi dan lapang hati menyisihkan sedikit saja dari uang anda buat dikumpulkan dan selanjutnya akan kami alokasikan sesuai tingkat kebutuhan mereka. Yang paling penting bagi kami, adalah bukan seberapa besar nilai yang anda sumbangkan, tetapi kami lebih berharap seberapa besar kita peduli kepada para saudara kita ini.

Untuk kegiatan tahun sebelumnya dapat dilihat pada link berikut ini :

Bukti Dokumentasi penyerahan bantuan Imlek tahun 2016 (Klik Disini)

Bukti Dokumentasi penyerahan bantuan Imlek tahun 2015 (Klik Disini)

Berikut ini gambaran beberapa profil keluarga yang wajib kita bantu bersama :

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]1.   Pipin Chan & Keluarganya[/highlight]

Pipin adalah anak tunggal, ia tinggal bersama dengan papa dan mamanya disebuah rumah di jalan Bima Kampung sawah brebes, Tanjung Karang Timur kota Bandar Lampung. Rumah yang ditinggali terletak di sebuah gang sempit dan posisi rumahnya adalah yang paling ujung.

Pipin sendiri hanya sempat bersekolah sampai kelas 1 SMA, karena tidak ada biaya ia akhirnya memutuskan berhenti. Papanya  yang bernama Chan Suan Liong (70 tahun) sehari-hari mencari nafkah dengan mengumpulkan kayu-kayu yang hanyut disungai dekat rumahnya, kayu tersebut nantinya dipotong untuk dijual sebagai bahan kayu bakar. Kadang papanya juga mengumpulkan plastik-plastik bekas. Mamanya Tjong Nyat Mey (65 tahun) dirumah menerima upah menjahit.

Pipin bersama Papa dan Mamanya. Foto kanan mama pipin dengan mesin jahit tuanya yang digunakan untuk menunjang kehidupan keluarga.

Mama pipin sendiri mengalami cacat pada pinggangnya karena terjatuh saat kecil. Sampai sekarang mama pipin jika berjalan dengan kondisi bongkok dan tak tahan untuk berdiri lama.

Kondisi rumah Pipin yang sudah sangat memprihatinkan, atap sudah bolong dan banyak kayu yang rapuh.

Pendapatan kedua orang tuanya tak menentu, apalagi saat ini usaha menjahit mama pipin sangat sepi order. Untuk makan saja mereka terpaksa untuk berhutang dulu di warung, jika papanya berhasil menjual kayu maka uangnya dipakai untuk mencicil hutang yang lama.

Rumah yang ditempati juga dimana-mana sudah bocor dan mau ambruk. Jika hujan, maka rumah pipin akan tergenang oleh air. Untuk rumah yang ditinggali saat ini adalah peninggalan dari kakeknya, dan pipin sekeluarga hanya berhak tinggal dirumah tersebut hanya sampai saat mamanya masih hidup, jika mama pipin meninggal maka pipin harus mencari tempat tinggal baru sesuai perjanjian yang dibuat para ahli waris.

Pipin berharap apabila mendapatkan dana bantuan, yang pertama akan dilakukan adalah melunasi hutang-hutangnya. Kemudian akan membeli sebuah gerobak yang nantinya akan dipakai untuk berdagang sayur. Juga jika mungkin akan digunakan untuk memperbaiki rumahnya yang bocor.

Saat ini Pipin tengah mengikuti paket kesetaraan  dari pemerintah untuk anak yang putus sekolah, bulan April 2017 ia akan lulus. Jika lulus ia mempunyai harapan sama untuk dapat bekerja dan melanjutkan kuliah.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]2. Ai Then Miau Fung (63 tahun)[/highlight]

Ai Miau Fung berdomisili di Jalan Panji Anom, Kecamatan Sambas, Kalimantan Barat. Kota Sambas sendiri terletak kurang lebih 80 km dari kota Singkawang.

Saat ini Ai Miau Fung tinggal bersama 2 orang putra dan seorang putri. Ke tiga anaknya ini semuanya mengalami gangguan mental. Suami ai sendiri telah meninggal beberapa tahun lalu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ai bekerja menjadi pencuci baju di beberapa rumah tetangga.

Ai Miau Fung bersama ke-3 anak-anaknya yang menderita gangguan mental.

Untuk tempat tinggal sendiri diberikan tumpangan disebuah bedeng yang merupakan milik Vihara Buddha Dhamma Bhavana.

Ai sendiri sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengurusi ketiga anaknya. Karena walau umur anaknya semua sudah diatas 30 tahun, namun untuk makan dan mandi pun harus dibantu oleh mamanya.

Kebutuhan ai saat ini selain memang untuk biaya sehari-hari sudah sangat pas-pasan, mungkin di Imlek kali ini dapat memperbaiki beberapa bagian rumah yang bocor. Dan mungkin dapat membeli beberapa perabot rumah seperti kasur.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]3. Mulyadi  (37 tahun)[/highlight]

Berawal dari bulan Mei 2015, saat itu Mulyadi mengalami sakit dan sesak nafas setelah diajak temannya mengkonsumsi minuman keras. Ternyata minuman tersebut adalah oplosan, dan Mulyadi mengalami keracunan. Setelah di bawa kedokter, kondisinya mulai membaik. Namun beberapa hari kemudian, saat ia bangun tidur, tiba-tiba penglihatannya menjadi gelap.

Dibawalah ia kedokter mata, menurut dokter ada masalah pada syaraf matanya. Sempat beberapa kali pindah dokter namun tidak ada perbaikan. Seluruh hartanya sudah habis digadai untuk biaya berobat. Hendak menggunakan BPJS untuk berobat, namun menurut dokternya penyebab penyakitnya adalah karena akibat keracunan minuman dan disebabkan oleh diri sendiri sehingga tidak dapat untuk dirawat menggunakan fasilitas BPJS.

Saat ini ia hanya berobat secara tradisional saja. Otomatis ia tak dapat bekerja lagi sebagai buruh panggul di pasar. Memiliki 2 orang anak, satu sudah sekolah SD dan satunya baru berusia 2 tahun. Untung rumah yang saat ini ditempati di daerah 10 Ulu Palembang, adalah tumpangan yang diberikan seorang kenalannya.

Namun kondisi matanya pelan-pelan mengalami kemajuan setelah menjalani pengobatan alternatif, dari yang awalnya gelap total sekarang sudah bisa melihat cahaya dan bayangan walau masih samar-samar.

 

 

 

Untuk lebih pasti mengenai kondisi matanya,maka tanggal 19 Desember, Mulyadi diperiksakan ke dr. Sumeidi, SpM. Menurut dokter kondisi matanya karena syaraf sudah banyak yang rusak, maka butuh waktu yang lama. Harus mengkonsumsi beberapa Vitamin mata untuk merangsang syaraf-syaraf yang rusak agar dapat pulih. Biaya obat-obatan setiap bulannya berkisar Rp. 1 juta lebih.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]4. Ai Meliawati  (74 tahun)[/highlight]

Ai Meliawati adalah seorang guru bahasa mandarin, sudah puluhan tahun ia menjadi guru honor di sebuah sekolah swasta dengan mengajar seminggu sekali untuk pelajaran tambahan bahasa mandarin. Penghasilannya perbulan dari sekolah sekitar Rp. 200 ribu, ia juga ada memberikan kursus namun pendapatannya juga tak seberapa.

Ai Meliawati bersama kedua adiknya.

Tempat tinggalnya saat ini yang beralamat di jalan Jaya 1, daerah Plaju Palembang, adalah tumpangan dari orang yang bersimpati kepadanya.

Rumah yang sekarang ditempati, merupakan tumpangan oleh seorang yang bersimpati kepadanya.

Ai Meliawati tinggal bersama dengan 2 orang adiknya. Kedua adiknya tersebut tidak berkeluarga. Jadi selama ini ai Meliawatilah yang membiayai kehidupan adik-adiknya.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]5. Asuk Ayung (73 tahun) [/highlight]

Asuk Ayung berdomisili di daerah Mangga Besar 9, Jakarta. Ia tidak menikah, tinggal seorang diri.  Selain sakit-sakitan kondisi matanya juga sudah mengalami rabun parah. Untuk kebutuhan sehari-hari memang ada dibantu oleh saudaranya.

 

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]6. Asuk Khok Hiun Pin (88 tahun)[/highlight]

Asuk Hiun Pin berdomisili di desa teluk Uber Sungai Liat, Bangka. Ia tidak menikah dan tinggal seorang diri. Kondisinya saat ini sakit-sakitan dan penglihatannya sudah kabur sekali. Otomatis ia tidak bisa pergi kemana-mana dan hanya berdiam dirumah saja. Sewaktu masih sehat ia bekerja sebagai buruh harian di pasar.

Untuk kebutuhan sehari-hari seperti menyiapkan makan, asuk dibantu oleh para tetangganya.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]7. Ama Tang Tik (72 tahun)[/highlight]

Ama Tang Tik  tinggal didaerah Mayang, Jambi. Kesehariannya ama membiayai hidupnya dari hasil memulung kantong plastik. Setiap hari ia berkeliling dengan menggunakan sepeda tuanya.

Kondisi rumahnya juga mengalami bocor dimana-mana, sehingga jika hujan rumah ama yang berlantai tanah akan kebanjiran.  Hampir tak dijumpai perabot berharga seperti TV ataupun kulkas didalam rumahnya, selain onggokan plastik-plastik hasil memulung yang siap untuk dijual lagi.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]8.Tjai Tet Fuk (60 tahun) [/highlight]

Asuk Tet Fuk berdomisili di daerah kampung durian dusun Talang Baru, Kalimantan Barat. Sehari-hari ia bekerja sebagai penjaga sebuah komplek pemakaman Katolik. Ia mendapatkan bayaran sebesar Rp. 900 ribu setiap bulannya.

Ia memiliki 5 orang anak, 3 diataranya sudah bersekolah SD. Kondisi rumahnya saat ini dimana-mana bagian dinding kayunya sudah rapuh dimakan rayap. Dan atapnya juga bocor semua, sehingga jika hari hujan air akan masuk.

Asuk Tet fuk, istrinya baru saja melahirkan anak mereka yang ke-5. Ia berharap jika mendapatkan bantuan sebagian digunakan untuk keperluan anak-anaknya dan memperbaiki bagian rumah yang bocor dan rapuh.

[divide icon=”circle” color=”#dd8d13″]

[iconbox title=”Keterangan” title_align=”center” content_align=”center” layout=”boxed” title_color=”#dd0000″ content_color=”#D94A1A” align=”center” type=”vector” icon=”momizat-icon-pawn” icon_align_to=”box” size=”32″ icon_bg=”square” icon_bg_color=”#ededaf” icon_bg_hover=”#c8f298″ icon_bd_color=”#dd7a7a” icon_bd_hover=”#508bbf” ]8 profil  diatas adalah sebagian contoh yang mewakili keadaan lebih dari 30 orang yang sudah masuk kekami dan  rencananya akan dibantu pada kesempatan ini. Tersebar di kota Medan, Palembang, Surabaya,Jakarta, Jambi, Pangkal Pinang, Kalimantan  dan Biak.  Dana yang terkumpul nantinya akan dialokasikan sesuai kebutuhannya. Bukti-bukti penyerahan nantinya juga akan diupload di situs ini, berikut foto dan tanda terima bantuannya. Nama-nama donatur juga akan dilampirkan disini. [/iconbox]

Untuk turut serta BERDANA dapat disalurkan ke No. Rekening berikut dengan akhiran 8, misal Rp. 100.008,-

bca1

207-hd

[iconbox title=”KETERANGAN Lainnya dapat menghubungi Kontak berikut” title_align=”center” content_align=”center” layout=”boxed” bg=”#a9d689″ border=”#59d600″ content_color=”#0a0405″ align=”left” type=”vector” icon=”momizat-icon-phone” icon_align_to=”box” size=”32″ ]Sdri. Sumarah – 0821 788 16776 (Pin: 7AACC4DA)

King Tony – 0878 812 19798  (Pin: 5526FAA1)

Yudianto Tjandranata  – 0811 58338 17 (Pin: 2AFFBB25)

[/iconbox]

cn-new-year-banner

quote-Buddha-thousands-of-candles-can-be-lighted-from-41138

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Benedict Cumberbatch: Akhirnya Bertemu Dengan Ajaran Buddha

Read Next

DOKUMENTASI Penyerahan Bantuan & Nama Donatur Berbagi Kasih Imlek 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.