DOKUMENTASI Penyerahan Bantuan & Nama Donatur Berbagi Kasih Imlek 2017

[box type=”info” fontsize=”14″ radius=”20″]Total dana yang telah disalurkan adalah sebesar Rp. 125 juta, total dana yang diterima adalah sebesar Rp. 136 juta. Sisa dana akan digunakan untuk membiayai pengobatan sdr. Adi yang mengalami kebutaan. Update akan disusulkan.[/box]

88. Liliana alias Maknyak (76 tahun) – Palembang

Berdomisili di jalan Ogan Kelurahan Bukit Besar Palembang. Sehari-harinya maknya berjualan Cak Kwe dan donat keliling, dari usahanya itu bisa didapat keuntungan sekitar 20 ribu per harinya. Maknyak mempunyai seorang anak laki-laki yang tidak bekerja dikarenakan mengalami gangguan kejiwaan. Suaminya juga tidak bekerja karena mengalami lumpuh. Saat ini Maknyak tengah kesulitan untuk membayar uang kontrakannya sebesar Rp. 400 ribu perbulan. Kontrakan berupa sebuah ruangan yang jika dilihat nampaknya tidak layak untuk ditinggali. Selain bagian atap sudah bocor disana sini, ukuran yang sempit mungkin hanya 2,5 meter persegi. Didalam rumah ini segala macam perabot dan baju serta tempat tidur bercampur aduk menjadi satu.

87.

86. A Lian (66 tahun) – Palembang

Berdomisili di jalan Sekip Madang Palembang. Ia tinggal bersama seorang anak laki-lakinya yang sudah berusia 30 tahun lebih, namun tak bekerja. Ai ini sudah ditinggal suaminya setahun yang lalu. Untuk makan sehari-harinya mengharapkan pemberian dari para tetangga yang merasa kasihan pada mereka.

85. Nini (63 tahun) – Medan

Berdomisili di Jl. Bilal gg. Sawo Medan. Tinggal bersama anak perempuan satu satunya yang barusan melahirkan. Ia bersama anaknya kerap berjualan kue kue di pasar pasar tradisional. Ai nini sangat mengharapkan bantuan dermawan karena rumahnya kerap kebanjiran apabila hujan. Air naik dari bawah lantainya sehingga mengenangi tempat tidurnya yang terletak di lantai begitu saja. Papan papan rumahnya pun sudah sangat lapuk.

84.

83.

82.

81.

80.

79.

78.

77. Tjung Sui Khiun (67 tahun)

Berdomisili di Jalan Putri Candramidi, Pontianak. Ai ini sudah lama menjanda, dan sekarang tinggal menumpang dirumah saudaranya. Beberapa waktu lalu pernah terjatuh dan tangannya retak. Mempunyai 2 orang anak dengan penghasilan minim. Si ai sudah habis biaya banyak mengobati tangannya, bahkan seluruh harta benda yang ia punya terpaksa dijual. Saat ini menjalani pengobatan tradisional.

76. Jimmy Santoso (42 Tahun) – Tulungagung

Jimmi mencari nafkah dengan menjual bakso ikan tuna bakar (dititip-titipkan ke sekolahan & warung), dengan penghasilan sekitar 600-700an rb/bulan. Punya 2 anak (SD dan SMP), sering kesulitan bayar SPP & kontrakan karena penghasilan habis untuk kebutuhan makan sehari-hari. Alamat kontrakan: Perum Veteran H 1/30,jln.Mastrip gg 2,Rt 01,RW 06, Tulungagung.

75. Ay Yin (38 tahun) – Lombok

Diserahkan dana donatur kepada Ay Yin, warga jalan Sanubayee Cakra,NTB. Beliau membesarkan 3 anak yang masih bersekolah. Suaminya pergi meninggalkan tanpa kabar berita. Saat ini ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan penghasilan 600 setiap bulannya. Ada kontrakan yang harus segera dibatar.


74. Ibu Sulikah, S.Ag – Jakarta

Diserahkan dana donatur sebesar Rp. 2 Juta untuk Ariya , putra dari Ibu Sulikah, S.Ag. Saat ini Ariya dan ibunya tinggal di YKAKI (Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia). Ibu Sulikah sendiri adalah seorang guru agama Buddha di beberapa sekolah di Jakarta. Namun karena keadaan putranya Ariya yang menderita kanker,maka Ibu Sulikah otomatis berhenti dari semua aktivitas mengajarnya.

73. Yusuf Kondengis (37 tahun) – Papua

Ia adalah seorang guru wushu dan barongsai di biak. Berdomisili di jalan Mandala Biak. Dapat dikatakan bahwa ia ada lah perintis olahraga wushu dan barongsai untuk penduduk asli Biak. Beberapa muridnya bahkan telah mengikuti kejuaraan nasional dan memiliki prestasi yang baik. Namun secara penghasilan memang minim, karena hampir semua siswanya berasal dari keluarga tak mampu. Yusuf mengajar wushu secara gratis bagi yang tak mampu. Ia bekerja sebagai satpam di sebuah gudang.

72. Tio Peh Cuan (50 tahun) – Jakarta

Memilik 5 orang anak, 3 diantaranya masih bersekolah dan baru satu yang bekerja. Dulu suaminya bekerja menjual bakso ikan, namun semenjak menderita sakit jantung dan darah tinggi, kondisi fisiknya lemah dan harus banyak beristirahat dirumah. Suaminya juga gak bisa membaca dan menulis, hingga tidak bisa bekerja dengan orang lain.

71. Kheng Gao (73 tahun) – Palembang

Saat ini menderita penyakit pikun, memiliki 4 anak namun hanya satu yang bekerja. Satu anaknya menderita kelainan mental.

70. Lidya (47 tahun) – Palembang

Menjanda semenjak 5 tahunan lalu. Mempunyai 3 anak , 2 masih bersekolah dan satu sudah bekerja namun dengan penghasilan yang minim sebagai penjaga toko. Dulu ai sempat membuka warung, namun karena sepi pembeli terpaksa berhenti. Saat ini untuk biaya sekolah anak dan biaya makan mengandalkan anak laki-lakinya.

69. Tjua Ek  Nio (62 tahun) – Palembang

Ii Nget Nio, Tinggal sendirian, suaminya sudah meninggal 6 tahun lalu. Memiliki  3 anak, namun saat ini hanya satu yang masih hidup dan  menderita penyakit depresi. Penghasilan sehari-hari dari membuat keripik yang dibungkus dan dititip titipkan di warung-warung.

68. Ong Wen Sen (63 tahun) – Palembang

Asuk ini menderita sakit maag dan paru-paru sudah bertahun-tahun tak kunjung sembuh. Menikah namun tak mempunyai keturunan. Untuk membiayai hidup, istrinya bekerja sebagai tukang cuci baju dengan penghasilan lebih kurangg 800 ribuan.

67. Kho Senny Liauw (70 tahun) – Palembang

Ai Iyen ini memiliki 8 orang anak, namun semuanya juga dengan kondisi pas-pasan. Dua anak bekerja menarik beca, dua lagi menjadi kuli angkut di pasar. Anak perempuannya juga sudah menikah, dan juga dengan kondisi ekonomi yang sulit juga. Ai Iyen termasuk seorang umat Buddha yang aktif datang ke cetiya didekat rumahnya, ia juga aktif mengikuti kegiatan pembacaan paritta kerumah umat baik itu upacara permberkatan ataupun kematian. Baru-baru ini dia dirawat di Rumah sakut karena menderita gangguan jantung dan maag kronis.

66. The Kiang Sing (52 tahun) – Palembang

Beberapa bulan lalu ia terjatuh dari motornya, ternyata memiliki diabetes sehingga luka kecilnya karena tak diobati akhirnya membusuk dan kakinya harus diamputasi. Saat ini ia menumpang tinggal dirumah kakaknya yang mencari nafkah dengan membuka sebuah warung kecil didepan rumahnya. Ia memiliki 2 anak yang bekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu.

65. Lim Han Tiong (69 tahun) – Palembang

Tinggal seorang diri disebuah kontrakkan yang sekaligus dijadikan tempatnya menampung hasil memulung. Ia tak bekeluarga. Setiap harinya ia berkeliling mencari botol plastik, selanjutnya dikumpulkan sampai banyak baru dijual.

64. Ong He Lan (59 tahun) – Palembang

Ai ini tinggal berdua bersama suaminya, dan dari pernikahannya tak memiliki anak. Suaminya bekerja membersihkan kandang ayam, itupun jika ada yang menggunakan jasanya,. Ai ini 7 bulan yang lalu pernah terjatuh dan mengalami retak pada pinggulnya. Dokter menyarankan untuk dioperasi. Karena tiada dana maka si ai hanya mengkonsumsi obat-obatan tradisional saja.

63. The Cau Sen (72 tahun) – Palembang 

Asuk ini menderita stroke sehingga susah buat menggerakkan anggota tubuhnya. Istrinya yang dulu menjadi tulang punggung dengan berjualan mie ayam, sekarang juga menderita sakit pada kakinya sehingga tak kuat untuk berdiri lama. Mempunyai 5 anak, satu orang baru meninggal dan satu anaknya sekarang menderita sakit hepatitis dan harus berbaring saja. Untung ada satu anak perempuannya yang bekerja dengan penghasilan 800 ribu perbulannya. Untuk anaknya yang sakit hepatitis, setiap minggu harus menebus obat yang tak ditanggung oleh BPJS.

62. Oey Siu Oi (94 tahun)

Ama ini menderita sakit tua karena usia. Sudah tak dapat melihat dan mendengar lagi. Tinggal bersama anak laki-lakinya yang sekarang juga sakit-sakitan dan tak bekerja. Untuk makan sehari-hari para tetangga suka membantu.

61. Wong Sen Ngo (60 tahun) – Palembang

Sudah 10 tahun ini ai hanya berdiam dirumah saja dan tak bekerja, karena kondisi badan yang sering sakit-sakitan terutama bagian kaki yang susah untuk berjalan. Mempunyai 1 orang anak perempuan dan 4 orang cucu. Anaknya juga dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sehari-hari berjualan mie rebus didepan sebuah sekolah.

60. Gi Nio (74 tahun) – Palembang

Tinggal bersama dua cucunya. Anaknya merantau, namun jarang memberi kabar. Untuk membiayai cucunya si encim membuat kue bongkol yang dijajakannya sendiri setiap hari berkeliling dari kampung ke kampung. Untuk rumah kontraknya sangat memprihatinkan, dalam posisi duduk saja kepala kita hampir menyentuh plafonnya. Sehari si encim maksimal bisa mendapat untung 20 ribu rupiah. Perbulan biaya sewa dan listri yang harus dibayar sudah 300 ribuan.

59. The Hui Hua (72 tahun) – Palembang

Ai ini tinggal berdua dengan anak perempuannya yang tak menikah. Anaknya menjadi tulang punggung mencari nafkah untuk membiayai mamanya yang sering sakit-sakitan. Bekerja membungkus tahu dengan pendapatan berkisar 20 – 30 ribu setiap harinya. Untuk rumah sendiri mendapatkan tumpangan dari seorang familinya.

58. Oey Ban Cuan (60 tahun) – Palembang

Sudah menduda, dan memiliki 5 anak yang sudah bekeluarga. Namun anak-anaknya juga hidup dengan ekonomi yang sulit. Untuk itulah beliau harus bekerja agar dapat memperoleh uang. Setiap harinya ia berjualan susu kedelai berkeliling dengan sepeda. Perhari ia mampu mendapatkan keuntungan sekitar 20 ribuan. Rumahnya saat ini kontrak sebesar 3 juta pertahunnya.

57. Ai Meliawati (74 tahun) – Palembang

Ai Meliawati adalah seorang guru bahasa mandarin, sudah puluhan tahun ia menjadi guru honor di sebuah sekolah swasta dengan mengajar seminggu sekali untuk pelajaran tambahan bahasa mandarin. Penghasilannya perbulan dari sekolah sekitar Rp. 200 ribu. Ia hidup dan membiayai ke dua adiknya yang juga tak bekerja.

56. Lie Kiem Kiew (62 tahun) – Palembang

Ai ini telah beberapa tahun menjanda. Dulunya suaminya adalah orang yang bisa mengobati penyakit non medis, sering dipanggil taipak. Semenjak suami meninggal si ai harus bekerja membantu menjaga anak orang. Saat ini ai sudah tak bekerja lagi karena kondisi fisik yang mudah capek dan kaki yang tak kuta berjalan jauh. Yang menjadi tulang punggung adalah anak laki-laki satu-satunya, selain itu ai juga membiayai 2 cucunya dari anak perempuannya yang telah meninggal.

55. Asuk Fan Bok (82 tahun) – Palembang

Asuk ini tinggal bersama seorang putrinya, ia saat ini sudah tak bisa berdiri dan terpaksa menghabiskan waktunya di kursi saja. Untuk biaya hidup anaknya menjadi pemulung mengumpulkan botol dan plastik bekas yang nantinya dijual jika sudah banyak. Asuk juga membutuhkan biaya untuk membeli obat darah tinggi dan kolestrolnya.

54. Teng San (65 tahun) – Palembang

Tidak mempunyai pekerjaan tetap, mempunyai keahlian menjadi tukang cotang di kelenteng. Saat ini istrinya lagi sakit-sakitan dan membutuhkan biaya untuk berobat.

53. Tja Me (68 tahun) – Palembang

Bekerja menjaga kelenteng, menderita borok pada bagian kakinya yang sudah menahun. Dana akan digunakan untuk membeli obat-obatan untuk sakit borok dan diabetesnya.

52. Thio Enny ( 71 tahun) – Palembang

Ai Enny ini baru ditinggal suaminya meninggal karena sakit. Sebelumnya si ai ini adalah tulang punggung keluarga dengan usaha menerima jahita baju. Namun semenjak suami meninggal, kondisi kesehatannya menurun dan terpaksa harus banyak berbaring karena mudah capek. Tinggal berdua dengan anak perempuan semata wayangnya yang tidak menikah. Anak perempuannya yang bernama Sulastri setiap bulannya harus menjalani pengobatan ke rumah sakit dan transfusi darah karena menderita kelaianan darah.

51. Ai Kiok Chin (63 tahun) – Jakarta

Diserahkan dana donatur dalam kegiatan berbagi kebahagiaan Imlek 2017 kepada Ai Khiok Chin berusia 63 tahun. Berdomisili di Jalan Budi Mulia, Daerah Ampera Jakarta Utara. Setahun yang lalu suaminya meninggal dunia. Ia mempunyai 3 orang anak. Anak pertama perempuan kerja menjaga toko dan dengan penghasilan pas-pasan karena sudah bekeluarga. Anak keduanya lelaki, istrinya sudah meninggal karena kanker rahim dan mempunyai 2 anak yang saat ini terpaksa dirawat oleh ai Khiok Chin karena putranya tersebut lagi menjalani hukuman penjara karena tuduhan mencuri yang menurut putranya tersebut tak pernah dilakukannya. Anak ketiganya perempuan saat ini tinggal di Taiwan namun tak bekerja. Ai Khiok Chin harus berusaha untuk membiayai ke 2 cucunya itu. Setiap hari ia mengumpulkan botol botol bekas dan plastik yang nantinya dijual lagi. Cucunya juga membantu ai memulung.Ruma yang ditempati saat ini adalah kontrak dengan harga cukup tinggi yaitu Rp. 15 juta pertahunnya.

50. Ai Lo Cung Fa (55 tahun) – Jakarta

Diserahkan dana donatur kepada Ai Lo Cung Fa. Ia sempat menikah namun ditinggalkan suaminya pergi. Ia juga pernah mengangkat seorang anak, namun setelah dewasa, anak tersebut meninggalkannya entah kemana tanpa kabar. Sekarang ia bekerja menjadi tukang jahit disebuah konveksi. Ia tidak mempunyai rumah, jadi si ai tidurnya itu ditempat kerjanya, dan hanya menggeletak saja di lantai bersama karyawan lainnya. Setiap hari ia bekerja mulai pukul 8 pagi, dan kadang bisa sampai jam 10 malam jika sedang ada banyak orderan yang diterima konveksi. Penghasilan yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan sehari-hari dan membeli baju untuk dirinya jika ada kelebihan. Ai juga mempunya penyakit darah tinggi dan kolestrol yang mengharuskan ia rutin mengkonsumsi obat-obatan. Ai tak mempunya sanak keluarga yang bisa membantunya. Bisa dikatakan saat ini ia hidup seorang diri di dunia ini. Semoga sedikit bantuan dari donatur ini dapat bermanfaat bagi ai Afa, ia seorang diri dan mengandalkan dirinya sendiri untuk hidup.

49. Pipin Chan dan Keluarga – Bandar Lampung

Diserahkan dana donatur sebesar Rp. 3 juta kepada Pipin yang tinggal bersama dengan papa dan mamanya disebuah rumah di jalan Bima Kampung sawah brebes, Tanjung Karang Timur kota Bandar Lampung. Rumah yang ditinggali terletak di sebuah gang sempit dan posisi rumahnya adalah yang paling ujung. Pipin sendiri hanya sempat bersekolah sampai kelas 1 SMA, karena tidak ada biaya ia akhirnya memutuskan berhenti. Papanya yang bernama Chan Suan Liong (70 tahun) sehari-hari mencari nafkah dengan mengumpulkan kayu-kayu yang hanyut disungai dekat rumahnya, kayu tersebut nantinya dipotong untuk dijual sebagai bahan kayu bakar. Kadang papanya juga mengumpulkan plastik-plastik bekas. Mamanya Tjong Nyat Mey (65 tahun) dirumah menerima upah menjahit. Mama pipin sendiri mengalami cacat pada pinggangnya karena terjatuh saat kecil. Sampai sekarang mama pipin jika berjalan dengan kondisi bongkok dan tak tahan untuk berdiri lama. Rumah yang ditempati juga dimana-mana sudah bocor dan mau ambruk. Jika hujan, maka rumah pipin akan tergenang oleh air. Untuk rumah yang ditinggali saat ini adalah peninggalan dari kakeknya, dan pipin sekeluarga hanya berhak tinggal dirumah tersebut hanya sampai saat mamanya masih hidup, jika mama pipin meninggal maka pipin harus mencari tempat tinggal baru sesuai perjanjian yang dibuat para ahli waris. Dengan bantuan yang didapat, yang pertama akan dilakukan adalah melunasi hutang-hutangnya. Kemudian akan membeli sebuah gerobak yang nantinya akan dipakai untuk berdagang sayur. Juga jika mungkin akan digunakan untuk memperbaiki rumahnya yang bocor.

48. Tju Akiaw (69 tahun) – Sambas

Diserahkan dana kepada ai Tju Akiaw, warga dusun melur kecamatan Tebas. Ai ini tinggal berdua bersama suaminya, sehari-hari mengelolah sawah seluas 1/4 hektar. Anak-anaknya sudah bekeluarga semua, dan ada yang tinggal jauh diluar kota. Saat ini si ai sering sakit-sakitan. Semoga bantuan ini bermanfaat dan dapat digunakan dengan baik terutama keperluan ai berobat.

47. The Feng Sung (82 tahun)  – Sambas

Asuk berdomisili di dusun Tunas Baru, Sambas. Tinggal seorang diri dan tak bekeluarga. Untuk kebutuhan sehari-hari ia terpaksa bekerja di usia senjanya dengan menjadi pemulung barang bekas. Semoga bermanfaat dana ini untuk asuk.

46. Asuk Burhan (57 tahun) – Sambas

Diserahkan dana kepada asuk Burhan yang berdomisili di dusun solor meda, Sambas. Dulunya pernah menjadi RT ,namun sekarang tidak lagi karena menderita paru paru kronis dan rematik. Semoga dana dapat bermanfaat untuk beliau.

45. Ng Sui Khim (56 tahun) – Sambas

Diserahkan dana donatur kepada Ng Sui Khim, yang berdomisili di dusun Dagang Timur, Desa Lubuk dagang, Sambas. Ia memiliki 4 orang anak, namun seorang menderita gangguan menta, dan 2 orang menderita gagap bicara. Ia bekerja merawat kebun. Semoga bantuan ini dapat dimanfaatkan menjelang Imlek ini.

44. Parman (45 tahun) – Sambas

Diserahkan dana donatur sebesar Rp. 2 juta kepada Parman warga dusun sapat, desa Sorong, Sambas. Ia sehari hari bekerja memotong babi. Memilik 6 orang anak yang masih bersekolah. Rencananya dengan bantuan ini ia berencana untuk memulai usaha berkebun dan jualan sayur mayur.

43. Tjai Tet Fuk (60 tahun) – Sambas

Asuk Tet Fuk berdomisili di daerah kampung durian dusun Talang Baru, Kalimantan Barat. Sehari-hari ia bekerja sebagai penjaga sebuah komplek pemakaman Katolik. Ia mendapatkan bayaran sebesar Rp. 900 ribu setiap bulannya. Ia memiliki 5 orang anak, 3 diataranya sudah bersekolah SD. Kondisi rumahnya saat ini dimana-mana bagian dinding kayunya sudah rapuh dimakan rayap. Dan atapnya juga bocor semua, sehingga jika hari hujan air akan masuk. Asuk Tet fuk, istrinya baru saja melahirkan anak mereka yang ke-5. Ia berencana  bantuan sebagian digunakan untuk keperluan anak-anaknya dan memperbaiki bagian rumah yang bocor dan rapuh.

42. Ama Tang Tik (72 tahun) – Jambi

Disalurkan dana Donatur kepada ama Tang Tik (72 tahun) yang tinggal didaerah Mayang, Jambi. Kesehariannya ama membiayai hidupnya dari hasil memulung kantong plastik. Setiap hari ia berkeliling dengan menggunakan sepeda tuanya. Kondisi rumahnya juga mengalami bocor dimana-mana, sehingga jika hujan rumah ama yang berlantai tanah akan kebanjiran. Hampir tak dijumpai perabot berharga seperti TV ataupun kulkas didalam rumahnya, selain onggokan plastik-plastik hasil memulung yang siap untuk dijual lagi.

41. Ama Ong Giok Eng (80 tahun) – Jambi

Disalurkan dana kepada ama Ong Giok Eng(80 tahun) warga jalan Dr.Wahidin no.39 rt.09, Jambi. Ama ini hidup seorang diri dan tak mempunyai sanak keluarga. Selama ini ia dibantu oleh para tetangga yang tersentuh dengan keadaan dirinya. Semenjak terjatuh beberapa bulan lalu, ia hanya bisa terbaring di ranjang saja. Kondisi rumah juga sangat memprihatinkan.

40. Ai Mei Lin (59 tahun) – Jambi

Ai ini bekerja sebagai tukang cuci piring disebuah warung makan di daerah Thehok Jambi. Ia tidak menikah dan tak memiliki sanak keluarga, Ia tinggal pada sebuah kost kostan dengan biaya 350 ribu perbulan.

39. Lambert Chu (63 tahun) – Biak

Diserahkan dana kepada Lambert Chu yang berdomisili di desa Sisiup, Biak Utara. Lambert Chu sendiri adalah anak seorang perantauan Taiwan yang dilahirkan di Bandung sebelum papanya mengungsi ke Biak, Papua pada masa pembantaian orang-orang yang dicap PKI karena latar belakang papanya yang berasal dari Taiwan.
Setelah mengungsi ke Biak, papanya bekerja sebagai penjahit pakaian warga desa Sisiup. Sementara Lambert Chu sendiri pada masa mudanya bekerja sebagai petani. Tetapi sejak 10 tahun lalu,ia mengambil alih pekerjaan papanya sebagai penjahit di sebuah pondok kecil didepan rumahnya.
Papa Lambert sendiri sudah meninggal 1 tahun yang lalu. Lambert sendiri sudah menikah dengan penduduk Biak dan memiliki 5 orang anak. Beliau sangat senang dan terharu sekali atas bantuan ini. Memang dia sangat membutuhkan dana untuk mengganti mesin jahitnya yang telah dimakan usia.

38. Ama Hana / Chang Ngim Cau (86 tahun) – Papua

Diserahkan dana donatur kepada ama Hana / Chang Ngim Cau yang berdomisili di jalan Mandau Dalam Biak.
Ama sudah ditinggal suamninya 7 tahun yang lalu. Sekarang ama tinggal berdua dengan anak perempuannya yang bekerja mencuci baju tetangganya.

37. Lie Kong Fa (57 tahun) – Sungai Liat

Disalurkan dana donatur kepada Ai Lie Kong Fa, yang beralamat di Jalan Harapan 1, Air Kenanga, Sungailiat Bangka.
Sudah cukup lama menjanda, dan saat ini menempati sebuah rumah pinjaman dari seorang kerabatnya bersama putra ketiganya.
Ia memiliki 3 orang putra, putranya yang pertama meninggal beberapa tahun lalu karena sakit. Putra ke-2 nya yang selalu mengiriminya uang, meninggal awal bulan Januari ini karena mengalami kecelakaan lalu lintas di Surabaya. Saat ini ai bergantung kepada putra ke-3 nya yang hanya bekerja membantu di sebuah kebun sayur.

36. Ama Chu Bie (73 tahun) – Palembang

Ama Chu Bie berdomisili di Jalan M. Isa, Taksam Palembang. Semenjak suaminya meninggal, ia terpaksa tinggal sendirian disebuah rumah kontrakkan. Dulunya ia bekerja sebagai pemulung, namun semenjak mengalami kecelakaan sehingga membuat tangannya patah dan tulangnya bergeser, ama tinggal dirumah saja. Untuk makan sehari-hari,ia mengharapkan bantuan dari para tetangganya.

35. Ama Ye Lau (70 tahun) – Palembang

Diserahkan dana donatur kepada ama Ye Lau yang tinggal di jalan Sematang, Palembang. Ama saat ini menderita sakit pada kakinya yang membuatnya tak mampu untuk berjalan. Ama tinggal bersama suaminya yang sehari-harinya memulung untuk biaya makan. Anak anak tak ada yang tinggal bersama mereka,dan nampaknya anak-anaknya juga kurang memperhatikan orang tua mereka.

34. Akong Seng Nga (70 tahun) – Palembang

Diserahkan dana donatur kepada Akong Sen Nga yang berdomisili di jalan persatuan, Palembang. Ia tinggal bersama dengan istrinya. Sehari-harinya mengumpulkan botol dan plastik bekas guna membiayai hidup sehari-hari. Menurut cerita akong, ia memiliki beberapa anak namun tak ada yang memperhatikan dirinya.

33. Bp. Iwan ( 63 tahun) – Banyuwangi

Diserahkan dana donatur kepada Bp. Iwan, yang berdomisili di dusun Sidorejo Wetan, Desa Yosomulyo, Banyuwangi. Beliau memiliki 3 orang anak yang masih bersekolah. Dulu tingkat ekonomi mereka bisa dibilang mapan, dengan memiliki sebuah toko pertanian. Masalah bermula pada tahun 2010 beliau mengalami kecelakaan parah sehingga kakinya patah dan mengalami koma dengan kondisi tak sadar sampai berbulan-bulan. Hingga setelah itu tiba-tiba penglihatan matanya berangsur kabur, dan sempat menjalani operasi namun tak berhasil. Saat ini keluarga sudah habis-habisan, semua harta dijual demi biaya berobat. Mereka sudah pasrah karena menjalani berbagai pengobatan namun tak kunjung ada kemajuan.

32. Dita Ariesta (30 Tahun) – Banyuwangi

Diserahkan dana kepada saudari Dita Ariesta, yang berdomisili si Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi.
Beliau menderita diabetes yang sudah merambah kebagian saraf pendengaran dan penglihatan. Kondisinya sangat lemah bahkan untuk berdiri. Ia berasal dari keluarga yang sederhana dan telah menikah, suaminya bekerja sebagai penjaga toko dengan penghasilan yang pas-pasan.

31. Kon Ju Hang (57 tahun) – Sambas

Diserahkan dana donatur kepada Kon Ju Hang, yang berdomisili di dusun Sebangun, Desa Lubuk Dagang, Sambas.
Beliau sehari-harinya bekerja menjaga dan membersihkan sebuah kelenteng di daerahnya dengan penghasilan 600 ribu setiap bulannya. Ia harus membiayai istri, mama dan seorang anaknya. Istrinya saat ini dalam kondisi sakit semacam depresi. Mamanya juga sedang sakit tua.

30. Lie It Nio (64 tahun) – Palembang

Diserahkan dana donatur kepada Ai Lie It Nio (64 tahun), saat ini tengah dirawat di RS Siti Khodijah Palembang karena terserang stroke. Beliau terserang stroke semenjak bulan September 2015. Sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit.
Ai sendiri memiliki 2 orang putra, hanya satu orang yang bekerja.
Untuk biaya pengobatan saat ini menggunakan BPJS, namun ada obat-obatan yang harus ditanggung sendiri. Terutama juga pembelian pampers yang cukup banyak. Sedangkan penghasilan anaknya sebagai sales juga hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari anak-anaknya yang masih bersekolah.

29. Ko Thai Kian (45 tahun) – Sambas

Diserahkan dana donatur kepada Ko Thai Kian, warga dusun Sukamantri, desa Dalam Kaum, Sambas.
Sehari hari beliau bekerja di sebuah pabrik batako. Sudah beberapa bulan ini dia libur bekerja karena pabriknya sepi orderan. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat bagi keluarga dan anak-anaknya dalam merayakan Imlek

28. Kon Cai Ket (50 tahun) – Sambas

Diserahkan dana kepada Kon Cai Ket (50 tahun) warga dusun sebenua, Desa Lubuk dagang, Sambas. Dana ini diharapkan bisa digunakan untuk menambah modal usaha dagang sayurnya. Sehari hari ia membeli sayur dari kebun dan menjualnya di pasar.

27. Ai Chai Mui Sui (47 tahun) – Sambas

Ai Chai Mui Sui (47 tahun) yang berdomisili di Dusun Muhajirin, Desa pasar melayu, Sambas.Ia sudah menjanda dan tinggal dengan ke 3 anaknya. Anak yang sulung bekerja menjaga toko kelontong, dua anak yang lain masih sekolah. Ai biasanya baru mendapat uang jika membantu orang yang habis melahirkan.

26. Tan Kui Lan (55 tahun) – Sambas

Ai Tan Kui Lan, berusia 55 tahun dan berdomisili di dusun solor medan, Sambas. Ia telah menjanda setahun yang lalu dan memiliki 11 orang anak, 5 anaknya telah bekeluarga namun dengan ekonomi yang juga susah. 6 anak yang lain masih bersekolah.
Untuk membiayai anak-anaknya, si ai bekerja di kebun milik tetangganya dan anak-anaknya sepulang sekolah membantunya bekerja dikebun.

25. SIm Jat Nyun (60 tahun) – Bangka

Diserahkan dana kepada Sim Jat Nyun (60 tahun) berdomisili di Teluk Uber Sungailiat Bangka, yang menderita stroke dan hanya mampu berbaring saja selama 4 tahun terakhir ini. Ia tinggal bersama anak laki-lakinya bernama Aliong. Ko Aliong tak bisa bekerja karena tak tega meninggalkan mamanya sendiri. Untuk makan, mandi dan lainnya setiap hari Ko Aliong yang membantu mamanya. Untuk kebutuhan sehari-hari seperti sembako Ko Aliong dibantu oleh sebuah komunitas gereja yang berlokasi didekat rumahnya.

24. Kwee Gjin Bien (59 tahun) – Palembang

Diserahkan dana kepada Bp. Kwee Gjin Bien (Herman, 59 tahun), menderita tumor esofagus yang saat ini telah menjalar kebagian jantung. Beliau telah menjalani kemoterapi dan biayanya ditanggung oleh BPJS. Dana akan digunakan untuk membayar beberapa obat-obatan yang tidak dicover BPJS, dan juga untuk membeli beberapa suplemen guna meminimalkan efek kemo. Dana juga akan digunakan untuk biaya transportasi bolak balik kerumah sakit. Sebagai informasi beliau dan keluarganya sangat sulit dalam kondisi keuangan terutama setelah sakit dan melakukan bolak balik pemeriksaan yang akhirnya baru dapat menggunakan BPJS. Pekerjaan sehari-hari menjaga tempat bermain video game jaman dulu (yang masih menggunakan coin) dengan penghasilan sekitar 15-20ribu/hari. Anak-anaknya ada yang sudah berkeluarga, tinggal di kota lain dan hidup pas-pasan.

23. Cong Muk Kim (57 tahun) – Bangka

Diserahkan dana kepada Cong Muk Kim (57 tahun) yang berdomisili di dusun Jelitik, Sungai Liat Bangka. Beliau saat ini kedua matanya sudah tak dapat melihat lagi, dikarenakan pada saat remaja ia mengalami sakit seperti katarak. Saat itu sudah diobati oleh orang tuanya, namun tak bisa sembuh. Ko Akim hidup sendirian karena tidak menikah. Untuk keperluan biaya hidupnya ia kadang-kadang dibantu oleh saudaranya

22. Cu Fa Jin (76 tahun) – Sambas

Berdomisili di dusun Melur Senturang Kecamatan Tebas. Ai ini dulunya mempunyai suami, namun ditinggal karena tak mempunyai anak. Sekarang ia tinggal seorang diri. Untuk hidup sehari-harinya ia dibantu oleh para tetangga dan keponakan yang mengantarkan makanan. Ai sungguh senang mendapatkan bantuan ini, ia menyampaikan terima kasih dan semoga para donatur selalu sehat panjang umur dan lancar rejekinya.

21. La Moi (83 tahun) – Sambas

Berdomisili di dusun Lubuk Bugis, Kecamatan Tanjung Bugis, Sambas. Ai ini tinggal seorang diri dan sudah sakit-sakitan karena usianya. Anak-anaknya sudah meninggal semua. Untuk makan sehari-harinya ia kadang masak sendiri atau diantarkan oleh keponakannya,

20. The Tjiu Po – Sambas

Berdomisili di dusun Lumbang Sari, Sambas. Asuk ini hidup bersama seorang anaknya di sebuah rumah tumpangan tetangganya. Anaknya bekerja disebuah kebun sayur dengan penghasilan minim. Ia dulu semasa mudanya bekerja sebagai pemadam kebakaran. Saat ini kondisi asuk sakit-sakitan terutama bagian kakinya yang lemah sehingga susah untuk berdiri. Terima kasih kata asuk, semoga para donatur dilipatgandakan amal kebajikkannya.

19. Jap Kang Hiong (80 tahun) – Sambas

Berdomisili di dusnun Siapat, Desa Lorong Kecamatan Sambas. Ia sudah menjanda dan tinggal dengan seorang anaknya yang belum bekerja. Ai menderita sakit bagian kaki sehingga tidak bisa berdiri.

18. Liu Dji Tjan (60 tahun) – Sambas

Berdomisili di dusun sumber harapan. Asuk Atjan merawat ibunya yang sudah tua. Setiap hari harus memnadikan dan menyuapi mamanya. Asuk Atjan bekerja serabutan di ladang milik tetangganya.

17. Ai Kem Sio (74 tahun) – Mataram

Ai Kemsio tidak menikah dan hidup sebatang kara. Ia menumpang di rumah saudaranya. Semoga bantuan ini dapat sedikit membantu menjelang imlek tahun ini.

16. Ang Yong Ling (56 tahun) – Mataram

Asuk tinggal di gang yang buntu dan sempit di jalan gang wisma, Ampenan, Mataram Lombok. Ia tidak menikah dan tinggal sendirian. Dulunya bekerja serabutan di pasar membantu di toko toko. Namun beberapa tahun ini karena badannya sering merasa lemah, akhirnya tinggal dirumah saja. Biaya hidupnya dari teman-teman yang kasihan kepadanya. Rencananya dengan bantuan ini akan dipergunakan memperbaiki motornya yang rusak, dan akan mencoba peruntungan sebagai supir ojek.

15. Asuk Yong We (67 tahun) – Mataram

Asuk Yong we tinggal di jalan seruni.ampenan.mataram.nusa tenggara barat. Beliau tidak bekerja lagi karena sering sakit-sakitan. Hidup seorang diri dan tidak menikah. Selama ini biaya hidup dari para kerabat yang iba kepadanya.

14. Tan Bun Ci (71 tahun) – Biak

Asuk Tan Bun Chi dulunya adalah perantau dari Makasar ke Biak berpuluh tahun lampau dengan tujuan untuk mengadu nasib dan mencari nafkah. Ia menikah dengan penduduk setempat dan memiliki anak laki-laki bernama Tilung. Semasa mudanya ia bekerja membantu di sebuah toko kelontongan. Saat ini ia menderita stroke dan kepikunan sehingga tak bisa mengenali keluarga danteman-temannya. Istri dan anaknya dengan telaten merawat beliau. Asuk tinggal dijalan Raya Bosnik, Biak. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat untuk beliau.

13. Tjong Khim Fu (78 tahun) – Jakarta

Asuk Khim Ku berdomisili di jalan Terate 7 No. 2B, Jembatan Lima Angke, Jakarta Barat. Istrinya sudah meninggal, hidup sehari harinya dari pemberian anak, namun anak-anaknya juga telah bekeluarga dan dengan penghasilan pas-pasan. Beliau sendiri sering sakit-sakitan. Semoga dana ini dapat sedikit membantu asuk menjelang imlek ini.

12. Yu Ci San (61 tahun) – Jakarta

Beliau tinggal di Jalan Mangga Besar 13 gang Al-hidayah, Jakarta Barat. Dia tidak bekerja lagi semenjak menderita sakit paru-paru. Mempunyai seorang anak yang bekerja juga dengan penghasilan minim. Untuk makan sehari-hari saja kadang-kadang sangat sulit. Semoga bantuan ini dapat meringankan bebannya menjelang imlek ini.

11. Yap En Gi (72 tahun) – Jakarta

Asuk En Gi tinggal di jalan Lausufan 2 No. 104, Jakarta Barat. Beliau menderita sakit paru-paru. Istrinya sudah meninggal, ia tinggal bersama anak perempuannya yang bekerja sebagai penjaga toko. Sedangkan anak laki-lakinya bekerja sebagai juru parkir. Asuk mengkonsumsi obat-obatan herbal untuk mengatasi batuk-batuknya. Semoga bantuan ini dapat membantu untuk membeli obat-obatan herbalnya.

10. Then Con Tet (55 tahun) – Jakarta

Tinggal di sebuah rumah sempit di daerah mangga besar 9, disebuah gang sempit bernama Lausufan. Ko Atet tinggal bersama istri dan ayah mertuanya. Ko Atet tidak punya pekerjaan tetap, ia dikenal sebagai orang yang bisa mengobati anak-anak yang terkena penyakit non medis. Saat ini ayah mertuanya juga sering sakit-sakitan dan butuh biaya banyak.

9. Cik Susi   (41 tahun) – Papua

Cik Susi (41 tahun) berdomisili disebuah kontrakan di Jalan Yapdas Biak. Beliau adalah seorang janda dengan 4 orang anak yang masih sekolah. Pekerjaannya sehari-hari adalah membantu bersih-bersih disebuah kantor. Semoga bantuan ini dapat sedikit meringankan beban beliau menjelang Imlek ini, terutama kebutuhan buat anak-anaknya.

8. Romo Sukirman  (60 tahun) – Biak

Romo Sukirman, adalah guru pada SMP 1 Biak Papua dan guru agama Buddha di Vihara Buddha Dharma Biak. Romo sukirman setahun yang lalu mengalami kecelakaan ditabrak mobil sehingga harus mengalami operasi pada kepalanya. Saat ini kondisinya sudah sangat stabil dan baik. Semoga dana ini dapat dipergunakan untuk membeli suplement makanan sehingga kondisi beliau dapat makin sehat.

7. Asuk Sin Yung (73 tahun) – Jakarta

Asuk Sin Yung berdomisili di Jalan. Mangga Besar No. 154 Jakarta Barat. Ia tidak menikah, tinggal seorang diri. Selain sakit-sakitan kondisi matanya juga sudah mengalami rabun parah. Untuk kebutuhan sehari-hari memang ada dibantu oleh saudaranya.

6. Asuk Kho Liong (72 tahun) – Kalimantan Barat

Diserahkan dana donatur sebesar Rp. 3 juta kepada Asuk Ko Liong berusia 72 tahun, tinggal berdua bersama istrinya dan tidak memiliki anak. Ia berdomisili di dusun Sebenua, Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas. Untuk membiayai makan sehari-hari ia memiliki sebuah kebun karet kecil dibelakang rumahnya. Biasanya dapat menghasilkan 2 sampai 3 kilo karet perharinya, namun beberapa tahun terakhir hasil karetnya menurun, bahkan sampai berhari-hari tidak didapatkan getahnya. Rumah yang ditinggali asuk juga sudah lapuk dimakan usia, bocor dimana mana dan tidak dijumpai perabotan didalam rumahnya, hanya sebuah kasur yang juga sudah sangat kusam. Istrinya juga menderita katarak parah, dan tidak diobati karena mungkin selain biaya, asuk juga tak mengerti untuk mencari dokter. Kabar baik lainnya adalah telah ada beberapa pihak yang survei kerumah asuk dan berjanji akan merenovasi rumah asuk selepas Imlek ini.

5. Chau Sien Cit (36 tahun) – Jakarta

Diserahkan dana donatur sebesar Rp. 2 juta kepada Chau Sien Chit alias Falius yang berdomisili di Jalan Kartini 13 No. 40B Kelurahan Karang Anyer, Jakarta Pusat. Dulunya Achit berusaha di bidang supply sparepart kendaraan bermotor. Semenjak setahun ini usahanya bangkrut, dan ia menganggur. Untung istrinya akhirnya diterima bekerja disebuah perusahaan awal bulan Januari ini. Asset tersisa yang masih dimilikinya hanyalah sebuah motor. Achit berencana untuk menjadi tukang ojek. Untuk itu dana nantinya digunakan untuk memperbaiki motornya tersebut dan memperpanjang SIM nya.

4. Ai Liu Mei Lan  – Jakarta

Diserahkan dana donatur sebesar Rp. 3 juta rupiah kepada ai Liu Mei Lan alias Lindawati, berusia 65 tahun. Telah menjanda sekitar 10 tahunan. Dulu suaminya bekerja sebagai tukang jahit. Semenjak menjanda, si ai untuk memenuhi kebutuhan hidup mencari nafkah dengan menjual nasi uduk dan sayur matang, kadang-kadang juga menjual kue-kue sesuai pesanan. Semenjak beberapa tahun terakhir kaki ai sering sakit dan tak bisa berjalan jauh lagi. Karena kondisi fisik yang menurun akhirnya si ai jadi agak jarang berjualan. Ia berjualan dibantu oleh anak perempuannya. Ai mempunyai 3 orang anak, namun semua juga sudah bekeluarga dengan penghasilan pas-pasan. Saat ini ai berhenti berjualan karena kehabisan modal, karena banyak biaya yang tetap harus dibayar tanpa ada pemasukkan. Kontrakkan rumah juga sudah menunggak. Ai hanya menerima pesanan kue saja untuk saat ini, itupun dikerjakan dengan diselingi oleh istirahat. Karena ai tak mampu untuk duduk atau berdiri yang lama.

3. Asuk Tjhia Fa Sen  – Jakarta

Telah diserahkan dana donatur kepada asuk Tjhia Fa Sen yang berdomisili di Jalan Budi Mulia No. 55 , Ampera 5 Dalam, Jakarta Utara sebesar Rp. 2 juta. Asuk ini kakinya tak kuat untuk berjalan dan ginjalnya hanya ada satu, karena pernah menjalani operasi karena gagal ginjal. Untuk membiayai kebutuhan hidupnya, istri asuk berjualan sayur masak di pasar. Pagi-pagi istrinya harus sudah keluar rumah untuk berjualan. Setiap hari jam 2 pagi asuk sudah harus bangun untuk membantu istrinya memasak. Rumah kontrakan mereka yang sangat sederhana harus dibayar sebesar Rp. 8 juta untuk 2 tahunnya. Saat ini asuk untuk masalah kakinya yang lemah hanya mengkonsumsi obat-obatan tradisional dan akupuntur.

2. Asuk Bong Miau – Jakarta


Telah diserahkan dana donatur  kepada asuk Bong Miau seorang sopir Bajaj sebesar Rp. 3 juta. Asuk Bong Miau telah melakoni profesi sebagai sopir bajaj lebih dari 30 tahun. Ia setiap harinya tidur juga didalam bajaj,  Setiap hari ia melayani daerah seputaran Mangga besar, manga dua, pasar baru, kota, pancoran, glodok, jembatan lima gajah mada.
Asuk dapat dihubungi di nomor 085774073908, cuma mohon dimaklumi pendengaran asuk sudah berkurang…jadi bicaranya harus cukup keras dan diulang-ulang.

1. Ai Miau Fung – Sambas

Telah diserahkan dana donatur sebesar Rp. 3 juta kepada Ai Miau Fung yang berdomisili di Jalan Panji Anom, Kecamatan Sambas, Kalimantan Barat. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat bagi ai dan tiga anaknya yang mengalami gangguan mental. Ai mengucapkan banyak terima kasih, semoga para donatur selalu sehat dan makmur kata ai.


[box type=”note” fontsize=”20″]Total Dana Sementara per 01 FEBRUARI  2017 pukul 09.50 wib : Rp. 136.441.466-[/box]

Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

Read Previous

IMLEK 2017 : Mari Kita Rayakan Dengan Berbagi Kebahagiaan

Read Next

ABDUL SATTHAR EDHI: The Mother (Father) Teresa of Pakistan, Rahmat Semesta Alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *