VERONICA TJHONG: MEDITASI Menyelamatkannya dari LUPUS Stadium 4

Semenjak tahun 1995 bu Vero sering merasakan nyeri dan pegal pada tulang-tulangnya. Saat itu ia hanya berpikir sakit biasa dan hanya mengkonsumsi ramuan tradisional. Suatu hari ditahun 1997 seluruh tubuh Ibu Vero tiba-tiba terasa ngilu yang hebat, semua tulang-tulangnya juga sangat sakit. Saat itu ia menganggap bahwa ia menderita rematik. Ibu Vero kemudian memeriksakan diri ke dokter spesialis tulang, dan mengkonsumsi sejumlah obat. Namun sakitnya tetap tak kunjung mereda. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan medical check up secara menyeluruh. Dari hasilnya baru diketahui bahwa ia menderita Lupus.

Lupus atau bahasa medisnya Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) merupakan penyakit autoimun yang bisa menyerang banyak organ tubuh. Penyakit ini ditandai adanya produksi antibodi terhadap tubuh sendiri secara berlebih, sehingga menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan tubuh.

Foto Bu Vero saat awal-awal mengikuti Tapa Brata, diambil dari majalah Nirmala.
Foto Bu Vero saat awal-awal mengikuti Tapa Brata, diambil dari majalah Nirmala.

Pada kondisi normal, seseorang akan membentuk zat penangkal yang disebut antibodi terhadap segala benda asing yang masuk, misalnya kuman. Nah, pada orang dengan lupus terbentuk kelebihan antibodi yang menyerang tubuh.

Akhirnya sampai pada tahun 2003 kondisinya makin melemah, menurut dokter stadium Lupusnya sudah memasuki level 4 atau yang paling berat. Berat badan bu Vero hanya sekitar 30 kilo, perutnya membengkak seperti orang hamil, otomatis ia hanya bisa berbaring di ranjang saja.

Semenjak itu ibu Vero harus menjalani berbagai macam terapi, salah satu pengobatannya adalah dengan memasukkan cairan infus yang ia sendiri tak pasti namun ia menduga itu adalah Kemoterapi. Pengobatan dengan infus ini dilakukan sekali setiap minggunya di RS Cipto Mangunkusumo, dan untuk satu kali pengobatan itu harus mengeluarkan biaya lebih kurang satu juta rupiah.

Ibu Vero (Kiri berdiri) dan disebelahnya ada Bu Wenny yang memperkenalkan meditasi kepadanya.
Ibu Vero (Kiri berdiri) dan disebelahnya ada Bu Wenny yang memperkenalkan meditasi kepadanya.

Mungkin karma baik masih dimiliki oleh bu Vero, seorang temannya bernama Ibu Wenny saat itu datang menjenguknya. Dan Ibu Wenny menyarankan agar Bu Vero mencoba alternatif dengan mengikuti sesi meditasi. Ternyata ibu Wenny sendiri adalah seorang praktisi meditasi, ia dapat menekuni meditasi setelah Kakaknya yang menderita kanker kulit stadium lanjut mengalami banyak peningkatan kesehatan setelah menekuni meditasi.

Karena kondisinya yang saat itu hanya dapat berbaring saja, akhirnya beberapa asisten pelatih dari pusat Meditasi Bali Usada secara rutin seminggu dua kali mengunjungi ibu Vero dirumahnya. Bu Vero diperkenalkan dasar dasar meditasi, dengan mulai memperhatikan nafas yang masuk dan keluar hingga merasakan bagian-bagian tubuhnya.

Kegiatan Meditasi Usada Tapa Brata
Kegiatan Meditasi Usada Tapa Brata

Selama kurang lebih dua bulanan, ternyata kondisi tubuh mengalami kemajuan. Dari yang tidak bisa bangun, akhirnya bisa walaupun harus dibopong. Bu Vero pun memutuskan untuk mengikuti kegiatan meditasi Intensif Bali Usada yang waktu itu dilakukan di Cisarua yang dibimbing langsung oleh Bapak Merta Ada.

Walaupun Bu Vero harus duduk dikursi roda dan harus dibantu orang lain, itu tak menyurutkan niatnya. Enam hari pelatihan meditasi diikutinya dengan lancar dan selesai, hasilnya adalah kekuatan fisiknya dirasakannya makin prima. Yang awalnya harus dibopong, saat pulang ia bisa berjalan sendiri walaupun masih harus berpegangan.

Salah satu artikel mengenai pengalaman Bu Vero dengan meditasi disebuah majalah kesehatan.
Salah satu artikel mengenai pengalaman Bu Vero dengan meditasi disebuah majalah kesehatan.

Setelah itu ia makin intensif mengikuti kegiatan meditasi Bali Usada. Pengobatan dokter tetap dilanjutkan dan dikombinasikan dengan meditasi rutin setiap hari sebanyak dua sampai tiga kali. Dokter juga sempat heran saat melihat kemajuan fisik yang begitu cepat pulihnya. Ibu Vero pun menceritakan bahwa ia mengikuti meditasi, dan dokter pun mensupport agar dirinya terus melakukan hal itu.

baner-aset-budha

Satu tahun setelah saat pertama mengikuti meditasi, kondisi fisik Ibu Vero telah seperti layaknya orang sehat. Dan ia stop segala macam jenis obat-obatan.

Hingga saat ini setelah hampir lebih 13 tahun berlalu semenjak mengenal meditasi, ibu Vero tetap rutin melaksanakan meditasi setiap harinya. Dan dalam setahun ia paling tidak mengikuti retret tapa brata sebanyak dua kali.

Hampir 20 tahun setelah divonis menderita Lupus, Bu Vero telah bisa beraktivitas normal dan bekerja.
Hampir 20 tahun setelah divonis menderita Lupus, Bu Vero telah bisa beraktivitas normal dan bekerja.

Tapa brata merupakan pelatihan meditasi yang intensif, dilakukan dalam waktu satu minggu. Siswa tinggal di suatu tempat, melakukan meditasi di bawah bimbingan, dari pukul 4.30 pagi sembilan kali sampai pukul 21.30, dengan 3 kali istirahat, diselingi dengan 2 kali ceramah. Selama lima hari, siswa tidak diperbolehkan berbicara, membaca, menulis. Dan makanan adalah vegetarian.

Untuk Mengetahui lebih lanjut mengenai Meditasi Bali Usada, dapat dilihat pada Link berikut:

screenshot_3

Menurut bu Vero Jika kita dapat merasakan tubuh dengan cermat, kita dapat menyembuhkan sakit kita dengan cermat pula. Kita harus merasakan bagian demi bagian tubuh kita. Saat kita lakukan ini, kita menyentuh diri sendiri dalam tubuh dan membran kita. Membran lalu menyampaikan informasi baru ini ke DNA, yang nantinya membentuk sel baru. Itulah sebabnya maka tubuh kita akan menjadi segar dan kita akan tampak lebih sehat dan lebih bahagia, sehingga kita tidak akan cepat menjadi tua. Semuanya ini berlangsung di badan kasar.

Sampai saat ini bu Vero selalu menyempatkan bermeditasi setiap harinya.
Sampai saat ini bu Vero selalu menyempatkan bermeditasi setiap harinya.

Dengan cara yang sama, kita dapat merasakan tubuh bagian demi bagian; apa pun sensasi dan getaran yang terjadi di tubuh kita tersambung dengan memori kita. Jadi, jika kita rasakan sensasi di tubuh kita, pada saat itu juga kita rasakan reaksi dalam memori kita. Jika kita rasakan dalam kebijaksanaan dengan meletakkan rasa lembut dan kasih-sayang, maka kita dapat mengurangi reaksi buruk dalam memori. Maka, semua trauma, penyakit, ketidak-bahagiaan, serangan panik, dan segala gangguan sakit yang dialami dalam kehidupan sehari-hari akan semakin berkurang.

Bersama putri tercintanya.
Bersama putri tercintanya.

Sebagai penutup ibu Vero berpesan “Apabila seseorang ingin keluar dari penderitaannya atau sakitnya, ia harus mulai dari dirinya sendiri, karena ia yang bertanggung jawab terhadap kesehatannya.”

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Bahagia Karena Memberi

Read Next

BHUMIBOL ADULYADEJ: Raja,Sang Pemersatu & Pelindung Dhamma Mangkat di Usia 88 Tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published.