KESURUPAN: Bukanlah Kemasukan Roh Jahat, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Baru-baru ini, telah di-release film horror dengan judul The Conjuring 2. Selama menonton, beberapa orang telah mengalami sebuh fenomena yang secara umum oleh masyarakat Indonesia disebut “kesurupan”. Sebenarnya, saya belum menyaksikan film horror ini, tetapi saya telah menyaksikan The Conjuring 1. Secara pribadi, saya melihat, film tersebut tidak mengerikan, tidak pula menakutkan. Dengan kata lain, film tersebut biasa saja. Sebenarnya, “kesurupan” atau “kerasukan” adalah fenomena yang biasa dialami oleh masyarakat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara lain. Karena itu, dapat dikatakan bahwa “kesurupan” atau “kerasukan” adalah hal yang lumrah dialami oleh anggota masyarakat dari berbagai belahan di bumi ini.

Apakah “kesurupan” itu?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “kesurupan” didefinisikan sebagai “kemasukan (setan, roh) sehingga bertindak yang aneh-aneh”. Sedangkan, kata “kerasukan” dipahami sebagai “kemasukan (roh jahat dsb); kesurupan”. Dari definisi ini, dapat dilihat bahwa secara umum dalam pemahaman masyarakat Indonesia, orang yang dianggap mengalami fenomena “kesurupan” atau “kerasukan” berarti sedang dikuasai oleh setan, atau makhluk lain, sehingga tindakan fisiknya dan ucapannya di luar kendali dia.

Kalau ditelisik, kata “kesurupan” sendiri berasal dari Bahasa Jawa, “surup”. Surup artinya, “petang”, “senja” atau “sore hari saat menjelang dan sesaat setelah matahari terbenam”. Kata ini dipergunakan secara umum mungkin karena banyak orang yang mengalami fenomena “kesurupan” pada saat senja, petang atau sore hari ketika matahari terbenam atau sesaat setelah matahari terbenam. Meski memiliki definisi yang kurang lebih sama dan tanpa bukti historis yang otentik, dapat diasumsikan bahwa kata “kesurupan” lebih awal dipergunakan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini dipergunakan untuk menandai suatu fenomena yang terjadi pada seseorang yang sikap dan prilakunya di luar kendali dirinya sendiri. Hanya saja, setelah perkembangan waktu, fenomena ini disebut juga dengan istilah “kerasukan”. Namun, bisa juga diasumsikan, istilah “kesurupan” dipergunakan oleh orang-orang empiris untuk menandai fenomena tersebut dan istilah “kerasukan” lebih banyak dipergunakan oleh orang-orang yang lebih cenderung terlibat dalam dunia atau pengalaman mistis.

Dalam Bahasa Inggris, istilah yang dipergunakan untuk mengacu pada fenomena “kesurupan” adalah “possessed”. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, istilah “possessed” didefinisikan sebagai “(of a person or their mind) controlled by an evil spirit”. Definisi tersebut dapat diartikan sebagai “(seseorang atau pikirannya) dikuasai oleh makhluk jahat”. Penyertaan istilah “possessed” sebagai salah satu lema dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary adalah bukti bahwa masyarakat barat pun mempercayai akan fenomena tersebut atau fenomena “kesurupan” juga dialami oleh masyarakat barat.

Istilah dalam dunia psikologi

Sejauh ini, saya belum pernah menemukan kamus psikologi Indonesia atau buku panduan untuk merujuk berbagai gangguan kejiwaan di Indonesia. Oleh karena itu, saya tidak bisa memastikan apakah istilah “kerasukan” atau “kesurupan” diikutsertakan sebagai lema dalam buku tersebut atau tidak. Hanya saja, kalau merujuk pada The Cambridge Dictionary of Psychology, istilah “possessed” tidak dimasukkan sebagai lema dalam kamus tersebut.

Yang menjadi alasan istilah “possessed” tidak dimasukkan sebagai lema dalam kamus tersebut, tampaknya, adalah karena para psikolog memiliki pandangan yang berbeda dalam menyikapi fenomena yang disebut sebagai “possessed” atau “kesurupan” atau “kerasukan”. Dalam dunia psikologi, fenomena yang biasa dikenal dengan sebutan “possessed” atau “kesurupan” atau “kerasukan” disebut dengan istilah “split personality” atau “dissociative identity disorder”. Frasa “split personality” atau bisa diterjemahkan sebagai “kepribadian ganda” dipahami sebagai “suatu gangguan psikologis yang ditandai oleh hadirnya dua atau lebih identitas atau kepribadian yang berbeda dalam orang yang sama, yang sering berulang kali mengendalikan orang tersebut dan yang mungkin hanya memiliki sedikit pengetahuan masing-msing pribadi dan sejarah orang yang bersangkutan.”

Dalam kondisi “kesurupan”, terutama “kesurupan” akut, yang bersangkutan juga pada umumnya tidak mengerti apa yang terjadi, tidak mengetahaui mengapa dia bersikap semacam itu. Artinya, pribadi saat sadar dan pribadi saat sedang mengalami fenomena “kesurupan” tidak saling memahami atau mengetahui. Keduanya tidak saling mengenal satu sama lainnya.

f9-kesurupan-CUrup-1

Bagaimana “kesurupan” bisa terjadi?

Khalayak ramai mempercayai bahwa orang yang sedang mengalami fenomena “kesurupan” atau “kerasukan” sedang dirasuki atau dikuasai oleh makhluk lain. Kadang yang merasuki bisa saja makhluk jahat, atau bisa juga kerabatnya sendiri. Karena itu, seluruh tindakan maupun ucapannya diluar kendalinya.

Benarkah demikian yang terjadi? Dunia psikologi modern tidak mempercayai pengalaman yang bersifat mistis, sebab pengalaman-pengalaman yang kita alami dapat dijelaskan secara empiris. Sebenarnya, apa yang terjadi pada orang-orang yang disebut mengalami “kesurupan” atau “kerasukan” adalah kesadarannya turun dan bawah sadarnya naik.

Pada saat kita sedang tidak mengalami “kesurupan”, kesadaran kita dominan atau aktif dan kondisi bawah sadar tidak bisa muncul ke permukaan. Hal ini bisa terjadi karena bawah sadar terhalang oleh ego kita yang begitu kuat. Namun, ketika kesadaran kita turun atau lemah, ego sudah tidak mungkin membendung kondisi bawah sadar sehingga kondisi bawah sadar bisa keluar dengan leluasa. Kondisi bawah sadar juga bisa bergerak dengan leluasa saat kita sedang bermimpi. Dalam kedua situasi tersebut, ego benar-benar tidak berdaya sehingga tidak bisa merintangi bawah sadar untuk bereaksi sebebas-bebasnya.

Sebenarnya, kondisi ini juga tidak ada bedanya dengan kondisi saat kita sedang dihipnotis. Hanya saja, saat dihipnotis masih banyak yang egonya berkuasa sehingga masih bisa mengendalikan diri dan mengingat apa yang terjadi. Jika memang demikian yang terjadi, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa berperilaku dan berucap dengan gaya yang berbeda, bahkan kekuatan fisik yang berbeda?

Sesungguhnya, kondisi bawah sadar kita menyimpan segudang kemampuan dan talenta. Akan tetapi, kemampuan dan talenta tersebut tidak bisa diekspresikan atau diungkapkan dengan bebas karena terbelenggu oleh ego yang begitu dominan. Karena adanya berbagai kemampuan dan talenta, kita mampu berucap, dan bertindak secara tidak normal dan di luar batas kewajaran. Mengenai kemampuan fisik, sebenarnya dari seluruh energi yang kita miliki hanya sekitar 20% yang kita pergunakan. Selebihnya, energi tersebut tidak dimanfaatkan sama sekali. Tidak percaya? Gampang saja untuk membuktikannya. Bagaimanakah Anda berlari saat dikejar anjing atau ular berbisa? Lebih cepat dari biasanya, bukan? Mampu melompati pagar yang tingginya melampui batas kewajaran? Itulah bukti bahwa energi kita banyak yang tidak dipergunakan secara maksimal atau bisa juga dikatakan, fungsinya hanya sebagai energi cadangan.

maxresdefault
Kesurupan massal yang baru-baru ini terjadi menimpa rombongan anak Sekolah di Yogyakarta.
Proses “kesurupan”

Ketika senja sedang berlangsung, umumnya orang sudah lelah setelah bekerja seharian. Saat itulah banyak orang melamun, teringat akan apa yang telah terjadi. Dalam kondisi badan lelah dan pikiran yang terus bergentayangan, ditambah lagi suasana sedikit redup, mudah membuat orang terlena, kesadarannya menurun dan bawah sadarnya bisa naik. Dalam konteks ini, cahaya luar yang redup berfungsi sebagai penghipnotis sebab cahaya juga bisa dijadikan sebagai media untuk menghipnotis.

Dalam permainan kuda lumping, musik yang ditabuh selama pemain kuda lumping menari dalam tahap awal, berperan sebagai sarana penghipnotis. Suara musik itulah yang membuat para pemain kuda lumping menjadi lemah kesadarannya dan bawah sadarnya naik. Jika memang hanya bawah sadar yang naik, bagaimana dengan jarum, kaca dan barang-barang keras lainnya yang dimakan?

Sejauh ini saya masih berusaha untuk meneliti hal ini karena secara medis, jangankan benda-benda keras semacam itu, rumput sekalipun sistem pencernaan kita tidak sanggup mengurainya. Pada saat seseorang dihipnotis, arahan atau hentakan dari orang lain menjadi sarana untuk menurunkan kesadaran dan secara otomatis menaikkan bawah sadar. Proses semacam ini sebenarnya tidak ada bedanya dengan para pendeta di Klentang yang kesurupan. Mantra yang dibaca menjadi sarana untuk menurunkan kesadaran dan menaikkan bawah sadar. Karena itu, mereka bukan kerasukan para dewa atau para leluhur tetapi karena kondisi bawah sadarnya naik. Oleh karena itu, yang aktif berbicara saat para pendeta di Klenteng tersebut “kerasukan” atau “kesurupan” adalah bawah sadar pendeta tersebut dan bukan para dewa atau para leluhur.

Sebab “kesurupan”

Penyebab utama seseorang bisa mengalami fenomena yang disebut sebagai “kesurupan” adalah lemahnya kesadaran seseorang. Dengan kata lain, orang-orang yang memiliki kesadaran yang lemah akan mudah “kesurupan”. Sedangkan orang yang kesadarannya kuat akan sulit bahkan tidak mungkin kesurupan. Faktor kedua adalah perasaan bersalah (guilty feeling). Orang-orang yang memiliki penyesalan tinggi akan mudah menjadi terlena sehingga mudah mengalami “kesurupan”.

Hal ini pernah terjadi di Sri Lanka, dan menjadi semacam epidemi di kalangan masyarakat pedesaan terpencil. Pada suatu ketika, banyak wanita yang mengalami “kesurupan”. Ketika sedang kesurupan, mereka merasa didatangi oleh “Kalu Kumara” atau “Black Prince”. “Kalu Kumara” itulah yang menggerakkan seluruh aktivitas mereka. Ketika hal ini terjadi, pemerintah mengirimkan para psikolog untuk meneliti kasus ini. Ketika diteliti, penyebabnya adalah perasaan bersalah (guilty feeling). Yang menyebabkan para wanita pedesaan memiliki guilty feeling adalah mereka pernah selingkuh. Masyarakat Sri Lanka memegang teguh moralitas sehingga begitu kesalahan dilakukan guilty feeling akan sangat kuat muncul. Mereka tidak mampu mengungkapkan kesalahan tersebut sehingga mau tidak mau mereka harus menanggung beban mental yang berkepanjangan. Selain perselingkuhan, fantasi seksual yang tidak tersalurkan juga bisa menjadi penyebabnya.

Fantasi seksual yang tidak normal tentu dianggap tabu di kalangan masyarakat pedesaan. Karena itu, fantasi seksual semacam itu hanya dipendam dan tidak terekspresikan. Pada akhirnya, fantasi seksual itu juga memicu munculnya penyesalan dan berujung pada “kesurupan”. Yang ketiga adalah faktor kebiasaan. Faktor kebiasaan juga bisa menjadi penyebab “kesurupan”. Contohnya, seorang pemain kuda lumping. Begitu dia mendengar suara gendang, dia akan mudah terlena karena kesadarannya turun, terhanyut oleh alunan musik. Oleh karena itu, begitu mendengar suara musik dia akan mudah “kesurupan”. Yang keempat adalah faktor ketakutan. Hal ini bisa terjadi dalam kasus kesurupan massal yang sering terjadi di sekolah atau sebuah institusi yang memiliki beberapa orang atau karyawan. Saat seseorang merasa ketakutan melihat temannya “kesurupan”, kesadarannya pun akan menurun dan menyebabkan bawah sadarnya naik. Oleh karena itu, karena tidak paham akan fenomena ini, banyak orang yang terjangkit “kesurupan” dan dianggap tempat tersebut telah dihuni oleh banyak setan gentayangan.

Cara menyembuhkan orang “kesurupan”

Saat ada orang yang mengalami kesurupan, banyak yang menjadi takut karena berpikir bahwa orang yang “kesurupan” sedang dikuasai oleh roh jahat, makhluk halus, para leluhur atau para dewa. Sebenarnya, fenomena ini tidak perlu ditakuti karena fenomena ini sangat mudah disembuhkan. Cara menyembuhkannya sangat mudah. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah jangan bersikap kasar pada orang yang sedang “kesurupan” sehingga tidak memicu dia untuk memberontak atau berbalik bersikap kasar pada kita.

Cukup pegang tangannya atau kakinya atau bagian tubuhnya. Pijitlah dengan lembut tangan atau kaki atau bagian tubuh yang lainnya. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kesadaran dia. Jika cara tersebut tidak mempan, pijit dengan keras sela antara jempol dan telunjuk jari. Jika sela ini dipijit dengan keras, akan menimbulkan rasa sakit. Rasa sakit tersebut akan bisa menyadarkan dia. Jika yang bersangkutan masih “kesurupan” kembali, pijitlah berulang kali hingga orang tersebut menjadi benar-benar sadar. Oleh karena itu, memijit sela jempolan dan telunjuk jari bukan untuk mengeluarkan setan atau roh yang ada dalam tubuh orang yang sedang kesurupan, tetapi sekadar untuk memicu rasa sakit. Rasa sakit tersebut bertujuan untuk membangkitkan kesadaran orang tersebut. Di kalangan pemain kuda lumping, cara praktik untuk menyembuhkan orang-orang yang sedang “kesurupan” adalah dicambuk. Begitu dicambuk dengan keras, mereka akan langsung tersadarkan.

Karena itu, intinya sebenarnya hanya membuat orang tersebut bisa kembali sadar karena rasa sakit yang ditimbulkan oleh cambukan. “Kesurupan” tidak hanya dialami sekali saja dalam hidup, tetapi juga ada yang menahun. Artinya, ada orang yang “kesurupan” berulang kali selama bertahun-tahun dalam momen-momen tertentu. Misalnya, setiap bulan purnama, setiap akhir bulan, setiap datang bulan dan sebagainya. Untuk menangani orang-orang semacam ini, lakukanlah suatu tindakan yang disebut shock therapy. Dengan kata lain, therapy tersebut membuat dia jera dan merasa takut untuk mengalami “kesurupan” kembali.

Saya sering kali kurang ajar. Karena itu, saya sering mengatakan “Kalau ada yang sering kesurupan, ambil saja air toilet dan siramkan pada orang yang sedang kesurupan. Dia pasti sembuh seumur hidup.” Shock Therapy ini juga pernah saya praktikkan di Padepokan Dhammadipa Arama, Batu. Begitu tiba di sana, saya mendapatkan cerita bahwa banyak samanera dan atthasilani yang sering “kesurupan”. “Gampang saja untuk mengobatinya”, demikian saya berseloroh. “Kalau ada yang kesurupan, ikat dia dan cemplungkan ke kolam ramai-ramai.” Sejak saat itu, tidak ada samanera atau atthasilani yang “kesurupan” lagi.

Di vihara Ajahn Chah juga pernah terjadi demikian. Ajahn Chah menasihatkan orang yang kesurupan untuk dikubur hidup-hidup. Setelah itu, orang yang kesurupan tidak kumat kembali. Di zaman Sang Buddha, ada juga bhikkhu yang “kesurupan”. Para bhikkhu membawa bhikkhu yang “kesurupan” ke tempat penjagalan hewan dan diminumi darah binatang yang telah disembelih. Hasilnya, bhikkhu tersebut tidak pernah “kesurupan” lagi.

Kesimpulan

Apa yang disebut sebagai “kesurupan” bukanlah “kemasukan” setan, roh jahat, para dewa atau makhluk lainnya, melainkan merupakan fenomena psikologis. Hal ini bisa terjadi karena kesadaran orang tersebut melemah dan menyebabkan kondisi bawah sadar naik. Karena itu, fenomena “kesurupan” tidak perlu ditakuti atau disembuhkan secara mistis. Sebenarnya, tidak ada unsur mistis sedikit pun. Masyarakat pada umumnya mengaitkan fenomena ini dengan unsur mistis karena mereka tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Oleh sebab itu, sudah saatnya kita mengubah persepsi dan menangani dan menyembuhkan mereka yang mengalami fenomena “kesurupan” secara manusiawi.

[box type=”info” fontsize=”14″ radius=”10″]Artikel ini diambil dari catatan yang ditulis oleh Dhammasiri Sam, seorang Samanera yang saat ini sedang belajar di Colombo, Sri Lanka. Artikel aslinya dapat dilihat di Link berikut. [/box]

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

DALAI LAMA: Kedamaian Muncul Melalui Tindakan, Bukan Melalui Doa

Read Next

DESY MARLINA: GADIS BERHIJAB PENYANTUN PARA ANJING KELAPARAN

4 Comments

  • Saya pernah lihat orang yg baru datang dari pulau jawa dan pertama kali menginjakkan kakinya di Kalimantan kesurupan dan langsung berbicara bahasa dayak kuno. Kalau bukan kesurupan apa namanya?

  • Dalam pembahasan diatas tidak mengiyakan atau menolak theory adanya mahluk halus. Kalau dari sudut pandang psikologi kesurupan disebutkan sebagai adanya “kepribadian ganda”. Dalam banyak hal di kenyataan, sering terlihat kemungkinan terlibatnya “mahluk halus” atau faktor dari luar yang “merasuki” atau dikenal dengan “kesurupan” dalam bahasa awam. Hanya orang yang punya kemampuan lebih yang tahu bahwa sebenarnya itu pengaruh dari pikiran sendiri atau ada pengaruh dari luar. Seandainya pun ada “mahluk halus” yang merasuki, seperti kasus orang kesurupan tiba2 bisa bicara bahasa tertentu, bisa jadi memang ada mahluk halus yang masuk, atau memang pada kehidupan lampau orang tersebut pernah terlahir sebagai orang dayak, sehingga pada kasus tersebut memori yang tersimpan keluar dan menyebabkan dia bisa bicara bahasa dayak kuno. Metoda penyembuhannya tetap sama, yaitu dengan membangkitkan kesadarannya sendiri, sehingga pikirannya kembali kekondisi semula, dengan memberi rasa “sakit”, memberi “shock therapi” dll, sehingga pikiran sadarnnya akan muncul lagi, dan mengusir “mahluk halus” ataupun “kepribadian kedua” dari yang kesurupan, sehingga normal kembali.

  • ???????? setuju…

  • Sebenernya kalo menurut saya secara klinis memang benar kesurupan tidak ada kaitannya dengan mistis. Kesurupan dalam dunia klinis di sebut Disasosiatife trance disorder bukan Disasosiatife identity Disorder (Kepribadian ganda) dan belum masuk ke DSM 4 kalo tidak salah.

    Mungkin pada hakikatnya DID dan DTD hampir sama, karena mereka sama-sama terganggu Identitas diri, namun bila DID di sebabkan oleh Alter (Kepribadiannya) Terpecah. Dalam DTD disebabkan oleh kebingungan Identitasnya lalu merasa kalau ada sosok lain sebangsa jin menguasai dirinya.

    Cara mudah mengobatinya menurut saya tidak usah pedulikan, cuekin saja. Dia yang terkena kesurupan itu akan bosan sendiri lalu sadar.

    Secara spiritual (Mistis) dalam Agama Islam, kami percaya bahwa mahluk sebangsa jin itu memang ada dan ada berapa diantara mereka yang jahil suka menganggu manusia. Mereka juga menjadikan raga manusia sebagai rumah yang pas untuk pulang dan makan.

    Kesurupan itu terjadi karena tubuh (fisik) yang lemah, tertekan, cemas, dan faktor psikologis lainnya. Namun yang pasti kesurupan itu terjadi karena sang pemilik raga mengizinkan jiwanya di kuasai.

    Buat yang terkena kesurupan, ragamu milik jiwamu, so kamulah yang bisa mengatur dan menguasainya. Bila kesurupan kuma, cuekin saja cari kesibukan lain. Dia akan hilang sendiri…

Leave a Reply

Your email address will not be published.