[CLOSED] WAISAK 2560: Mari Kita Berbagi Kebahagiaan

Hari Raya Waisak 2560 yang jatuh pada tanggal 22 Mei 2016 nanti, tentulah menjadi hari yang penuh makna bagi umat Buddha. Tak terasa datang lagi hari yang penuh KemuliaanNya, Hari yang mengingatkan kita pada ke Agungan Sang Guru. Berbagai kegiatan pun dilaksanakan oleh berbagai Vihara dan komunitas untuk merayakannya. Mulai dari kegiatan puja bakti, meditasi, perlombaan, hiburan sampai ke bakti sosial. Tak dapat dipungkiri kegembiraan dan sukacita meliputi kita para Umat Buddha.

Namun ternyata semua kebahagiaan itu mungkin ternyata tidak dapat dirasakan oleh beberapa umat Buddha dibawah ini. Berdasarkan hasil bincang-bincang kami dengan umat tersebut, ternyata mereka memiliki kesulitan untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Untuk itu kami mengajak pada perayaan Waisak kali ini mari kita mulai dengan sikap sederhana yaitu berbagilah kebahagiaan yang kita miliki kepada mereka,sesederhana itu saja. Ketika berbagi kebahagiaan, kita membuat mereka ikut berbahagia, ketika mereka berbahagia karena kita, cenderung kita juga berbahagia. Itulah sikap yang sederhana dalam jalan cinta kasih. ketika kita bisa berbagi kebahagiaan dan membuat mereka ikut berbahagia, tidak sia-sia rasanya kehidupan kita, demikianlah sikap seorang Umat Buddha.

“Dengan semangat kasih Waisak, kiranya kegiatan ini dapat bermanfaat bagi umat yang membutuhkan yang akan merayakan Waisak tahun ini. Juga diharapkan umat lain  yang berkecukupan dapat termotivasi dalam kepedulian kepada sesama”.

[box type=”custom” color=”#530084″ bg=”#dd9933″ fontsize=”14″ radius=”12″]Rencana bentuk bantuan yang akan diberikan ke pada para umat berikut ini adalah berupa dana tunai dan hewan ternak. Untuk Contoh penyerahan dana dapat dilihat pada kasus Imlek yang telah dilakukan pada link berikut ini :

Yang paling penting bagi kami, adalah bukan seberapa besar nilai yang anda sumbangkan, tetapi kami lebih berharap seberapa besar kita peduli kepada para saudara sedhamma kita ini.

BANER DONATUR WAISAK

Berikut ini gambaran beberapa profil umat Buddha yang wajib kita bantu bersama :

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]1. MBAH SATINEM[/highlight]

Mbah Satinem adalah seorang umat Buddha yang tinggal di desa Sampetan Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali. Berusia 85 tahun, mbah  sudah lama ditinggal meninggal suaminya. Hidup seorang diri karena anak-anaknya sudah bekeluarga dan bekerja merantau kedaerah lain. Dikeluarganya Mbah sendiri yang masih menganut agama Buddha dan sampai di usia senjanya ini masih aktif beribadah dan membantu di Vihara Damar Suci Sampetan. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya mbah mengelola sepetak kebun dibelakang rumahnya dan memelihara beberapa ekor kambing.

Rumahnya yang sangat sederhana, yang sudah bocor disana sini dan beberapa tiang penyangga sudah rapuh. Didalam rumah ini juga mbah tinggal bersama para kambing-kambingnya.

13043642_1166283923415659_8690762418965374646_n

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]2. MBOK SARIYAH[/highlight]

IMG-20160419-WA001Mbok Sariyah beralamat di dusun Janggleng , Desa Telogowungu, Kecamatan Kaloran, kabupaten Temanggung-Jawa Tengah yang saat ini berusia sekitar 60 tahunan tinggal bersama kedua orang cucunya disebuah rumah yang saat ini telah lapuk dimakan usia. Banyak bagian genteng yang telah pecah, sehingga jika hujan sedikit saja maka rumah Mbok Sariyah akan tergenang oleh air. Belum lagi banyak tiang dan dinding yang papannya telah dimakan rayap, bagian belakang rumah terpaksa ditambal dengan karung bekas.

Kedua cucunya terpaksa diasuh oleh Mbok Sariyah karena kedua orang tua anak tersebut telah meninggal. Terakhir ibu kedua anak-anak tersebut meninggal lebih kurang 5 bulan lalu karena penyakit yang tidak diketahui jenisnya karena belum sempat diperiksakan ke dokter karena ketiadaan uang.

Cucu pertama perempuan bernama Adis, saat ini bersekolah dan duduk di kelas  3 SD , cucu kedua bernama Deni Saputra masih berusia 2,5 tahun. Untuk biaya sekolah sebenarnya gratis, namun masih ada biaya lain seperti beli buku, uang pembangunan dan lain-lain. Selama ini hanya mengharapkan belas kasih tetangganya yang membantu seadanya.

13016557_10206213137754416_1901981560_o

Banyak cerita miris yang terjadi sejak meninggalnya orang tua kedua cucunya tersebut yang tak etis rasanya jika diceritakan disini. Hingga kini mbok Sariyah masih menangis karena bingung bagaimana membesarkan kedua cucunya tersebut. Mbok  Sariyah hanya bisa menyambi menjadi buruh tani  sambil mengasuh si kecil, penghasilannya pun jika dihitung hanya cukup untuk membeli beras sehari-hari untuk makan.

Mbok Sariyah sendiri aktif di Vihara Dharma Surya. Semoga nantinya kita dapat sedikit memberikan bantuan untuk meringankan beban si mbok.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]3. ROMO BADRAWIRYA[/highlight]

Terlahir dengan nama Sinar. Saat ini berusia 41 tahun. Beralamat di dusun Pelan, desa Mareje, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Hanya menamatkan pendidikan sampai tingkat SD.  Semenjak tahun 2000 telah menjadi Romo Pandita dan pada tahun 2003 dipercaya menjadi ketua Vihara Buddha Mangala sampai sekarang..

Romo Badrawirya mempunyai satu istri dan 3 orang anak. Jumlah umat buddha yang di bina oleh romo pandita Badrawirya sekitar 140 kepala keluarga. Bentuk pelayanannya seperti potong rambut,perkawinan, kematian, dan syukuran pembacaan parita pasca tanam dan pasca panen.

13007313_1166328413411210_3230886017065032228_n

Pengasilan perbulan tidak menentu tergantung hasil panen setiap satu kali setahun, karena mengarap sawah tadah hujan. Dan sehari-harinya romo pandita menggarap tanah milik tetangga sistem sewa musim dan bagi hasil. Anak pertama tidak bekerja sudah menamatkan pendidikan jenjang SMA. Satu anak  yang bernama Aldi Dharma Duta masih menempuh pendidikan di STIAB Smaratungga Boyolali sebagai samanera. Yang bungsu bernama Jumani masih duduk di kelas 2 SMU.

12963744_1166309140079804_372997200568414347_n

Namun satu yang berkesan dari pembicaraan  dengan romo adalah beliau  tidak pernah mengeluh atau mengharapkan imbalan dari apa yang dia kerjakan pada saat ini, beliau hanya mau mengabdi saja. Biarkan nanti karma yang mengaturnya ujarnya. Terkadang dalam pengabdianya yang hampir 15 tahun romo tidak jarang mendapatkan suka dan dukanya namun semua itu ia lalui dengan iklas dan sabar. Beliau menuturkan kadang ketika musim hujan malam-malam harus berjalan kaki naik gunung turun gunung melawati perbukitan yang curam dan terjal, karena harus memimpin doa di rumah umat seperti syukuran pasca tanam maupun setelah panen. Dan yang lebih mengharukan lagi walaupun hanya sifatnya pengabdian tanpa imbalan dalam pelayanan, sang istri selalu mendukungnya dan tidak pernah mengeluh akan pekerjaan mulia suaminya.

Saat ini kebutuhan utama romo adalah memperbaiki rumah sederhananya seluas 3m x 3m yang hanya terbuat dari bahan anyaman tikar.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]4. BU KASIMAH[/highlight]

Berusia 84 tahun dan tidak menikah. Bu Kasimah tinggal seorang diri di sebuah kontrakan yang beralamat di Jalan Teuku Umar gang 3 No. 21 Tulungagung.Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, beliau menggoreng kacang untuk dititipkan dijual di warung-warung dekat rumahnya. Sebelah matanya mengalami kebutaan karena ditabrak motor dijalan. Ia sampai saat ini aktif di Vihara Buddha Loka Tulungagung.

IMG_20160416_103728

Saat ini beliau mengalami sakit pada kakinya, dan sulit untuk berjalan. Dana bantuan nanti diharapkan mampu sedikit meringankan beban beliau, terutama untuk membantu membeli obat-obatan.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]5. MBAH YOTO AUGIMIN[/highlight]

Mbah Yoto sudah 4 tahun terakhir ini tidak dapat beraktivitas dikarenakan stroke. Saat ini dia sudah dapat duduk dan berjalan dengan bantuan tongkat, namun istrinya yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga dengan bertani  juga mengalami sakit tak kunjung sembuh.

IMG20160419104740

Selama ini Mbah Yoto aktif di Vihara Tri Ratna, Dukuh Pereng desa Sampetan, Kecamatan Ampel. Mungkin nantinya bantuan yang diberikan dapat meringankan beban Mbah Yoto, terutama saat ini mereka berdua terbaring sakit sehingga tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]6. ROMO MANDAWADUTA[/highlight]

Telah hampir 15 tahun  menjadi Romo Pandita. Beliau adalah ketua Vihara Girimetta Nyompal. Aktivitas sehari-harinya sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu karena akhir-akhir ini sedikit sekali permintaan akan jasanya.  Beliau tinggal di dusun Nyompal, desa Mareje Kecamatan Lembar, Lombok.

IMG_20160320_130525

Saat ini beliau menderita tumor pada bagian kakinya yang makin membesar dari hari kehari. Saat ini tengah dilakukan proses pendaftaran BPJS.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]7. PAK RUSIANTO[/highlight]

Berprofesi sebagai seorang penjual burung untuk fangsen. Awalnya ia bukanlah seorang umat Buddha. Dulunya ia pernah bekerja sebagai sopir truk. Lalu pernah juga berwiraswasta  menjual makanan dan beternak kambing. Namun semua usahanya bangkrut.

Lalu ia mulai membeli burung di Jombang untuk kembali dijual di Tulungagung. Dari profesinya inilah akhirnya ia mengenal ajaran Buddha. Karena sering mangkal di vihara,ia bertemu dengan Bhante Sukhito. Akhirnya ia sering berdiskusi dengan Bhante dan mulai mengikuti Pujabakti. Saat ini beliau aktif membantu kegiatan di Vihara baik puja bakti maupun paduan suara.

IMG_20160415_120857

Saat ini beliau telah menikah,namun belum memiliki anak. Istrinya saat ini baru sembuh dari stroke. Dan rumah warisan yang ia tempati selama ini di perumahan pasar ngemplak Tulungagung, tengah dalam sengketa dengan saudara-saudaranya dan ia terancam untuk diusir. Saat ini beliau kesulitan dana untuk mencari rumah kontrakan karena ketiadaan uang. Semoga kita dapat meringankan beban beliau.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]8. AMAQ INUN[/highlight]

Namanya Amaq Inun, berusia sekitar 46 tahun. Memiliki 2 orang anak yang masih SD. Sudah hampir 2 tahun ini beliau mengalami sakit yang belum tau sakit apa,karena belum pernah diperiksakan ke dokter.

Pada waktu masih dalam kondisi sehat, beliau merupakan tokoh adat yang bertugas sebagai pemimpin ritual tradisi adat.  Namun kondisinya sekarang terbaring lemas di gubuk reot beralaskan tikar dari plastik dan batal kapuk yang sangat kusam dan berwarna hitam karena kotor.

IMG_20160210_162559(1)
Selain sebagai pemangku adat, beliau juga aktif sebagai pandita di Vihara Avalokitesvara Ganjar. Dari kondisi keluhan yang di sampaikan sepertinya beliau mengalami penyakit Maag kronis. Untuk itu nantinya dana akan dialokasikan untuk membawa beliau berobat ke kota.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]9. ROMO SUKIRMAN[/highlight]

20160317_173420Romo Sukirman, lahir 23 Januari 1966 (50 tahun) di Aceh Barat,  di keluarga Buddhist dan sudah mengikuti teladan orang tuanya belajar dharma sejak masih kecil lewat sekolah minggu yang diikutinya di Vihara di Padang Sidempuan. Kemudian Romo Sukirman sekolah di STAB Samaratungga (Ampel, Boyolali) dan setelah lulus ditugaskan di Kabupaten Biak Numfor di Vihara Buddha Dharma sejak tahun 1990 hingga saat ini.

Semangat pengabdian Romo Sukirman dari sejak awal adalah ingin mendidik generasi muda dari sejak kanak-kanak yang sudah mendalami Dharma. Romo Sukirman adalah perintis pendidikan Agama Buddha yang terstruktur (di sekolah umum maupun juga sekolah minggu Biak) karena latar belakang pendidikannya di STAB Samaratungga. Selama 26 tahun pengabdiannya di dunia pendidikan, Romo Sukirman dikenal memiliki hubungan yang sangat erat dengan para siswa siswa didikannya. Bahkan 2 generasi pengurus Vihara Buddha Dharma semuanya merupakan hasil didikan beliau. Pengabdian dan kedekatan dengan para siswanya ini yang menjadikan Romo Sukirman sangatlah dihargai para siswanya, sehingga ketika Romo pertama kali mengalami stroke pada tahun 2005, para siswanya begitu semangat mendampingi beliau hingga beliau pulih dan dapat kembali mengajar.

Tetapi serangan Stroke yangkedua di akhir tahun 2015 menyebabkan beliau terpaksa harus non aktif dari jabatannya sebagai guru. Tetapi support para siswa menyebabkan Romo semakin hari kondisinya semakin baik, sehingga sekarang sudah dapat berjalan dan berbicara walaupun belum sepenuhnya pulih. Bahkan para siswa sempat menggendong Romo Sukirman keliling sekolah SMP 1 untuk menyambut kedatangannya setelah 4 bulan dirawat di Makasar (Romo sempat lumpuh dan tidak bisa bicara). Menurut beliau, para anak didiknya adalah semangat dan harapannya. Sebelum terserang stroke yang kedua kalinya, Romo Sukirman juga aktif di Yayasan Buddha Tzu Chi sebagai relawan misi pendidikan (perintis kelas relawan cilik) dan juga di misi pelestarian lingkungan dengan aktif keliling kota mengumpulkan sampah daur ulang. Di usianya yang sudah memasuki masa pensiun dan juga kesehatannya yang menurun akibat serangan stroke, Romo Sukirman tidak menyerah dan tetap mencoba membimbing para siswanya memahami dharma meskipun keadaan ekonominya sendiri masih sangat terbatas. Pesan Romo terhadap para Dharmaduta di tempat lain di Indonesia : “Pendidikan Dharma sejak dini sangatlah penting agar para generasi penerus kita dapat mengembangkan dharma ke generasi berikutnya”.

Untuk kehidupan sehari-hari, Romo hanya memilki honor 900 ribu dari sekolah yang terancam di putus dari sekolah karena kondisi kesehatannya, dan juga honor 900 ribu dari Yayasan Vihara. Romo sudah bekeluarga dan memiliki 2 orang anak.

[divide icon=”circle” color=”#dd8d13″]

[iconbox title=”Keterangan” title_align=”center” content_align=”center” layout=”boxed” title_color=”#dd0000″ content_color=”#D94A1A” align=”center” type=”vector” icon=”momizat-icon-pawn” icon_align_to=”box” size=”32″ icon_bg=”square” icon_bg_color=”#ededaf” icon_bg_hover=”#c8f298″ icon_bd_color=”#dd7a7a” icon_bd_hover=”#508bbf” ] 9 kasus diatas mewakili keadaan lebih dari 30 keluarga umat Buddha yang tersebar di pelosok Indonesia yang rencananya akan dibantu pada Waisak kali ini.  Dana yang terkumpul nantinya akan dialokasikan sesuai kebutuhannya. Bukti-bukti penyerahan nantinya juga akan diupload di situs ini, berikut foto dan tanda terima bantuannya. Nama-nama donatur juga akan dilampirkan disini. [/iconbox]

Untuk turut serta BERDANA dapat disalurkan ke No. Rekening berikut dengan akhiran 9, misal Rp. 100.009,-

bca1

[iconbox title=”KETERANGAN Lainnya dapat menghubungi Kontak berikut” title_align=”center” content_align=”center” layout=”boxed” bg=”#a9d689″ border=”#59d600″ content_color=”#0a0405″ align=”left” type=”vector” icon=”momizat-icon-phone” icon_align_to=”box” size=”32″ ]Sdri. Sumarah – 0821 788 16776 (Pin: 2B902CAD)

Yudianto Tjandranata  – 0811 58338 17 (Pin: 2BF36E79)

[/iconbox]

BANER DONATUR WAISAK

waisak segenggamdaun resize

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

[CLOSED]: BANTULAH PAPA KAMI UNTUK DAPAT DIOPERASI

Read Next

ANDY LAU: Kisah Hidupnya Hingga Mengenal AJaran Buddha & Bervegetarian

Leave a Reply

Your email address will not be published.