B. Jayamedho: Kisah Anak Madura dari Usahawan Menjadi Biarawan

Saat masih sebagai umat awam perumahtangga, Bhante Jayamedho bernama Herman S. Endro, dan ketika itu pun beliau telah menjadi tokoh Buddhis yang kiprahnya dikenal luas tidak hanya di kalangan Buddhis. Bhante Jayamedho terlahir tidak dalam keluarga penganut Buddhisme, tetapi beliau menjadi Buddhis ketika sudah dewasa, tepatnya saat kuliah di Bandung.

1934071_99345329175_163926_n
Herman S.Endro adalah seorang pekerja karir yang kemudian melanjutkan jenjangnya menjadi pengusaha sukses. Terlahir berdarah madura dari keluarga non Buddhis, beliau merayakan ulang tahun ke 70 dengan melepas kenikmatan kehidupan awam menjadi biarawan. Kini hampir 5 tahun jubah itu setia membungkus tubuhnya ke manapun beliau pergi.

Berasal dari keluarga priyayi Madura, Bhante Jayamedho lahir pada tanggal 1 April 1941 di Surabaya sebagai anak ke-4 dari 11 bersaudara dan diberi nama Herman Satriyo Endro. Meskipun lahir di Surabaya, masa remaja Herman S. Endro dihabiskannya di Malang. Uniknya, di keluarga Bhante Jayamedho semua anak lelaki diberi nama Herman dan semua anak perempuan namanya berawalan Her. Untuk anak lelaki, yang membedakan antara nama anak yang satu dengan lainnya hanya pada nama tengahnya, sedangkan nama belakang semua anak (termasuk yang perempuan) sama: Endro.

Saat masih sebagai umat awam perumahtangga, Bhante Jayamedho pernah bekerja di beberapa perusahaan terkenal, antara lain di Indofood dan Unilever, dan mempunyai karir yang bagus. Pergulatan pemikiran tentang spiritualitas tampaknya dimulai saat Herman S. Endro remaja duduk di bangku SMA dan menemui satu permasalahan keagamaan yang tak mendapatkan solusi memuaskan dari guru agamanya. Sejak itu pemikiran kritisnya mulai berkembang dan mungkin tanpa disadari mulai mencari-cari ajaran lain yang dirasakan lebih cocok bagi dirinya.

5096_1196632393909_1628508_n
Foto Kanan Bhikku Jayamedho saat muda, dikenal dengan nama Herman S. Endro. Lahir di Surabaya pada tahun 1941. Mengambil pendidikan sarjana hukum di Universitas Padjajaran Bandung, lulus pada tahun 1967.Bagi beliau, suatu keburukan dan kesalahan orang lain tidak harus ditutup-tutupi agar dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain dan generasi berikutnya.

Tapi sebelum mengenal Buddhisme, pemuda Herman S. Endro pertama-tama tertarik pada filsafat Jawa yang bagian-bagian tertentunya mirip dengan Buddhisme, dan pada bulan April 1959 sebuah berita tentang pelarian Dalai Lama dari Tibet yang diserang China membekaskan kesan pertama tentang Agama Buddha.

Kuadran hidup beliau seolah dibagi repetisi 25 tahunan dimana 25 tahun pertama untuk menimba ilmu. Siklus kedua hingga usia 50 tahunan mencari nafkah dan kekayaan yang selain untuk diri sendiri juga digunakan untuk donasi kemanusiaan dan perkembangan agama Buddha. Siklus ketiga pada aktualisasi diri. Dan kini hidupnya mendekati siklus keempat yang dianggapnya bonus dengan menjadi karmic monk, yaitu bhikkhu yang menekankan pada menjalani sila dan dana.
Kuadran hidup beliau seolah dibagi repetisi 25 tahunan dimana 25 tahun pertama untuk menimba ilmu. Siklus kedua hingga usia 50 tahunan mencari nafkah dan kekayaan yang selain untuk diri sendiri juga digunakan untuk donasi kemanusiaan dan perkembangan agama Buddha. Siklus ketiga pada aktualisasi diri. Dan kini hidupnya mendekati siklus keempat yang dianggapnya bonus dengan menjadi karmic monk, yaitu bhikkhu yang menekankan pada menjalani sila dan dana.

Lalu pada suatu hari di bulan Mei tahun 1958, saat liburan sekolah, Bhante Jayamedho dan teman-temannya sepakat bersepeda dari Malang ke Yogyakarta untuk mengunjungi Candi Borobudur yang waktu itu masih belum dipugar seperti sekarang karena belum lama ditemukan. Kebetulan ketika itu di Candi Borobudur akan diadakan upacara besar memperingati Buddha Jayanti dan banyak bhikkhu sepuh dari luar negeri yang datang, dan pengalaman itu tampaknya sangat membekas sehingga ketertarikannya untuk mempelajari dan mengenal lebih jauh Buddhisme mulai tumbuh. Hal itu diwujudkannya dengan secara resmi menjadi upasaka (umat Buddhis awam) pada tahun 1963.

Kedekatan dengan ibunya menjadi faktor utama ijin orang tua berat untuk merestuinya menjadi seorang Bhikkhu. Meski aturan ketat kebhikkhuan    membuat beliau melepas semua harta dan kebiasaan sebagai seorang pebisnis sukses, namun sejatinya semua telah dipersiapkan secara matang dan bertahap.
Kedekatan dengan ibunya menjadi faktor utama ijin orang tua berat untuk merestuinya menjadi seorang Bhikkhu. Meski aturan ketat kebhikkhuan membuat beliau melepas semua harta dan kebiasaan sebagai seorang pebisnis sukses, namun sejatinya semua telah dipersiapkan secara matang dan bertahap.

Sebagai Buddhis, kiprah Herman S. Endro tak hanya dikenal di kalangan Buddhis saja, tetapi meluas sampai lintas agama dan profesi. Itu, misalnya, dapat kita lihat pada nama-nama yang memberikan kata sambutan di dalam buku otobiografinya yang berjudul “Menapak Pasti Kisah Spiritual Anak Madura”.

Buku Menapak Pasti,   Product Information Product Review (0) Product Q&A Pengiriman/Penukaran/Pengembalian  facebookcomment Tentang buku Tentang penulis Daftar isi Isi Rekomendasi Review penerbit  Tentang buku Ini sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh Bhikkhu Jayamedho
Buku Menapak Pasti, sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh Bhikkhu Jayamedho. Buku ini diharapkan dapat menjadi inspirasi Indonesia, yaitu penerapan Buddhisme dalam kehidupan keluarga dan masyarakat termasuk sisi bisnis, bidang yang lama beliau geluti. Meski tidak menikah dalam hidupnya, beliau sebenarnya mengangkat bahkan menikahkan beberapa anak angkatnya.

 

Di kalangan Buddhis, Herman S. Endro, atau yang sekarang dikenal sebagai Bhante Jayamedho, antara lain dikenal dan dikenang sebagai salah satu orang yang memiliki andil dalam pembangunan Wihara Jakarta Dhammacakka Jaya serta Wihara Mendut di Magelang. Selain itu Herman S. Endro juga aktif sebagai pengurus berbagai organisasi Buddhis dan sebagai Dhammaduta. Kini, di usia tuanya, Herman S. Endro akhirnya berhasil mewujudkan keinginannya yang sejak lama untuk menjadi bhikkhu, dan setelah penahbisannya pada tanggal 16 Maret 2011 dikenal dengan nama Bhikkhu Jayamedho.

Screenshot_19

[box type=”note” fontsize=”14″ radius=”12″]Pengalaman Kerja

Pengalaman kerja profesional Herman S. Endro, SH. diakui oleh berbagai perusahaan, seperti British American Tobacco, Unilever, Indofood, dan sebagainya. Ia juga menerima pengakuan untuk pengalaman bekerjanya yang lebih dari 15 tahun oleh asosiasi pebisnis Indonesia. Berikut ini adalah daftar pengalaman kerja Herman S. Endro, SH. :

  1.  Konsultan Manajemen “Herman Endro & Associates”
  2.  Director British American Tobacco (BAT)
  3.  Director Rothmans of Pall Mall Indonesia (RPMI)
  4.  Kepala Divisi Corp HRD Indofood Sukses Makmur (ISM)
  5.  Manager Unilever Indonesia (ULI)
  6.  Staff American Express International Banking Corp. (Amexbank)[/box]

[box type=”info” fontsize=”14″ radius=”12″]Pengalaman Organisasi

  1.  Pendiri & Ketua Umum Gerakan Pemuda Buddhis Indonesia (GPBI), 1964-1967
  2.  Anggota Pengurus Perhimpunan Buddhis Indonesia (Perbudi)
  3.  Anggota Pengurus pertama & Ketua Umum Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi)
  4.  Anggota Pendiri Yayasan Dhammadipa Arama, Batu, Malang.
  5.  Anggota Pengurus pertama Yayasan Jakarta Dhammacakka Jaya, Jakarta
  6.  Pendiri & anggota DPP Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi)
  7.  Anggota Pengurus Indonesian Conference on Religion & Peace (ICRP)
  8.  Pendiri & Pengurus Center of Asian Studies (CENAS)
  9.  Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO)
  10.  Yayasan Pendidikan dan Pembinaan (PPM) [/box]

[box type=”tip” fontsize=”14″ radius=”12″]Penghargaan

Pada tahun 1985, Raja Thailand memberikan pernghargaan kepada Bhikkhu Jayamedho karena telah aktif menyebarkan Theravada dan membangun Vihara Dhamma Cakka Jaya di Jakarta. Ia juga menerima berbagai penghargaan dari organisasi-oraganisasi pendidikan Buddhis yang lain. Berikut adalah daftar penghargaan yang pernah diterima:

  1.  Penghargaan Medalion dari Raja Thailand Bhumibol Adulyadej di Bangkok, 16 April 1985
  2.  Penghargaan Plakat oleh Panglima Angkatan Darat Thailand Jendral Kam Lang Ek, 24 Agustus 1985
  3.  Penghargaan Gelar Dharma “Pandita Dhammalankara” dari Sangha Theravada Indonesia, 2 April 1995
  4.  Penghargaan Masa Bakti 20 tahun Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia, 2006
  5.  Penghargaan Masa Bakti 15 tahun kerja dari PT Unilever Indonesia, 1 Juli 1985
  6.  Penghargaan Masa Bakti 5 tahun kerja dari PT Indofood Sukses Makmur, November 1994
  7. Penghargaan dari Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Keraton Surakarta Hadiningrat berupa gelar bangsawan tinggi “Kanjeng Raden Haryo Endrokusumo”, 21 Oktober 2000[/box]

Disarikan dari buku “Menapak Pasti Kisah Spiritual Anak Madura”, Herman S. Endro, CENAS Indonesia Oleh : CHUANG.

Sumber lain: wikipedia & http://buddhistfestival2013.com/new/2013/07/19/sukses-jadi-pengusaha-usia-70-tahun-menjadi-bhikkhu/

Vinkmag ad

Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

UNDANGAN Peresmian Purna Pugar Vihara Dhammasanti Banyuwangi 09 Maret 2016

Read Next

Kate Hudson: “Ibu, Apakah Tuhan Itu Adalah Sepupu Saya ?”

Leave a Reply

Your email address will not be published.