Anak Ini Menangis, Memohon pada Ibunya Agar Membiarkannya Merawat Daging Ayam

Anak laki-laki yang sensitif ini menangis dan memohon pada ibunya untuk meninggalkan sendirian ayam yang akan dimasak dan telah dipotong-potong oleh ibunya.

“Saya akan merawatnya,” kata bocah laki-laki itu.

Selama percakapan yang ditayangkan di video, bocah itu bertanya-tanya mengapa ibunya tega membuat ayam betina itu mati terpotong-potong?

Meski sudah mendapat penjelasan bahwa ayam itu akan dimasak untuk makan siang, si anak yang sedih itu tetap heran dengan tindakan ibunya yang telah memotong daging ayam itu?

“Mengapa kau melakukannya?”

“Karena ibu harus memasak untuk makan siang?”

“Kenapa kau memotongnya? Biarkan dia sendiri, aku akan merawatnya..”

“Lalu bagimana dengan makan siang kita?” tanya si ibu.

“Aku sudah bilang pada ibu untuk tidak memotongnya. Sudah, tinggalkan dia, biar aku merawatnya,” kata si anak marah.

1848ca5e-c8b4-4401-9f20-aaf389a355ca.format_jpeg.inline_yes

“Baiklah… Begini saja, ibu akan membelikanmu ayam lain, dan biarkan ibu memotong ayam ini sekarang untuk dimasak sebagai makan siang,” bujuk ibunya.

Si anak malah menangis. “Tidak, tinggalkan dia, biarkan aku merawatnya!”

Sejak di-upload 13 Maret silam di Best Video You Will Ever See, video ini ditonton sebanyak 6,7 juta kali dan dibagikan 87 ribu lebih.

Banyak pengunjung yang bersimpati dengan tingkah si anak yang sangat emosional pada daging ayam itu.

Sumber: http://www.dailymail.co.uk/femail/article-3493269/Little-boy-begs-mother-not-cook-chicken-lunch-wants-care-her.html

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Pema Chodron: Kesepian, Penolakan & Patah Hati Menuntunnya ke Jalan Dhamma

Read Next

WHY Buddhist Happy and Peaceful?

Leave a Reply

Your email address will not be published.