Ayo Kita Dukung Bhante Tejjapunnyo Menyebarkan Dhamma Melalui Siaran Radio

Bhikkhu Tejapunnyo yang saat ini menetap di Vihara Giri Vana Arama, Dusun Ampel Gading, Desa Wonosalam, Kec. Wonosalam, Kabupaten Jombang, adalah seorang Bhikku dari Sangha Theravada Indonesia yang sangat aktif melakukan pembinaan umat terutama untuk wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.

12794322_1734265610193352_9005870095807273450_n

Bhante Teja sekarang tengah merintis pembinaan umat Buddha di Jawa Timur melalui media TV dan beberapa radio Jawa Timur, di antaranya Dhamma TV, Radio Suara Kediri, Radio Suara Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, Prima Radio Surabaya, dan belakangan ini merintis kerjasama dengan Radio Bintang Tenggara Banyuwangi.

12670578_1726730804280166_7331147502851383811_n

Mobilitas Bhante Teja sangat tinggi, berpindah dari kediri, Sidoarjo, Surabaya, Kediri, Banyuwangi, dan beberapa kota disekitar Jawa Timur lainnya. Hal ini dilakukannya setiap hari. Untuk menunjang aktifitasnya dalam menyebarkan Dhamma tentulah juga dibutuhkan biaya yang tak sedikit. Selain biaya untuk transportasi, di beberapa radio juga ada biaya yang harus dibayar untuk membeli jadwal siaran.

12079432_1679065635713350_7065311694074396616_n

Semenjak bulan September 2015, Bhante mengadakan pembinaan di daerah Banyuwangi setiap awal minggu pertama setiap bulan selama 3 hari (bisa ceramah di beberapa Vihara di Banyuwangi). Di Banyuwangi sendiri terdapat lebih kurang 16 Vihara. Untuk transportasinya Bhante diantar naik mobil oleh seorang umat bernama Jen Wie yang bisa memakan waktu perjalanan 9 jam dari Surabaya. Bhante juga saat ini disela padatnya jadwal juga berusaha mengadakan pembinaan di kota Jember.

image0 (2)

Demi eksistensi dan perkembangan Buddha Dhamma, sudah semestinya hal tersebut dapat segera diatasi. Oleh karena itu, kami membuka kesempatan kepada Bapak/Ibu/Sdra/i untuk dapat turut serta berdana sehingga kegiatan Bhante Teja yang mulia ini dapat terus berlanjut dan membawa manfaat bagi kita semua.

12662453_1726730854280161_5803329726681188913_n

Untuk menjadi sponsor/berdana untuk siaran Dhamma anda dapat transfer ke rekening berikut:
BCA 2710915299 atas nama Soelastri/ Tejapunno , dengan memberi kode 1 dibelakangnya untuk mempermudah pengecekan, contoh : Rp. xxx.xx1,- .

bca tejjaUntuk mendengarkan Ceramah Bhante Tejjapunnyo dapat dilihat pada jadwal berikut ini:

  • Mimbar ajaran Buddha diradio SWARA KEDIRI 93,5 FM setiap hari Selasa
  • Setiap kamis di PRIMA RADIO, Surabaya 103,8 FM
  • Sabtu dan minggu di RSPK SWARA SIDOARJO 100,9 FM
  • Setiap minggu di Bintang Tenggara 95,6 FM Banyuwangi. b.tejja

[box type=”info” fontsize=”14″ radius=”12″]

SEKILAS PROFIL BHANTE TEJAPUNNYO

Bhikkhu Tejapunnyo adalah putra asli Jawa Timur, tepatnya Blitar. Ia lahir dengan nama Dwiyanto pada tanggal 28 Oktober 1977 dari keluarga petani. Anak kedua dari empat bersaudara ini sudah mempunyai keinginan untuk menjadi bhikkhu sejak kecil, ketika melihat Bhikkhu Khemasarano melakukan pembinaan di Vihara Buddha Sasana, Blitar dan menyatakan keinginannya tersebut kepada kedua orangtuanya.

Setelah tamat SMA, Dwiyanto mengikuti program pabajja samanera di Vihara Dhammadipa Arama, Batu, Malang selama tiga bulan. Setelah selesai tiga bulan, ia kembali lagi ke kehidupan umat awam. Namun kehidupan sebagai umat awam membuatnya merasa tidak nyaman sehingga ia meminta izin kembali kepada orangtuanya untuk menjadi samanera tetap.

Screenshot_18

“Pada awalnya orangtua saya tidak mengizinkan, namun lama kelamaan hati orangtua saya luluh juga, namun pada waktu itu pendaftaran sudah telat jadi harus menunggu tahun depan. Sambil menunggu, saya bekerja di sebuah vihara di Jakarta dan bertemu dengan Bhante Abhisuryo,” ujarnya mengenang.

12119046_1686609528292294_225840354438004712_nSetelah bertemu Bhante Abhisuryo, Dwiyanto ditawari untuk menjadi bhikkhu di Thailand. Setalah mendapat izin penuh dari orangtua, ia berangkat ke Thailand bersama dengan Sulano (sekarang Bhikkhu Sukito) dan ditahbiskan menjadi bhikkhu di Vihara Thung Pho, Isan, Provinsi Buriram, Thailand dengan Luangpo Leang Chandagammo sebagai upajjaya, Luangpo Ard Avuddhapannyo sebagai kammacariya, dan Achan Jirawat sebagai anusavacanacariya pada tanggal 10 Mei 1998 dengan nama Tejapunnyo. Setelah ditahbis menjadi bhikkhu, Bhante Tejapunnyo belajar menjadi bhikkhu hutan di Thailand selama empat tahun.

Pada tahun 2002, Bhikkhu Teja kembali ke Indonesia. “Suasana sangat berbeda saya rasakan setelah di Indonesia. Kalau di Thailand setiap hari aktivitas hanya untuk mengolah batin, bangun jam tiga pagi, setelah itu meditasi sampai jam enam. Jam enam sampai jam delapan melakukan pindapata, setelah itu makan. Selesai makan berlatih meditasi duduk, meditasi jalan, dan menghafalkan patimokkha. Pada sore hari bersih-bersih dan malamnya meditasi bersama dengan bimbingan guru sampai jam 10.

image0 (2)

“Setelah itu kembali meditasi di kuti sampai jam satu dini hari. Jadi kita tidur hanya sekitar tiga jam sehari, makan juga hanya sekali, tapi itu cukup untuk menopang aktivitas sehari-hari. Namun kalau di Indonesia, selain melatih batin, kita juga harus melakukan pembinaan umat,” ujarnya.

Setelah kembali ke Indonesia, Bhante Teja melakukan pembinaan di berbagai daerah di Indonesia, di antaranya di Ciapus Bogor, Banjarmasin, Jakarta, Cilacap dan Malang, hingga tahun 2007 atas permintaan umat, Bhante Teja menetap di Surabaya.

“Saya menerima permintaan umat Surabaya dengan pertimbangan Surabaya itu kota besar dengan umat yang banyak, sementara tidak ada bhikkhu yang tinggal di Surabaya,” jelasnya.

12472256_1713982165555030_4700344035848593355_nSelama bertugas di Surabaya, Bhante Teja juga melakukan pembinaan di luar daerah Surabaya, seperti Madura, Sumenep, Pamekasan, dan Bangkalan. “Pada awalnya saya hanya ingin fokus mengurus umat di Surabaya, tapi kalau ada daerah lain yang minta dan masih ada waktu ya kita layani.”

12745656_1730749207211659_2157263341020732505_nTahun 2011, atas permintaan Sangha, Bhante Teja melakukan vassa di Batam. Di Batam, Bhante Teja melakukan pembinaan rohani di lembaga permasyarakatan dan merintis pembinaan melalui radio.

“Selama ini pandangan orang luar agama Buddha itu negatif, yang tidak ber-Tuhan lah, yang menyembah berhala lah, dan lain-lain. Penyampaian Dhamma melalui media termasuk radio ini sangat penting untuk mengubah pandangan-pandangan negatif itu. Tujuannya bukan mengajak pendengar menjadi beragama Buddha, tapi lebih menyebarkan nilai-nilai universal Buddhisme, supaya menumbuhkan toleransi, dan apa pun agama bisa bekerja bersama-sama membangun Indonesia,” ujar Bhante.

Setelah melakukan tugas di Batam, Bhante Teja kembali lagi ke Jawa Timur dan menetap di Vihara Giri Vana Arama, Dusun Ampel Gading, Desa Wonosalam, Kec. Wonosalam, Kabupaten Jombang. Dari pengalaman di Batam, Bhante Teja merintis pembinaan umat Buddha di Jawa Timur melalui media TV dan beberapa radio Jawa Timur, di antaranya Dhamma TV, Radio Suara Kediri, Radio Suara Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, Prima Radio Surabaya, dan belakangan ini merintis kerjasama dengan Radio Bintang Tenggara Banyuwangi.

Sumber : buddhazine.com

[/box]

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Tujuh Keajaiban Dunia Dalam Budaya Buddhist

Read Next

UNDANGAN Peresmian Purna Pugar Vihara Dhammasanti Banyuwangi 09 Maret 2016

One Comment

  • Di kota Sidoarjo ada Vihara Dharma Bhakti atau bolehlah disebut cetiya, tiap hari minggu selalu rutin melaksanakan puja bhakti. Setelah Romo almarhum tdk ada lagi yg memberikan Dhammadesana, memang berdiri tanpa dukungan majelis, tiap minggu juga baca paritta suci Theravada terkadang juga liam keng Mahayana. Bhante Teja juga pernah diundang utk membantu membina umat tapi msh blm ada jawaban. Apakah ada yg BERSEDIA membina TANPA MELIHAT dari majelis/kelompok aliran tertentu ???

Leave a Reply

Your email address will not be published.