STEVE JOBS: Bagaimana Ia Akhirnya Menemukan Ajaran Buddha

Lahir pada tanggal 24 Febuari 1955. Ketika ia dilahirkan, orang tuanya memutuskan untuk menyerahkan bayi mereka guna diadopsi. Steve kemudian diadopsi oleh pasangan Paul & Clara Jobs.
Lahir pada tanggal 24 Febuari 1955. Ketika ia dilahirkan, orang tuanya memutuskan untuk menyerahkan bayi mereka guna diadopsi. Steve kemudian diadopsi oleh pasangan Paul & Clara Jobs.

Dikutip dari buku biografi Steve Jobs karya Walter Isaacson, Steve Jobs tumbuh mencolok dibandingkan anak-anak lain sepantarannya, Rasa ingin tahu dan kemampuan eksperimennya sudah terlihat sejak ia duduk dibangku kelas 4 sekolah dasar, tak heran akhirnya para guru dan sekolah memutuskan bahwa Steve perlu dinaikan satu kelas lebih cepat masuk ke kelas 6 tanpa harus mengikuti kelas 5 dahulu.

Berikut Kisah tentang kehidupan spiritual Steve Jobs, Meskipun mereka tidak memiliki agama yang kuat, orang tua Jobs menginginkan dirinya dibesarkan dalam lingkungan beragama. Jadi, mereka mengajaknya ke gereja Lutheran hampir setiap hari Minggu. Kebiasaan itu berakhir ketika dia berusia tiga belas tahun. Keluarganya berlangganan majalah hiburan Life, dan pada Juli 1968 majalah tersebut menerbitkan sampul mengejutkan yang menunjukan sepasang anak kelaparan di Biafra, Nigeria. Jobs membawa majalah itu ke sekolah minggu dan berbicara pada pastor gereja. “Kalau aku mengacungkan jari, apakah Tuhan tahu jari mana yang akan aku acungkan, bahkan sebelum aku melakukannya?”

Orang Tua Angkat Steve, Paul & Clara Jobs
Orang Tua Angkat Steve, Paul & Clara Jobs

Sang pastor menjawab, “Ya, Tuhan tahu segalanya.”

Kemudian Jobs mengeluarkan majalah life dan bertanya “ Apakah Tuhan tahu soal ini dan apa yang akan terjadi dengan anak-anak ini?”

“Steve, aku tahu kau tidak mengerti, tetapi, ya Tuhan tahu soal itu”

Jobs lalu mengumumkan bahwa dia tidak mau lagi menyembah Tuhan seperti itu, dan dia tidak pernah kembali lagi ke gereja. Tetapi dia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari dan berusaha mempraktikkan ajaran Zen Buddha.

Di rumah inilah Steve menghabiskan masa kanak-kanaknya.
Di rumah inilah Steve menghabiskan masa kanak-kanaknya.

Beberapa tahun kemudian, ketika sedang memikirkan sisi spiritualnya, Jobs mengatakan bahwa dia menganggap agama yang terbaik adalah agama yang menekankan pada pengalaman spiritual, bukan menerima dogma”. “Inti dari ajaran Kristen hilang ketika agama tersebut terlalu didasarkan pada keyakinan, bukan pada cara hidup seperti Yesus, atau memandang dunia seperti cara Yesus memandangnya” katanya. “Menurutku, berbagai agama yang berbeda merupakan pintu yang berbeda untuk menuju ke rumah yang sama. Terkadang menurutku rumah itu ada, dan terkadang rumah itu tidak ada. Itulah misteri terbesarnya”.

Bagaimana Steve Jobs Menemukan Ajaran Buddha

BY BRENT SCHLENDER DAN RICK TETZELI | 3 Nov 2015

Beginilah tampang Steve saat masih di bangku SMA
Foto Steve saat masih di bangku SMA

Ajaran Buddha memiliki pengaruh yang signifikan pada Steve Jobs. Brent Schlender dan Rick Tetzeli menjelaskan bahwa pada tahun 1974, Steve Jobs melakukan perjalanan ke India karena tepicu minatnya terhadap ajaran Buddha yang mana telah dia terapkan selama sisa hidupnya. Dari buku mereka, “Becoming Steve Jobs.”

 

Beginilah kisah pencariannya :

Pada Awalnya, Steve Jobs    pergi ke India dengan harapan untuk bertemu Neem Karoli Baba (seorang guru Hindu yang Ahli),  dikenal sebagai Maharaj-ji, guru terkenal yang menjadi inspirasi bagi teman-temannya Larry Brilliant dan Robert Friedland, serta pencari spiritual lainnya. Tapi Maharaj-ji meninggal tak lama sebelum kedatangan Steve dan timbul kekecewaan baginya. Waktu pencarian spiritual Steve di India pun menjadi buyar dan tidak fokus , dengan perumpamaan  : banyak pemuda yang mencari Guru masa depan yang cemerlang tetapi pemuda tersebut malah diserahkan kepada anak kecil saja.

Kemudian dia pergi ke sebuah acara keagamaan yang dihadiri oleh sepuluh juta peziarah lainnya. Dia memakai jubah katun, makan makanan yang aneh, dan dicukur rambutnya oleh guru misterius. Dia mengalami disentri (sakit perut).

steve-jobs-autobiography-e1424286200422
*Yogananda Autobiography of a Yogi* : buku tentang ilmu Yoga  melatih pikiran dan fisik menuju keseimbangan

Untuk pertama kalinya, ia membaca buku *Yogananda Autobiography of a Yogi*, yang kemudian buku tersebut diberikan kepada semua orang yang menghadiri acara peringatan mengenang meninggalnya Steve Jobs di Memorial Church Stanford University pada tanggal 16 Oktober 2011.

Pada awal ia tinggal disini, menurut  Briliant(temannya), “Steve telah menggoda /bercanda  dengan ide, dia ingin menjadi *sadhu*.” Kebanyakan kaum *Sadhu* di India dikenal sebagai pertapa dan berfokus  pada kekosongan sebagai landasan spiritual. Tapi Steve jelas terlalu lapar, terlalu didorong, dan terlalu ambisius untuk jenis  kehidupan spiritual. “Itu romantis,” kata Briliant, “dengan ide seorang sadhu yang menolak keduniawian.” Tapi itu tidak berarti ia balik ke Amerika Serikat tanpa membawa hasil,  ataupun bahwa ia berhenti mencari  spiritualisme Timur sama sekali.

Kaum *Sadhu* : kelompok pertapa Hindu yang dianggap suci dan memiliki pengetahuan tertinggi tentang Tuhan, Perawakan mereka bermacam-macam diantaranya : berambut kusut, tubuh tertutup abu, lilitan ular menghiasi dirinya, telanjang  dan memakai kulit gajah di pinggang dan berusaha hidup layaknya Dewa Shiva

tmpnull (4)
Ini adalah komputer Apple generasi pertama yang dirilis tahun 1976 oleh steve dan temannya Wozniak. Komputer ini dirakit di garasi rumah steve. Komputer apple ini memberikan Steve keuntungan US $774 ribu.

Kemudian ketertarikannya berpindah ke ajaran Buddha, yang memungkinkan dia untuk lebih terlibat dengan dunia ini daripada  cara  hidup sebagai pertapa Hindu. Ini akan memungkinkan dia untuk memadukan antara  pencarian pencerahan spiritual  dengan ambisinya menciptakan perusahaan dengan  produk yang mampu mengubah dunia. Ajaran Buddha menarik bagi  seorang pemuda yang sibuk berusaha untuk dapat menemukan jati dirinya, dan itu juga akan menarik bagi  seorang pria dewasa yang intellektual(pintar) dalam mengatasi berbagai masalah kegelisahan dan keruwetan pikiran yang tak terbatas. Unsur-unsur tertentu dari Ajaran Buddha sangat  cocok dan baik sehingga memberikan dasar filosofis dalam memilih dan menjalankan  karir  serta sebagai dasar harapan *Estetika* baginya

*Estetika* :  Ilmu tentang seni, filsafat, dan alam

Selain itu juga, Ajaran Buddha terus menerus membuatnya merasa untuk tidak terlalu menuntut agar orang lain, produk yang ditemukan, dan bahkan dirinya menjadi terlalu “sempurna” seperti yang dia anggap selama ini

Dalam filsafat Buddha, kehidupan sering dibandingkan dengan sungai yang selalu berubah. Ada perasaan bahwa segala sesuatu, dan setiap individu, adalah tak henti-hentinya dalam proses perubahan. Dalam pandangan  dunia ini, mencapai kesempurnaan juga merupakan proses yang berkesinambungan/ bertahap, dan tujuan yang tidak pernah dapat sepenuhnya tercapai. Itu visi akan datang yang ingin dia capai dengan tidak mudah.

steve-jobs--the-lost-legends-journey_5183c73a83f51

Melihat ke depan untuk produk yang belum dibuat, untuk apa pun yang akan terjadi di sekelilingnya , dan dua atau tiga ide setelah itu, datang mengalir secara alami kepadanya. Dia tidak akan pernah membatasi untuk setiap kemungkinan(peluang), sebagai penyelesaian yang sempurna di mana karyanya akan dilakukan. Dan sementara  Steve akan menghindari hampir semua analisanya yang sama, meskipun fakta bahwa ia bisa menjadi  keras kepala mempertahankan pendapatnya dan mempunyai dogma yang benar, namun dia terus-menerus beradaptasi mengikuti  hidungnya, belajar, dan mencoba arah yang baru. Dia terus-menerus bertindak dengan beradaptasi sesuai proses perubahan.

Jika Anda hanya duduk dan mengamati, Anda akan melihat bagaimana gelisah pikiran Anda adalah. Jika Anda mencoba untuk menenangkan, itu hanya membuat lebih buruk, tapi seiring waktu itu tidak tenang, dan ketika itu terjadi, ada ruang untuk mendengar lebih halus hal-itu ketika intuisi Anda mulai mekar dan Anda mulai melihat hal-hal yang lebih jelas dan berada di saat lagi. pikiran Anda hanya melambat, dan Anda melihat hamparan yang luar biasa pada saat itu. Anda melihat begitu banyak lebih dari yang Anda bisa melihat sebelumnya. Ini adalah disiplin, Anda harus berlatih.
If you just sit and observe, you will see how restless your mind is. If you try to calm it, it only makes it worse, but over time it does calm, and when it does, there’s room to hear more subtle things—that’s when your intuition starts to blossom and you start to see things more clearly and be in the present more. Your mind just slows down, and you see a tremendous expanse in the moment. You see so much more than you could see before. It’s a discipline; you have to practice it. (Steve Jobs)

Tak satu pun dari ini  yang mudah terlihat oleh dunia luar,  ajaran Buddha yang dipelajari Steve bisa membingungkan  teman-teman dan bahkan rekan terdekatnya. “Selalu ada sisi spiritual ini,” kata Mike Slade, seorang eksekutif pemasaran yang bekerja dengan Steve dalam karirnya, “yang benar-benar tampaknya tidak cocok bagi orang lain , telah dia lakukan.” Dia bermeditasi secara teratur sampai dia dan Laurene (istrinya)  menjadi orang tua, waktu terus membuat mereka tumbuh(usia bertambah) tanpa mereka sadari.

quote-the-more-you-sense-the-rareness-and-value-of-your-own-life-the-more-you-realize-that-kobun-chino-otogawa-61-84-10

Dia membaca ulang buku  Suzuki Zen’s  Mind, Beginner’s Mind beberapa kali. Dan dalam percakapan Steve Jobs dengan Brilliant(temannya), Steve selalu memadukan antara ajaran spiritual Asia dengan bisnis maupun kehidupan komersialnya sebagai topik umum sehari-hari yang dinikmati sepanjang hidupnya.  Selama bertahun-tahun, ia mengadakan pertemuan dengan Bhiksu Buddha yang  bernama Kobun Chino Otogawa seminggu sekali di kantornya untuk memberikan konseling (nasehat, saran atau arahan) tentang bagaimana menyeimbangkan antara  spiritual dengan target bisnisnya.

*Suzuki Zen’s  Mind, Beginner’s Mind* : judul buku Ajaran Buddha aliran Zen yang lebih berfokus kepada konsentrasi batin/samadhi

Foto Steve di hari-hari terakhirnya. Ia meninggal karena kanker pankreas. Ketenangan dan kedamaian senantiasa terpancar dari wajahnya.
Foto Steve di hari-hari terakhirnya. Ia meninggal karena kanker pankreas. Ketenangan dan kedamaian senantiasa terpancar dari wajahnya.

Selama bertahun-tahun, tidak ada seorangpun yang tahu dan mengenal Steve Jobs, bahwasannya dia adalah umat Buddha yang sangat taat/disiplin, dan  kedisiplinan spiritualnya itu telah membuat hidupnya menjadi bijak dan bermakna.

steve-jobs (1)

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

Satya Jaya

Kalau Pencerahan tidak mungkin dicapai, Buddha tidak akan repot-repot mengajar - Ajahn Chah

Read Previous

DOKUMENTASI Penyerahan Bantuan & Nama Donatur Berbagi Kasih Imlek 2016

Read Next

Kisah Seorang Nenek di Cina yang Melafalkan Amitabha Sampai Akhir Hidupnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.