IMLEK 2016 : Mari Kita Rayakan Dengan Berbagi Kebahagiaan

Tahun baru Imlek 2567  yang jatuh pada tanggal 8 Febuari 2016 tentulah merupakan hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian orang keturunan Tionghoa Indonesia yang merayakannya. Kerja keras dan usaha sepanjang tahun akan terbayar dengan perayaan Imlek yang meriah dan penuh sukacita. Mulai dari bersih-bersih rumah, persiapan kue-kue dan makanan untuk para tamu, mengecat rumah agar terlihat bagus, membeli baju baru, dan tentunya mengisi angpao untuk dibagikan pada kerabat dan sanak saudara.

Dokumentasi Penyerahan Bantuan Imlek tahun 2015 dapat dilihat pada tautan ini.

Namun ternyata semua kebahagiaan itu mungkin ternyata tidak dapat dirasakan oleh beberapa keluarga dibawah ini. Berdasarkan hasil bincang-bincang kami dengan keluarga tersebut, ternyata mereka tidak mempunyai kesan dan makna mendalam tentang Imlek. Hal ini dikarenakan kesulitan hidup mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang sudah sangat sulit dirasakan. Apalagi untuk merayakan Imlek. Yang ada di benak mereka hanya apakah besok bisa makan. BUKAN apakah yang akan kita makan besok. Tidak pernah terbayang untuk makan makanan yang lezat, minum minuman bersoda bahkan untuk menerima angpao dari kerabat mereka. Bisa makan nasi besok pun mereka sungguh sangat bersyukur.

cn-new-year-banner

Maka dari itulah kami mencoba mengetuk hati para sahabat sekalian, untuk kiranya sudi dan lapang hati menyisihkan sedikit saja dari uang anda buat dikumpulkan dan selanjutnya akan kami alokasikan sesuai tingkat kebutuhan mereka. Yang paling penting bagi kami, adalah bukan seberapa besar nilai yang anda sumbangkan, tetapi kami lebih berharap seberapa besar kita peduli kepada para saudara kita ini.

Berikut ini gambaran beberapa profil keluarga yang wajib kita bantu bersama :

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]1.   Acek Oh Kim Sui (57 tahun)[/highlight]

Acek Kim Sui dahulunya berprofesi sebagai penjual sayur keliling, namun semenjak 5 tahunan tidak dapat lagi mencari nafkah dikarenakan penyakit Hernia yang dideritanya. Acek sendiri belum pernah memeriksakan penyakitnya tersebut ke Dokter dikarenakan ketiadaan biaya. Hernia yang diderita sangat parah, saat dilihat ukuran buah zakarnya lebih besar dari bola kasti. Akibat penyakitnya tersebut acek tak dapat untuk berjalan jauh apalagi mengayuh sepeda.

Acek dikarunai oleh 9 orang anak. Anak tertua berusia 24 tahun bekerja mengumpulkan botol air mineral bekas. Anak kedua dan ketiga yang sudah cukup dewasa tidak bekerja dan hanya dirumah saja, dikarenakan ada gangguan mental. Saat ini ada 4 orang anak acek yang masih bersekolah di SD dan SMP, sisanya yang lain tidak ada yang selesai sekolahnya. Istri acek juga hanya mampu mengharapkan belas kasihan dengan mengemis di pasar.

[highlight bgcolor=”#eded87″ txtcolor=”#dd0000″]Video Saat Wawancara di kediaman Acek Kim Sui[/highlight]

Acek tinggal di sebidang tanah yang merupakan pinjaman dari seorang kenalan mereka. Kondisi rumah juga sangat memprihatinkan. Bocor dimana-mana, tidak ada kamar mandi, tidak ada tempat memasak. Isi rumah berantakan bercampur dengan hasil memulung anaknya.

oh kim sui

Apabila nanti dana donasi terkumpul, yang pertama akan dilakukan adalah memeriksakan penyakit Acek kedokter. Selain itu akan diberikan sedikit bantuan dalam rangka Imlek. Bantuan lain akan diberikan bertahap setiap bulan terutama kebutuhan pokok seperti beras, sabun, odol, mie instant ,dll. Kebutuhan sekolah anak-anaknya juga akan diberikan bantuan setiap bulannya.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]2. Ce Atin (55 tahun)[/highlight]

Ce Atin hanya tinggal berdua dengan papanya yang biasa dipanggil Cek Abok. Cek ABok telah beberapa tahun menderita stroke, sehingga untuk mandi, makan dan keperluan lain harus diurus oleh anaknya. Pendengaran dan penglihatan cek Abok juga sudah tak berfungsi baik.

DSC_0802

Untuk memenuhi kebutuhan hidup Ce ATin mengumpulkan botol-botol bekas yang nantinya dijual jika sudah mencapai ukuran 1 mobil.Biasanya sekitar 2-3 bulan akan ada yang datang mengambil, dan dihargai sekitar Rp. 300 ribu permobilnya. Ce Atin juga berjualan kue-kue kering di pasar. Saat ini kebutuhan utama mereka adalah bantuan untuk membeli obat-obatan cek Abok dan perbaikan beberapa bagian rumah yang bocor.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]3. Ai Rani Trisna (65 tahun)[/highlight]

Berdasarkan penuturan Ai yang hidup sebatang kara ini dahulunya ia mempunyai 3 orang anak, namun sekarang ia tidak mengetahui dan berhubungan lagi dengan anak-anaknya. Ia tinggal menumpang di halaman ruko  milik familinya yang sekaligus dijadikannya tempat penampungan barang-barang bekas yang dikumpulkannya. Dahulunya sempat berdagang kue dan es keliling, namun karena faktor usia ia tak kuat lagi untuk berjalan jauh.

IMG_20151222_171145

Video berikut merupakan sepenggal penuturan Ai mengenai kisah hidupnya.

[highlight bgcolor=”#eded87″ txtcolor=”#dd0000″]Ai saat menceritakan sebagian kisah hidupnya[/highlight]

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]4. Ai So Pheng (50 tahun)[/highlight]

Sudah hampir 2 tahun mengidap penyakit tumor pada perutnya. Telah menjalani operasi, namun kondisi semakin hari semakin kurus. Saat ini hanya menjalani pengobatan tradisional saja. Suaminya bernama Kho Bun Sang (57 tahun) bekerja sebagai penjaga kelenteng yang telah dilakoninya sekitar 20 tahunan.

II So Pheng berama Anak-anaknya, paling kiri adalah Okta anak sulung yang saat ini masih menderita sakit Tipes
II So Pheng berama Anak-anaknya, paling kiri adalah Okta anak sulung yang saat ini masih menderita sakit Tipes

Mempunyai 6 orang anak dari pernikahan mereka. Tiga orang masih bersekolah di SMP. Anak terbesar mereka bernama Okta ( 27 tahun) yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga semenjak 3 bulan terakhir menderita sakit Tipes, sehingga karena sering tidak masuk kerja akhirnya ia dikeluarkan dari tempat kerjanya. Anak kedua tidak bekerja karena ada gangguan mental, dan anak ke 3 bekerja sebagai tukang ojek dengan pendapatan tak pasti.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]5. Ai Lianawati  (64 tahun)[/highlight]

IMG_20151225_144708Setiap hari bekerja menjual kue donat dengan berkeliling. Sehari bisa menghabiskan antara 20-30 donat. Pendapatan perhari sekitar Rp. 10 ribu sampai Rp. 15 ribu. Pendapatan setiap hari langsung dibelikan beras untuk makan bersama suami dan anaknya.

Suaminya saat ini menderita stroke dan hanya bisa terbaring saja. Sedangkan anak laki-laki satu-satunya mengalami gangguan mental. Ai ini setelah lelah berjualan,masih harus mengurus suami dan anaknya lagi.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]7. Asuk Asiong  (67 tahun)[/highlight]

Dulunya bekerja sebagai tukang Liamciu di kelenteng. Dua tahun terakhir terkena stroke,sehingga sulit untuk berjalan. Mempunyai 4 orang anak. Dua orang anak telah berkeluarga dan tinggal diluar kota. Dua anak lagi bekerja sebagai penjaga kelenteng didekat rumahnya.

IMG_20151225_144247

Menurut penuturan penduduk setempat dulunya Asuk Asiong ini adalah seorang yang kaya. Hampir semua tanah didaerah tempat tinggalnya adalah kepunyannya. Mungkin karena pengaruh spekulasi menyebabkan ia harus menjual semua miliknya dan hanya menyisakan sebidang tanah untuk tempat tinggalnya.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]7. Sen sen  (28 tahun)[/highlight]

IMG_20151225_143116Sen-sen bekerja di sebuah toko bangunan di Palembang. Merupakan anak tunggal. Ia tinggal bersama Papa dan Mamanya disebuah rumah kontrak berukuran 2m x 5m.

Dengan pendapatan sekitar Rp. 2 juta perbulan ia harus dapat menggunakan untuk makan dan biaya berobat orang tuanya.

Kebutuhan mendesaknya menjelang Imlek ini adalah biaya sewa rumah yang harus segera ia lunasi.

[divide icon=”circle” color=”#dd8d13″]

[iconbox title=”Keterangan” title_align=”center” content_align=”center” layout=”boxed” title_color=”#dd0000″ content_color=”#D94A1A” align=”center” type=”vector” icon=”momizat-icon-pawn” icon_align_to=”box” size=”32″ icon_bg=”square” icon_bg_color=”#ededaf” icon_bg_hover=”#c8f298″ icon_bd_color=”#dd7a7a” icon_bd_hover=”#508bbf” ]7 kasus diatas mewakili keadaan dari 20 keluarga yang rencananya akan dibantu pada kesempatan ini. Tersebar di kota Medan, Palembang, Surabaya dan Biak.  Dana yang terkumpul nantinya akan dialokasikan sesuai kebutuhannya. Bukti-bukti penyerahan nantinya juga akan diupload di situs ini, berikut foto dan tanda terima bantuannya. Nama-nama donatur juga akan dilampirkan disini. [/iconbox]

Untuk turut serta BERDANA dapat disalurkan ke No. Rekening berikut dengan akhiran 7, misal Rp. 100.007,-

bca1

 

cn-new-year-banner

207-hd

[iconbox title=”KETERANGAN Lainnya dapat menghubungi Kontak berikut” title_align=”center” content_align=”center” layout=”boxed” bg=”#a9d689″ border=”#59d600″ content_color=”#0a0405″ align=”left” type=”vector” icon=”momizat-icon-phone” icon_align_to=”box” size=”32″ ]Sdri. Sumarah – 0821 788 16776 (Pin: 2B902CAD)

Yudianto Tjandranata  – 0811 58338 17 (Pin: 2BF36E79)

[/iconbox]

quote-Buddha-thousands-of-candles-can-be-lighted-from-41138

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

TIGA BERSAUDARA DALAM SATU KELUARGA MENJADI BHIKSUNI, DUA DIANTARANYA KETUA VIHARA.

Read Next

VICKI ZHAO: Memilih Menjadi Vegetarian Didalam Dunia Yang Terbolak Balik

Leave a Reply

Your email address will not be published.