Mari Bersama Ringankan Beban Guru Abhidhamma Bp. Pandit J. Kaharuddin

[box type=”note” fontsize=”14″]Y.M. Bhante/Suhu/Sayalay Romo/Ramani Upasaka/Upasika Para Pariyatti Abhidhamma dan Umat Buddha se-Indonesia

Terima Kasih yang tak terhingga atas dukungan moril dan materiil selama Bapak Pandit J.Kaharuddin dirawat di RS Graha Kedoya. Saat ini, Bapak Pandit telah keluar dari Rumah Sakit.

Atas mudita citta dari Anda semua dan dengan tidak mengurangi rasa hormat, dimohon penggalangan dana untuk Bapak Pandit di-STOP terhitung hari Senin, tanggal 14 September 2015.

Semoga Maha Kusala Kamma dari Anda semuanya dapat diberikan berkah dan perlindungan oleh Tiratana, Para Buddha dan Para Bodhisattva Mahasattva Sadhu sadhu sadhu _/|\_

Salam Metta, Pandit J. Kaharuddin,Abbayahema Sidje, Sri Suwanna Kaharuddin [/box]

Bapak Pandit J. Kaharuddin adalah pelopor penyebaran dan pengajaran Abhidhamma di Indonesia. Sangat besar jasanya terhadap perkembangan ajaran Buddha di tanah air. Saat ini beliau tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Graha Kedoya ruang VIP 706, dikarenakan mengalami infeksi pada bagian usus dan pembengkakan pada lever.

Telah dilakukan tindakan operasi untuk memperbaiki infeksi pada bagian ususnya. Untuk biaya pengobatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.Mengingat jasa-jasa beliau yang tanpa pamrih telah berjuang demi kemajuan Dhamma di tanah air dengan tak kenal lelah bahkan saat usianya telah senja, marilah kita galang dana kebersamaan sebagai bentuk cinta kasih kita kepada Guru kita yang tercinta ini.

Adapun dana yang ingin disalurkan dapat langsung ke rekening istri Pak Pandit yaitu rekening BCA atas nama Ibu Abbayahema ,No. Rekening 756 000 2691.

Semoga dengan kebersamaan kita menghimpun dana sukarela ini dapat membantu dan meringankan beban Pak Pandit, dan semoga beliau dapat segera sembuh dan pulih, serta dapat kembali mengajarkan Abhidhamma kepada kita semua.

pak pandit

Riwayat Singkat Bp. Pandit J. Kaharudin

Pandit J. Kaharudin lahir pada tanggal 31 Mei 1937 dengan nama Oey Keng Tjoe di Bengkulu, dari Ibunda Thio Sim Nio dan Ayah Oey Guat Hua, anak bungsu dari delapan bersaudara. Semasa kecil hingga remaja, ia mendapatkan asuhan yang baik dari kedua orang tuanya.

Mendapatkan pendidikan sekolah dasar di Chung Hua Xie Xiao ( Sekolah Tionghoa di Bengkulu ), kemudian berlanjut hingga menamatkan sekolah menengah Negeri Bengkulu, namun ia tidak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi karena ia membantu kakak laki-lakinya yang bernama Oei Keng Hong bekerja di tokonya serta di pabrik kopi kepunyaannya sampai dengan tahun 1961.

IMG_9917Kegemarannya ketika remaja adalah berolahraga bola basket dan berseni tari dansa. Bahkan waktu itu ia terpilih menjadi asisten guru ballroom dancing. Hal inilah yang mengkondisikan ia memiliki pergaulan yang sangat luas sehingga dikelilingi banyak teman dan sahabat.

Meningkat usia makin dewasa, Beliau mulai tertarik dengan kerohanian. Sempat belajar agama Protestan cukup lama di bawah bimbingan Pendeta paulus. Begitu kuat ketertarikannya, hingga berkeinginan untuk ditahbiskan menjadi umat Kristen Protestan. Namun perjalanan hidupnya penuh dengan kondisi yang tidak dapat diduga. Saat ia meminta restu lebih dulu dari orang tua beliau, ternyata orang tuanya tidak memberikan restu dan malah menganjurkan untuk belajar ajaran Buddha Gotama ( Agama Buddha ).

Pada awalnya, ia membantah orang tuanya “ Bukankah ajaran Buddha itu menyembah patung ?”. Dengan penuh keyakinan orang tuanya berkata ,”Selidiki dan belajar dulu ajaran Buddha Gotama, nanti setelah belajar dengan lebih rinci, kamu baru boleh mengambil kesimpulan dan keputusan.” Saat itu ia pun agak ragu, memikir, dan menimbang dimanakah ia bisa mendapatkan buku agama Buddha untuk dipelajari, karena ia memang awalnya tidak ada ketertarikan sedikit pun tentang informasi referensi ajaran Buddha Gotama yang perlu diselidiki itu. Saat itu yang ia tahu bahwa orang-orang beragama Buddha sering menyembah patung.

Akhirnya ia mendapatkan pinjaman buku Agama Buddha dengan judul “ Intisari Agama Buddha “ dari Bapak Tjoa Tjeng Wan, pemilik toko obat “Kinol”. Setiap hari ia mempelajari isinya. Halaman demi halaman ia baca dengan teliti hingga selesai. Meneliti buku ini ia baru menyadari bahwa ajaran Buddha gautama adalah ajaran yang berdasarkan fakta dan berdasarkan kepercayaan membuta. Ajaran Buddha Gautama berisikan filsafat, metafisika, ilmu jiwa makhluk dan cara hidup makhluk yang benar.Akhirnya ia memutuskan untuk makin tekun mendalami ajaran Buddha Gautama.

Pada tahun 1959 di awal bulan Mei, ia membaca majalah mingguan Star Weekly. Di dalam majalah tersebut diberitakan bahwa pertengahan bulan Mei 1959 pada saat perayaan Hari Trisuci Waisak akan diadakan penahbisan bhikkhu di Candi Agung Borobudur dan Pura Besakih di Bali yang akan dihadiri oleh para bhikkhu senior dari berbagai negara. Bhikkhu senior yang hadir di antaranya Y.M. Bhikkhu Narada Mahathera ( Alm) dari Sri Langka, dan Y.M. Mahasi Sayadaw ( Alm ) dari Burma. Ia pun bertekad untuk berupaya hadir di dalam acara penting tersebut.

12007029_1037633339614052_629209273_nPada tahun 1960, Beliau ditahbiskan menjadi upasaka oleh  Alm. Bhante Ashin Jinarakkhita di Bengkulu dan mendapat nama buddhis Upasaka Maitri Ratna. Menjabat sebagai Sekretaris Perhimpunan Buddhis Indonesia ( PERBUDI ) dan Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia ( PUUI ) Cabang Bengkulu. Pada tahun itu juga roda dhamma mulai diputar di kota Bengkulu dan kota Palembang serta daerah-daerah lainnya di Sumatera Selatan.

Tahun 1961, ia menerima anugerah gelar Bala Anu Pandita dari Sangha Suci Indonesia pada hari Suci Waisak Nasional di Candi Mendut Jateng.

Tahun 1963, beliau menerima penahbisan pabajja ( samanera ) dari Alm. Bhante Ashin Jinarakkhita di Vihara Vimala Dharma, Bandung dan mendapat nama Samanera Jinaratana. Sampai dengan tahun 1965, menjalankan kewajiban sebagai pelindung dan penyebar dharma di Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Jawa barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Bali, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Tahun 1966, beliau bersama dengan Samanera Jinagiri ( Alm. Girirakkhito Maha Thera ) menerima penahbisan upasampada (Bhikkhu ) di Wat Benchamabophit (Marble Buddhist Temple  Bangkok), Thailand. Samanera Jinagiri mendapat nama Bhikkhu Girirakkhito dan Samanera Jinaratana mendapat nama Bhikkhu Jinaratana.

11997055_1037637399613646_1083328711_n
Saat merayakan Ulang Tahun ke 78 pada bulan Mei 2015

Semenjak tahun 1966 – 1976, selama 10 tahun menjalankan tugas belajar agama Buddha di Bangkok, sampai berhasil meraih gelar Abhidhamma Pandit ( Sarjana Filsafat, Metafisika, dan Ilmu Jiwa Agama Buddha ) dengan prestasi terbaik. Sempat juga belajar di Taipei untuk mempelajari perkembangan agama Buddha Mahayana yang murni di sana.

Setelah genap 10 tahun menjalankan hidup kebhikkhuan ia kembali menjadi umat Buddha awam. Menikah dengan Pandita Abhayahema Sidje dan dikaruniai seorang putri yang bernama Sri Suwanna Kaharuddin, S.Sn.

17869_109950155682065_4104295_n
Foto kenang-kenangan genap 50 tahun pengabdian kepada Tiratana sebagai pelindung dan penyebar Dhamma.

Setelah menjadi umat awam, pengabdiannya kepada Buddha Sasana tak berhenti begitu saja. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan antara lainnya :

1). Selama 2 tahun menjadi guru bahasa Thai mengajar di Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), Pasar Minggu, Jak-Sel (1986-1988)

2). Selama 5 tahun menjadi Dosen Agama Buddha di Akademi Perhotelan dan Kepariwisataan Tri Sakti (APK Tri Sakti) (1979-1984).

3). Selama 17 tahun menjadi Guru Agama Buddha untuk SMP/SMU merangkap menjadi Bendahara di Sekolah Kemurnian (1981-1998).

4). Selama 19 tahun menjadi Dosen Agama Buddha di Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda untuk mata kuliah: – Pokok Dasar Agama Buddha. – Dhammavibhanga (pelajaran inti_pati TRIPITAKA) – Abhidhammatthasangaha dan Abhidhamma Pitaka.Dengan kedudukan sebagai Lektor bidang Abhidhamma.

Tahun 1997: Menerima anugerah Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Pemerintah Republik Indonesia atas jasanya telah melakukan donor darah (Lohita-dana) sebanyak 112 kali.

Tahun 1987-1998: Selama 11 tahun dirumahnya (Tri Sattva Buddhist Center) mengadakan Kursus Pokok Dasar Agama Buddha dan Abhidhamma setiap hari Minggu ke_4 tanpa di pungut biaya.

Tahun 1998-sampai sekarang (2014) senantiasa aktif  Membantu Walubi bagian Sekretariat dan mengajar Pokok Dasar Agama Buddha, Dhammavibhanga dan Abhidhamma melalui kursus2 di Vihara2, Apartemen dan kantor serta pada saat Pabajja Samanera Sementara. Menjadi staff pengajar Program Pascasarjana Magister Agama Buddha (S.2) di Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna Jakarta.

562538_453789087964835_213892722_n
Di usia senjanya Pak Pandit tak kenal lelah dalam mengajar Dhamma

Selama pengabdiannya buku-buku yang pernah dihasilkan antara lain:

1. Dhamma Sakaccha 2. Bhavana 3. Abhidhammatthasangaha I 4. Abhidhammatthasangaha II 5. Kebebasan Mutlak dalam Buddha Dhamma. 6. Dhammasangani 7. Kamus Buddha Dhamma 8. Kamus Baru Buddha Dhamma 9. Bunga Rampai Dhamma dalam Tanya Jawab 10. Pengantar Abhidhamma 11. Hidup dan Kehidupan 12. Kamus Umum Buddha Dhamma  13. Abhidhamma 45 Jam 14. Sasana 15. Tanya Jawab Mula Vipassana 16. Rampaian Dhamma 17. Abhidhammatthasangaha Baru 18. Kamus Umum Pali_Sanskerta_Indonesia 19. Tanya Jawab Atthadhamma 20. Mula Yamaka (Bab pertama dari Kitab Suci Yamaka).
Sumber: Catatan Perjalanan Hidup Seorang Pejuang Dhamma (Selamat Rodjali)
Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Jackie Glass: Mantan Model Seksi Ini Sekarang Menjadi Bhikkhuni

Read Next

[HELP] : Vihara ini Butuh Direnovasi, Ayo Tanam Kebajikan

Leave a Reply

Your email address will not be published.