Bhante Revata: Meditasi dan Manfaatnya Saat Menjelang Kematian

Buddha mengatakan : “Tidak ada hal lain yang lebih berbahaya selain daripada pikiran yang tidak terlatih, Saya tidak melihat hal apapun yang lebih bermanfaat selain daripada pikiran yang terlatih. “

Bhante Revata mengatakan : Banyak para yogi yang pada praktek meditasinya mengalami banyak kesulitan, dan mereka ingin menyerah saja.

Bhante Revata mengatakan : Kalau kita menghadapi situasi seperti itu, maka kita harus mengingat, Hal yang sulit dilakukan itu adalah sesungguhnya hal yang bermanfaat bagi kita, apa yang mudah dilakukan itu adalah sesungguhnya hal yang tidak bermanfaat bagi kita.

samsara-cycle-of-life-and-death

Betapa mudahnya menonton tv, Betapa mudahnya mendengarkan music, apakah anda senang kalau mendengarkan music dan menonton tv ? Itu hal yang mudah sekali dilakukan tetapi tidak membawa manfaat.

Apakah mudah focus ke napas 1 jam ? Betapa susahnya bukan ? Tapi itu benar-benar sangat bermanfaat sekali.

Pikiran yang tidak terlatih benar-benar sangat berbahaya sekali.

Bhante akan memberitahu kepada kita seberapa berbahayanya hal tersebut.
Selama anda memfokuskan pikiran anda kepada objek meditasi anda, pikiran anda sangat tidak ingin sekali untuk focus kepada objek tersebut.

Pikiran anda sangat ingin sekali mengembara,ingin mengambil objek ini, ingin mengambil objek itu. Sangat banyak sekali kegiatan-kegiatan, aktivitas-aktivitas dan memori-memori yang muncul di dalam pikiran kita. Apakah anda tahu ? Saat menjelang kematian kita , objek-objek yang bermunculan itu munculnya secara acak sama seperti sewaktu kita berlatih meditasi, pikiran itu munculnya acak bisa objek ini, bisa objek itu, sangat bervariasi sekali munculnya.

Pada saat kita sedang tidak melakukan sesuatu apapun, jika pada saat itu kita ingin berpikir, biasanya objek apa yang kita pikirkan, Objek yang penuh kesenangan Inderawi/menikmati kesenangan inderawi atau Objek yang baik yang mendatangkan Kusala/manfaat ?

maxresdefault

Dapatkah anda memberikan jawabannya ?

Kita lahir dengan nafsu keinginan, kita hidup dengan nafsu keinginan, kita mati dengan nafsu keinginan. Untuk mengejar kesenangan-kesenangan inderawi selama kita hidup. Menginginkan ini, Menginginkan itu, mengharapkan ini, mengharapkan itu, kita menghabiskan banyak waktu dalam hidup kita untuk mengejar kesenangan-kesenangan inderawi tersebut.

Karena alasan-alasan itulah, maka pikiran kita cenderung memikirkan objek-objek kesenangan inderawi. Kesenangan Inderawi itu seperti : melihat objek yang menyenangkan, mendengar objek pendengaran yang menyenangkan, mencium sesuatu bau yang harum, mengecap rasa enak (yang menyenangkan), merasakan sentuhan yang menyenangkan.

buddhaquote1Karena alasan-alasan tersebutlah, maka pada saat menjelang kematian kita sangat susah sekali untuk bisa muncul pikiran yang baik. Pada saat kita menjelang kematian, objek apa yang kita ambil akan menentukan tempat tujuan kemana kita akan dilahirkan kembali.

Seperti yang anda ketahui, Betapa susahnya untuk bisa mempertahankan pikiran di objek yang baik/kusala, bahkan hanya untuk 5 menit saja.

Sekarang anda dalam kondisi sehat, kondisi kuat, memiliki pikiran yang mindfull, tetapi pada saat anda menjelang kematian, tubuh bisa menjadi sangat lemah, sangat gampang sakit ,

Bagaimana anda bisa memperhatikan objek yang anda inginkan ?

Bagaimana anda bisa mengambil objek yang anda inginkan di saat menjelang kematian ?
Apakah mudah untuk bisa menentukan objek yang anda inginkan pada saat menjelang kematian ?

Tidaklah mudah.

Oleh karena itu, untuk bisa menghadapi kematian kita, kita perlu persiapan, dan persiapan itu adalah dengan melatih pikiran kita.

Tanpa persiapan, itu sangat tidak mungkin dan sangatlah sulit bagi kita menghadapi kematian.

Seperti yang anda ketahui, banyak orang yang mempersiapkan kehidupan mereka, tetapi tidak mempersiapkan kematian mereka.

Semenjak kita muda, kita mempersiapkan diri kita dengan mengenyam pendidikan sampai tinggi, apa tujuan kita mengenyam pendidikan sampai tinggi, tidak lain adalah untuk bisa menjalankan kehidupan kita.

Kita berusaha menjadi terpelajar untuk kehidupan kita.

Setelah kita menjadi orang yang berpendidikan, kita mencari uang, menjalankan kehidupan kita, melakukan hal terbaik untuk menjadi apa yang kita mau.

Kita menghabiskan banyak waktu kehidupan kita sampai waktu menjelang kematian, hanya untuk melakukan dan mempersiapkan kehidupan kita.

Bagaimana menurut anda, Ada berapa banyak orang yang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kematian ?

Sangat sangat sedikit sekali.

Sedangkan apa yang akan anda (Para yogi) lakukan sekarang ini adalah persiapan untuk menghadapi kematian anda.

Hanya dengan berlatih dalam waktu yang sangat singkat, dan berhenti jangka waktu yang sangat panjang , sangat sulit sekali bagi kita untuk melatih pikiran.

Melatih pikiran itu adalah hal yang harus dilakukan sepanjang hidup kita, Apakah kita suka atau tidak suka,Karena pikiran itu akan menentukan ke arah mana dunia kita.
Bhante ulangi sekali lagi, baik anda suka atau anda tidak suka, baik anda ingin melatih atau anda tidak ingin melatihnya, anda memiliki pikiran yang tidak terlatih, anda harus melatihnya dengan berlatih meditasi secara benar.

Seperti Bhante mengutif ucapan Sang Buddha : “ Hal yang sulit dilakukan adalah hal yang bisa membawa manfaat bagi diri kita, Hal yang mudah dilakukan itu adalah hal yang tidak membawa manfaat bagi diri kita. “

Jadi siapakah anda ?

Orang yang suka melakukan hal yang sulit atau Orang yang suka melakukan hal yang mudah?

Jadi Coba anda pertimbangkan. Banyak orang yang berpikiran bahwa mereka melakukan hal yang baik bagi kehidupan mereka, tapi sebenarnya itu tidak, sebenarnya mereka bukan melakukan hal yang baik bagi kehidupan mereka.

Jadi jika anda ingin melakukan hal yang baik bagi diri anda, anda harus melakukan hal yang sulit, hal yang memang akan membawa manfaat bagi anda.

Jadi berlatihlah dengan sungguh-sungguh dan dengan rajin.

Semoga anda bisa mengembangkan konsentrasi, Semoga anda bisa menembus dhamma sebagaimana apa adanya, Semoga anda bisa menjadi orang yang memang benar-benar melakukan kebaikan demi dirinya sendiri , semoga anda bisa mengakhiri penderitaan dalam kehidupan sekarang ini juga.

Sadhu sadhu sadhu.

Note : Ceramah diatas adalah bagian dari ceramah Bhante Revata dengan Judul “Introduction to Samatha” .Jadi untuk keseluruhan ceramah teman teman bisa mendengarkannya secara lengkap di Video pada bagian atas artikel. 

Sumber : Fanspage Facebook Buddhist Indonesia

[box type=”info” fontsize=”12″ radius=”12″]

Biografi Sayadaw U Revata

bhikkhu-revataBhikkhu Revata lahir pada tanggal 1 September 1971 di Mawlamyine, Myanmar. Beliau adalah putra kedelapan dari Oo Thar Tun dan Daw Mya Sein.

Pada tahun 1994, beliau lulus dari Universitas Yangon dengan gelar Bachelor of Science (B.Sc), dan kemudian membuka tempat mengajar sendiri dengan mengajarkan teknologi komputer di tempat asalnya selama lima tahun.

Pada 10 November 1999 , beliau ditahbiskan sebagai bhikkhu Thevavada di Pa-Auk Meditation Centre. Pengajar beliau adalah Y.M. Pa-Auk Sayadaw U Acinna.

Beliau berlatih meditasi di bawah bimbingan dari Y.M. Pa-Auk Sayadaw U Acinna, Sayadaw U Cittara dan Y.M. U Sila.

Beliau belajar dan mempelajari literatur Pali dan komentar. Dan menguasai bahasa Burma, Inggris dan Thailand.

Beliau telah mengajar meditasi baik untuk yogi lokal ataupun asing – bhikkhu Thevavada, bhikkhu Mahayana dan bhikkhuni, biarawati, samanera dan awam dari berbagai negara sejak tahun 2002 sampai sekarang di Pusat Meditasi Pa-Auk.

Sayadaw U Revata adalah asisten guru dari Y.M. Pa-Auk Sayadaw. Selain mengajar yogi lokal dan asing, dan melatih mereka yang bersungguh-sungguh hingga mampu menjadi guru di masa depan adalah tanggung jawabnya juga.

Beliau telah beberapa kali memberikan ceramah dhamma dalam bahasa Inggris atau Myanmar di dalam dan luar negeri, serta menulis tiga buku dalam bahasa Myanmar bersama dengan Y.M. Pa Auk Sayadaw, dan satu dalam bahasa Inggris berjudul Awaken, Oh World!

[/box]

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Menunggu Papa: Kumpulan Kisah Inspiratif untuk Memutuskan Rantai Kesalahan Masa Lalu

Read Next

Luke Ruehlman: Bocah 5 Tahun ini Meyakini Dirinya Dahulu adalah Seorang Wanita

Leave a Reply

Your email address will not be published.