Chiune Sugihara: Pria Jepang yang Selamatkan Ribuan Orang Yahudi

Chiune Sugihara dilahirkan pada 1 Januari 1900 di Yaotsu, daerah pedesaan di Prefektur Gifu dari wilayah Chubu di Jepang, dari ayah kelas menengah, Yoshimizu Sugihara, dan ibu dari kelas samurai, Yatsu Sugihara. Ia adalah anak kedua dari lima orang anak lelaki dan seorang anak perempuan.

pmuucjn

Pada 1912, ia lulus sebagai siswa terbaik dari Sekolah Furuwatari, lalu melanjutkan sekolahnya ke Daigo Chugaku (kini SMU Zuiryo) Nagoya, sebuah gabungan SMP dan SMU. Ayahnya ingin agar ia mengikuti jejaknya sebagai dokter, namun ia dengan sengaja menggagalkan diri dalam ujian masuknya dengan hanya menuliskan namanya saja pada kertas-kertas ujiannya. Sebaliknya, ia masuk ke Universitas Waseda pada 1918 dan mengambil sastra Inggris. Pada 1919, ia lulus dalam ujian Bea Siswa Kementerian Luar Negeri. Kementerian Luar Negeri Jepang merekrutnya dan menugasinya ke Harbin, Tiongkok. Di sana ia juga belajar bahasa Rusia dan bahasa Jerman dan belakangan menjadi ahli dalam masalah Rusia.

Ketika Sugihara bertugas di Kantor Luar Negeri Manchuria, ia ikut serta dalam perundingan-perundingan dengan Uni Soviet tentang Jalur Kereta Api Manchuria Utara. Ia melepaskan jabatannya sebagai Wakil Menteri Luar Negeri di Manchuria sebagai protes atas perlakuan yang buruk oleh bangsa Jepang terhadap rakyat Tiongkok setempat. Sementara di Harbin ia menjadi seorang Kristen Ortodoks dan menikah dengan seorang perempuan Rusia Putih yang bernama Klavdia. Mereka bercerai pada 1935, sebelum ia kembali ke Jepang. Di Jepang ia menikah dengan Yukiko Kikuchi, yang kemudian mengganti namanya menjadi Yukiko Sugihara (杉原幸子 Sugihara Yukiko?) setelah pernikahannya. Mereka mendapatkan tiga orang anak lelaki. Chiune Sugihara juga bertugas di Departemen Informasi dari Kementerian Luar Negeri dan sebagai penerjemah bagi perwakilan Jepang di Helsinki, Finlandia.

Pada 1939 ia menjadi wakil konsul pada Konsulat Jepang di Kaunas, Lituania (saat itu disebut Kovno (bahasa Yiddish: קובנה, bahasa Polandia: Kowno). Tugas-tugasnya yang lain adalah melaporkan gerak-gerik pasukan-pasukan Soviet dan Jerman.

Sugihara bersama Istri dan anak-anaknya
Sugihara bersama Istri dan anak-anaknya

Setelah Pakta Molotov-Ribbentrop diikuti Invasi Polandia oleh Jerman pada 1 September 1939, dan pengambilalihan Lituania oleh Uni Soviet pada tahun 1940, banyak pengungsi Yahudi dari Polandia dan Lituania yang berusaha mendapatkan visa keluar. Tanpa visa itu, perjalanan akan berbahaya dan mereka tidak mungkin menemukan negara yang bersedia mengeluarkannya. Ratusan pengungsi datang ke konsulat Jepang di Kaunas, berusaha mendapatkan visa ke Jepang. Konsul Belanda Jan Zwartendijk telah memberikan kepada mereka izin perjalanan resmi ke negara tujuan ketiga yakni Curaçao, sebuah pulau Karibia dan koloni Belanda yang tidak membutuhkan visa masuk, atau ke Guyana Belanda (setelah kemerdekaan, Guyana Belanda berganti nama menjadi Suriname). Pada saat itu, pemerintah Jepang menganut kebijakan resmi netral terhadap orang-orang Yahudi, namun menuntut bahwa visa hanya dikeluarkan bagi mereka yang telah melalui prosedur-prosedur imigrasi yang semestinya dan mempunyai cukup dana. Kebanyakan para pengungsi itu tidak memenuhi kriteria-kriteria ini. Sugihara dengan taat menghubungi Kementerian Luar Negeri Jepang hingga tiga kali untuk meminta petunjuk. Setiap kali, Kementerian menjawab bahwa siapapun yang memperoleh visa Jepang harus memiliki visa ke negara tujuan ketiga untuk keluar dari Jepang, tanpa kecuali.

GMPQ-CSUGIHARA

Dari tanggal 31 Juli hingga 28 Agustus 1940, Sugihara mulai mengeluarkan visa atas inisiatifnya pribadi, setelah berkonsultasi dengan istrinya. Berulang kali ia mengabaikan persyaratan-persyaratan memperoleh visa Jepang. Walaupun jelas-jelas melanggar perintah yang diberikan atasannya, Sugihara mengeluarkan visa transit 10 hari melalui Jepang untuk orang-orang Yahudi. Dengan jabatannya dan budaya dalam Kementerian Luar Negeri Jepang, tindakan Sugihara mengeluarkan visa atas inisiatif pribadi adalah tindakan luar biasa dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Ia membujuk para pejabat Soviet yang setuju untuk mengizinkan orang-orang Yahudi bepergian melalui negara itu viaJalur kereta api Trans-Siberia dengan membayar lima kali harga tiket biasa.

Sugihara terus menulisi visa dengan tangannya sendiri (konon hingga 18-20 jam per hari, hingga jumlah visa yang diterbitkan setiap hari sama dengan jumlah rata-rata visa yang dikeluarkan dalam sebulan) hingga 4 September 1940, ketika ia harus meninggalkan posnya sebelum konsulat Jepang ditutup. Pada saat itu ia telah mengeluarkan ribuan visa kepada orang-orang Yahudi, banyak di antaranya adalah kepala keluarga yang dapat membawa serta keluarga-keluarga mereka. Menurut para saksi, ia masih mengeluarkan visa sementara ia transit di hotel dan setelah menumpang kereta api, melemparkan visa-visa itu kepada kumpulan pengungsi yang putus asa menantikan di luar jendela kereta bahkan sementara kereta mulai berangkat.

Jumlah keseluruhan visanya diperdebatkan, antara 2.139 hingga 10.000. Kemungkinan besar jumlahnya lebih rendah, meskipun visa keluarga memungkinkan beberapa orang bepergian dengan menggunakan satu visa saja, juga diterbitkan, sehingga jauh lebih banyak orang yang berhasil memanfaatkannya.

Banyak pengungsi yang menggunakan visa mereka untuk pergi melintasi Uni Soviet ke Vladivostok dan kemudian menumpang kapal ke Kobe, Jepang; di sana ada sebuah komunitas Yahudi Rusia. Dari sana, 1.000 orang pergi ke tujuan lain seperti Amerika Serikat dan Mandat Britania atas Palestina. Sisa dari mereka yang bertahan karena visa Sugihara/Zwartendijk tinggal di Jepang hingga mereka dideportasi ke Shanghai yang dikuasai Jepang; di kota ini pun sudah ada sebuah komunitas Yahudi yang besar. Sebuah kelompok yang terdiri atas 30 orang yang semuanya bernama “Jakub Goldberg” tiba suatu hari di Tsuruga dan dikirim ke kota Nakhodka di Rusia. Kebanyakan dari sekitar 20.000 orang Yahudi lolos dari Holocaust di ghetto Shanghai hingga Jepang menyerah pada 1945.

Keberanian dan kepahlawanannya yang luar biasa tidak diketahui dan tidak pernah disebut – sebut pada masa sesudah perang. Selama bertahun – tahun ia hanya menjadi catatan kaki yang tidak penting dalam sejarah-sampai suatu saat ketika orang – orang yang diselamatkannya mulai mucul dari kebisuan dan keterguncangan pasca “Holocaust” * mereka. Orang – orang itu menceritakan kisahnya. Dengan segera keberanian dan kemuliaan hati Sugihara diketahui di seluruh dunia, menarik perhatian media massa dan memberikan inspirasi pada beberapa pengarang yang menulis buku tentang tindakan – tindakan “Schindler Jepang” ini.

chiunerefugeesSementara itu, pemerintah Israel sedang mengumpulkan nama – nama “para penolong yang pemberani”, karena mereka ingin membalas budi. Salah satu cara mereka mengucapkan terima kasih adalah dengan memberikan perlindungan dan pensiun seumur hidup kepada para penolong dan keluarga mereka. Cara lain yang lebih simbolis adalah dengan menanam pohon untuk menghormati para penolong itu. Ketika kepahlawanan Sugihara diketahui, para pejabat Israel dengan segera membuat rencana untuk menanam pohon ceri, seperti biasa, sebagai kenang – kenangan atas dirinya. Tapi tiba – tiba, untuk suatu alasan yang tidak biasa, para pejabat itu mengubah keputusan. Mereka merasa bahwa mengingat perbuatan – perbuatan Sugihara yang sungguh mengagumkan, pohon ceri kurang tepat sebagai simbol. Mereka memilih pohon Cedar dengan alasan bahwa Cedar lebih kokoh dan memiliki konotasi lebih suci, sebab pohon itu dulu digunakan di Kuil Pertama di Jepang.

Setelah pohon – pohon itu ditanam, para pejabat Israel yang terkejut itu baru mengetahui bahwa dalam bahasa Jepang, “Sugihara” berarti… Pohon Cedar.

Vinkmag ad

Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Kabur dari Peternakan, Babi Ini Bersujud di Sebuah Kuil Buddha di China

Read Next

Master Cheng Yen: Sebutir Benih yang Tumbuh Menjadi Pohon Besar

Leave a Reply

Your email address will not be published.