Laporan & Dokumentasi Penyerahan Dana Donatur “Berbagi Kasih Imlek 2015”

Berikut kami sampaikan laporan Pertanggungjawaban Penyaluran Dana Donatur untuk kegiatan Berbagi Kasih Imlek 2015 yang dikoordinasi oleh segenggamdaun.com

Total Dana Diterima Sebesar Rp. 56.595.000,- ( Lima Puluh Enam Juta Lima Ratus Sembilan Puluh Lima Ribu Rupiah). Untuk daftar nama Donatur dapat dilihat pada Link Berikut ini : Daftar Nama Donatur Berbagi Kasih Imlek 2015.

Penyaluran dana kepada 72 keluarga masing-masing Rp. 1 juta rupiah. Dana yang dikeluarkan untuk bantuan sebesar 72 juta rupiah. Kekurangannya diambil dari sisa saldo kegiatan segenggamdaun.com sebesar Rp. 15.405.000,-

Berikut ini adalah Dokumentasi dan Keterangan Keluarga dan Lokasi yang disalurkan bantuannya.

Bali, 2 keluarga

[images cols=”two” lightbox=”true”]
[image link=”5889″ image=”5889″]
[image link=”5888″ image=”5888″]
[/images]

1. Ibu Tjoa Yuan Nio (76 tahun). Janda , hidup seorang diri di kota Gianyar.

2. Pak Yusak (46 tahun). Duda, profesi bekerja seminggu sekali sebagai sopir mobil antar jemput anak-anak sekolah minggu gereja.

Bandung. 4 Keluarga

[images cols=”four” lightbox=”true”]
[image link=”5874″ image=”5874″]
[image link=”5876″ image=”5876″]
[image link=”5877″ image=”5877″]
[image link=”5875″ image=”5875″]
[/images]

1. Welly Kostiadi S (33 tahun). Mahasiswa Buddhist, yatim piatu, hidup dari bantuan kakaknya yang karyawan.

2. Ai Tan Chi Cen (68 tahun). Sebatang kara,bekerja sebagai penjaga kelenteng.

3. Encim Ooong (83 tahun). Tidak mempunyai sanak keluarga. Tinggal menumpang dirumah orang pikun. Hidup dari belas kasihan para tetangganya.

4. Nyonya Janda Fatimah (80 tahun). Tinggal bersama anaknya yang berprofesi pengumpul botol plastik bekas.

Batam, 2 keluarga

[images cols=”two” lightbox=”true”]
[image link=”5892″ image=”5892″]
[image link=”5893″ image=”5893″]
[/images]

1. Beng An (40 tahun). Duda Anak 2, supir ikan di pasar Batam. Tinggal di kost-an.

2. Lina (40 tahun). Janda 1 Anak, Berjualan nasi goreng di pasar Batam.

Biak Papua, 3 keluarga

[images cols=”three” lightbox=”true”]
[image link=”5870″ image=”5870″]
[image link=”5871″ image=”5871″]
[image link=”5872″ image=”5872″]
[/images]

Keterangan : Urut dari kiri kekanan. Klik pada gambar untuk memperbesar.

1. Ko Eddy (46 tahun), duda ditinggal istri, pengangguran, mengalami depresi, untuk tempat tinggalnya menumpang di WC rumah temannya.

2. Ai Cau Din (34 tahun). Janda ditinggal suami meninggal. Sekarang kerja serabutan seperti membantu mencucui baju. Mempunyai anak 6 tahun.

3. Ibu Susi (36 tahun). Yatim piatu, tidak ada sanak keluarga. Hidup menumpang tempat tinggal pada yang iba.Bekerja serabutan di pasar.

Jakarta, 3 keluarga

[images cols=”three” lightbox=”true”]
[image link=”5894″ image=”5894″]
[image link=”5896″ image=”5896″]
[image link=”5895″ image=”5895″]
[/images]

1. Ai Shinta (57 tahun). Suami 64th pensiun, anak 2 (dulu anak cwek meninggal krn kanker), cucu 3. Mata kiri buta krn sakit glucoma.

2. Ai Te Ci Nio (55 tahun). Suaminya bekerja sebagai tukang ojek. Menderita kanker rahim sudah 10 bulan. Rumah selalu kebanjiran walaupun hujan kecil.

3. Apho U Phing Cen (70 tahun). Janda, bekerja sebagai tukang jahit. Cucu 5, anak 3 (1 anak cewek sakit jiwa, stress). Jl. Bidur Bulan Cengkareng

Kalimantan , 10 keluarga (dalam proses)

[images cols=”four” lightbox=”true”]
[image link=”5899″ image=”5899″]
[image link=”5902″ image=”5902″]
[image link=”5905″ image=”5905″]
[image link=”5900″ image=”5900″]
[image link=”5901″ image=”5901″]
[image link=”5903″ image=”5903″]
[image link=”5904″ image=”5904″]

[image link=”5914″ image=”5914″]

[/images]

1. Asuk Gow Hang Jian (60 tahun). Duda cerai dengan dua anak yang belum bekerja. Membiayai hidup dengan bekerja serabutan sebagai kuli panggul.

2. Ai Bun Tho Kie (63 tahun). Janda 4 anak yang tidak punya pekerjaan tetap. Bekerja sebagai tukang bersih kelenteng.

3. Ai Lim AI Cu (62 tahun). Mempunyai 4 orang anak, namun semua ekonominya juga susah.

4. Acek Awi (52 tahun). Mempunya 3 orang anak yang masih kecil. Membiayai hidup dengan berdagang warung kecil-kecilan.

5. Achau (18 tahun). Tinggal dengan Ibunya. Papanya telah meninggal. Membiyai keluarga dengan berjualan Tahu keliling.

6. Asuan (42 tahun). Tidak bekeluarga. Pekerjaan Pemulung di Ketapang.

7. Acek ENg Jie Khiong (51 tahun). Pekerjaan berjualan Mie Keliling. Anak masih kecil-kecil.

8. Asuk A Kong (63 tahun). Pengangguran, anak 3 juga pekerjaan tak tentu. Sering sait-sakitan.

Labuan, 1 keluarga

Bapak Agus Wijaya (42th) saat menerima Bantuan dalam rangka Tahun Baru Imlek dari "Segenggam Daun", Beliau kesehariaanya sebagai sopir freeland, dimana pekerjaan ini kurang menjanjikan secara ekonomi, apabila tidak ada orderan untuk nganterin orang beliau sering membantu di vihara, sampai sekarang beliau masih numpang dirumah mertua yg dihuni 3 kk yaitu adik dan kakak iparnya yg masing2 sudah berkeluarga. Secara kesehatan kondisi mata kurang normal.
Bapak Agus Wijaya (42th) saat menerima Bantuan dalam rangka Tahun Baru Imlek dari “Segenggam Daun”, Beliau kesehariaanya sebagai sopir freeland, dimana pekerjaan ini kurang menjanjikan secara ekonomi. Apabila tidak ada orderan untuk nganterin orang beliau sering membantu di vihara, sampai sekarang beliau masih numpang dirumah mertua yg dihuni 3 kk yaitu adik dan kakak iparnya yg masing-masing sudah berkeluarga.
Secara kesehatan kondisi mata kurang normal.

Makassar, 8 keluarga

[images cols=”four” lightbox=”true”]
[image link=”5923″ image=”5923″]
[image link=”5924″ image=”5924″]
[image link=”5925″ image=”5925″]
[image link=”5926″ image=”5926″]
[image link=”5927″ image=”5927″]
[image link=”5928″ image=”5928″]
[image link=”5929″ image=”5929″]
[image link=”5930″ image=”5930″]
[/images]

1. Asuk A Coang (60 tahun). Hidup sebatang kara tidakmempunyai sanak saudara. Pekerjaan serabutan.

2. Ai Tiang Yong (48 tahun). Suami bekerja sebagai tukang batu. Tinggal di gubuk yang menumpang tanah milik tetangga.

3. Asuk Wong Jong Lie (70 tahun). Hidup seorang diri,tanpa anak saudara. Tidak bekerja.

4. Ama Oei Ting Kie (69 tahun). Hidup sebatang kara. Kebutuhan hidup bantuan dari tetangga.

5. Ama Tan Giok Lam (62 tahun). Bekerja mencuci baju. Tidak punya keluarga. Tinggal di kost.

6. Asuk Ho Ping (58 tahun). Tidak bekerja, anak 3. Meminta sedekah didepan kelenteng.

7. Ai Tan ai Mei ( 58 tahun). Menderita stroke. Hidup mengharapkan bantuan kerabat.

8. Tiang Mei Shiang (38 tahun). Ibu rumah tangga dengan 3 anak. Suami bekerja menarik becak.

Medan, 9 keluarga

[images cols=”four” lightbox=”true”]
[image link=”5956″ image=”5956″]
[image link=”5955″ image=”5955″]
[image link=”5954″ image=”5954″]
[image link=”5951″ image=”5951″]
[image link=”5950″ image=”5950″]
[image link=”5949″ image=”5949″]
[image link=”5948″ image=”5948″]
[image link=”5946″ image=”5946″]
[image link=”5953″ image=”5953″]
[image link=”5952″ image=”5952″]
[image link=”5947″ image=”5947″]
[/images]

1. Mama Ayang (43 tahun). Pekerjaan membantu masak di rumah makan. Single parent yang membesarkan 3 orang anak.Anak nomor 2 mengalami cacat mental.

2. Ibu Lelly (36 tahun). Menderita gagal ginjal dan harus cuci darah 2 kali seminggu. Suaminya, Rudy Wongso bekerja menjual Air Aki dirumahnya.

3. Ibu I Ik (45 tahun). Mempunyai anak 2. Suami bekerja di bengkel. Rumah bocor dimana-mana.

4. Ibu A Hong (52 tahun). Bekerja memulung. Anak perempuanya menderita kanker payudara,

5. Ibu A Guek (58 tahun). Tinggal bersama cucunya. Anaknya bekerja merantau, tak ada kabarnya.

6. Ibu A Chun (47 tahun). Janda,suaminya baru meninggal. Merawat ibunya yang setengah lumpuh. Bekerja mencuci baju.

7. Ibu A Po (56 tahun). Merawat suami yang stroke, dan anaknya yang mengalami gangguan jiwa. Bekerja serabutan.

8. Keluarga Acek Tangkie (64 tahun). Pekerjaan memulung dengan 2 anak yang masih sekolah.

9,10,11. Uang satu juta dibagi ke 3 orang yaitu Ai Asiang menderita bisu, Acek Beng Suan yang kontrakan sudah habis, dan Ai Alam yang menderita stroke.

Palu, 5 keluarga

[images cols=”three” lightbox=”true”]
[image link=”5918″ image=”5918″]
[image link=”5919″ image=”5919″]
[image link=”5920″ image=”5920″]
[image link=”5922″ image=”5922″]
[image link=”5921″ image=”5921″]
[/images]

1. Ama Lie Lang Cen (65 tahun). Tidak ada pekerjaan. Tinggal dengan adiknya yang juga tidak bekeluarga.

2. Ko A Ling dan anaknya. Keduanya cleaning service sekolah Buddhist. Tinggal berdua, ibunya sudah meninggal.

3. Asuk Goei Kok Giap (73 tahun). Tidak bekerja, tidak punya istri. Tinggal berdua dengan keponakan yang bekerja di toko spare part.

4. Asuk Fendi (58 tahun). Bekerja sebagai tukang bangunan. Namun terjatuh saat bekerja, sehingga saat ini mengalami kelumpuhan.

5. Ai A Yong (68 tahun). Tidak ada pekerjaan tetap. Mengharapkan bantuan tetangga.

Samarinda,6 keluarga

[images cols=”three” lightbox=”true”]
[image link=”5880″ image=”5880″]
[image link=”5881″ image=”5881″]
[image link=”5883″ image=”5883″]
[image link=”5882″ image=”5882″]
[image link=”5885″ image=”5885″]
[image link=”5884″ image=”5884″]
[/images]

1. Ai Apo (50 tahun), Tinggal bersama 3 saudaranya perempuan semua. Tidak ada yang bekeluarga. Tidak ada pekerjaan.

2. Ai Awen (56 tahun). Sebelah kanan pada foto. Menderita kanker dan sudah kesulitan berbicara.

3. Ama Lao Hai Tin (83 tahun). Hidup sangat sederhana dengan anaknya yang bekerja sebagai penjaga tokomainan.

4. Ama Goey Phin (70 tahun). Hidup sendirian tanpa keluarga. Berharap belas kasihan para tetangga.

5. Ai Tjong Mei Hwa (62 tahun). Tidak bekeluarga, menumpang tinggal pada rumah saudaranya yang juga berpenghasilan minim.

6. Ama Tan Mei Sing (65 tahun). Tidak ada penghasilan. Sekarang sakit rematik dengan kaki bengkak dan badan bungkuk.

Palembang, 12 Keluarga

[images cols=”four” lightbox=”true”]
[image link=”5848″ image=”5848″]
[image link=”5849″ image=”5849″]
[image link=”5845″ image=”5845″]
[image link=”5844″ image=”5844″]
[image link=”5843″ image=”5843″]
[image link=”5842″ image=”5842″]
[image link=”5841″ image=”5841″]
[image link=”5840″ image=”5840″]
[image link=”5838″ image=”5838″]
[image link=”5837″ image=”5837″]

[image link=”5910″ image=”5910″]
[image link=”5909″ image=”5909″]

[/images]

Keterangan : Urut dari kiri kekanan. Klik pada gambar untuk memperbesar.

1. Ai Liew Kim Kiun (60 tahun). Tinggal bersama 2 orang anaknya. Suami sudah meninggal 3 tahun yang lalu. AI bekerja membantu mengasuh anak.

2. Acek Ong Tian Ek (65 tahun). Tidak bekeluarga, bekerja tidak tentu sebagai tukang potong rumput. Menumpang tinggal dirumah familinya.

3. Acek Tja Me (66 tahun). Bekerja sebagai penjaga kelenteng. Menderita borok pada kaki karena diabetes, dan tidak diobati. Anaknya baru sembuh dari kecelakaan , dan sempat kritis hingga mengalami operasi otak.

4. Acek Lim Cun Huat (69 tahun). Menderita stroke semenjak 2 tahun ini. Anak tunggalnya menderita kelainan darah.sehingga setiap bulan harus menjalani transfusi. Istrinya bekerja mengambil jasa menjahit baju.

5. Asuk Teng San (63 tahun). Membiayai 2 anak masih sekolah. Pekerjaan tidak tetap sebagai tukang cotang.

6. Ai Nie Moy (71 tahun). Janda , tidak ada pekerjaan. Anak-anak diluar kota, Bekerja membantu membersihkan kelenteng.

7. Ama Lim Siu Ing (84 tahun). Tinggal berdua dengan anak laki-lakinya yang bekerja menjaga toko. Anak perempuannya meninggal 2 tahun lalu akibat kanker.

8. Engkong Tjoa Ek Ciang (78 tahun). Punya anak dua namun diluar kota. Hidup seorang diri.

9. Ai Lan Pek Yan (69 tahun). Tinggal berdua dengan anak bungsunya. Sulit ekonomi , ditambah lagi menderita sakit jantung, sehingga harus sering berobat dan membeli obat.

10. Herry (42 tahun). Bekerja membantu menjaga sekolah Buddhist. Punya anak masih sekolah SMP, tinggal menumpang di belakang sekolah.

11. Ama Lui So ( 85 tahun). Hidup berdua dengan anak perempuannya yang bekerja membersihkan kebun sayur milik tetangganya.

12. Ai Lim Gi Seng alias Apung (63 tahun). Tinggal seorang diri , anak-anak sudah berumah tangga sendiri. Membiayai hidup dengan bekerja membuat sapu lidi.

Surabaya, 5 keluarga (dalam proses)

[images cols=”three” lightbox=”true”]
[image link=”5959″ image=”5959″]
[/images]

1. Asuk Nio Kwee Hing (68 tahun).Bekerja sebagai penjaga malam dengan penghasilan 750 ribu/bulan. Tinggal dengan istri dan tak mempunyai anak.

Tanggerang, 2 keluarga

[images cols=”three” lightbox=”true”]
[image link=”5957″ image=”5957″]
[image link=”5958″ image=”5958″]
[/images]

1. Ama Sun Wien Nio (73 tahun). Tinggal sendiri disebuah gubuk ukuran 3 meter persegi. Tanpa anak dan family.  Dirumahnya tidak ada Kamar mandi dan WC. Kalau ada kebutuhan harus menumpang di vihara dekat rumahnya.

2. Acek Ie Tuan Kiat (70 tahun). Duda, pensiunan. Memiliki 3 anak yang sudah menikah semua, tapi dengan ekonomi sulit juga.

 

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Imlek dan Umat Buddha

Read Next

Ditemukan Mummy dalam Arca Buddhis Berusia 1.000 tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published.