IMLEK 2015: Mari Kita Rayakan dengan Berbagi Kebahagiaan

Tahun baru Imlek 2566 tentulah merupakan hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian orang keturunan Tionghoa Indonesia yang merayakannya. Kerja keras dan usaha sepanjang tahun akan terbayar dengan perayaan Imlek yang meriah dan penuh sukacita. Mulai dari bersih-bersih rumah, persiapan kue-kue dan makanan untuk para tamu, mengecat rumah agar terlihat bagus, membeli baju baru, dan tentunya mengisi angpao untuk dibagikan pada kerabat dan sanak saudara.

cn-new-year-banner

Namun ternyata semua kebahagiaan itu mungkin ternyata tidak dapat dirasakan oleh beberapa keluarga dibawah ini. Berdasarkan hasil bincang-bincang kami dengan keluarga tersebut, ternyata mereka tidak mempunyai kesan dan makna mendalam tentang Imlek. Hal ini dikarenakan kesulitan hidup mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang sudah sangat sulit dirasakan. Apalagi untuk merayakan Imlek. Yang ada di benak mereka hanya apakah besok bisa makan. BUKAN apakah yang akan kita makan besok. Tidak pernah terbayang untuk makan makanan yang lezat, minum minuman bersoda bahkan untuk menerima angpao dari kerabat mereka. Bisa makan nasi besok pun mereka sungguh sangat bersyukur.

Maka dari itulah kami mencoba mengetuk hati para sahabat sekalian, untuk kiranya sudi dan lapang hati menyisihkan sedikit saja dari uang anda buat dikumpulkan dan selanjutnya akan kami alokasikan sesuai tingkat kebutuhan mereka. Yang paling penting bagi kami, adalah bukan seberapa besar nilai yang anda sumbangkan, tetapi kami lebih berharap seberapa besar kita peduli kepada para saudara kita ini.

Berikut ini gambaran beberapa profil keluarga yang wajib kita bantu bersama :

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]1.   Ibu A Po (56 tahun)[/highlight]

Ibu A Po
Ibu A Po

Ibu A po yang berdomisili di daerah Titi Papan Marelan Medan, hidup dengan suaminya yang mengalami stroke dan 3 orang anaknya. Putra sulungnya menderita depresi beberapa tahun lalu. Beliau mempunyai 9 orang anak, namun akibat salah pergaulan beberapa anak-anaknya menjadi kurang berbakti. Dan semua anaknya juga hidup dengan perekonomian yang sulit. Jadi jangankan untuk membantu Orang Tuanya, untuk kebutuhan pribadi keluarga mereka juga sudah sangat susah. Beliau mengandalkan bantuan Dari tetangga sekitarnya untuk dapat bertahan hidup. Dua anaknya yang tinggal bersamanya masih sekolah dan seorang lagi bekerja sebagai buruh untuk membersihkan plastik bekas untuk kemudian di daur ulang.

Ibu A Po menambah penghasilan dengan bekerja memotong bahan baku untuk sandal jepit. Beliau tidak dapat bekerja yang jauh dari rumah, karena harus merawat suaminya yang terkena stroke.

suami yang sakit

Untuk pekerjaan sampingan memotong karet sandal jepit tersebut, sekarungnya  dibayar Rp. 5000,-.Dalam sebulan bisa mendapatkan sekitar 50 – 60 ribu rupiah.

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]2. Acek Tangkie (64)[/highlight]

acek thengkieAcek Tangkie tinggal bersama dengan istri dan dua anaknya yang masih bersekolah SMP. Acek berprofesi sehari-hari sebagai pemulung barang bekas. Dengan menggunakan sepeda, acek berkeliling mencari barang-barang dari tempat sampah yang kira-kira masih dapat untuk dijual kembali. Istrinya juga ikut membantu mencari penghasilan dengan mencuci baju.

Kebanyakan barang yang dikumpulkan adalah plastik air mineral dan kantong plastik. Untuk hasil memulungnya tersebut dihargai Rp. 1000,-/kilogramnya. Dalam seminggu acek bisa mendapatkan sekitar Rp. 20.000,- s.d Rp.50.000,-

Kondisi rumahnya yang selalu kebanjiran di saat hujan karena atap tua yang sudah berlubang dan air yang masuk dari halaman rumahnya.  Sekarang kondisi acek sering sakit-sakitan, sehingga otomatis hanya istrinya yang menjadi tulang punggung keluarganya.

10721199_792325277469410_1906404499_n
Acek bersama seorang anaknya

Kedua anak Acek saat ini bersekolah di SMP di dekat tempat tinggalnya. Anak-anaknya termasuk berprestasi. Sesuai penuturan Acek, ia sangat berharap apabila nanti mempunyai uang, Ia sangat ingin memindahkan anak-anaknya untuk bersekolah ke Sekolah  yang lebih baik. Hal ini dikarenakan anak-anaknya sering diganggu oleh teman-temannya yang lain.

[images cols=”five” lightbox=”true”]
[image link=”5646″ image=”5646″]
[image link=”5647″ image=”5647″]
[image link=”5648″ image=”5648″]
[image link=”5649″ image=”5649″]
[image link=”5650″ image=”5650″]
[/images]

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]3.Ibu Achun (47 tahun)[/highlight]

ibu achun
Ibu A Chun

Ibu A Chun hidup dengan 4 orang anak dan ibunya yang sudah tua dan mengalami kelumpuhan. Suaminya baru meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Beliau bekerja sebagai Tukang cuci baju di daerah sekitar tempat tinggalnya. Anak pertamanya perempuan berhenti sekolah dan bekerja untuk dapat membantu menyekolahkan adik-adiknya.

Saat ini ibu A chun juga mengeluhkan kondisi tubuhnya yang sering sakit. Mama Ibu A Chun juga mengalami masalah pada kakinya, yaitu susah untuk berjalan. Mungkin dikarenakan komplikasi diabetes dan darah tinggi yang sudah diderita lama olehnya. Besar harapan dari Ibu A chun jika ia menerima bantuan, ia ingin mempergunakannya untuk mengobati mamanya dan untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya.

Ibu A Chun (kanan) dan mamanya
Ibu A Chun (kanan) dan mamanya
Kondisi Kaki dari Mama Ibu A Chun yang mulai membusuk karena Diabetes
Kondisi Kaki dari Mama Ibu A Chun yang mulai membusuk karena Diabetes

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]4. Ibu I Ik (45 tahun) [/highlight]

Ibu I Ik tinggal bersama suami dan 2 putrinya. Suaminya bekerja dibengkel sebagai pekerja Harian. Putri sulungnya sudah tidak melanjutkan sekolah dan bekerja sebagai penjaga toko. Rumahnya yang berukuran 6×4 m2 di jalan gagak hitam gg. Bayu Medan. Beliau sangat terkejut saat dikunjungi karena selama ini tidak pernah mendapatkan bantuan dari siapapun.

Kalau hujan lebat, tidak ada bedanya berada di dalam rumah atau di luar. Mereka mencoba menutupi kebocoran rumah dengan barang-barang  yang mereka temukan. Setiap hari sekeluarga berhemat hanya dengan memakan bubur + garam. jarang sekali memasak nasi. Terkadang ada kerja sampingan di rumah seperti menyulam, melipat karton dan lainnya barulah sekeluarga dapat menikmati nasi. Itupun lauknya hanya telur dan sayur sayuran.

10937477_790831174285487_735064974_n
Ibu I Ik (kiri) didepan rumahnya bersama sdr. Adikin yang melakukan survey

ibu iik rumahnya

 [highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]5. Acek A Huat  (69 tahun) [/highlight]

10943598_906099632767424_1320875235_nAcek Lim Cun Huat (69 tahun) telah menderita stroke selama 3 tahunan. Sebelumnya ia bekerja sebagai tenaga keuangan disalah satu swalayan ternama di kota Palembang.

Saat ini setelah menjalani pengobatan, Acek sudah bisa berdiri dan untuk berjalan harus berpegangan pada dinding. Acek hidup dengan istri dan seorang putrinya bernama Sulastri.

Sulastri juga menderita penyakit kelainan darah, sehingga setiap 3 bulan sekali ia harus menjalani transfusi darah. Sulastri sulu pernah bekerja menjaga toko, namun semenjak kondisinya yang sering sakit-sakitan maka ia harus dirumah saja sambil merawat papanya.

Untuk hidup sehari-hari yang menjadi penopang ekonomi adalah istri acek dengan cara menerima jasa menjahit baju. Penghasilannya juga kadang tak tentu, berkisar Rp. 50 ribu sampai Rp. 100 ribu perminggunya.

Saat ini Acek sekeluarga atas kebaikan Pihak Cetiya DhammaJoti yang berlokasi di Jalan Tembok Baru Palembang, memberikan sebuah ruangan disamping Cetiya untuk dijadikan tempat tinggal bagi Acek sekeluarga. Acek sudah 6 bulan tinggal disamping cetiya ini. Sebelumnya Acek mengontrak rumah, namun karena ketiadaan dana, maka tak mampu untuk memperpanjang sewa lagi.

10954710_906099602767427_1232635207_n
Acek A Huat dan keluarganya

[images cols=”three” lightbox=”true”]
[image link=”5669″ image=”5669″]
[image link=”5670″ image=”5670″]
[image link=”5671″ image=”5671″]
[/images]

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]6. Ibu A Hong (52 tahun) [/highlight]

10937697_792733687428569_87457606_nIbu Ahong , tinggal bersama ke 4 anak perempuannya. Anak tertuanya juga mengidap kanker payudara dan baru menjalani kemoterapi atas bantuan para donatur.

Anak-anaknya sudah bekeluarga semua, dan juga hidup dengan perekonomian sederhana. Untuk itu Ibu Ahong harus mandiri untuk mencukupi kebutuhannya sendiri.  Beliau bekerja sebagai seorang pemulung untuk dapat membiayai kehidupannya. Disela-sela waktunya ibu Ahong mengambil pekerjaan sampingan melipat kertas sembahyang untuk kelenteng.

 

10937654_792741364094468_1385543952_n
Ibu Ahong dan keluarganya

[highlight bgcolor=”#dd3333″ txtcolor=”#ffffff”]6. Ibu Lelly (36 tahun) [/highlight]

Ibu Lelly , telah 7 tahun menderita penyakit gagal ginjal yang parah. Saat ini Lelly harus melakukan pencucian darah di rumah sakit sebanyak 2-3 kali setiap minggunya.

Walau sudah mengikuti program BPJS, namun BPJS hanya menanggung pencucian darah max. 2 x seminggu. Untuk itu jika kondisi mengharuskan cuci darah, maka itu ditanggung dengan biaya sendiri.

10958768_795218383846766_1264656282_n
Ibu Lelly bersama suaminya Rudy Wongso

 

Kondisi Tangan Ibu Lelly , bekas jarum Infus saat Tranfusi
Kondisi Tangan Ibu Lelly , bekas jarum Infus saat Tranfusi

Obat obatan yang dikonsumsi juga harus dibeli sendiri karena obat obatan tanggungan bpjs sudah tidak cocok lagi.

Suaminya bapak Rudy Wongso (46) hanya seorang pedagang air bateray di Medan. Suami istri yang belum mempunyai anak ini tinggal di jl. Denai gg. Giat no. 6, Medan. Penghasilan dari usaha air bateray dan bantuan salah satu yayasan di Medan masih jauh dari cukup untuk membeli obat obatan istrinya yang mencapai lebih kurang Rp. 1.500.000,- / minggunya.

 

 

Tempat Tinggal sekligus tempat usaha menjual air Accu dengan keuntungan Rp. 5 ribu per pallet.
Tempat Tinggal sekligus tempat usaha menjual air Accu dengan keuntungan Rp. 5 ribu per pallet.

[divide icon=”circle” color=”#dd8d13″]

[iconbox title=”Keterangan” title_align=”center” content_align=”center” layout=”boxed” title_color=”#dd0000″ content_color=”#D94A1A” align=”center” type=”vector” icon=”momizat-icon-pawn” icon_align_to=”box” size=”32″ icon_bg=”square” icon_bg_color=”#ededaf” icon_bg_hover=”#c8f298″ icon_bd_color=”#dd7a7a” icon_bd_hover=”#508bbf” ]7 kasus diatas mewakili keadaan dari 15 keluarga yang rencananya akan dibantu pada kesempatan ini. Tersebar di kota Medan, Palembang dan Jakarta. Dana yang terkumpul nantinya akan dialokasikan sesuai kebutuhannya. Bukti-bukti penyerahan nantinya juga akan diupload di situs ini, berikut foto dan tanda terima bantuannya. Nama-nama donatur juga akan dilampirkan disini. [/iconbox]

Untuk turut serta BERDANA dapat disalurkan ke No. Rekening berikut 

bca

cn-new-year-banner

207-hd

[iconbox title=”KETERANGAN Lainnya dapat menghubungi Kontak berikut” title_align=”center” content_align=”center” layout=”boxed” bg=”#a9d689″ border=”#59d600″ content_color=”#0a0405″ align=”left” type=”vector” icon=”momizat-icon-phone” icon_align_to=”box” size=”32″ ]Sdr. Adikin  – 0812 691 99 168 (Pin: 7CBDFD22)

Shirley K – 0853 1905 2388 (Pin: 2BBB6356)

[/iconbox]

quote-Buddha-thousands-of-candles-can-be-lighted-from-41138

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Bhante Pannavaro – Tanggung Jawab Bersama

Read Next

Nama Donatur: Berbagi Kasih Imlek 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.