Dokter Lie Ciptakan RS Apung Obati Rakyat Miskin di Pelosok Indonesia

Pengabdian yang tidak berorientasi pada perolehan materi kini merupakan barang yang langka. Ketika profesi dokter mendapat cibiran sebagai ladang pengerukan kekayaan, dan ketika anggapan rakyat miskin dilarang sakit mencuat diobrolan kaki lima, maka ketika mendengar ada dokter yang mengabdikan hidupnya untuk kesehatan masyarakat terpinggirkan, kita terhentak. Kita menitikkan air mata.

Pengabdian seorang dokter yang melayani masyarakat di pelosok negeri diangkat oleh Andy F. Noya dalam acaranya Kick Andy yang ditayangkan Metro Tv pada 07 Maret 2014, membuat kita merasa terharu karena dari sekian ribu dokter yang dicibir hanya  mementingkan materi masih ada satu dokter yang melayani masyarakat tanpa pamrih.

kutipan-kata-kata-inspirasi-dr-lie-dharmawan-1

Iya, dia adalah dokter Lie A. Dharmawan, seorang dokter yang berusia sekitar 70 tahun mendirikan Rumah Sakit Apung (RSA) untuk melayani masyarakat yang tidak terjangkau oleh layanan medis. Jangan membayangkan bahwa Rumah Sakit Apung adalah sebuah kapal mewah layaknya rumah sakit apung punya Amerika Serikat. Rumah Sakit Apung milik dr. Lie hanyalah sebuah kapal sederhana yang terbuat dari kayu, yang di dalamnya disekat-sekat menjadi bilik-bilik yang diperuntukkan untuk merawat pasien-pasien inap ataupun pasien-pasien pasca operasi. Sehingga dr. Lie dianggap sebagai dokter gila, karena keberaniannya menggunakan kapal kayu mengarungi pelosok negeri ini untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu tetapi memerlukan pelayanan kesehatan segera.

kutipan-kata-kata-inspirasi-dr-lie-dharmawan-2

Dalam perjalanannya dengan Rumah Sakit Apung, dr. Lie telah melakukan sebanyak 60 kali operasi mayor dan 117 kali bedah minor dan telah merawat 1.630 pasien umum. Dengan catatan bahwa apa yang telah dilakukan oleh dr. Lie dan teamnya, tidak mendapat bayaran.

Latar belakang dr. Lie A. Dharmawan yang berasal dari keluarga kurang mampu, anak ke-4 dari 7 bersaudara ini telah ditinggal almarhum ayahnya pada usia 10 tahun. Dengan keluarga besar, serta ditinggal tulang punggung keluarga membuat ibu dari dr. Lie harus berusaha menghidupi keluarganya dengan melakukan pekerjaan apa saja, sampai-sampai mendapatkan upah cuci pun dilakukan oleh ibu dr. Lie. Untuk mencapai cita-cita menjadi dokter, tidaklah mudah bagi seorang Lie yang berasal dari keluarga kurang mampu. Bahkan ketika dia mengutarakan keinginannya untuk menjadi seorang dokter, dr. Lie sempat ditertawakan. Bagaimana mungkin seorang anak miskin dapat menjadi seorang dokter? Karena semua orang tahu bahwa menjadi seorang dokter harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Tetapi kemiskinan bukanlah halangan bagi seorang dr. Lie, setelah ditolak untuk kuliah di beberapa perguruan tinggi, akhirnya dr. Lie mendapatkan tawaran untuk sekolah dokter di Jerman. Walaupun gratis, tetapi untuk berangkat ke sana tidaklah mudah. Dr. Lie harus menabung bersama saudaranya agar dapat berangkat ke sana.

kutipan-kata-kata-inspirasi-dr-lie-dharmawan-3

Karena sangat cintanya dengan tanah air, walaupun dia bisa mendapatkan fasilitas dan pekerjaan yang menjanjikan harta berlimpah di Jerman. Dr. Lie tetap pulang ke Indonesia, setelah menetap selama 18 tahun di Jerman.

Mengapa dokter-dokter yang mengabdikan dirinya tanpa memikirkan materi cenderung berlatar belakang kurang mampu? Selain dr. Lie kita juga bisa melihat pengabdian dr. Lo Siaw Ging di Solo, juga berlatar belakang kurang mampu. Dan saya melihat bahwa dokter-dokter yang berlatar belakang demikian cenderung lebih mengerti tentang kehidupan bermasyarakat. Dengan biaya pendidikan dokter yang begitu besar sekarang ini, menyebabkan para dokter berpikir bagaimana caranya mengembalikan biaya-biaya yang telah dia keluarkan selama menempuh pendidikan menjadi seorang dokter. Dengan melihat hal demikian, apakah masih layak pemerintah membebankan biaya pendidikan yang begitu tinggi kepada calon-calon dokter?

kutipan-kata-kata-inspirasi-dr-lie-dharmawan-4

“Kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil” itulah pesan yang disampaikan oleh ibunda dr. Lie. “Mereka bisa membayar kamu, tetapi ketika sampai di rumah mereka akan menangis, karena mereka tidak mampu lagi untuk membeli beras”

Deklarasi Kesetiaan

Dokter Lie berkeyakinan, masyarakat – terutama yang tak mampu dan tinggal di tempat yang “tak terjangkau” – butuh uluran kasih pelayanan medis. Dokter ahli bedah jantung ini memelihara keyakinannya dalam bingkai doa tiap malam kala kembali ke peraduan.

“Kalau mau tidur, biasanya saya ngelapor ke Bos. Ya berlutut, hening… itu menjadi saat teduh saya. Dalam saat teduh itu, bayangan anak perempuan usia sembilan tahun di Pulau Kei kembali berkelebat. Betapa sakit yang dirasakan anak itu,” ungkap umat Paroki St Andreas Kedoya, Jakarta Barat ini.

Seolah ia ngobrol dengan Tuhan dalam saat teduhnya. “Maukah engkau melayani-Ku?” Spontan Dokter Lie menjawab, “Tuhan, jangan aku. Aku sudah terlalu capek.” Meski jawabnya bertendensi mengelak, dorongan untuk melayani sesama yang tak mampu dan sulit terjangkau secara geografis, terus bergema di relung hatinya. Ia pun “menyerah”; ia tak dapat lari dari kehendak-Nya.

Akhirnya, Dokter Lie menjawab panggilan Tuhan melalui profesinya. “Ya Tuhan, aku mau. Aku mau melayani-Mu,” ungkapnya sambil berkaca-kaca. “Saya mendeklarasikan kesetiaan untuk melayani Tuhan,” imbuhnya seraya menyeka air mata yang berguguran di pelupuk matanya.

Lantas ia berinisiatif mendirikan Rumah Sakit Apung (RSA) bersama Yayasan Dokter Peduli yang ia prakarsai. Dokter Lie Lie A. Dharmawan ingin melayani dengan “menjemput bola” keliling ke daerah-daerah dengan kapal yang dilengkapi peralatan operasi.

“Tiap manusia, dari kecil lalu tumbuh dan berkembang menjadi “hebat”, “kuat”,ada orang yang care dengan kita. Proses ini karena kasih. Kita seringkali minta berkat pada Tuhan untuk hidup kita, keluarga kita. Berkat itu lalu diapakan? Ya mesti kita bagikan. Kita sudah diberi gratis kok,” jelasnya saat ditanya mengapa ia mau melayani masyarakat tak mampu dan membuat RSA.

20130606_rumah-sakit-apung_1802

Sarana Pelayanan

Awalnya, Kepala Bagian Bedah RS Husada Jakarta ini dianggap “gila” tatkala mengungkapkan keinginannya untuk melayani masyarakat miskin di daerah-daerah dan melakukan operasi di atas kapal. Julukan “dokter gila” pun dilekatkan padanya karena dianggap melawan arus dengan mencari sesuatu yang sulit. Namun kobar semangatnya tak padam. Komentar-komentar sinis tak menyurutkan langkahnya untuk melayani dan berbagi berkat pada sesama.

Ia bawa perjuangan keyakinan panggilannya dalam doa. “Dia yang setia. Saya serahkan semua pada-Nya. Kekuatan saya adalah doa. Saya tak bisa apa-apa tanpa pertolongan-Nya,” tuturnya. Dokter Lie tak memungut biaya untuk operasi bagi masyarakat miskin. Bahkan ia dan rekanrekannya berjuang mencari bantuan untuk biaya rumah sakit pasien miskin.

RSA menjadi salah satu sarana Dokter Lie untuk menyalurkan berkat yang telah diterimanya. Pada 16 Maret 2013, pelayaran perdana RSA dr Lie Dharmawan dilakukan. Kapal dengan luas 23,5 x 6,55 meter itu membawanya bersama tim Yayasan Dokter Peduli menuju Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Perjalanan ditempuh selama 4,5 jam. Di kapal itu, sejumlah 320 warga diobati, 15 pasien bedah minor, dan lima pasien bedah mayor.

kutipan-kata-kata-inspirasi-dr-lie-dharmawan-5

Setelah Pulau Panggang, Dokter Lie dan tim berlayar ke Manggar, Belitung Timur, dan Ketapang, Kalimantan Barat. Awal September ini, mereka kembali berjibaku mengarungi samudera untuk melayani masyarakat tak mampu. Mereka membuka pelayanan medis di Bali, Labuhan Bajo di Flores Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Pulau Kei, Maluku.

“Saya membiarkan diri disetir Tuhan. Rancanganku bukan rancangan-Mu. Terjadilah kehendak-Mu,” ujarnya

Untuk mengikuti Kegiatan dan Informasi terbaru dari dokter Lie, dapet berkunjung ke website officialnya dibawah ini.

Screenshot_3

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Moe Yu San : Selebritis Cantik Ini, Menjalani Kehidupan Sebagai Bhiksuni

Read Next

Anak Kecil 1 Tahun ini Setiap Hari Membantu Melayani Para Bhikkhu & Vihara

2 Comments

  • Smoga Tuhan memberikan berkah usia untukmu Dokter Lie. Tetaplah menginspirasi untuk Indonesia.

  • Sungguh LUAR BIASA dan MENGHARUKAN sekali mengenai kisah pelayanan kasih dari dr. Lie A. Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV yang telah rela berkorban dengan tulus demi menyembuhkan dan mengobati masyarakat Indonesia yang tidak mampu dengan memprakarsai adanya Rumah Sakit Apung (RSA) bersama dengan tim Yayasan Dokter Peduli.

    Air Mata pun berlinang, berurai dengan derasnya (bercucuran), saat saya membaca kisah pelayanan kasih yang teramat MULIA ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published.