Ayo Bantu Pengembangan Dhamma Untuk Suku Pedalaman Pulau Seram

Suku Yamatitam merupakan salah satu suku Alifuru, suku pribumi di pedalaman Pulau Seram, Maluku. Mereka masih primitif dan hidup nomaden secara berpindah-pindah di tiga gunung yang ada di pulau tersebut. Mereka juga tidak bisa berbahasa Indonesia.

Karena ada rasa trauma pada masa penjajahan dan juga kerusuhan bernuansa SARA pada tahun 1999 membuat mereka mengisolasi diri terhadap dunia luar. Namun kini mereka mulai membuka diri terhadap dunia luar, termasuk terhadap ajaran Buddha sebagai salah satu penghubung dengan dunia luar.

Mereka secara langsung memohon pembinaan kepada Sangha Theravada Indonesia yang kemudian menunjuk Bhikkhu Siriratano sebagai pembina umat di sana. Kini sedang diupayakan pembangunan suatu komunitas permanen bagi masyarakat Yamatitam.

20140816-Dan-Buddhisme-pun-Mengalir-Sampai-Pedalaman-Maluku

Tahap satu dimulai dengan mendirikan Baileo (rumah adat) yang multifungsi sebagai tempat pertemuan, belajar, dan melaksanakan puja bakti, yang dilengkapi dengan MCK dan dapur. Juga diharapkan kelak bisa menjadi pusat dari perumahan di sekitarnya yang kelak akan dibangun.

Menurut penuturan Rila Lisangan dari majalah Dhammanews dalam akun YouTube-nya, Bhikkhu Siriratano dan rombongan umat Ambon, Banggoi, Samal dan Kobisont mengunjungi Yamatitam tanggal 20-26 Mei 2014 lalu.

maxresdefault

Rila bercerita, “Perjalanan ke pedalaman Yamatitam sangat menantang dan menarik. Bermula dari kota Ambon. Dengan menggunakan kapal feri selama 2 jam, kami menuju Pulau Seram, dan melakukan perjalanan darat 9 jam menuju kota Banggoi.”

“Lalu dengan berjalan kaki kami menuju ke pedalaman Gunung Yamatitam selama 12 jam untuk bertemu saudara kami suku pedalaman Yamatitam,” lanjut Rila.

Bagaimana perjuangan Bhikkhu Siriratano bersama para umat menembus hutan belantara untuk sampai ke Suku Yamatitam? Silahkan lihat video dibagian atas artikel.

Dukungan dan bantuan yang diberikan merupakan wujud nyata pemenuhan kesempatan berbuat baik (Akusala Kamma). Untuk itu kami sangat mengharapkan kemurahan hati dari segenap umat Buddhist dan dermawan untuk ikut membantu menggalang dana demi kesuksesan tujuan dan cita-cita luhur ini.Untuk turut serta memberikan dukungan dalam bentuk dana dapat disalurkan melalui rekening BCA berikut ini .

bank-bca-logo
Mohon Menambahkan Rp. 1 dialam transfer anda untuk memudahkan penelusuran dana, contoh Rp 100.001,-

Konfirmasi dana & Informasi dapat menghubungi :

1. Bhikkhu Siriratano Thera  – Makassar ( HP: 081283618564)

2. Helen Lie – Ambon, Maluku (Pin BB : 7BA4A1E3, HP: 081380608889)

Mohon Kiranya sahabat se Dhamma dapat turut serta menyebarkan informasi ini, sehingga Buddha Dhamma dapat tersebar dengan baik. Begitu besar manfaat dari mendirikan sebuah vihara atau tempat meditasi. Semoga kesempatan baik ini yang merupakan ladang bagi kita semua untuk menanam benih-benih kebajikan, dapat dimanfaatkan oleh Bapak /Ibu /Saudara/ Saudari dan para dermawan.

Semoga jasa baik yang dilakukan oleh Bapak /Ibu /Saudara/ Saudari dan para dermawan membawa kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan lahir maupun batin.

Semoga Tiratana Selalu Melindungi Kita Semua

[box type=”note”]“Memberi makanan, seseorang memberikan kekuatan; memberi pakaian, seseorang memberikan keindahan; memberi penerangan, seseorang memberikan penglihatan; memberi angkutan, seseorang memberikan kesenangan; memberi perlindungan, seseorang memberikan semuanya; tetapi seseorang yang mengajarkan Dharma, ajaran Sang Buddha yang istimewa, orang seperti itu memberikan makanan surgawi.” (Samyutta Nikaya, I, 32)[/box]

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Chioko, Ulambana dan Pattidana

Read Next

Gadis Amerika ini Memutuskan Menjadi Bhiksuni

One Comment

  • Ketika membina suku terasing, harus dilakukan dng pendekatan budaya dan tradisi mereka. Kita harus belajar dr kesalahan misionaris Kristen yg akhirnya membuat suku suku kehilangan identitas diri dan menimbulkan masalah sosial yg besar akibat itu. Atau kesalahan dakwah Islam pd suku terasing yg menimbulkan fanatisme yg ekstrim dan menjadikan mereka sangat eksklusif. Ketika mengajarkan Buddhadhamma,,jangan sampai kita terlalu banyak mengikut sertakan aspek budaya dan tradisi kita atau tradisi asing lain spt tradisi dr Thailan. Karena Buddhadhamma bersifat universal dan inklusif, adakan pendekatan budaya yg tdk terlalu asing bagi mereka. Dng demikian semoga Dhamma bersinar bagi mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published.