Hidup Sehat Berbahagia

Sebagai konsekuensi hidup salah satunya  adalah kita akan menderita sakit dan kita belum dapat mengatasi penyakit (Byādhidhamomhi – Byadhiṁanatito). Tidak seorangpun yang ingin sakit. Karena itu kita belajar ilmu kesehatan di sekolah.

Kalau badan dan batin kita sehat, maka kita bisa menikmati hidup dan bisa menyumbangkan sesuatu yang bernilai untuk hidup kita dan orang lain. Ini adalah makna dari Hidup. Bila hanya badannya saja yang sehat namun batinnya tidak sehat, maka ia disebut orang yang tidak sehat batiniah. Ada juga orang yang menderita rohaniah (spiritual) yaitu orang-orang yang berada dalam kegelapan batin.

Terdapat dua macam penyebab penyakit, yaitu:

1.    Penyebab fisik (dhātu-samuṭṭhāna)

2.    Penyebab kamma (kamma- samuṭṭhāna)

PENYEBAB FISIK

Penyakit yang disebabkan karena fisik tidak berlangsung sebagaimana mestinya dari 5 elemen (dhātu), yaitu:

1.   Unsur Tanah: bagian-bagian tubuh yang keras seperti tulang, otot, kulit, dan seterusnya.

2.    Unsur Air: air seni, lendir, darah, keringat, dan seterusnya.

3.    Unsur Api: kehangatan badan yang disebabkan karena proses elemen tubuh yang lain yang saling bergantungan.

4.    Unsur Angin: tenaga yang mengakibatkan bagian badan bergerak kembang-kempis akibat bernafas.

5.    Unsur Ruang: bagian badan dalam bentuk rongga di dada, perut, otak, telinga, hidung, dan sebagainya.

Jikalau salah satu tidak berfungsi sebagaimana mestinya ataupun tidak imbang, maka timbullah penyakit yang disebabkan oleh badan. Demikian juga penyakit-penyakit keturunan lainnya seperti tekanan darah tinggi, diabetes militus, kanker, dan sebagainya. Beberapa penyakit timbul akibat badan bereaksi pada sesuatu diluar diri kita, misalnya sengatan matahari, hawa dingin, debu, virus, alergi, dan sebagainya.

PENYEBAB KAMMA

•    Penyebab kamma sekarang.

Penyebab Kamma adalah penyakit yang timbul karena kammacitta atau tindakan pikiran yang berekasi atas ketidakpuasan, kekecewaan, kemarahan dari sesuatu yang tidak dikehendaki. Bertambah seringnya kita berpikir negatif semacam ini, maka kita akan kehilangan atau menurunnya energi mental kita. Dampak dari penyebab kamma ini akan berakibat pada sakitnya badan kita. Pelanggaran sila juga berakibat berbagai penyakit badan, mental dan psikis serta penyakit sosial yang akan menderanya.

•    Penyebab kamma lampau

Penyebab kamma lampau juga bisa berakibat kita menderita cacat badan, tertimpa penyakit serta kelainan bawaan lainnya akibat perbuatan kita pada kelahiran lampau yang harus kita petik pada kehidupan saat ini. Penyakit dan kelainan bawaan ini harus kita terima apa adanya karena sudah given, bukan kemauan kita atau kemauan orang tua kita. Kalau kita risau atau menolaknya, maka dukkha akan kita terima. Ingat akan kisah Thomas Alva Edison penemu lampu pijar dan lebih dari 1093 hak paten. Ia tuli sejak lahir dan bodoh dengan IQ jongkoksehingga dikeluarkan dari sekolah. Namun karena kegigihan ibunya, Nancy Mattews, maka ia menjadi manusia tersohor dan genius di dunia.

CARA MENGOBATI

Cara mengobati dua macam penyakit ini adalah dengan dua cara pula, yaitu:

1.    Obat-obatan farmasi ataupun herbal yang terdiri dari berbagai unsur kimia alami ataupun bukan guna melenyapkan ataupun mengurangi daya sakit yang ada.

Untukmenghindari berbagai macam penyakit badan ini, maka kita harus memperhatikan dan mengendalikan makanan yang masuk mulut kita serta hidup di lingkungan yang sehat agar kita memperoleh kebahagiaan.

2.    Obat Dhamma. Hal ini tergantung sepenuhnya pada diri kita untuk mengubah cara pandang, cara menghadapi fenomena di luar diri kita dengan Pandangan Benar. Apakah reaksi kita baik, bermanfaat dan bijak ataukah kita bereaksi secara emosional dan temperamental. Semua reaksi yang emosional dan temperamental akan berdampak buruk bagi tubuh, psikis maupun hubungan sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Akibat dipenjara ataupun buruknya nama baik kita kerap terjadi.

Untuk menghindari penyakit kamma ini kita harus memiliki pandangan benar (sesuai petunjuk Buddha) agar setidaknya apa yang keluar dari mulut kita dapat terkendali. Demikian  juga dengan badan kita agar tidak berbuat yang merugikan orang lain dan diri sendiri.

HUBUNGAN DOKTER DAN PASIEN

Kewajiban bila kita sakit, maka pertama harus kita selidiki sebab penyakit kita apakah badan ataukah kamma. Bila kita tidak tahu, maka kita bisa berkonsultasi dengan “dokter” yang kita anggap mengetahui/ahli dalam bidangnya, yaitu:

1.   Dokter Umum atau Spesialis tubuh, atau

2.  Dokter Jiwa (psikiater) bilamana jiwa kita diperkirakan sakit.

3.  Konsultan kejiwaan lainnya seperti psikolog maupun ulama yang disegani. Konsultan perkawinan juga diperlukan bilamana suatu perkawinan mengalami permasalahan yang tidak bisa diatasi bersama.

Nah sesudah kita bertemu dengan dokter, maka kewajiban kita adalah:

1.    Mengikuti dan mentaati petunjuk dokter agar kita bisa sembuh.

2.    Berikan kebebasan pada dokter untuk mengobati kita berdasarkan etika profesi yang ada.

Kewajiban kita adalah menjaga pikiran kita agar tetap tegar dan percaya, berpikir positif dan optimis bahwa kita akan sembuh atau setidaknya diringankan deritanya. Hal-hal lain kita serahkan pada ahlinya untuk menanganinya. Apapun hasilnya itu adalah “milik” kita. Derita akan lebih banyak muncul bila kita melawan hasil yang tidak kita kehendaki. Pasrah, iklas dan sumeleh (Jawa) akan meringankan derita kita atau seringkali memperpanjang usia kita.

Meditasi adalah satu-satunya jawaban yang paling patut kita kerjakan di samping menambah kebajikan lainnya seperti dana, sila dan paññā. Biarlah hidup mengalir seperti air sungai menuju lautan.

Kerjasama yang erat ini sangatlah menentukan percepatan kesembuhan kita. Bilamana kita tidak sabar atau pesimis, maka penyakit kamma akan terjadi dan penyakit kita mudah memburuk.

Disisi pentingnya kita belajar Dhamma dan mempraktikkan Dhamma, bagaimana kita bisa memperoleh Pandangan Benar dan Berpikir Benar, Perhatian Benar dan Samadhi Benar.

Kewajiban dokter menangani sepenuhnya tubuh kita dan diri sendiri (kalau perlu didampingi bhikkhu) kita menangani batin dan spiritual kita. Andaikan kita akhinya harus meninggal dunia, maka setidaknya dokter telah berusaha secara maksimal dan diri kita telah teguh mempertahankan batin untuk bekal melanjutkan ke kehidupan baru dengan Keyakinan yang teguh pada Tiratana karena banyak simpanan kebajikan yang telah kita tanam.

Setiap kita menderita sakit hendaknya selalu merenungkan: “arogya parama labha” – keuntungan terbesar adalah bebas dari sakit (sehat).

Kebahagiaan sejati akan kita peroleh bila badan dan batin kita sehat. Lagu kebangsaan kita juga menyatakan demikian: ”Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya – Untuk  Indonesia Raya”.

Kita hidup sehat dan bahagia diantara mereka yang menderita penyakit. Di tengah-tengah mereka yang tidak sehat dan menderita kita terbebas dari penyakit dan hidup bahagia.(Dhammapada 198)

Vinkmag ad

Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Simbol-Simbol dalam Ajaran Buddha

Read Next

Saddhā Dan Kebajikan Tiang Agama

Leave a Reply

Your email address will not be published.