Abhidhamma Dalam Kehidupan Sehari-hari

Abhidhamma artinya adalah Dhamma yang tertinggi, inilah intisari tertinggi dari Ajaran Sang Buddha, jauh lebih dalam dan detil daripada Sutta. Abhidhamma adalah salah satu dari tiga kumpulan Dhamma (dua lainnya adalah Vinaya dan Sutta) Ajaran Sang Buddha.

Mengapa belajar Abhidhamma itu sangat penting?

Banyak orang beranggapan bahwa mempelajari Abhidhamma tidaklah penting, mereka beranggapan dengan mempelajari Sutta saja sudah cukup bagi mereka. Pendapat ini mungkin masih dianggap benar pada zaman Sang Buddha karena masih banyak orang suci yang dapat menjelaskan maksud dari Sutta dengan baik. Namun, hal itu tidak mudah diterapkan pada zaman sekarang ini, karena sangat sulit untuk mengerti Sutta dengan baik dan ditambah lagi dengan adanya hambatan untuk mengartikan bahasa Pāli menjadi bahasa yang lebih sederhana. Dengan fakta tersebut sangat sulit bagi kita untuk mengerti arti wejangan Sang Buddha hanya dengan mempelajari Sutta.

Sebagai contoh ketika kita makan, menonton film, berolahraga, atau melakukan kegiatan sehari-hari apakah kita terbebas dari perbuatan buruk? Untuk menjawab pertanyaan tersebut akan cukup sulit ketika pengetahuan kita hanya sebatas mengandalkan Sutta, kita harus mengandalkan pengetahuan Abhidhamma untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan mudah. Ketika seseorang melakukan kegiatan tersebut terbebas dari keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan mental (moha), maka dia terbebas dari perbuatan buruk. Namun, apabila pada saat melakukan kegiatan tersebut didasari oleh rasa serakah, benci, ataupun kebodohan mental maka kegiatan tersebut akan berubah menjadi perbuatan buruk. Oleh sebab itu, perbuatan buruk harus kita hindari dengan selalu berpikiran positif dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Selain itu, agar hidup menjadi lebih baik lagi, selain menghindari perbuatan buruk, kita juga harus bisa mengembangkan hal yang baik. Untuk itu sangatlah penting untuk mengetahui sifat-sifat dari faktor mental yang lainnya (yang baik dan netral) dan kesadaran yang lainnya (yang cantik dan adiduniawi). Semua itu hanya dapat diperoleh melalui Abhidhamma, yang nantinya juga akan membantu kita dalam memahami Vinaya dan Sutta dengan lebih baik.

Dalam Abhidhamma, kebenaran atau kenyataan atau realita terbagi menjadi dua: konvensi (sammuti-sacca) dan sejati atau mutlak (paramattha-sacca). Kebenaran konvensi adalah kebenaran yang berdasarkan kesepakatan atau kebenaran yang secara umum diterima oleh masyarakat luas. Kebenaran konvensi dapat berupa pemikiran (paatti) ataupun ekspresi (vohāra). Berbeda dengan konvensi, kebenaran mutlak atau sejati adalah kebenaran yang muncul karena sifat asli atau sesungguhnya dari suatu hal atau benda. Ini merupakan kebenaran mutlak karena kebenaran ini tidak berubah dari sifat alaminya walau terkena kondisi apapun atau berada dimanapun.

Bapak Selamat Rodjali merupakan salah satu pakar Abhidhamma Indonesia. Ceramah berikut  ini merupakan rekaman di awal-awal perjalanan Pak Selamat dalam membabarkan Abhidhamma Praktis untuk kehidupan sehari – hari.

Boleh dikatakan Pak Selamat adalah orang pertama di Indonesia yang membabarkan Abhidhamma secara praktis, tanpa menggunakan istilah Pali. Meskipun dalam perjalanan waktu selanjutnya beliau mulai memperkenalkan istilah Pali dalam Abhidhamma sedikit demi sedikit.

Satu hal yang mungkin tidak berubah adalah Abhidhamma ini dibawakan lewat bentuk yang tidak terlampau serius, sehinga lebih mudah untuk dipahami.

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Titiek Puspa: Dengan Meditasi, Sembuh dari Kanker Serviks

Read Next

Gadis Cantik ini Memilih menjadi Bhiksuni setelah Lulus dari Universitas

One Comment

  • terima kasih banyak atas share nya
    anumodana..

Leave a Reply

Your email address will not be published.