Profil Bhikkhu Atimedho Mahathera

bhikkhu_atimedhotheraBhikku Atimedho Mahathera terlahir dengan nama Martoyo. Lahir di Prambanan, Jawa Tengah pada tanggal 02 Juli 1967. Merupakan anak pertama dari delapan bersaudara,pasangan dari bapak Sugino dan ibu Tukinah.

Memasuki usia 18 bulan ,Martoyo dibawa merantau ke Lampung tepatnya desa Margorejo oleh orang tuanya. Didesa Margorejo inilah Martoyo menghabiskan masa kanak-kanaknya. Menamatkan Sekolah Dasar di SD Negeri 1 Watu Agung yang harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 1 jam dari tempat tinggalnya.Sepulang dari sekolah, Martoyo langsung membantu orang tuanya seperti mencari kayu bakar untuk memasak,mencari rumput untuk makanan ternak dan membantu pekerjaan orang tua lainnya.

Setelah lulus dari SD Negeri 1 Watu Agung, Martoyo melanjutkan pendidikannya ke SMP Pandhawa, Watu Agung. Bersepeda 4 km menuju sekolah dengan kondisi jalan yang rusak. Jika hujan turun ,maka Martoyo harus berjuang melewati jalan yang licin,becek dan berlubang tersebut. Karena tebalnya lumpur pada ban sepeda,sehingga mengharuskan Martoyo memikul sepeda tersebut sampai ke sekolah.

Kesibukan yang dilalui Martoyo setiap hari, tidak membuatnya lelah untuk melakukan hal lain yang disenanginya. Salah satunya yaitu memelihara hewan ternak. Kegiatan ini rutin dilakukan sehabis pulang sekolah. Pada malam harinya Martoyo belajar serta mengerjakan tugas-tugas sekolah bersama teman-temannya di vihara Jinamargadipa yang ada didesanya.

Vihara Jinamargadipa, merupakan tempat Martoyo mengikuti kebaktian dan banyak mempelajari Buddha Dhamma. Hingga memunculkan niat dan tekad dalam dirinya bahwa kelak suatu saat nanti meskipun hanya dalam waktu satu hari, saya akan mengenakan jubah.

Martoyo kemudian melanjutkan jenjang pendidikan di SMA Pangudi Luhur, yang berada di kota Bandar Lampung. Martoyo tinggal di asrama Buddhis yang menyatu dengan Vihara Virya Paramita, yang juga merupakan tempat belajar Dhamma dan meditasi.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA , Martoyoberkeinginan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Berbekal informasi yang diperoleh dari Bapak Sudibyana (Pembimas agama Buddha Provinsi Lampung pada saat itu) mengenai Sekolah Tinggi Sangha Dhammacakka Jakarta, maka peluang ini pun tidak disia-siakan meskipun harus menjadi seorang samanera.

Keyakinan dan kesungguhan hati yang selama ini tumbuh dan berkembang akhirnya sampai pada titik dimana Martoyo mantap untuk melangkahkan kaki masuk dalam jalan Dhamma. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak lazim,apalagi bagi seorang laki-laki yang diusia baru beranjak dewasa. menjalani kehidupan seorang Samana bukanlah hal yang mudah pada awalnya,karena tidak serta merta mendapat dukungan penuh dari pihak keluarga, namun segala hambatan dan rintangan tidak meyurutkan tekad Martoyo untuk menjadi seorang Samanera.

Setelah mendengar pernyataan dari Sang anak tentang keinginan menjadi Samanera,maka orang tuanya mempertanyakan kembali apakah yakin dengan pilihan tersebut. Satu hal yang tidak pernah terlupakan bagi Martoyo sampai saat ini adalah ketika orang tuanya bertanya, ” Apabila kamu masuk menjadi samanera kamu tidak menikah dan tiak punya keturunan,apakah kamu sudah siap?”.

Martoyo pun menjawab,”Pangeran Siddharta saja memiliki segalanya baik anak istri, tahta, dan kemasyuran dengan latar belakang putra seorang raja, semuanya ia tinggalkan,kenyatannya hingga saat ini banyak yang meneruskan ajarannya”.

Akhirnya,tidak membutuhkan waktu yang lama, Martoyo berhasil meyakinkan kedua orangtuanya dan memperoleh izin untuk menjalani kehidupan sebagai seorang samanera.

Perjuangan martoyo berlanjut ketika calon samanera yang mendaftar melebihi kapasitas daya tampung sehingga diadakan seleksi yang ketat, dengan mengikuti ujian tertulis dan wawancara di tiga tempat,yaitu di Vihara Dhammacakka Jakarta, Vihara Mendut Jawa tengah, dan Vihara Dhammadipa Arama jawa Timur. Para calon lulus ujian masih harus mengikuti ujian Psikotest di jakarta. Setelah mengantongi peryataan lulus ujian psikotest,perjuangan belum berakhir,mereka masih harus mengikuti ujian mental, antara lain tidur didaerah hutan kecil di pinggiran sungai Elo dan di perkuburan Jawa Tengah dibawah bimbingan Bhikkhu Uttamo.

Hasilnya,12 orang samanera lulus untuk mengikuti pendidikan. Dan salah satunya adalah Martoyo yang dinyatakan lulus dari provinsi Lampung.

Pada tanggal 26 Oktober 1988 bertempat di Vihara Jakarta Dhammacakka tepat pukul 09.30 WIB, Martoyo dan 11 temannya yang lain ditahbiskan langsung oleh Y.M Bhikkhu Sukhemo Thera selaku Upajjhaya dan dibawah bimbingan (Acariya) Y.M Bhikkhu Sujato.

Dua tahun menempa diri dengan terus belajar,semakin meneguhkan hati Samanera Martoyo untuk mengajukan permohonan guna diberikan kesempatan ditahbiskan menjadi seorang Bhikkhu. Bersama beberapa teman samanera lainnya,mereka mengajukan permohonan kepada Sangha Theravada indonesia guna ditahbiskan menjadi Bhikkhu.

Bertempat di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya,pada tanggal 19 juli 1991, pukul 09.50.32 WIB, bersama dengan samanera lainnya yang mengajukan permohonan, Samanera Martoyo ditahbiskan menjadi seorang Bhikkhu dan mendapatkan nama ” Atimedho ” yang dalam bahasa Pali memiliki arti “Kebijaksanaan yang luhur”.

Pemberian nama oleh Upajjhaya kepada samanera Martoyo, didasari pada karakter dan keseharian beliau ketika menempuh pendidikan. Pembawaan beliau yang tenang,damai,berpegang teguh pada aturan-aturan yang berlaku. Sebuah pengharapan bahwa dengan kebijaksanaan yang beliau miliki dapat menginspirasi orang lain disekitarnya untuk bersikap demikian.

Jumat itu, 19 Juli 1991 merupakan pagi yang amat berkesan bagi beliau, karena berkesempatan untuk melaksanakan Dhamma dan Vinaya lebih dalam lagi dengan menjalani kehidupan sebagai seorang Bhikkhu. Y.M Bhikkhu Sukhemo Mahathera selaku Upajjhaya, Y.M. Bhikkhu Dhammavijayo selaku guru penahbisan (Kammavacariya) ,dan Y.M. Bhikkhu Sujato selaku guru pembimbing (Anusavanacariya), menghantarkan Samanera Martoyo menjadi Bhikkhu Atimedho dan langsung menjadi anggota Sangha Theravada Indonesia.

Bhikkhu Atimedho melalui 3 vassa di vihara Dhammacakka Jaya. Selama itu beliau banyak melakukan pembinaan di beberapa kabupaten dan kota di pulau Jawa.

Pada tahun keempat, Bhikkhu Atimedho mendapatkan tugas dari Sangha Theravada Indonesia,guna kembali ke Lampung dan melaksanakan pembinaan umat di sana. Awalnya terjadi pergolakan dalam dirinya, karena pada masa itu beredar cerita bahwa bagi seorang Bhikkhu yang ingin beradaptasi dengan masyarakat Sumatera,apabila tidak memiliki ketahanan mental maka tidak akan bertahan lama.Mengapa Demikian ? Sebab pada masa saat itu masyarakat Sumatera dikenal memiliki sifat sulit menerima perubahan apalagi hal yang berhubungan dengan keyakinan. Untuk masuk daerah yang baru mau tak mau harus mempelajari dengan detail sejarah daerah tersebut.

Sebanyak enam Vassa terhitung semenjak 1994 sampai tahun 1999, Bhikkhu Atimedho melakukan pembinaan di Lampung, beliau juga menyempatkan diri melakukan berbagai kunjungan ke provinsi-provinsi lainnya di pulau Sumatera guna melihat situasi dan kondisi di berbagai provinsi tersebut.

Tahun-tahun selanjutnya ,Bhikkhu Atimedho dengan sangat aktif dan penuh semangat ,merintis berbagai Vihara di Sumatera Selatan, Sumatera Utara ,Jambi, dan Kepulauan Riau. Saat ini beliau tercatat sebagai Kepala Vihara Jaya Manggala Jambi, Kepala Vihara Dhammavijja Palembang, Kepala cetiya Dhammaramsi Lampung.

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Pengertian Tiga Perlindungan (Trisarana)

Read Next

Khanthidharo Mahathera

One Comment

  • saya bahagia dikenalkan dg.teman saya blog ini yang berhubungan ttg.Budhis. kalau boleh saya bargabung dg.group .sehingga secara rutin tahu info apasaja.tks.

Leave a Reply

Your email address will not be published.