Pertemuan Besar Para Arahat

Ketika Sang Buddha berada di kota Rajagaha, seribu dua ratus lima puluh orang Arahat datang berkumpul. Pertemuan para Arahat tersebut dinamakan Caturangasannipata atau Pertemuan Besar Yang Diberkahi dengan Empat Faktor, yaitu :

1. Mereka berkumpul tanpa pemberitahuan terlebih dulu.
2. Mereka semuanya Arahat dan memiliki 6 (enam) kekuatan gaib (abhinna),’
3. Semuanya ditahbiskan dengan memakai ucapan “Ehi bhikkhu”.
4. Waktu itu Sang Buddha mengucapkan Ovada Patimokkha.
Tempat mereka berkumpul adalah di Veluvanarama (hutan pohon bambu) dan waktu itu tengah hari pada saat purnama sidhi di bulan Magha.

Ovada Patimokkha yang diucapkan Sang Buddha adalah sebagai berikut (Dhammapada 183;5) :

“Sabba papassa akaranam,
Kusalassa upasampada,
Sacittapariyo dapanam,
Etam Buddhana sasanam.
Khanti paramam tapo titikkha,
Nibbanam paramam vadanti Buddha,
Na hi pabbajjito parupaghati,
Samano hoti param vihethayanto.
Anupavado, anupaghato,
Patimokkhe ca samvaro,
Mattannuta ca bhattasmim,
Pantham ca sayanasanam,
Adhicitte ca ayogo,
Etam Budhana sasanam.”

Artinya :
“Janganlah berbuat kejahatan,
Perbanyaklah perbuatan baik,
Sucikan hati dan pikiranmu,
Itulah ajaran semua Buddha.
Kesabaran adalah cara bertapa yang paling baik,
Sang Buddha bersabda : Nibbanalah yang tertinggi dari semuanya,
Beliau bukan pertapa yang menindas orang lain,
Beliau bukan pula pertapa yang menyebabkan kesusahan orang lain.
Tidak menghina, tidak melukai,
Mengendalikan diri sesuai dengan tata tertib,
Makanlah secukupnya,
Hidup dengan menyepi,
Dan senantiasa berpikir luhur,
Itulah ajaran semua Buddha.”

Peristiwa yang bersejarah ini hingga kini masih tetap dirayakan sebagai Magha-Puja, terutama oleh para bhikkhu di Muangthai/ Thailand.

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Kembali ke Kapilavatthu

Read Next

Sariputta dan Moggallana

Leave a Reply

Your email address will not be published.