Mampu Menghapal Tipitaka

Y.M. Mingun Sayadaw U Vicittasarabhivamsa, seorang bhikkhu dari Birma, pada bulan Mei, tahun 1954 berhasil mengingat seluruh isi kitab Tipitaka Pali yang berjumlah 16.000 halaman, tanpa kesalahan. Kemudian beliau mendapatkan gelar “Tipitakadhara” (Pembawa Tipitaka) dan juga mendapat gelar “Dhammabhandagarika” (Penjaga Dhamma). Kemampuannya mengingat yang luar biasa ini dicatat dalam The Guinness Book of Records (Buku Rekor Dunia) edisi tahun 1985. Dan kemampuan mengingat ini sekaligus membuktikan pada dunia mengenai kemampuan Y.A. Ananda, salah satu siswa Sang Buddha yang mampu mengingat secara jelas kotbah Sang Buddha yang pernah ia dengar dan kemudian diulang pada Pesamuhan Agung Pertama.

Walaupun Tipitaka telah dituliskan, tradisi dasar secara oral tetap dipertahankan. Setiap aspek ajaran dipertahankan dan dijunjung tinggi dalam ingatan alih-alih dalam catatan tertulis. Itulah sebabnya para murid dikenal dengan sebutan savaka yang berarti ”pendengar”. Dengan mendaras dan mendengarkan, mereka berusaha mempertahankan ajaran Buddha dalam tradisi oral.

Tipitakadhara; Sayadaw MingunPada tahun 1956, di Konsili Buddhis Keenam di Yangon, Myanmar, tercatat suatu peristiwa bersejarah yang menggemparkan dunia. Di hadapan ribuan peserta sidang dari berbagai penjuru dunia, Bhikkhu Badanta Viccittasara menjawab pertanyaan dari seluruh isi Tipitaka yang diajukan oleh Sayadaw Mahasi. Beliau mendaras Kitab Suci Tipitaka yang tebalnya sekitar sebelas kali lipat Kitab Injil, tanpa bantuan naskah, dengan begitu lancar, tanpa salah sedikit pun!  Beliau juga dikenal dengan nama Sayadaw Mingun, seorang bhikkhu dari Desa Mingun, Myanmar, yang mendapat gelar Tipitakadhara pertama pada era modern ini. Tradisi menghapalkan Tipitaka semacam ini masih dilestarikan di Myanmar, dan hingga kini sudah tercatat ada 11 orang Tipitakadhara. Ini juga membuktikan bahwa tradisi menurunkan ajaran Buddha secara ingatan dan oral sebelum Tipitaka dituliskan adalah memungkinkan dan bukanlah isapan jempol belaka.

Guiness’ Book of World Record

Atas prestasi yang mengagumkan ini, Guiness’ Book of World Record 1986 mencatat Sayadaw Mingun sebagai: MANUSIA DENGAN INGATAN TERDAHSYAT DI DUNIA. Suatu gelar yang sudah selayaknya dan lebih mengundang decak lagi karena beliau menghapalkan naskah yang bukan dari bahasa ibunya (Myanmar), melainkan dari bahasa asing (Pali) yang sudah ”mati”. Mingun Sayadaw wafat pada tahun 1993, pada usia 82 tahun, setelah melewatkan 62 masa ke-bhikkhu-an (vassa).

Salah satu pesan yang terukir di monumen beliau adalah: ”Aha, segala fenomena rupa dan nama tidaklah kekal adanya. Semua hanyalah sementara.”

Ujian mencapai gelar Tipitakadara dilakukan sejak tahun 1948, Pada tanggal 19 January 2008 adalah merupakan ujian yang ke-60 dan diikuti oleh ratusan peserta.

Mereka yang mampu melakukan seperti Y.M Mingun Sayadaw, tercatat berjumlah 11 bikkhu menyusul 5 Bikkhu baru menyelesaikan 2.5 Pitaka; 13 Bhikku, 2 Pitaka; 114 Bhikku, 1 Pitaka; 1 Bhikku, 1 Pitaka dan Majjhima Nikaya.

Di antara 11 orang Tipitakadhara angkatan-angkatan pertama, 7 di antaranya masih hidup sampai saat ini. Ini juga membuktikan bahwa tradisi menurunkan ajaran Buddha secara ingatan dan oral sebelum Tipitaka dituliskan adalah memungkinkan dan bukanlah isapan jempol belaka.

Yayasan Karaniya dan Ehipassiko Foundation, pernah mendatangkan 2 orang ”legenda hidup” ini, yakni Bhikkhu Indapala (46 tahun) dan Bhikkhu Thondara (51 tahun). Tanggal 16-21 Desember 2006 mereka roadshow di Medan, Jakarta, Palembang, Surabaya, dan Semarang.

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

MAKNA HARI-HARI SUCI AGAMA BUDDHA

Read Next

Keajaiban, Ramalan dan Ilmiah

Leave a Reply

Your email address will not be published.