Kecantikan Putri Yasodhara

Di antara empat-puluh ribu (40.000) Putri Sakya, yang paling terkemuka adalah Putri Yasodhara yang memiliki nama gadis Bhaddakaccana.

Yasodhara Dewi, seperti telah dijelaskan sebelumnya, adalah salah satu pendamping kelahiran Boddhisatta. Ia terlahir dari salah satu raja Sakya bernama Suppabuddha, putra dari kakek Boddhisatta, Raja Anjana dari kerajaan Devadaha, Ibu Putri Yasodhara adalah Putri Amitta, yang adalah saudara perempuan Raja Suddhodana. Putri diberi nama Yasodhara karena memiliki reputasi baik dan pengikut yang banyak ( Yaso = banyak pengikut dan ber-reputasi baik; dhara = pembawa; demikianlah putri adalah ia yang memiliki banyak pengikut dan ber-reputasi baik ).

Ia cantik dan berkulit emas bagaikan patung yang dibalut dengan emas murni atau seolah-olah daging dan tubunya terbuat dari emas murni. Dengan tubuh yang proporsional dan tanpa cacat,ia memancarkan pesona, ia tidak tertandingi dalam hal kecantikan dan tingkah laku bagaikan bendera kemenangan yang dinaikkan di jalan-jalan raya di taman bermain Kilamandala milik Raja Mara bernama Manobhu.

Upacara Pelantikan

Delapan puluh ribu kerabat kerajaan yang dipimpin oleh raja Suddhodana, ayah Boddhisatta, berkumpul di ruang pertemuan yang besar dan megah untuk merayakan penobatan Boddhisatta Pangeran Siddhatta yang dilengkapi dengan dinaikkannya payung putih kerajaan di atas kepalanya, pancuran air dingin (abhiseka) dan secara resmi naik tahta.

Dari empat puluh ribu putri yang diserahkan oleh para kerabat Sakya, 10.000 putri ditugaskan untuk melayani Yasodhara Dewi. 30.000 sisanya ditugaskan sebagai pelayan di tiga istana, masing-masing 10.000.

Setelah Pangeran Siddhattha menikah dengan Putri Yasodhara, maka kekuatiran Raja Suddhodana agak berkurang, sebab Raja selalu ingat kepada ramalan dari Pertapa Asita bahwa Pangeran kelak akan menjadi Buddha.

Dengan pernikahannya ini Raja berharap Pangeran akan lebih diikat kepada hal-hal duniawi. Sekarang tinggal menjaga supaya Pangeran jangan melihat empat peristiwa tentang penghidupan, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang pertapa suci.

Karena itu, Raja memerintahkan pengawal-pengawalnya agar Pangeran dijaga jangan sampai melihat empat hal tersebut. Kalau ada dayangnya yang sakit, maka dayang itu segera disingkirkan. Semua dayang dan pengawalnya adalah orang-orang muda belia. Selanjutnya, Raja memerintahkan untuk membuat tembok tinggi mengelilingi istana dan kebun dengan pintu-pintu yang kokoh kuat dan dijaga siang malam oleh orang-orang kepercayaan Raja.

Dengan demikian, Pangeran Siddhattha dan Putri Yasodhara memadu cinta di tiga istananya yang mewah sekali dan selalu dikelilingi oleh penari-penari dan dayang-dayang yang cantik-cantik.

Raja merasa puas dengan apa yang telah dikerjakannya dan berharap bahwa pangeran kelak dapat menggantikannya sebagai Raja negara Sakya.

Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

Read Previous

Melihat Empat Pertanda

Read Next

Pertunjukkan Memanah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *