Apakah Ajaran Buddha Itu ?

Apakah itu Buddhisme?

Nama Buddhisme itu berasal dari kata budhi yang berarti ‘bangun’ dan karena itu Buddhisme bisa dikatakan adalah filosofi pencerahan. Filosofi ini berasal dari pengalaman Siddhatta Gotama, yang kenal sebagai Sang Buddha, yang tercerahkan pada usia 35 tahun. Buddhisme sekarang sudah lebih dari 2500 tahun dan memiliki pengikut sekitar 300 juta diseluruh dunia. Sampai sekitar seratus tahun yang lalu sebelumnya Buddhisme merupakan terutama merupakan filosofi Asia kemudian mulai berkembang di Eropa, Australia dan Amerika. 

Jadi Buddhisme hanya sebuah filosofi?

Kata filosofi berasal dari dua kata philo, yang berarti ‘cinta’, dan sophia yang berarti ‘kebijaksanaan’. Jadi filosofi adalah cinta dari kebijaksanaan atau cinta dan kebijaksanaan, arti keduanya menjelaskan Buddhisme dengan sangat sempurna. Buddhisme mengajarkan bahwa kita harus mencoba untuk mengembangkan kemampuan intelektual kita semaksimal mungkin agar kita dapat mengerti dengan jelas. Buddhisme juga mengajarkan kita untuk mengembangkan cinta kasih dan kebaikan agar kita dapat seperti seorang teman sejati bagi semua mahluk. Jadi Buddhisme adalah sebuah filosofi tetapi bukan hanya sebuah filosofi biasa. Buddhisme adalah filosofi tertinggi. 

Siapakah Sang Buddha?

Pada tahun 563 SM seorang bayi terlahir di sebuah keluarga kerajaan di India utara. Beliau dibesarkan dalam kekayaan dan kemewahan tetapi pada akhirnya mendapatkan bahwa kenyamanan dan keamanan duniawi tidak menjamin kebahagiaan. Beliau sangat tergerak oleh penderitaan yang beliau lihat disekitar dan bertekad untuk mendapatkan kunci kebahagiaan manusia. Ketika beliau 29 tahun beliau meninggalkan istri dan anaknya dan pergi untuk duduk di kaki para guru-guru religius besar pada saat itu dan belajar dari mereka. Mereka mengajarkan beliau banyak tetapi tidak ada yang sesungguhnya mengetahui penyebab penderitaan manusia dan cara untuk mengatasinya. Akhirnya, setelah enam tahun mempelajari, berusaha dan meditasi beliau akhirnya mendapatkan sebuah pengalaman dimana semua ketidaktahuan lenyap dan beliau sekejap mengerti. Sejak hari itu beliau disebut Sang Buddha, Yang Tercerahkan. Dalam 45 tahun setelah itu beliau mengelilingi seluruh India utara untuk mengajarkan apa yang telah ditemukannya. Belas kasih dan kesabarannya legendaris dan beliau memiliki ribuan pengikut. Pada usianya yang ke 80 tahun, dalam keadaan tua dan sakit, tetapi tetap berwibawa dan damai, beliau akhirnya meninggal. 

Bukankah sangat tidak bertanggung jawab Sang Buddha meninggalkan istri dan anaknya?

Hal itu bukan hal yang mudah bagi Sang Buddha untuk meninggalkan keluargannya. Beliau pasti cemas dan gelisah yang sangat lama sebelum akhirnya pergi. Tetapi beliau mempunya sebuah pilihan, mendedikasikan dirinya untuk keluarga atau mendedikasikan dirinya untuk dunia. Pada akhirnya, belas kasih beliau yang besar membuat beliau mendedikasikan dirinya untuk seluruh dunia dan seluruh dunia sekarang masih merasakan manfaat dari pengorbanannya. Ini bukan tidak bertanggung jawab. Tetapi mungkin adalah pengorbanan yang paling besar yang pernah dilakukan. 

Jika Sang Buddha sudah meninggal dunia bagaimanakah beliau dapat menolong kita?

Faraday yang menemukan listrik sudah meninggal dunia, tetapi apa yang ditemukannya masih menolong kita. Luis Pasteur yang menemukan banyak obat penyakit juga sudah meninggal dunia, tetapi penemuan medisnya masih menyelamatkan jiwa. Leonardo da Vinci yang menciptakan maha karya seni sudah meninggal dunia, tetapi apa yang telah diciptakannya masih dapat menyenangkan hati dan memberikan kebahagian. Pahlawan-pahlawan besar walaupun sudah meninggal dunia selama berabad-abad tetapi ketika kita membaca jasa-jasa mereka dan pencapaiannya kita masih dapat terinspirasi untuk bertindak seperti mereka. Ya, Sang Buddha telah meninggal dunia tetapi 2,500 tahun kemudian ajarannya masih tetapi menolong orang-orang, contohnya tetap menginspirasi orang-orang, kata-katanya masih tetap merubah hidup orang-orang. Hanya seorang Buddha yang dapat memiliki kekuatan seperti itu berabad-abad setelah wafatnya. 

Apakah Sang Buddha adalah tuhan?

Bukan. Beliau tidak mengaku bahwa beliau adalah tuhan, anak tuhan atau bahkan utusan tuhan. Beliau adalah seorang manusia yang menyempurnakan dirinya dan mengajarkan bahwa jika kita mengikuti contohnya kita dapat menyempurnakan diri kita juga. 

Jika Sang Buddha bukan tuhan mengapa orang-orang memujanya?

Ada beberapa tipe pemujaan. Ketika seseorang menyembah tuhan, mereka memujinya, memberikan persembahan dan meminta keinginannya, meyakini bahwa tuhan akan mendengar pujian mereka, menerima persembahan mereka dan menjawab doa-doa mereka. Seorang Buddhis tidak melakukan pemujaan seperti ini. Pemujaan jenis lainnya adakah ketika kita menunjukkan rasa hormat pada seseorang atau pada sesuatu yang kita kagumi. Ketika seorang guru berjalan memasuki sebuah ruangan kita berdiri, ketika kita bertemu orang terhormat kita berjabat tangan, ketika lagu kebangsaan dimainkan kita bersikap hormat. Semua ini adalah sikap hormat dan pemujaan dan menandakan rasa kagum kita untuk orang atau benda tertentu. Ini adalah tipe pemujaan yang dilakukan Buddhis. Sebuah patung Buddha dengan tangannya yang diletakkan dengan lembut dipangkuannya dan dengan senyum yang penuh welas kasih mengingatkan kita untuk berusaha untuk mengembangkan kedamaian dan cinta kasih didalam diri kita. Wewangian dupa mengingatkan kita pada pengaruh kebajikan yang menyebar, lilin mengingatkan kita pada cahaya pengetahuan dan bunga, yang segera layu dan mati, mengingatkan kita pada ketidakkekalan. Ketika membungkukkan tubuh kita menunjukkan rasa terima kasih kita pada Sang Buddha untuk apa yang telah diberikan oleh ajarannya. Ini adalah arti dari pemujaan Buddhis. 

Tetapi saya mendengar bahwa orang-orang berkata bahwa Buddhis memuja berhala.

Pernyataan demikian hanya menunjukkan kesalahpahaman orang yang mengatakannya. Kamus mendefiniskan berhala sebagai ‘sebuah gambaran atau patung yang disembah sebagai tuhan.’ Seperti yang sudah kita ketahui, Buddhis tidak mempercayai Buddha sebagai tuhan, lalu bagaimana mungkin mereka dapat mempercayai sepotong kayu atau logam adalah tuhan? Semua agama menggunakan simbol untuk mewakili berbagai keyakinan mereka. Dalam Taoisme, diagram yin-yang digunakan sebagai simbol harmoni diantara yang saling berlawanan. Dalam Sikhisme, pedang digunakan sebagai lambang perjuangan spiritual. Dalam Kristiani, ikan digunakan sebagai lambang keberadaan Kristus dan salib untuk mewakili pengorbanannya. Dalam Buddhisme, patung Buddha mengingatkan kita dimensi manusia dalam ajaran Buddhis, fakta bahwa Buddhisme adalah ajaran tentang manusia bukan tentang tuhan, dimana kita harus melihat kedalam, bukan keluar untuk mencari kesempurnaan dan pengertian. Karena itu, mengatakan bahwa Buddhis menyembah berhala adalah sama seperti mengatakan Kristiani menyembah ikan atau bentuk geometris. 

Mengapa orang-orang melakukan segala hal yang aneh-aneh di Vihara?

Banyak hal yang terlihat aneh ketika kita tidak mengerti. Daripada kita mengatakan hal-hal itu aneh, kita lebih baik mencoba mencari tahu maknanya. Akan tetapi, benar bahwa beberapa hal dilakukan Buddhis berasal dari takhayul populer dan salah mengerti akan ajaran Sang Buddha. Dan kesalahmengertian ini tidak hanya ditemukan dalam Buddhisme saja tetapi ada dalam semua agama dari waktu ke waktu. Sang Buddha mengajarkan kita dengan jelas dan mendetail dan jika beberapa orang gagal untuk mengerti sepenuhnya, dia tidak dapat disalahkan karena itu. Ada sebuah kalimat dari teks Buddhis: 

Jika seseorang menderita karena sebuah penyakit tidak mencari pengobatan bahkan ketika ada seorang dokter disana, itu bukan salah dari si dokter. Demikian juga, jika seseorang tertekan dan tersiksa oleh penyakit karena kekotoran batin tetapi tidak mencari bantuan dari Sang Buddha, ini bukan salah Sang Buddha” Jn. 28-9

Tidak seharusnya Buddhisme atau agama apapun dihakimi oleh mereka yang tidak mempraktekkannya dengan baik. Jika anda ingin mengetahui ajaran Buddhisme, pelajarilah kata-kata Sang Buddha atau berbicaralah pada mereka yang mengerti dengan baik.

Adakah “Natal” Buddhis?

Sesuai tradisi, Pangeran Siddhatta terlahir, menjadi seorang Buddha dan wafat pada bulan purnama di bulan Vesakha, bulan kedua pada penanggalan India yang merupakan bulan April-Mei pada penanggalan barat. Pada hari itu semua Buddhis di semua tempat merayakan kejadian-kejadian tersebut dengan mengunjungi vihara, turut dalam berbagai upacara atau mungkin melewati harinya dengan bermeditasi. 

Jika Buddhisme itu sangat baik mengapa beberapa negara Buddhis itu miskin?

Jika miskin yang dimaksud adalah miskin secara ekonomi, maka hal itu benar bahwa beberapa negara Buddhis itu miskin. Tetapi jika miskin yang dimaksud adalah miskin secara kualitas hidup, maka mungkin beberapa negara Buddhis sangat kaya. Amerika sebagai contohnya, adalah sebuah negara yang secara ekonomi kaya dan kuat tetapi kejahatannya salah satu yang tertinggi didunia, jutaan orang lanjut usia diterlantarkan oleh anak-anaknya dan meninggal kesepian di rumah jompo, kekerasan domestik, eksploitasi anak, kecanduan obat-obatan adalah masalah besar dan satu dari tiga pernikahan berakhir dengan perceraian. Kaya dalam pengertian uang tetapi mungkin miskin dalam pengertian kualitas hidup. Sekarang jika anda melihat pada beberapa negara Buddhis tradisional anda akan menemukan situasi yang sangat berbeda. Orang tua dihargai dan dihormati oleh anak-anaknya, tingkat kejahatan relatif rendah, perceraian dan bunuh diri jarang dan nilai-nilai tradisional seperti kelembutan, kemurahan hati, ramah tamah pada orang lain, toleransi dan menghormati orang lain masih kuat. Secara ekonomi masih tertinggal tetapi mungkin kualitas hidup yang lebih tinggi dibanding negara seperti Amerika. Akan tetapi, bahkan jika kita menilai negara-negara Buddhis hanya secara ekonomik saja, salah satu negara yang kaya dan paling dinamis ekonominya didunia sekarang adalah Jepang dimana persentase besarnya menyebut dirinya adalah Buddhis. 

Mengapa anda tidak sering mendengar kegiatan-kegiatan sosial dilakukan oleh Buddhis?

Mungkin karena Buddhis tidak merasa untuk menyombongkan perbuatan baik yang mereka lakukan. Beberapa tahun yang lalu pemimpin Buddhis Jepang Nikkho Nirwano menerima Templeton Prize untuk usahanya dalam mempromosikan keharmonisan antar agama. Demikian juga seorang bhikkhu Thai belakangan ini mendapatkan penghargaan bergengsi Magsaysay Prize untuk usahanya yang luar biasa bagi para pecandu obat-obatan. Pada tahun 1987 bhikkhu Thai lainnya, Kantayapiwat diberikan penghargaan Norwegian Children’s Peace untuk karyanya yang bertahun-tahun menolong anak-anak yang tidak memiliki rumah di daerah perdesaan. Dan bagaimana dengan kerja sosial berskala besar yang telah dilakukan bagi para orang miskin di India oleh Western Buddhist Order? Mereka membangun sekolah, pusat perawatan anak, klinik dan industri skala kecil untuk pemenuhan-sendiri. Buddhis melihat bahwa membantu orang lain sebagai sebuah ekspresi praktek religius sama seperti agama-agama lainnya tetapi mereka percaya bahwa hal itu seharusnya dilakukan dengan diam-diam dan tanpa mempromosikan diri. 

Mengapa sangat banyak tipe Buddhisme?

Ada banyak tipe gula – gula coklat, gula putih, gula batu, sirup dan gula kue tetapi semua kue itu memiliki rasa manis. Gula-gula tersebut diproduksi dalam bentuk berbeda tetapi dapat digunakan dalam berbagai cara. Buddhisme juga demikian: ada Buddhisme Theravada, Buddhisme Zen, Buddhisme Tanah Suci, Buddhisme Yogacara dan Buddhisme Vajrayana tetapi semua adalah ajaran-ajaran Sang Buddha dan semua miliki rasa yang sama – rasa pembebasan. Buddhisme telah berevolusi menjadi bentuk-bentuk berbeda agar dapat sesuai dengan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda dimana Buddhisme berada. Sekarang telah diintepretasi ulang selama berabad-abad agar tetap sesuai dengan generasi baru. Dari luar, tipe-tipe Buddhisme mungkin terlihat sangat berbeda tetapi ditengah masing-masing adalah Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Semua agama utama, termasuk Buddhisme, memiliki pecahan menjadi aliran-aliran dan sekte-sekte. Mungkin perbedaan antara Buddhisme dan agama-agama lainnya adalah perbedaan antar aliran-aliran itu selalu sangat bertoleransi dan bersahabat sesamanya. 

Anda tentunya menjunjung tinggi Buddhisme. Saya anggap anda percaya bahwa hanya Buddhisme yang merupakan agama yang benar dan yang lainnya adalah salah.

Tidak ada Buddhis yang mengerti ajaran Sang Buddha berpikir bahwa agama lain adalah salah. Tidak seorangpun yang telah melakukan usaha untuk mempelajari agama-agama lain dengan pikiran terbuka dapat berpikir seperti itu juga. Yang pertama dapat anda ketahui ketika anda mempelajar berbagai agama berbeda adalah seberapa banyak persamaannya. Semua agama mengakui bahwa kondisi manusia sekarang adalah tidak memuaskan. Semua percaya bahwa perubahan cara berpikir dan tingkah laku dibutuhkan jika ingin memperbaiki situasi manusia sekarang. Semua mengajarkan etika-etika termasuk cinta, kasih sayang, kesabaran, kemurahan hati dan tanggung jawab sosial dan semua menerima keberadaan sebentuk Absolute. Mereka menggunakan bahasa-bahasa berbeda, nama-nama berbeda dan lambang-lambang berbeda untuk menggambarkan dan menjelaskan hal-hal ini. Hanya ketika orang melekat dengan pikiran sempit pada cara melihat mereka maka ketidaktoleransian, kesombongan dan merasa benar sendiri akan muncul. 

Bayangkan orang Inggris, orang Perancis, orang China dan orang Indonesia semua melihat pada sebuah cangkir. Orang Inggris akan berkata, “Itu adalah sebuah cup“. Orang Perancis akan menjawab, “Bukan. Itu adalah sebuah tasse“. Kemudian orang China berkomentar, “Kamu berdua salah. Itu adalah sebuah pei“. Akhirnya orang Indonesia menertawakan mereka dan berkata, “Bodoh sekali kalian. Itu adalah sebuah cawan”. Kemudian orang Inggris membuka kamus dan menunjukkan pada lainnya. “Saya dapat membuktikan kalau itu adalah sebuah cup. Kamus saya berkata demikian”. “Kalau demikian kamus kamu salah”, kata orang Perancis, “karena kamus saya dengan jelas menyatakan itu adalah sebuah tasse“. Orang China mengejek; “Kamus saya bilang itu adalah sebuah pei dan kamus saya itu ribuan tahun lebih tua dibanding kamus kamu karena itu kamus saya itu pasti benar. Dan lagi pula, lebih banyak orang berbahasa China dibanding bahasa lainnya, karena itu pasti itu adalah pei“. Sementara kita meributkan dan berdebat, satu orang lagi datang dan minum dari cangkir itu dan berkata pada yang lain, “Apapun namanya, cuptassepei atau cawan, fungsi dari cangkir ini untuk menampung air sehingga bisa diminum. Berhentilah berdebat dan minum, berhentilah meributkannya dan hilangkan dahagamu”. Ini adalah sikap Buddhis pada agama-agama lain. 

Beberapa orang berkata, ‘Semua agama adalah sama’. Apakah anda setuju dengan mereka?

Agama adalah sebuah fenomena yang sangat kompleks dan luas untuk diwakili oleh sebuah pernyataan pendek yang indah seperti itu. Seorang Buddhis mungkin berkata bahwa pernyataan ini mengandung elemen kesalahan dan kebenaran. Buddhisme mengajarkan bahwa tidak ada tuhan sementara Kristiani, contohnya, mengajarkan ada. Saya pikir ini adalah sebuah perbedaan yang sangat penting. Akan tetapi, ada sebuah cuplikan bagus dari alkitab sebagai berikut: 

Jika saya berkata dalam bahasa manusia dan malaikat tetapi tanpa cinta kasih, saya hanya sebuah gong atau simbal yang beradu yang berisik. Jika saya memiliki hadiah wahyu dan dapat mengerti semua misteri dan semua pengetahuan, dan jika saya memiliki keyakinan yang sangat kuat yang dapat menggerakkan sebuah gunung, tetapi saya tidak memiliki cinta kasih, saya bukan apa-apa. Jika saya memberikan semua yang saya punya pada orang miskin dan bahkan mengorbankan tubuh saya ke api tetapi saya tidak memiliki cinta kasih, Saya tidak mendapatkan apa-apa. Cinta kasih adalah kesabaran, cinta kasih adalah kebaikan. Cinta kasih tidak iri, tidak congkak, tidak sombong. Cinta kasih tidak kasar, tidak mendahulukan diri sendiri, tidak mudah marah, tidak mencatat kesalahan. Cinta kasih tidak bersenang pada kejahatan tetapi bersenang pada kebenaran. Cinta kasih selalu melindungi, selalu percaya, selalu gigih.” I Cor.13-7

Ini sama persis seperti apa yang diajarkan Buddhisme – bahwa kualitas hati lebih penting dari kesaktian supranatural apapun yang kita bisa miliki, kemampuan kita meramalkan masa depan, kekuatan keyakinan atau perbuatan luar biasa apapun yang bisa kita lakukan. Ketika kita sampai pada konsep teologi dan teori Buddhisme dan Kristiani tentu berbeda. Tetapi kita pada kualitas-batin, etika dan tingkah-laku keduanya sangat mirip.

Apakah Buddhisme itu ilmiah?

Sebelum kita jawab petanyaan itu akan lebih baik kita mendefinisikan kata ‘ilmiah’ dahulu. Ilmiah adalah, menurut kamus, ‘pengetahuan yang dapat dibuat menjadi sebuah sistem, dimana berdasarkan pada melihat dan membuktikan fakta-fakta dan menyatakan hukum alam umum, cabang pengetahuan seperti itu, semuanya yang dapat dipelajari secara pasti’. Ada aspek-aspek dalam Buddhisme yang tidak dapat masuk dalam definisi tersebut tetapi ajaran Buddhisme utama, Empat Kebenaran Mulia, tentu saja masuk kedalam ilmiah. Penderitaan, Kebenaran Mulia Pertama, adalah sebuah pengalaman yang dapat di definisikan, dialami dan diukur. Kebenaran Mulia Ke-Dua menyatakan bahwa penderitaan memiliki sebuah penyebab alami, ketagihan, yang sama juga dapat di definisikan, dialami dan diukur. Belum ada yang mencoba untuk menjelaskan penderitaan dalam istilah-istilah konsep metafisik atau mitos. Menurut Kebenaran Mulia Ke-Tiga, penderitaan diakhiri, tidak bergantung pada sosok maha kuasa, dengan keyakinan/iman atau dengan doa-doa tetapi dengan menghilangkan penyebabnya. Ini tidak terbantahkan. Kebenaran Mulia Ke-Empat, Jalan untuk mengakhiri penderitaan, sekali lagi, tidak berhubungan dengan metafisik tetapi bergantung pada bertingkah laku dengan cara tertentu. Dan sekali lagi tingkah laku itu terbuka untuk di uji, Buddhisme membuang konsep mahluk maha kuasa, sama seperti ilmu pengetahuan, dan menjelaskan sumber dan cara bekerja alam semesta dengan istilah-istilah hukum-hukum alam. Semua ini tentu memiliki semangat ilmiah. Sekali lagi, Sang Buddha terus menerus menasehati bahwa kita tidak boleh meyakini buta tetapi dengan mempertanyakan, memeriksa, menginvestigasi dan berdasarkan pengalaman kita sendiri, tentu memiliki sifat ilmiah. Dalam Kalama Sutta yg terkenal itu Sang Buddha berkata; 

Jangan karena wahyu atau tradisi, jangan karena gosip atau kitab suci, jangan karena kata orang lain atau hanya logika semata, jangan karena prasangka memihak pada sebuah pendapat atau kemampuan berpura-pura seseorang dan jangan karena pendapat “Beliau adalah guru kami”. Tetapi ketika dirimu sendiri mengetahui sebuah hail itu baik, dan patut dipuji, yang dipuji oleh para bijaksana dan ketika dipraktekan dan diamati membawa pada kebahagiaan, maka ikutilah hal tersebut.” -A.I, 188

Lalu kita dapat katakan bahwa meskipun Buddhisme tidak sepenuhnya ilmiah, bisa dipastikan bahwa Buddhisme memiliki sifat ilmiah yang kuat dan sudah tentu lebih ilmiah dibandingkan agama lainnya. Ditekankan oleh Albert Einstein, ilmuwan terhebat pada abad 20 tentang Buddhisme:

Yang akan menjadi agama masa depan adalah agama kosmik. agama yang melampaui Tuhan personal dan menghindari dogma dan teologi. Meliputi natural dan spiritual, dan berdasarkan perasaan religius yang muncul dari pengalaman akan segala hal, natural dan spiritual dan penyatuan yang berarti. Buddhisme menjawab penjelasan tersebut. Jika ada agama yang dapat menjawab kebutuhan ilmu pengetahuan moderen, agama tersebut adalah Buddhisme.

Saya kadang-kadang mendengar bahwa ajaran Sang Buddha itu disebut dengan Jalan Tengah. Apakah arti istilah itu?

Sang Buddha memberikan nama alternatif untuk Jalan Mulia Berunsur Delapan, majjhima patipada, yang berarti ‘Jalan Tengah.’ Ini adalah nama yang sangat penting karena memberitahu kita bahwa tidak cukup hanya mengikuti Sang Jalan, tetapi kita harus mengikutinya dengan cara tertentu. Orang-orang dapat menjadi sangat kaku tetang aturan dan praktek keagamaan dan berakhir menjadi benar-benar fanatik. Dalam Buddhisme aturan-aturan harus diikuti dan praktek dilakukan dengan seimbang dan selayaknya yang menghindari ekstrimisme dan berlebihan. Sebuah petuah Romawi kuno ‘Secukupnya pada semua hal’ dan Buddhis menyetujui ini sepenuhnya. 

Saya membaca bahwa Buddhisme adalah hanya Hinduisme tipe lain. Apakah ini benar?

Tidak, hal itu tidak benar. Buddhisme dan Hinduisme memiliki banyak pandangan etika yang sama, keduanya menggunakan istilah yang sama seperti kamma, samadhi dan nirvana dan keduanya berasal dari India. Ini yang menyebabkan beberapa orang berpikir bahwa keduanya adalah sama atau sangat mirip. Tetapi jika kita melihat lebih jauh dari kemiripan dipermukannya kita akan melihat bahwa kedua agama tersebut sangat berbeda. Contohnya, Hindu mempercayai pada seorang tuhan adikuasa sementara Buddhis tidak. Salah satu ajaran utama filosofi sosial Hindu adalah konsep kasta, yang dengan teguh ditolak oleh Buddhisme. Penyucian ritual adalah sebuah praktek penting dalam Hinduisme tetapi tidak ada di Buddhisme. Dalam naskah Buddhis Sang Buddha sering diceritakan mengkritik apa yang diajarkan para Brahmana, pendeta Hindu, dan mereka sangat tidak menyetujui beberapa pandangan beliau. Hal ini tidak akan terjadi jika Buddhisme dan Hinduisme adalah sama. 

Tetapi Sang Buddha tidak menyalin konsep kamma dari Hinduisme bukan?

Hinduisme memang mengajarkan doktrin kamma dan juga reinkarnasi. Tetapi, versi mereka dari kedua ajaran tersebut sangat berbeda dari versi Buddhisme. Contohnya, Hinduisme mengajarkan bahwa kita ditentukan oleh kamma kita sementara dalam Buddhisme mengajarkan kamma kita hanya kondisi bagi kita. Menurut Hinduisme sebuah roh abadi atau atman berpindah dari satu kehidupan ke berikutnya sementara Buddhisme menolak keberadaan roh seperti itu tetapi mengatakan bahwa hal itu hanyalah aliran perubahan energi mental yang terus menerus yang terlahir. Hal tersebut hanya beberapa dari banyak perbedaan antara kedua agama tentang kamma dan kelahiran-kembali. Akan tetapi, meskipun jika ajaran Buddhis dan Hindu sama persis hal ini tidak berarti bahwa Sang Buddha dengan tanpa berpikir menyalin pandangan yang lainnya. 

Hal ini kadang-kadang terjadi antara 2 orang, masing-masing secara mandiri, menemukan hal yang sama persis. Sebuah contoh yang bagus adalah penemuan evolusi. Pada 1858, sesaat sebelum beliau menerbitkan bukunya yang terkenal The Origin of the Species, Charles Darwin mendapatkan bahwa orang lain yang bernama Alfred Russel Wallace, telah mengutarakan pandangan evolusi sama seperti yang telah dia lakukan. Darwin dan Wallace tidak saling menyalin ide diantara mereka; tetapi, dengan mempelajari fenomena yang sama mereka sampai pada kesimpulan yang sama tentang itu. Maka bahkan jika pandangan Hindu atau Buddhis tentang kamma dan kelahiran-ulang sama persis, yang sebenarnya tidak, hal ini bukanlah bukti dari meniru. Sebenarnya adalah melalui pandangan mendalam yang dikembangkan dengan meditasi pertapa Hindu tidak memahami tentang kamma dan kelahiran-kembali yang kemudian dibabarkan oleh Sang Buddha dengan lebih lengkap dan lebih tepat.

Sumber : Good Question Good Answer
Bhikkhu Shravasti Dhammika

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Mimpi Ratu Mahamaya

Read Next

Konsep Dasar Ajaran Buddha

Leave a Reply

Your email address will not be published.