Nama Donatur & Penyaluran Dana WAISAK 2560

Berikut ini adalah dokumentasi dan sekilas profil dari penerima dana donatur kegiatan Berbagi Kebahagiaan Waisak 2560. Untuk nama donatur dapat dilihat pada bagian bawah artikel ini. Penggalangan dana sendiri akan ditutup pada tanggal 21 Mey 2016.

Mengenai latar belakang dari penyelenggaraan kegiatan ini dapat dilihat pada link berikut ini : WAISAK 2560: Mari Kita Berbagi Kebahagiaan

IMG_9924
Disalurkan dana sebesar Rp. 1,5 juta kepada Mbah Kasitar, Tokoh pejuang agama Buddha Jepara, kusunya Vihara Giri Santi Loka, dukuh Guwo, Desa Blingoh, Kecamtan Donorojo, Kabupaten jepara. pada masa perjuangan awal perkembangan agama Buddha, mbah kasitar adalah pejuang yang gigih, dalam bahasa mbah kasitar perjuangan menjaga agama Buddha dukuh Guwo, “direwangi pecahe dodo, teteseng ludiro”. Kini agama Buddha di dukuh Guwo sudah berkembangan pesat, dan telah mengalami kemajuan, hal ini tidak lepas dari perjuangan mbah kasitar.
sembako
Dana donatur disalurkan sebesar Rp. 5 juta, untuk dibuatkan paket sembako sebanyak 25 buah. Satu paket senilai Rp. 200 ribu yang terdiri dari beras, gula,minyak,mie instant,roti,bumbu masak). Paket akan dibagikan untuk keluarga umat Buddha pra sejahtera di beberapa desa di Jepara
20160520_121324(1)
1. Disalurkan sebesar Rp. 1 juta kepada Ibu Lim In Hoa(72 tahun), beliau adalah umat di Vihara Buddha Ratana Labuan. Tinggal di sebuah kampung nelayan yang bernama kampiung lentera. Ibu ini mempunyai beberapa anak, namun anak-anaknya jarang mengunjungi beliau. Semua anak-anak telah beralih keyakinan lain. Saat ini beliau tinggal bersama seorang anaknya yang mengalami cacat mental./2. Disalurkan Rp. 1 juta kepada Ibu Sumini ( 70 tahun), tinggal seorang diri dan telah ditinggal meninggal suaminya 7 tahun lalu. Warga desa Pekuwon Kecamatan Juwana-Jateng. Beliau aktif di Vihara Vidya Loka, walaupun fisik sudah renta setiap ada kegiatan vihara selalu membantu.
13246003_1189485534428831_1953323845_n
Penyerahan kambing kepada 1. Mbah Suwarno (kanan atas), satu-satunya deklarator kebangkitan agama buddha temanggung yg masih hidup hingga saat ini. Diserahkan sepasang kambing./ 2. Mbah Sulaseih, Janda, umat buddha vihara giri kumara delen./ 3. Mbah Daliyem dan anaknya Tegel, yang satu janda yang satu belum punya suami. Umat Buddha Vihara DHarmasagara./ 4. Mbah Tukini, Umat buddha vihara vidyasasana dusun candi, desa candi garon, kecamatan sumowono semarang. Penyerahan disaksikan oleh pengurus vihara./ 5. Mbah Sumaesih Umat Buddha Vihara Giri Santi, juga seorang janda.
IMG_20160521_093015
1. Disalurkan Rp. 250 ribu untuk Bapak Timan umat Vihara Kasogatan Tarakan, beliau juga membantu bersih-bersih di Vihara./2. Disalurkan Rp. 250 ribu untuk ibu Metta, umat Buddha di Vihara Sinar Borobudur Tarakan. Beliau bekerja membatu bersih-bersih di Vihara./3. Disalurkan Rp. 500 ribu untuk Romo Pasit, beliau memimpin Vihara Muryantoro kurang lebih 10 tahun. Umat di Vihara tersebut lebih kurang 100 Kepala Keluarga. Aktif berkeliling memberi ceramah dalam kegiatan keagamaan di desa Tanjung , Jepara.
P_20160519_200142
Dana donatur disalurkan sebesar Rp. 5 juta, untuk dibuatkan paket sembako sebanyak 25 buah. Satu paket senilai Rp. 200 ribu yang terdiri dari beras, gula,minyak,mie instant,roti,bumbu masak). Paket akan dibagikan untuk keluarga umat Buddha pra sejahtera di desa Tanjung, Jepara. Sebagai gambaran desa Tanjung terdapat 3 Vihara dan lebih kurang 150 Kepala Keluarga beragama Buddha. Rencana paket akan diberikan sehari menjelang Waisak. Foto-foto penyerahan akan dilampirkan menyusul.
20160519_154917
1. Disalurkan dana sebesar Rp. 750 ribu kepada Pak Sepon Widodo warga desa Ngablak Kec.Cluwak Kabupaten Pati. Beliau menderita sakit syaraf sehingga separoh badan tak bisa digerakkan. Dulu pernah merantau ke Tanggerang dan aktif dalam kegiatan agama Buddha. Pada tahun 1996 beliau adalah salah satu pemrakarsa berdirinya Vihara Punna Sampada di Perum Cibodas Tanggerang./ 2. Dana disalurkan sebesar Rp. 1 juta kepada Bapak Totok Siswanto, beliau yang berasal dari Blitar ini sempat menjadi petani di Sungai Lilin Sumsel. Saat ini menjadi penjaga Sekolah Buddhist Karya Dharma Bakti di Palembang semenjak tahun 2008. Dia aktif di Vihara Amitabha Graha KDB Palembang. /3. Disalurkan dana sebesar Rp. 750 ribu untuk Ibu Kasri dan Bapak Sarwi. Beliau tinggal berdua saja. Istrinya saat ini pikun dan tuli. Mereka berdua aktif mengikuti anjangsana umat di Dusun Kebolanjam Desa Ngablak Kabupaten Pati.
IMG_20160519_120306
Disalurkan dana sebesar Rp. 1,5 juta untuk Pak Rusianto. Berprofesi sebagai seorang penjual burung untuk fangsen. Awalnya ia bukanlah seorang umat Buddha. Dulunya ia pernah bekerja sebagai sopir truk. Lalu pernah juga berwiraswasta menjual makanan dan beternak kambing. Namun semua usahanya bangkrut. Lalu ia mulai membeli burung di Jombang untuk kembali dijual di Tulungagung. Dari profesinya inilah akhirnya ia mengenal ajaran Buddha. Karena sering mangkal di vihara,ia bertemu dengan Bhante Sukhito. Akhirnya ia sering berdiskusi dengan Bhante dan mulai mengikuti Pujabakti. Saat ini beliau aktif membantu kegiatan di Vihara baik puja bakti maupun paduan suara. Istrinya saat ini baru sembuh dari stroke. Dan rumah warisan yang ia tempati selama ini di perumahan pasar ngemplak Tulungagung, tengah dalam sengketa dengan saudara-saudaranya dan ia terancam untuk diusir. Saat ini beliau kesulitan dana untuk mencari rumah kontrakan karena ketiadaan uang.
IMG_20160519_144212
Diserahkan dana donatur sebesar Rp. 1,5 juta untuk SMB Vihara Tendaun Girisena. Dana akan dipergunakan untuk kegiatan waisak tahun ini, untuk mengadakan perlombaan, membeli hadiah,dll. Ada sekitar 140 anak-anak binaan di SMB ini.

[box type=”tip” fontsize=”14″ radius=”10″]P_20160518_192239Disalurkan dana sebesar Rp. 1,25 juta kepada Romo Seswanto. Beliau aktif menjadi pandita kurang lebih 20 tahun.

Saat ini beliau menjabat sebagai ketua Vihara Badra Lokka Santi Desa Kali Garang,Jepara. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beliau bekerja sebagai pedagang sayur keliling.

Ia mempunyai 2 orang anak yang masih duduk dikelas 1 SMP dan seorang lagi akan masuk kuliah. Beliau tak lelah untuk berbagi Dharma keliling ke sekabupaten Jepara, hal yang telah dilakoninya selama 20 tahunan. [/box]

IMG_20160519_083430
Disalurkan dana donatur sebesar Rp. 1,5 juta kepada Bapak Gecok, adalah seorang umat Buddha yang berdomisili didesa mereje, kecamatan Lembar – Lombok Barat. Sudah hampir 12 tahun beliau menderita gangguan jiwa. Sudah dibawa berobat kerumah sakit jiwa provinsi dan saat ini sudah dinyatakan sembuh. Namun tetap harus mengkonsumsi obat-obatan penenang. Setiap bulannya untuk biaya obat-obatan beliau bisa menghabiskan Rp. 500 ribu. Istrinya yang bernama Inaq Sahnun yang harus bekerja untuk membiayai kebutuhan keluarganya. Mereka memiliki 6 orang anak yang masih kecil-kecil dan bersekolah. Inaq Sahnun sendiri bekerja sebagai buruh membersihkan padi atau menanam padi disawah. Untuk itu ia mendapatkan penghasilan Rp. 30 ribu perhari. Namun jika saat tidak musim panen atau tanam,terpaksa ia harus menganggur diruma saja.
20160520_094906(1)
Disalurkan dana sebesar Rp. 2,5 juta kepada Bapak Saru (77 tahun) warga Duku Babatan Desa Sojomulyo Kecamatan Juwana. Beliau saat ini mengalami kebutaan, sakit persendian tulang serta turun beruk. Dana yang diterima ini nantinya akan dipergunakan untuk pengobatan turun beruknya di RS kota. Semasa sehat beliau mengabdikan diri cukup lama di Vihara Saddhadipa, dan semenjak sakit beliau sudah tak bisa ke Vihara lagi.

[box type=”note” fontsize=”12″ radius=”12″]IMG_20160518_203505Diserahkan dana donatur sebesar Rp.1,5 juta kepada Romo Badrawirya. Beliau adalah ketua Vihara Buddha Mangala dusun pelan desa Mareje, Lombok Barat. Semenjak tahun 2000 telah menjadi Romo Pandita dan pada tahun 2003 dipercaya menjadi ketua Vihara Buddha Mangala. Romo Badrawirya mempunyai satu istri dan 3 orang anak. Jumlah umat buddha yang di bina oleh romo pandita Badrawirya sekitar 140 kepala keluarga. Bentuk pelayanannya seperti potong rambut,perkawinan, kematian, dan syukuran pembacaan parita pasca tanam dan pasca panen. Terkadang dalam pengabdianya yang hampir 15 tahun romo tidak jarang mendapatkan suka dan dukanya namun semua itu ia lalui dengan iklas dan sabar. Beliau menuturkan kadang ketika musim hujan malam-malam harus berjalan kaki naik gunung turun gunung melawati perbukitan yang curam dan terjal, karena harus memimpin doa di rumah umat seperti syukuran pasca tanam maupun setelah panen. Dan yang lebih mengharukan lagi walaupun hanya sifatnya pengabdian tanpa imbalan dalam pelayanan, sang istri selalu mendukungnya dan tidak pernah mengeluh akan pekerjaan mulia suaminya.[/box]

IMG_20160518_175818
1. Diserahkan dana donatur sebesar Rp. 1,5 juta kepada Amaq Inun yang menderita sakit namun belum diperiksakan kedokter. Beliau sebagai pemangku adat dan beliau juga aktif sebagai pandita di Vihara Avalokitesvara Ganjar./ 2. Diserahakan sebesar Rp. 1,5 juta kepada Romo Mandawaduta. Beliau adalah ketua Vihara Girimetta Nyompal. Aktivitas sehari-harinya sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu karena akhir-akhir ini sedikit sekali permintaan akan jasanya. Saat ini ia menderita tumor pada bagian kakinya.
IMG_20160518_163904
Disalurkan dana sebesar Rp. 2,5 juta untuk membuatkan Papuk Jasipp sebuah pondok sederhana sebagai tempat tinggalnya. Saat ini dalam tahap pengerjaan. Bagian bawahnya dibuat dari semen dan dinding dari triplek. Atapnya dibuat dari asbes. Semoga papuk Jassip tak kedinginan dan kehujanan lagi dimalam hari. Rumah juga akan dilengkapi pintu, dan kasur.
IMG-20160518-WA001
Disalurkan dana donatur sebesar Rp. 3 juta untuk Vihara Sampan Dhamma desa Aniungan. Desa ini adalah desa sangat terpencil di Kalimantan Selatan. Untuk mencapai desa ini harus melewati jalan berbatu dan mendaki, belum ada jalan aspal dan sampai saat ini belum ada listrik. Dana selain digunakan untuk perayaan waisak juga akan diperuntukkan membeli perlengkapan sekolah minggu seperti krayon, meja dan permainan.
IMG-20160518-01670
1. Disalurkan Rp. 2 juta untuk Ibu Tumisyah umat Vihara di desa Banyuwangi, beliau saat ini sedang sakit paru-paru dan liver, membutuhkan biaya tak sedikit untuk menebus obat-obatan. Dulunya beliau adalah tulang punggung keluarga membiayai anaknya yang masih SMP, saat ini dia tak bekerja lagi./ 2. Disalurkan sebesar Rp. 1 juta kepada Mbah Jebrak umat Vihara GiriSanti . Hidup seorang diri tak punya anak. Ia ditinggal suami menikah lagi dan tak diurus. Untuk makan ia menjual kelapa yang jatuh dihalamannya.
IMG-20160518-01669
1. Disalurkan dana sebesar Rp. 1 juta kepada Mas Budiono, umat Vihara Dhamma Yukti Desa Sumberagung.Saat ini lagi sakit-sakitan sehingga tidak bekerja. Sebelumnya bekerja di pabrik membuat gula merah./ 2. Disalurkan sebesar Rp. 500 rb kepada Mbah Daliyem dan Tegel, anaknya. Umt Buddha Vihara Dhamma Sagara, Dusun Larangan Jayan, Desa Tleter, Kec. Kaloran, Temanggun, keduanya adalah Janda. Saat ini tegel anaknya hidup menjadi buruh tani, panen cabe, mamanggul Pupuk kandang, mencabut rumput (matun) ditanah tetangga.
20160518_163614
1. Penyerahan dana sebesar Rp. 1,5 juta untuk Romo Sukirman. Romo Sukirman lulusan STAB Samaratungga (Ampel, Boyolali) dan setelah lulus ditugaskan di Kabupaten Biak Numfor di Vihara Buddha Dharma sejak tahun 1990 hingga saat ini. Semangat pengabdian Romo Sukirman dari sejak awal adalah ingin mendidik generasi muda dari sejak kanak-kanak yang sudah mendalami Dharma. Romo Sukirman adalah perintis pendidikan Agama Buddha yang terstruktur (di sekolah umum maupun juga sekolah minggu Biak). Saat ini beliau dirawat di RS karena ditabrak mobil sehingga ada perdarahan pada otaknya. Sebelumnya beliau sudah 2 kali mengalami stroke./2. Dana sebesar Rp. 1 juta kepada Mas Sujiyanto pengurus Vihara Dharma Harja. Beliau sendiri barusan habis dirawat di RS karena sakit jantung. Sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan.

[box type=”info” fontsize=”11″ radius=”12″]Diserahkan dana donatur senilai Rp. 1,5 juta kepada Romo Aryawira (86 tahun). Pertama kali mengabdi di vihara Sakya Winara yang didirikan oleh Bhante Ashin Jinnarakita (Su Kong) di Cianjur, Jawa Barat selama 5 tahun sampai tahun 1960.

20160518_162228Kemudian romo diminta bantuannya untuk mengabdi di Padang Sidempuan, disana melayani mengelola vihara baru dan juga sekaligus menjadi guru agama di SMP dan juga perintis sekolah minggu disana  mengabdi disana hingga 23 Agustus 1986 dan pindah untuk mengabdi di Biak, Papua. Sampai saat ini Romo mengabdi di Biak sudah sekitar 30 tahun. Di Biak, Romo juga mengelola dan merintis vihara Buddha Dharma Biak dari awal berdirinya, tugas Romo meliputi mengelola vihara, Sekolah minggu dan juga sekaligus mengajar agama di SMP 1 dan SMA 1 Biak.

Romo dalam kesehariannya dikenal sebagai tokoh agama panutan, tidak hanya di kalangan umat Buddha sendiri, tetapi Romo juga merupakan perintis dialog antar tokoh agama di Biak (perintis FKUB/Forum Kerukunan Umat Beragama Biak).Berkat jasanyamaka kalangan umat Buddha di Kabupaten Biak Numfor, Papua menjadi dapat diterima dan juga menyatu dengan masyarakat setempat secara harmonis.  Pesan Romo Aryawira bagi para Dharmaduta lainnya di Indonesia : “Pengabdian tanpa pamrih merupakan jalan satu-satunya untuk pengembangan agama Buddha, kemudian Pelayanan tanpa membeda-bedakan ke setiap mahkluk tanpa kecuali adalah jalan dimana para penganut agama Buddha dapat menjadi teladan di masyarakat sekaligus juga dapat bersumbangsih secara harmonis di negara kita”[/box]

IMG_20160518_123717
Diserahkan dana donatur sebesar Rp. 1 juta kepada Bu Kasimah (84 tahun) dan tidak menikah. Bu Kasimah tinggal seorang diri di sebuah kontrakan yang beralamat di Jalan Teuku Umar gang 3 No. 21 Tulungagung. Sebelah matanya mengalami kebutaan karena ditabrak motor dijalan. Ia sampai saat ini aktif di Vihara Buddha Loka Tulungagung. Saat ini ia mengalami sakit pada tulang dan sulit berjalan. Katanya uang bantuan akan dibelikan susu Anlene.

 

P_20160516_202438
1. Disalurkan dana sebesar Rp. 1,25 juta untuk romo Jemali. Beliau mengabdi lebih dari 20 tahun di desa tanjung Jepara. Tak lelah beliau berbagi dhamma di vihara dan anjangsana di rumah umat./ 2. Disalurkan sebesar Rp. 1 juta untuk Romo Markoto. Beliau lebih dari 20 tahun berbagi dhamma diberbagai pelosok desa Srobyong Jepara. Saat ini aktif mengurus operasional di Vihara Bodhi Dharma.
P_20160517_065123
1. Romo Trimujiono disalurkan bantuan sebesar Rp. 500 ribu. Beliau aktif membina di vihara Virya Manggala Desa Tanjung Jepara. / 2. Romo Basori, beliau yang selama 20 tahun mengurus operasional Vihara Virya Manggala di Jepara, disalurkan dana donatur sebesar Rp. 750 ribu./ 3. Disalurkan sebesar Rp. 1 juta kepada Ibu Luh Mahayani, guru agama Buddha di Singaraja Bali. Beliau juga aktif mengajar di beberapa sekolah Minggu. Saat ini dengan penghasilan perbulan sekitar Rp 800 ribu ia harus membiayai 2 orang anaknya. Suaminya tidak bekerja saat ini karena menderita gangguan pada pinggang akibat syaraf terjepit.
IMG-20160517-WA000
1. Mbah Sumini (76 tahun) Umat Vihara Ariya Metta Dharma. Tinggal di desa tegal rejo, Ampel. Hidup menumpang di rumah keponakannya karena masih gadis. / 2. Mbah Karti, umat dukuh gemawang Jlare Kecamatan Ampel Boyolali. Beliau aktif kegiatan anjangsana umat Buddha. Desa ini terdapat lebih dari 20 KK beragama Buddha, namun belum memiliki Vihara./ 3. Mbah Juinem (95 tahun), sekarang pikun dan hanya tinggal dirumah saja. Warga dukuh gemawang, dulunya juga aktif anjangsana umat Buddha.
IMG_20160517_131359
Disalurkan dana donatur sebesar Rp. 2,5 juta kepada Romo Kitur. Beliau adalah romo pandita diwihara Bodhi Pundarika desa Kalirejo, kec. Undaan, Kab. Kudus. Beliau mulai aktif memberikan ceramah dhamma pada tahun 1985, sampai sekarang beliau juga masih aktif memberikan ceramah dhamma baik di wihara Bodhi Pundarika maupun diwihara lain di kab. Kudus. Selain ceramah beliau juga mengajar puja bakti dengan menggunakan bahasa Jawa ke wihara wihara di Kab. Kudus. Sehari-harinya beliau bekerja sebagai petani dengan penghasilan berkisar 300-500 ribuan perbulan. Istrinya juga membantu dengan berjualan sayur dipasar.

 

IMG-20160513-01661(1)
Diserahkan dana donatur sebesar Rp. 2 juta kepada Bu Partiwi Istri Romo Sukerno. Pekerjaan buruh tani dengan penghasilan perbulan 500 ribu, itu pun tidak pasti tiap bulanya dapat. Awalnya Bu Partiwi sedang sakit darah tinggi dirawat di RS Gembiritan Genteng, dan saat itu sedang hamil berumur 7 bulan,Beliau melahirkan belum cukup umur kandunganya. Kalau biaya Rumah sakit Bu Partiwi di tanggung sepenuhnya oleh BPJS,tapi untuk sibayinya harus membayar sendiri ,mulai tgl 5 Mei 2016 hingga sekarang. Biaya kamar 150.000/hari dan biaya perawatan diperkirakan 200/hari karena belum ada kepastian dari pihak Rumah sakit.
IMG-20160516-WA001
1. Mbah Kaliyuk, umat Buddha Vihara Weningsari, Getasan Kabupaten Semarang. Hidup seorang diri, untuk makan mengandalkan hasil kebun didepan rumahnya./ 2. Mbah Mitro Kamiyem (80 tahun) aktif di Vihara Wiryadhammaloka, Kalidadap, Urut Sewu Ampel. Juga seorang jompo yang tinggal sendirian./ 3. Mbah Tukiyem (76 tahun). Umat Vihara Dharmaloka. Saat ini beliau tinggal seorang diri,karena semua anak merantau. Untuk memenuhi kebutuhan ia bekerja merumput untuk makanan ternak.
13234552_120300000004236438_1666175525_o
Penyerahan dana dalam bentuk sepasang kambing senilai Rp. 1,5 juta kepada Mbah Warnoto (94 tahun). Mbah Warnoto pada masa perkembangan agama Buddha telah aktif dalam kegiatan agama Buddha. Hingga saat ini memiliki 4 anak, yang dua beragama Buddha dan menjadi penggerak umat Buddha desa Gandon. Meskiun usia telah lanjut, mbah Warnoto tetap sehat dan memegang teguh agama Buddha. Bahkan pernah berikrar meskipun umat Buddha di Temanggung tinggal dirinya, dia tetap akan memegang teguh ajaran Buddha. Keyakinan sebagai umat Buddha yang kuat inilah yang membuat Marmi, salah satu anaknya memperjuangkan agama Buddha di dusun Mlondang. Di usianya yang sudah senja, mbah Warnoto banyak member pesan kepada generasi muda agar tetap punya pendirian kepada dhamma. Dalam bahasanya mbah Warnoto “dadi wong enom iki seng jejeg ojo miyar-miyur, ben uripmu kepenak (sebagai generasi muda jangan plin-plan dalam memegang ajaran Buddhisme, agar hidup bahagia”.
13223579_120300000004177037_1316124827_o
Penyerahan dana dalam bentuk sepasang kambing senilai Rp. 1,5 juta kepada Mbah Parwo (77 tahun). Mbah Parwo, merupakan salah satu tokoh pejuang agama Buddha di Temanggung. Mbah Parwo membawa ajaran Buddha dan mendirikan agama Buddha di dusun Ngadiroso, Desa Wonokerso, Kecamatan Pring Surat Kabuaten Temanggung. “pada saat itu yang ikut agama Buddha 40 orang, tapi karena ditakut-takuti oleh kelomok lain banyak yang takut sehingga tinggal 9 orang” Ujarnya. Dalam melakukan pembinaan dan usahanya membangun vihara di Ngadiroso banyak tantangan dan hambatan yang dialami oleh mbah Parwo. “Untuk mendapatkan ijin pembangunan vihara saya dipanggil ke Polsek, dan ditentang habis-habisan, untung saat itu saya didampingi oleh mbah Manggis (Pendiri agama Buddha Temanggung) jadi pak Manggis lah yang berdebat dengan polsek, dan ijin bisa keluar. Selain itu, pada saat puja bakti yang dilakukan dirumah umat kita juga banyak terror, suatu ketika pada saat puja bakti pas sampai parita karaniya, kita dilempari rokok yang masih menyala, sontak kebaktian jadi rame” Jelasnya. Berkat kegigihan perjuangan para pendahulu inilah agama Buddha di Temanggung saat ini masih eksis. Saat ini mbah Parwo adalah satu-satunya tokoh pejuang agama Buddha yang masih hidup di Temanggung. Dan berkat jasa mbah Parwo, umat Buddha di Temanggung saat ini bisa eksis.
13250472_1185532678157450_732948786_n
Disalurkan dana donatur sebesar Rp. 2,5 juta kepada SMB Dhammaphala yang bertempat di Vihara Dhammaphala, Dusun Deplongan, Desa Wates, kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, dan dikelilingi dengan berbagai pegunungan. Harus melalui jalanan yang berlekok lekok apabila ingin mendatangi SMB Dhammaphala. SMB Dhammaphala ada sejak tahun 2000an, Saat ini ada sekitar 80 murid aktif di SMB. Biaya operasional berasal dari iuran para guru SMB sendiri. Sedangkan profesi para guru SMB kebanyakan adalah guru pada sekolah negeri di desa. Dana akan dipergunakan untuk melengkapi fasilitas belajar SMB, dan sebagian untuk perayaan waisak tahun ini.
ibu sariah
Disalurkan dana donatur sebesar Rp. 2 juta dan sepasang kambing senilai Rp. 1,5 juta kepada Mbok Sariyah. Mbok sendiri adalah umat Vihara Dharma Surya di Temenggung. Saat ini beliau harus mengasuh kedua cucunya yang kedua orang tuanya meninggal. Semoga dana dapat bermanfaat, dan kambing yang diberikan dapat diternakkan sehingga dapat memberi penghasilan dimasa mendatang.
13230320_10206385671227645_8758998721589674392_n
Disalurkan dana Donatur sebesar Rp. 5 juta kepada Pemuda Buddhis Temanggung, Temanggung merupakan basis agama Buddha di Temanggung. Pemuda merupakan masa depan agama Buddha di Temanggung, namun matinya organisasi pemuda Buddhis Temanggung membuat menurunya keyakinan terhadap agama Buddha. dan ini menyebabkan umat Buddha berkurang secara kualitas maupun kuantitas. oleh sebab itu, dalam rangka kebangkitan kembali agama Buddha di Temanggung yang jatuh pada tanggal 1 Juni 2016, Pemuda Buddhis Temanggung membuat rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menambah keyakinan dan memahami sejarah perjuangan kebangkitan agama Buddha di Temanggung. rangkaian kegiatan ini telah dimulai sejak 17 April 2016 dan puncak acara akan dilaksanakan pada tanggal 1 Juni 2016. Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain, Safari vihara, yaitu mengunjungi vihara-vihara pinggiran yang yang jarang digunakan untuk kegiatan, sekaligus mengajak pemudanya untuk terlibat dalam kegiatan ini. napak tilas kebangkitan agama Buddha Temanggung, ini untuk mengetahui sejarang perjuangan pendiri agama Buddha temanggung.
1463380515619
Disalurkan Dana Donatur sebesar Rp. 5 juta ke DPC Patria Kabupaten Lombok Utara untuk mendukung kegiatan Peduli Kasih. Dana disalurkan ke beberapa umat Buddha yang mengalami kesulitan ekonomi dan para lansia yang tak mempunyai penghasilan di beberapa desa antaramya Desa Sokong, Desa Tegal Maja dan Desa Tanjung.
IMG-20160515-WA002
Vihara Bodhi Taruna Ampinang terletak di dusun Ampinang Desa Mamigang, Kalimantan Selatan. Di dusun ini terdapat lebih kurang 150 KK yang beragama Buddha. Lokasi tinggal umat tersebar didalam hutan sehingga harus berjalan kaki satu jam lebih untuk mencapai Vihara. Kesulitan utama umat disini adalah masalah ekonomi. Sehingga sangat sulit mengharapkan dana dari umat untuk menunjang operasional Vihara. Disalurkan dana sebesar Rp. 3 juta untuk Vihara dan anak-anak sekolah minggu, yang nantinya akan dipergunakan untuk membeli perlengkapan penunjang sekolah minggu dan untuk perayaan waisak.
IMG-20160515-WA007
Vihara Dhammaraja Uren terletak di desa Uren Kecamatan Halong Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan. Didesa ini mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani pisang dan karet. Menurut data terdapat lebih 300 KK beragama Buddha di desa ini. Namun yang aktif malah para anak-anak Sekolah Minggu. Para orang tuanya kadang hanya pada hari besar keagamaan saja hadir, mungkin dikarenakan mereka sibuk dengan pekerjaan bertani mereka dan juga akses ke Vihara yang cukup jauh. Dana donatur sebesar Rp. 3 juta disalurkan untuk Vihara ini dan kegiatan Sekolah Minggunya. Mereka saat ini sangat sulit mencari dana untuk menunjang kegiatan yang ada.
IMG_20160512_173016
Papuk Jasipp merupakan umat di Vihara Avalokitesvara dusun Ganjar desa Mareje Kecamatan Lembar, Lombok. Gubuk kecil itu adalah tempat tinggalnya yang menumpang di pekarangan rumah seorang umat yang perduli akan keadaan Papuk. Sehari-hari beliau bercocok tanam ubi jalar, dan memungut kelapa yang jatuh dari pohon. Saat ini tengah dilakukan proses pembangunan rumah sederhana, agar beliau tak kedinginan lagi dimalam hari, terutama jika hujan akan kebasahan.
IMG-20160514-WA001
1. Mbah Yatno Yaten, merupakan umat Buddha vihara Weningsari Banaran kecamatan Getasan kabupaten Semarang. Ia adalah salah seorang tokoh dalam pengembangan ajaran Buddha di daerahnya. Saat ini beliau mederita tuli permanen./ 2. Inak Nahar, umat vihara Tendaun. Bekerja sebagai pengurus ternak milik tetangga. Hidup juga sebatang kara, dan sekarang sakit-sakitan./ 3. Ratmot, umat vihara Tendaun kecamatan Lembar. Sehari-hari bekerja serabutan kuli panggul. Ia memiliki seeorang anak yang masih balita. Ditinggal oleh istrinya karena tidak sanggup hidup miskin.
h
1. Mbah Warni warga desa pereng Boyolali. Aktif di Wihara Tri Ratna Sampetan. Suaminya Mbah Yoto sekarang menderita stroke, sehingga beliau harus menajdi tulang punggung mencari nafkah. Ia bekerja mencari rumput untuk makanan ternak./ 2. Mbah Kai, warga dukuh mungsari kecamatan ampel. Beliau berprofesi sebagai tukang pecah batu. Beliau aktif di vihara Damar Suci./ 3. Mbah Ngatinem, warga dukuh purwosari Ampel. Hidup seorang diri di usia senjanya. Ia hidup mengandalkan hasil kebun dibelakang rumahnya. Aktif di Vihara Damar Suci.
f
1. Inak Sadenah, umat Vihara Girisena. Ia merupakan istri salah satu tokoh adat agama Buddha di dusun Tendaun yang telah meninggal 10 tahun silam. Sehari-hari bekerja sebagai gembala sapi milik tetangganya yang diupah pertahun dengan sistem bagi hasil. / 2. Inak Kandik, umat Vihara Tendaun Girisena. Saat ini tinggal sebatang kara. Tidak bekerja lagi, hidupnya mengharapkan bantuan dari para tetangganya. / 3. Inak Mreti, juga umat di Vihara Girisena. Janda ditinggal suami 12 tahun lalu. Aktivitas sehari-hari mencari rumput untuk pakan ternak milik tetangganya. Ia mendapat upah sekitar 5 ribu – 10 ribu perharinya. /4. Inak Maitah, umat vihara Tendaun, Kecamatan Lembar Lombok Barat. Tinggal seorang diri dan tidak bekerja. Makannya mengandalkan hasil kebun di depan rumahnya. Saat ini ia sakit-sakitan.
g
1. Inak Atrahh, Pekerjaan sehari-harinya mencari rumput untuk makanan ternak tetangganya. Penghasilan tak menentu. Aktif di vihara Girisena Tendaun./2. Inak Rijang. Menjanda semenjak 7 tahun lalu. Aktif di vihara Girisena. Anaknya menjadi TKI di Malaysia,namun sampai sekarang tidak memberi kabar, jangankan mengirim uang. /3. Inak Ruslan, umat Vihara Girisena Tendaun. Sudah menjanda 4 tahun yang lalu. Berjualan sayur keliling dan harus menggunakan tongkat. Selain itu matanya juga mengalami katarak. /4. Inak Anisah, umat Vihara Girimetta Nyompal. Sudah menjanda dan hidup seorang diri. Sehari-hari mencari rumput untuk pakan ternak.
1. Ibu Jotho, Umat Buddha vihara Kartika Kusala Dusun Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran. Saat ini beliau janda. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beliau menjadi buruh tani. / 2. Nenek Papuk umat Vihara Awalokiteswara Ganjar, Kecamatan Lembar-Lombok Barat. Hidup bersama anak-anaknya yang berprofesi buruh tani disebuah gubuk yang sudah lapuk. Saat ini nenek papuk hanya tergolek saja karena penyakit tua.
1. Mbah Midah, Umat Buddha Vihara Dhamma Giri Kumara. Saat ini beliau tinggal sendiri. Untuk memenuhi kebutuhannya sendiri beliau merumput untuk pakan ternak./ 2. Mbah Ngatemi, Umat Buddha Vihara Giri Kumara. Tinggal sendirian dirumah yang sangat sempit. Pekerjaanya tidak jelas, sering sakit-sakitan.
1. Mbah Sangit Rukini, Umat Buddha Vihara Dhamma Giri Kumara. Saat ini beliau tingga seorang diri, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beliau merawat ternak./ 2. Mbah Ndep, umat Buddha Vihara Dhamma Giri Kumara. Setiap hari aktifitasnya mangambil rumput di pinggir jalan untuk pakan ternak.
1. Mbah Parsik, Umat Buddha Batursari (sama diatas) Janda beranak satu ini, memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari menjadi buruh tani./ 2. Mbah Sulasih dan anaknya Jumi. Umat Buddha Vihara Dhamma Giri Kumara, Dusun Delen, Desa Tleter, keca. Kaloran, Kabupaten Temanggung. Mbah Sulasih adalah istri almarhun Manggalia (tokoh buddhis) vihara Dhamma Giri Kumara. Saat ini beliau tinggal bersama dengan anaknya yang sudah tua namun belum menikah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mbah Sulastri bersama anak menjadi buruh tani.
1. Mbah Gonel, Umat Buddha Vihara Dhamma Sikhi, Dusun Batursari, Desa Tleter, Kec. Kaloran, Kabupaten Temanggung. Diusianya yang sudah senja, mbah Gonel masih aktif dalam kegiatan vihara, Puja bakti anjangsana, selapanan dan lain-lain. Saat ini beliau tinggal bersama menantu yang juga sudah janda./ 2. Mbah Sugini, Umat Buddha Dhamma Sikhi. Saat ini beliau tinggal seorang diri digubuk yang sangat sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beliau memelihara ternak.
IMG_20160512_142612
Dari kiri ke kanan : 1.Nenek Leni adalah umat di Vihara Avalokitesva dusun ganjar, Lombok. Pekerjaan sehari-harinya sebagai pencari barang rongsokan. 2. Ibu Siti adalah umat Vihara Avalokitesvara Ganjar, Kecamatan Lembar, Lombok Barat. Merupakan istri dari salah satu tokoh agama Buddha di Ganjar, namun suaminya telah meninggal sekitar 2 tahun lalu. Kondisi sekarang sangat memprihatinkan, tidak bisa berjalan, dan sekarang tinggal sendirian dirumah yang berada ditengah kebun. Sehari-hari bercocok tanam ubi sebagai penghasilannya. 3. Nenek Kedim, umat Vihara Avalokitesvara Ganajr, Lombok Barat. Merupakan istri tokoh agama Buddha didesanya, namun suaminta telah meninggal 8 tahun yang lalu. Saat ini tinggal sebatang kara disebuah gubuk reyot, dimana kamar tidur dapur dan kandang ayam bergabung menjadi satu. 4. Nenek Mianim, umat Vihara Girimetta Nyompal, Lombok Barat. Hidup sebatang kara tanpa keluarga.
IMG_20160512_141439
Dari Kiri ke Kanan : 1. Nenek Gokin, umat di Vihara Girimetta desa mareje. Pekerjaan sehari-harinya mencari rumput untuk makanan ternak tetangganya. Menapatkan bayaran tak menentu, kadang hanya 2 ribu atau 3 ribu rupiah perharinya. 2. Nenek Mersen merupakan umat di Vihara Avalokitesvara Ganjar. Sehari-hari bekerja sebagai pengasuh bayi yang tidak mendapatkan bayaran. Hanay dibayar dengan lauk pauk dan nasi untuk makan. Beliau hidup sebatang kara digubuknya. 3. Nenek Snemah, merupakan umat di Vihara Tendaun Girisena, dusun tendaun, Kecamatan Lembar. Hidup bersama anaknya yang bermata pencarian buruh tani. Kondisi nenek saat ini sakit-sakitan. 4. Dipanggil dengan nama Nenek gerobak. Merupakan umat di Vihara Girimetta Nyompal, kecamatan Lembar, Lombok barat. Sudah hampir 10 tahun hidup sebatang kara dirumahnya yang sangat sederhana.Pekerjaan sehari-harinya sebagai pemulung, dan kadang-kadang pergi kesawah mencari sisa-sisa padi habis dipanen.
IMG-20160502-WA004
Tanggal 2 Mei 2016 telah diserahkan dana bantuan donatur yang pertama untuk ibu Sulikah dan putranya Ariya. Rencananya dana ini akan dipergunakan untuk mencari kost dan sebagai biaya membeli obat dan kebutuhan Ariya. Ibu Sulikah menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur yang telah perduli kepada keadaan dirinya.

Berikut ini adalah nama harum para dermawan yang telah berkontribusi pada kegiatan berbagi kasih Waisak 2560 yang dikoordinir oleh segenggamdaun.com.

Semoga dengan  dana yang diberikan dengan keyakinan dimanapun juga, dapat segera terkondisi berupa kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang berlimpah; elok dipandang, tampan/cantik, bagaikan keindahan bunga teratai yang mengagumkan.

“Di dunia ini ia berbahagia, di dunia sana ia berbahagia; pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia itu, ia akan berbahagia ketika berpikir, ‘aku telah berbuat kebajikan’, dan ia akan lebih berbahagia lagi ketika berada di alam bahagia.” (Dhammapada, 18).

Screenshot_25 Screenshot_27

Screenshot_31

Screenshot_35 Screenshot_38

Screenshot_42

Screenshot_48

[box type=”note” fontsize=”20″]Total Dana Sementara : Rp. 106.876.406,-,

Total Dana Yang telah Disalurkan Rp, 107.750.000,- (bukti terlampir berdasarkan dokumentasi diatas)

[/box]

 

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

DOKUMENTASI Penyerahan Bantuan & Nama Donatur Berbagi Kebahagiaan WAISAK 2562

Read Next

Bagaimana Mencintai Kehidupan

Leave a Reply

Your email address will not be published.