Nama Donatur & Dokumentasi Penyaluran Dana WAISAK 2561

Disalurkan dana donatur sebesar 2,5 juta untuk Sekolah Minggu Cetiya Bodhi Taruna berada di desa Mamigang . Desa Mamigang Berada sekitar 20 KM dari kecamatan Halong belum ada akses listrik PDAM maupun sinyal Handphone. Cetiya ini hanya berukuran 6 x 9 meter sangat sederhana berada disamping sekolah Sekolah Dasar Kecil Ampinang. Setiap hari biasa digunakan oleh anak-anak untuk kegiatan selama di sekolah.
Disalurkan dana donatur sebesar 5 juta kepada Ibu Lena yang merupakan istri dari Mas Bardi. Ibu Lena saat ini rutin 2 kali dalam seminggu menjalani cuci darah. Untuk proses cuci darah sendiri dilakukan di RS di kota Serang, sedangkan domisili mereka adalah di kota Labuan. Perjalanan sejauh 4 jam dengan mencarter mobil.
Disalurkan dana donatur sebesar 3 juta kepada Vanno Dirghayuksa, adalah putra dari mas Wondo dan mbak Fitri setelah menikah lebih dari 2 tahun. Saat ini adik Vanno yang belum genap berusia satu bulan, memiliki benjolan pada pusarnya. Saat diperiksakan ke bidan desa, diharuskan untuk diperiksa lebih lanjut kedokter anak di kota. Ayah Vanno berpofesi sebagai tukang cukur rambut, dan ibunya aktif membantu di Vihara Buddhadipa sebagai seorang guru sekolah minggu,. Setelah dibawa kedokter, dokter mewajibkan harus melakukan kontrol rutin sebanyak minimal 5 kali, dan selanjutnya baru ditentukan apakah perlu dilakukan operasi atau cukup dengan obat-obatan. Nama penyakit yang diderita dik Vanno adalah Granuela atau infeksi pada tali pusar. Satu kali berobat ke kota Metro menghabiskan biaya minimal 500 ribu, ini dikarenakan harus menyewa mobil dari desa mereka yaitu desa gantimulyo dengan lama perjalanan minimal 1 jam.
Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Ibu Bonatun atau lebih dikenal dengan panggilan mabh Sukar berusia 82 tahun. Beliau adalah umat Buddha yang aktif di Vihara Buddhakirti desa Way Mili, Lampung Timur. Memiliki 2 orang anak yang bekerja merantau, namun juga dengan kondisi keuangan yang sulitn dan tak menentu karena kernyanya serabutan. Untuk kebutuhan sehari-hari si mbah banyak dibantu oleh umat Vihara, terutama untuk kebutuhan air minum karena rumah mbah belum memiliki sumur. Rencananya uang sumbangan yang diterima ini akan digunakan sebagai tambahan untuk membuat sumur.
Diserahkan dana donatur sebesar 2 juta kepada Sekolah Minggu Buddhist Tendaun Girisena,Lombok Barat. Dana dipergunakan untuk membeli hadiah perlombaan dalam kegiatan Waisak, dan sisanya untuk kegiatan sekolah minggu.
Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada Mbah Muntik. Beliau adalah seorang janda dan harus merawat putranya yang bernama Santoso yang mengalami gangguan kejiwaan. Mbah aktif di Vihara Dhamma Santi, Banyuwangi.
Diserahkan dana donatur kepada SMB Cetiya Sampan Dhamma berada di desa Aniungan. Desa Aniungan merupakan desa terpencil yang berada dikecamatan Halong kabupaten Balangan. Berada sekitar 10 KM dari kecamatan halong akses menuju kesana lumayan sulit karna hanya jalan batu. Di desa Aniungan belum ada akses listrik PDAM maupun sinyal Handphone. Cetiya Sampan Dhamma hanya berukuran 6 x 6 meter sangat sederhana dan cetiya ini sangat aktif digunakan setiap minggu untuk kegiatan anak-anak belajar Dhamma dan berkreatifitas walau dengan kesederhanaan dan fasilitas sederhana.
Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta untuk Amaq Muki, salah satu tokoh umat Buddha dan sekaligus Romo Pandita di Vihara Avalokitesvara Ganjar, desa Mareje, Kecamatan Lembar. Beliau baru saja menjani operasi usus buntu, dan diharuskan untuk beristirahat total yang cukup lama.

[box fontsize=”14″ radius=”10″]

Disalurkan dana donatur kepada 5 orang umat Buddha di daerah Banyuwangi, Jawa Timur yang butuh bantuan karena kondisi ekonominya. Masing-masing menerima uang tunai sebesar 1 juta rupiah.

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta kepada mbah Jebrak, janda tanpa anak yang tinggal seorang diri. Beliau saat ini mengalami kelumpuhan semenjak terjatuh. Hari-harinya dihabiskan dengan berbaring dan duduk diatas dipan kayunya. Ia tinggal bersama adiknya yang juga seorang janda lansia. Dulu sebelum lumpuh aktif di Vihara Dhamma Santi desa Kandangan, Banyuwangi.
Mbah Jemirah, tinggal bersama cucunya yang bernama Mbak Suprihatin. Suami mbak Suprihatin ini bekerja sebagai buruh tani. Mbak Suprihatin saat ini aktif sebagai guru sekolah minggu di Vihara Dhama Santi, Banyuwangi.
Mbah Sarmi, jalannya sangat kesulitan karena menderita asam urat. Beliau adalah tulang punggung keluarganya. Ia seorang janda yang harus bekerja demi anak dan cucunya yang memiliki kelainan mental. Beliau selalu menyempatkan diri hadir dalam setiap kegiatan di Vihara Dharma Harja kecamatan Gambiran.
Ibu Rustiani adalah istri dari pensiunan tentara yang hidup dengan sederhana bersama suaminya yang bernama Bapak Murdiono yang saat ini berprofesi sebagai petani. Beliau berdomisili di dusun Wringinanom, Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Sudah beberapa bulan ini Ibu Rustiani menderita penyakit Maag Kronis, sudah beberapa kali berobat kerumah sakit Al Rohmah yang harus ditempuh 2 jaman dari dusunnya. Namun belum mengalami kemajuan yang berarti, malahan kondisi beliau makin hari makin melemah. Setiap kali berobat kerumah sakit terdekat, harus merogoh kocek paling sedit Rp. 300 ribu untuk transportasi, belum lagi biaya obat dan pemeriksaannya.

[/box]

[box type=”note” fontsize=”14″ radius=”10″]

Diserahkan dana donatur kepada beberapa umat Buddha di Jawa tengah dalam bentuk uang tunai sbesar 500 ribu dan sembako senilai 300 ribu.

Bapak Pardi (55 tahun) beralamat di dusun kemiri. Beliau adalah seorang duda dengan 3 orang anak yang masih bersekolah di SMP dan SD. Bekerja sebagai buruh tani. Aktif di Vihara Avalokitesvara dusun Kemiri.
Ibu Yamini (68 tahun), beliau seorang janda yang tinggal bersama kedua cucunya yang masih bersekolah. Anak dan menantunya merantau ke Kalimantan bekerja. Beliau aktif di Vihara Dhamma Susila.
Ibu Menik (69 tahun), berdomisili di Nglarangan Getas, Kaloran. Beliau adala seorang janda yang memiliki satu anak. Kesehariannya bekerja membantu tetangganya di sawah. Penghasilannya tidak pasti, seiklas yang memberi saja. Aktif di Vihara Dhamma Gayasih Nglarangan.
Mbah Paijol (70 tahun),tinggal di dusun Krajan, Kalimanggis, Kaloran. Beliau seorang janda yang memiliki 2 anak. Anak pertama telah meninggal, dan anak ke 2 nya tinggal bersama mantan suaminya. Mbah ini bekerja mencari daun rendeng yang harga keringnya 4500 setiap kilonya. Rumah yang ditinggali saat ini adalah pemberian pemerintah untuk warga tak mampu. Beliau aktif di Vihara Dhamma Panna Kalimanggis.
Mbah Wagini (75 tahun), beliau seorang janda yang ditinggal anaknya merantau dan tak memberi kabar berita. Mbah juga bekerja mencari daun rendeng serta barang bekas untuk dijual kembali. Rumah mbah juga sudah rapuh dan banyak bocor dimana-mana sehingga ditambal menggunakan plastik bekas. Rumah yang beliau tempati tanahnya ditumpangi dan dibangunkan warga sekitar. Mbah ini aktif di Vihara Dhamma Panna Kalimanggis.

[/box]

[box type=”tip” fontsize=”14″ radius=”10″]

Disalurkan dana donatur kepada 7 orang, masing-masing sebesar 500 ribu kepada umat Buddha dari Vihara Dhamma Sikhi, Desa Batursari, Tleter, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah.

Mbah Kaswoto dan mbah Sarini, pasangan tua yang tinggal berdua saja disebuah rumah kayu tua dan sangat sederhana. Banyak bagian rumah yang lapuk dan bocor.
Mbah Parsik, janda anak satu. Anaknya bekerja merantau kekota. Rumah mbah juga sudah lapuk dan bocor,sehingga harus ditutup dengan plastik agar air hujan tak terlalu banyak yang masuk.
Mabh Sugini, tidak mempunyai suami dan anak. Ia tinggal seorang diri dirumahnya yang sederhana.
Mbah Rusno dan Mbah Karmini, pasangan tua yang hanya tinggal berdua. Mbah Rusno ini jari telunjuknya baru diamputasi setelah menderita infeksi karena kena sabit saat mengumpulkan rumput.
Mbah Parwoto dan Mbah Sukinem pasangan tua yang juga tinggal berdua. Berprofesi sebagai buruh angkut barang di pasar.
Mbah pratoyo dan mbah Yami. Tinggal berdua tanpa anak. Yang bekerja hanya mbah Yani sebagai buruh tani,
Mbah Gonel, janda tua yang tinggal bersama menantunya yang juga janda. Memiliki seorang cucu yang masih kecil.

[/box]

[box type=”info” fontsize=”14″ radius=”10″]

Disalurkan dana sebesar 3 juta dalam bentuk pembangunan rumah pondok kepada mbok Sutaim (65 tahun). Rumah yang selama ini ditinggali telah bocor dan lapuk diseluruh bagiannya. Mbok sendiri adalah umat yang aktif di Vihara Virya Manggala, Jepara.

Rumah lama mbok Sutaim, bagian atapnya sudah bocor dimana-mana. DIndingnya juga sudah lapuk , semua tiang-tiang juga lapuk.
Proses pembangunan ulang rumah sederhana mbok.
Rumah mbok setelah dibangun ulang. Bagian atap digunakan seng, dan tiang-tiang juga digunakan kayu yang baik. Bagian dalam akan dilapisi dengan kalsiboard. Semoga mbok dapat sedikit nyaman di rumah barunya ini.

[/box]

[box fontsize=”14″ radius=”10″]

Diserahkan dana donatur sebesar 500 ribu untuk Bapak Saru (79 tahun) yang saat ini sedang terbaring sakit. Sedari mudanya beliau telah aktif turut serta memajukan Cetya Buddhakarti yang akhirnya berubah menjadi Vihara Saddha Dipa di dukuh Babatan Desa Sejomulyo.

[/box]

Diserahkan dana donatur sebesar 1 juta dalam bentuk tunai, dan 500 ribu dalam bentuk sembako kepada Bapak Sepon Widodo, beliau adalah salah satu pendiri Vihara Punna Sampada yang berlokasi di Perum Cibodas Tanggerang. Saat ini beliau hanya bisa terbaring di ranjang karena penyakit syaraf yang dideritanya. Saat ini beliau tinggal dirumah anaknya di Duku Kebolanjam, Desa Ngablak Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati- Jawa Tengah. Semasa sehatnya beliau bekerja di Tanggerang sebagai seorang tenaga security, dan sangat aktif mengabdikan dirinya di Vihara Punna Sampada. Semenjak menderita syaraf terjepit ia harus berhenti dari segala aktivitasnya. Makin hari penyakit yang dideritanya makin parah saja. Anaknya sendiri hanya bekerja menggarap sawah milik orang. Penghasilan juga tak menentu, kadang untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja sudah sulit. Tidak dibawanya Bapak Sepon memeriksakan diri ke rumah sakit, karena lokasi dusun mereka yang jauh dari RS terdekat, dibutuhkan biaya transportasi yang tinggi untuk itu.

[box type=”tip” fontsize=”14″ radius=”10″]

Diserahkan dana donatur sebesar 750 ribu kepada Ibu Kasri (65 tahun) dan suaminya Bapak Sarwi (69 tahun). Mereka tinggal berdua saja, dan adalah salah satu dari 3 Kepala Keluarga umat Buddha yang ada di kampung Kebolanjam, Desa Ngablak. Mereka berdua pada awalnya aktif di Vihara Saddhaguna di Dukuh Ngluwok Kecamatan Cluwak. Dikarenakan ibu Kasri mengalami sakit ingatan dan syaraf, kini tinggal Bapak Sarwi yang masih aktif ke Vihara.

[/box]

Disalurkan dana donatur sebesar 500 ribu kepada bapak Jamari (76 tahun). Beliau menderita kelainan pada kulitnya sehingga nampak seperti melepuh terbakar. Beliau juga fungsi penglihatannya sudah sangat kurang, sehingga kemana-mana mengandalkan tongkat bambunya. Beliau adalah generasi ke-2 setelah kebangkitan agama Buddha di Dukuh Babatan, Desa Sejomulyo, Kecamatan Juwana Kabupaten Pati. Beliau dulu sangat aktif di Cetya Buddhakarti yang sekarang telah menjadi Vihara Saddha Dipa.

[box type=”note” fontsize=”14″ radius=”10″]

 

Diserahkan dana donatur sebesar 1,5 juta kepada Bapak Semen (45 tahun). Saat ini beliau baru saja menjalani operasi Hernia, dan diharuskan dokter untuk tidak boleh melakukan pekerjaan berat lagi. Sebelumnya bapak Semen bekerja sebagai buruh tani. Cukupl lama pak semen dan istrinya membantu di Vihara Vipasana Graha, sebelum akhirnya memutuskan untuk balik ke kampung halaman di Pati- Jawa Tengah.

[/box]

[box type=”error” fontsize=”14″ radius=”10″]

Disalurkan dana donatur sebesar 3 juta rupiah,kepada Ariya putra dari Ibu Sulikah, S.Ag yang saat ini tengah menjalani perawatan kemoterapi di RSCM karena menderita Neuroblastoma. Semoga dengan keteguhan hati, semangat dan perjuangan dari ibu Sulikah yang tak mengenal menyerah, adik kita Ariya dapat segera pulih kembali.

[/box]

Diserahkan dana donatur sebesar 750 ribu kepada ibu Sukinah. Belia telah menjanda dan hidup seorang diri karena tak memiliki anak. Untuk kebutuhan sehari-harinya mengharapkan pemberian dari tetangga sekitar. Rumah tinggalnya saat ini juga merupakan gotong royong penduduk. Dulu saat masih mudanya beliau adalah salah satu tokoh umat Buddha di desa Ngablak.
Dilakukan pembangunan sebuah gubuk senilai 2 juta rupiah untuk Mbah Kasumi (86 tahun). Ia tinggal sendirian di gubuknya yang sangat sederhana di desa Pakis Aji, Jepara. Almarhum Suami Mbah Kasumi dulu adalah salah seorang yang berjasa turut serta dalam mendirikan Vihara Manggala di desanya. Sampai saat ini diusia senjanya si Mbah tetap aktif mengikuti kegiatan di Vihara walaupun ia harus berjalan dengan tongkat. Mbah Kasumi sendiri memiliki dua orang putra, namun seorang telah meninggal dunia. Putra yang lainnya tinggal dirumah sendiri,namun juga dengan latar belakang kesulitan ekonomi karena berprofesi membantu di sawah milik orang lain. Untuk makan sehari-hari mbah kadang terpaksa berhutang di toko, nanti jika anaknya sudah memiliki uang baru dibayar. Kadang mbah juga mendapatkan bantuan makan sehari-hari dari para tetangganya.
Diserahkan dana donatur dalam bentuk tunai sebesar 1 juta, dan dalam bentuk sembako senilai 500 ribu, yang meliputi beras 10 kg,mie instant, minyak, susu,biskuit kepada Ibu Kamirah. Beliau pada saat masih sehat sangat aktif bersama suaminya di Vihara Amurwa Bhumi desa Tluwah. Semenjak suaminya meninggal, akhirnya ibu Kamirah memutuskan untuk tinggal bersama anaknya di kampung. Anak ibu Kamirah yang bernama Saman, mencari nafkah dengan menjadi petani mengolah sawah milik orang. Ibu Kamirah pada awalnya terkena stroke. Saat ini hanya diobati dengan pengobatan tradisional saja. Dijelaskan anaknya, karena selain tidak memiliki biaya untuk tranportasi membawa kerumah sakit, juga kondisi ibu yang dikhawatirkan bertambah parah apabila harus menempuh perjalanan yang melelahkan.

[box fontsize=”14″ radius=”10″]

Disalurkan dana donatur sebesar 2 juta rupiah untuk membeli bahan dan biaya tukang untuk memperbaiki dinding rumah dan atap dari rumah Mbok Muntartiah. Mbok sendiri merupakan istri dai (alm) romo Pandita Sutarjo, yang merupakan salah satu tokoh pendiri agama Buddha di desa Tanjung, Jepara khususnya Vihara Virya Manggala.

Dilakukan perbaikan untuk dinding kamar tidur dari rumah Mbok Muntartiah (67 tahun). Dinding kamarnya seperti nampak difoto telah lapuk dan berlobang-lobang, sehingga jika hujan maka akan basah dan malam hari udara dingin akan masuk.
Kondisi kamar tidur setelah dilakukan perbaikkan dengan mengganti beberapa tiang kayu yang lapuk. Dinding juga tidak lagi menggunakan bambu,namun digunakan papan kalsiboard agar dapat lebih awet.

[/box]

[box type=”info” bg=”#bad6b1″ fontsize=”14″ radius=”10″]

Disalurkan dana donatur sebesar 5 juta untuk 5 orang dalam bentuk tunai masing-masing 500 ribu, dan dalam bentuk sembako senilai 500 ribu kepada para umat Buddha Vihara Dhamma Agung yang berlokasi di Ringinagung, Ds. Pesanggaran, Kec. Pesanggaran, Banyuwangi.

Mbah Cikrak, seorang janda yang tinggal seorang diri. Saat ini kondisi mbah sakit-sakitan dikarenakan faktor usianya yang sudah sepuh.
Bapak Samiran, beliau menderita sakit mata karena terkena serpihan saat mengoperasikan mesin padi. Untuk kebutuhan sehari-hari ia mendapatkan kiriman bantuan dari keluarganya yang berada di Sulawesi. Sudah 4 tahun penglihatannya terganggu, sehingga tak dapat beraktivitas diluar rumah.
Bapak Sakri dan Ibu Supini, mewakili ibunya yang bernama mbah Giyem yang hanya terbaring saja karena menderita sakit tua. Keseharian mereka berdua bekerja sebagai buruh tani.
Bapak Suratno dan ibu Yul, mewakili dari mbak Narlik yang sedang melahirkan anak ke 2. Ekonomi mbak Narlik sangat kekurangan. Suaminya bekerja mencari bambu di hutan. Kadang juga menjadi buruh tani.
Bapak Judi dan Ibu Pariyem. Keseharian ibu Pariyem menjadi buruh di ladang, dan setiap minggunya membantu membersihkan di Vihara. Pak Judi menanam singkong dan pisang di lereng gunung.

[/box]

Diserahkan dana kepada Mbok Paejah,(65 tahun) seorang umat di Vihara Virya Manggala, Desa Tanjung,Pakis Aji, Jepara. Beliau tinggal sweorang diri, dan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh tani. Dikenal dilingkungannya sebagai seorang yang baik hati dan suka membantu tetangganya. Aktif dan selalu membantu kegiatan di Viharanya.

[box type=”tip” fontsize=”14″ radius=”10″]

Disalurkan dana donatur sebesar 6 juta untuk 12 orang, masing-masing menerima tunai sebesar 300 ribu dan dalam bentuk sembako senilai 200 ribu kepada penduduk di desa Mareje, Kabupaten Lombok Barat. Rata-rata penduduk tersebut melakukan kegiatan kerohanian di Vihara Tendaun Girisena. Didesa Mareje sendiri terdapat beberapa Vihara, Jumlah Umat Buddha didesa ini diperkirakan sekitar 1500 KK.

Inaq Jumenahh, tinggal bersama 2 orang cucunya yang ditinggal orang tuanya entah kemana. Untuk menghidupi cucunya ia bekerja sebagai buruh tani. / Inaq Rijang, 56 tahun. Sehari-hari mencari nafkah sebagai pedagang sayur keliling. Ia hidup sebatang kara di gubuk bambunya./ Amak Kecah, berusia 75 tahun. Merupakan tokoh adat dan masyarakat yang dihormati di kampungnya. Saat ini juga dalam kondisi sakit-sakitan.
Inakk Riati, suaminya meninggal setahun lalu. Saat ini hidup seorang diri tanpa keluarga, dan sering sakit-sakitan. / Papuk Mahyuni, berusia 60 tahun. Kondisi sakit-sakitan. Untuk makan sehari-hari diberi oleh para tetangganya. / Inakk Sadenahh, bekerja mengembala sapi. Hidup seorang diri dan juga kondisi kesehatan lagi sakit.
Papuk Kandik, janda yang tinggal seorang diri tanpa anak. Sekarang kondisi lagi sakit-sakitan / Papuk Sedah, berusia 75 tahun. Bekerja menganyam Nilon Jaring ayam. Tinggal seorang diri. / Papuk Senahh, 74 tahun. Janda hidup seorang diri dan juga dalam kondisi sakit.
Papuk Atrahh, berusia 70 tahun. Hidup seorang diri,karena suaminya meninggal 30 tahun lalu. Ia juga tak memiliki anak. Sehari-hari memncari rumput untuk makanan ternak para tetangganya.Penghasilan tak menentu,sesuai keiklasan yang memberi. Saat ini sakit-sakitan dan encok di kakinya. / Inak Katun, berusia 58 tahun. Ia bekerja sebagai buruh tani. Hidup seorang diri. / Amaq Jumilah, hidup seorang diri karena istri telah meninggal. Sehari-hari bekerja mengembalakan sapi milik para tetangga.

[/box]

[box type=”info” fontsize=”14″ radius=”10″]

Disalurkan dana donatur sebesar 8 juta untuk 10 orang penduduk di desa Tanjung, Pakis Aji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Rata-rata penduduk tersebut melakukan kegiatan kerohanian di Vihara Virya Manggala dan Vihara Muryantoro.  Didesa ini sendiri ada lebih 150 Kepala keluarga yang beragama Buddha. Rata-rata berprofesi sebagai buruh tani atau tukang kayu dengan penghasilan rata-rata 400 ribu/bulannya. Masing masing orang mendapatkan uang tunai sebesar 500 ribu, dan sembako senilai 300 ribu yang meliputi beras,gula,minyak,mie instant, biskuit, kopi, sabun,kecap dan detergen.

Mbok Kasumi, lahir tahun 1929, sekarang berusia 87 tahun. Ia tinggal sendirian di gubuknya yang sudah sangat rapuh. Masih aktif datang ke Vihara Virya Manggala setiap ada kegiatan.
Mbok Muntar, sekarang berusia 67 tahun. Beliau juga tinggal seorang diri. Aktif membantu di Vihara.
Mbok kasemu, sekarang berusia 74 tahun. Beliau tinggal seorang diri, dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia bekerja sebagai buruh tani. Juga aktif di vihara Virya manggala.
Mbah Warsono, berusia 80 tahun. tinggal berdua dengan istrinya. Mbah mengalami kepikunan, demikian juga dengan istrinya. Dahulunya suami istri ini aktif ke Vihara, namun karena kondisi kesehatan membuat mereka jarang mengikuti kegiatan.
Mbok Sarminah, berusia 68 tahun. Beliau tinggal seorang diri, masih aktif bekerja sebagai penggembala sapi milik tetangganya. Beliau juga rajin membantu di Vihara.
Mbah Parwan, berusia 78 tahun. Tinggal seorang diri. Demi memenuhi kebutuhan hidup, beliau masih bekerja sebagai buruh tani.
Mbok Kibah yang lahir tahun 1918, berarti saat ini berusia 99 tahun. Hidup seorang diri di rumahnya yang sangat sederhana. Untuk makan sehari-hari ia mengharapkan pemberian dari para tetangganya. dahulunya aktif di Vihara Virya Manggala, namun karena usia dan sulit untuk berjalan, ia tak pernah datang ke Vihara lagi.
Mbok Tinah, berusia lebih kurang 75 tahun. Tinggal di lembah lereng gunung Muria. Tahun lalu rumahnya terkena longsor, dan sampai saat ini masih belum diperbaiki. Beliau tinggal seorang diri, dan aktif sebagai umat di Vihara Muryantoro, Jepara.
Mbok Sugimah, umur 68 tahun. Tinggal di lereng gunung Muria. Beliau tinggal di gubuk yang dibangun swadaya umat Buddha Vihara Muryantoro. Baru-baru ini ia mengalami musibah kecurian uang sebesar 400 ribu dan gelang warisan orang tuanya. Posisi rumahnya juga agak terpencil dan jauh dari pemukiman warga. Saat ini sering sakit-sakitan, untuk makan sehari-hari mengharapkan bantuan dari warga sekitarnya.

[/box]

[box fontsize=”14″ radius=”10″]

Diserahkan dana donatur kepada 4 orang umat Buddha dari Vihara Setti Dhamma yang berlokasi di desa Kenteng Kecamatan Susukan, Semarang. Masing-masing mendapatkan bantuan tunai sebesar 500 ribu rupiah.

1. Mbah Ngatinem, ia berprofesi sebagai buruh tani. Tinggal berdua dengan kerabatnya yang juga sudah sepuh dan hanya terbaring di ranjang saja. / 2. Mbah Ginem, tinggal di dukuh Tgal Sari desa Kenteng. Ia sendiri tak bekerja, suaminya baru meninggal beberapa hari yang lalu./ 3. Mbah Reban, tinggal di dukuh Tegal sari. Hidup berdua dengan suaminya. Untuk membiayai hidup mereka membuat anyaman bambu.
4. Bapak Pawiro Basri (77 tahun), tinggal berdua dengan istrinya.Merupakan umat yang aktif mengikuti puja bakti ataupun kegiatan anjangsana. Ia bekerja sebagai buruh tani. Saat ini karena kondisi kesehatan yang makin menurun mengakibatkan ia jarang bekerja.

[/box]

Diserahkan dana donatur sebesar 500 ribu, berupa uang tunai sebesar 200 ribu, dan sembako senilai 300 ribu yang meliputi beras,kopi, gula,minyak, biskuit, sandal. Kepada Inaq Gacin yang hidup seorang diri di rumah sederhananya yang lapuk dimakan usia. Ia saat ini menderita katarak, dan fungsi penglihatannya sudah sangat minim. Inaq sendiri aktif di Vihara Tendaun Girisena, Lombok.
Diserahkan dana donatur sebesar 500 ribu, berupa uang tunai sebesar 200 ribu, dan sembako senilai 300 ribu yang meliputi beras,kopi, gula,minyak, biskuit, sandal. Kepada Amaq Nembah, tercatat sebagai umat di Vihara Tendaun Girisena, Lombok. Beliau telah hidup seorang diri selama 15 tahun disebuah rumah bambu sederhana. Saat ini sering sakit-sakitan, sehingga jarang dapat bekerja sebagai buruh tani.
Diserahkan dana donatur sebesar 500 ribu, berupa uang tunai sebesar 200 ribu, dan sembako senilai 300 ribu yang meliputi beras,kopi, gula,minyak, biskuit, sandal. Kepada Papuk Dompol yang berusia 90 tahun. Beliau hidup sebatang kara di gubuknya yang berdinding terpal dan bambu yang sudah lapuk. Beliau tercatat sebagai umat di Vihara Tendaun Girisena, Lombok.
Diserahkan dana sebesar 500 ribu kepada Mbah Kaliyuk seorang umat di Vihara Weningsari. Berusia 87 tahun. Walaupun badan sudah bongkok, namun si mbah selalu berusaha untuk datang mengikuti kegiatan di Vihara / Diserahkan dana kepada Mbah Ngatinem sebesar 500 ribu, janda berusia 85 tahun. Diusia senjanya masih bekerja sebagai buruh tani. Umat yang aktif di Vihara Damar Suci, Sampetan.
Diserahkan dana donatur sebesar 2 juta dalam bentuk tunai dan 300 ribu dalam bentuk sembako kepada Ibu Klijah (53 tahun) berdomisili di Desa Kemiri Getas ,Kaloran Temanggung. Ia menderita kanker payudara stadium lanjut, hingga payudaranya sudah infeksi dan tak berbentuk serta mengeluarkan bau tak sedap. Selama ini hanya menjalani pengobatan tradisional saja dan tidak ditangani secara medis karena terkendala biaya. Ibu Klijah sebelum menderita sakit kanker payudara sangat aktif mengikuti puja bakti dan kegiatan di Vihara Avalokitesvara Desa Kaloran Temanggung. Saat ini ia tinggal bersama suaminya yang hanya dapat bekerja sebagai buruh tani. Suami ibu Klijah juga menderita cacat pada bagian kakinya semenjak lahir, dan sering juga sakit-sakitan. Ibu Klijah memiliki 4 anak, dua diantaranya sudah bekeluarga dan juga dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Satu anak merantau bekerja ke Jakarta, dan satu lagi masih duduk di kelas 2 SMP. Kebutuhan mendesak saat ini adalah dapat melanjutkan pengobatan tradisionalnya, dan jika memungkinkan dapat pergi kerumah sakit di kota untuk memeriksakan dirinya.
Diserahkan dana donatur sebesar 500 ribu dalam bentuk tunai dan 300 ribu dalam bentuk sembako kepada Bapak Suparman Karto Waluyo (70 tahun),yang berdomisili di RT 02 RW 05,Sembong,Kelurahan Gandon, Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung. Beliau sejak kurang lebih 3 tahun ini terkena serangan stroke sehingga beliau susah berjalan dan berbicara. Setelah beliau terkena serangan stroke, istrinya yang bernama Ibu Rumini yang menjadi tulang punggung keluarga. Selain menjadi buruh tani, Ibu Rumini juga berjualan makanan kecil saat didaerah sekitarnya ada pertunjukan seni. Pak Suparman memiliki 4, orang anak semua sudah menikah tapi juga mempunyai kondisi ekonomi yang pas-pasan. Anak yang ketiga tinggal bersama pak Suparman tetapi anaknya juga memiliki kelainan fisik pada pundaknya sehingga dia bekerja jadi tukang batu split yg lakunya jika ada orang membutuhkan saja kadang sebulan hanya laku 2 kubik, Perkubiknya dihargai sekitar 200 rb. Pada tanggal 6 april 2017 lalu rumah pak Suparman yang berada di dekat bantaran sungai terkena longsor sehingga rumahnya sebagian rusak. Namun meski dalam keadaan yang kurang beliau selalu aktif di Vihara Avalokitesvara dusun Sembong,walaupun dengan keterbatasan jalannya yang tertatih tatih.
Diserahkan dana donatur sebesar 500 ribu dalam bentuk tunai dan 300 ribu dalam bentuk sembako kepada Bpk Ramidi (68 tahun)  tinggal di Nglarangan RT03 RW01 Getas,Kaloran  Temanggung. Beliau adalah seorang tokoh agama Buddha di Vihara Dhamma Gayasih Nglarangan. Saat ini beliau terkena penyakit gatal-gatal diseluruh badannya dan juga menderita pikun sudah hampir 6 tahun.Sekarang tinggal dengan anaknya yang kondisi ekonominya juga pas-pasan, yang pekerjaannya hanya seorang petani yang penghasilannya kurang lebih hanya 750.000 setiap bulannya. Penyakit gatal Bapak Ramidi ini hanya diobati secara tradisional karena kondisi ekonominya,karena tidak ada perawatan secara medis gatalnya kadang menimbulkan bau anyir.
Diserahkan dana donatur sebesar 500 ribu dalam bentuk tunai dan 300 ribu dalam bentuk sembako kepada Ibu Kartini (65 tahun) dan suaminya Bapak Moyong. Mereka hanya tinggal berdua saja, karena kedua anaknya ikut transmigrasi ke Maluku Utara. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka membantu pada sawah milik tetangga. Suami istri ini aktif beribada di Vihara Dhamma Susila, Temanggung.
Diserahkan dana donatur sebesar 500 ribu dalam bentuk tunai dan 300 ribu dalam bentuk sembako kepada Ibu Rusni (78 tahun) dan suaminya Bapak Subari (80 tahun). Mereka tinggal di desa Kemiri, Getas dan aktif mengikuti puja bakti di Vihara Dhamma Susila Kemiri. Memiliki 9 orang anak yang sudah bekeluarga, juga dengan ekonomi pas-pasan. Mereka berdua tinggal dengan anak yang ke-9. Anaknya tersebut saat ini merantau ke Semarang untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Meski sudah lanjut usia kedua suami istri masih keladang untuk mencari kayu bakar. Bapak Subari juga sering sakit-sakitan karena kondisi usianya.
Diserahkan dana tunai sebesar 1 juta rupiah, dan dalam bentuk sembako senilai 500 ribu kepada Ibu Sugiyem, Ibu Sugiyem baru memeluk agama Buddha semenjak menikah dengan bapak Kayun. Ibu Sugiyem dulunya bekerja menjual kacang rebus di setiap ada orang hajatan dan suaminya bekerja sebagai kuli bangunan. Beliau memiliki 5 orang anak, 3 perempuan dan 2 laki-laki. Dua anaknya tidak lulus SMP. Anak ke-3 bernama Tri mempunyai tekat ia harus sekolah, sehingga Tri setiap pulang sekolah bekerja menyetrika baju di rumah tetangga untuk membiayai sekolah. Lulus SMA Tri bertekat ingin kuliah tapi orang tua tidak ada biaya, saat itu YM Bhante Santamano memberi nasehat agar Tri kuliah di STAB KERTARAJASA menjadi Athasilani, tak berpikir panjang Tri pun langsung ke malang untuk kuliah disana selama 4 tahun. Anak ke 4 ibu Sugiyem bernama Sari juga mempunyai tekat ingin sekolah, sehingga setiap pulang sekolah Sari bekerja di tukang bakso, hingga lulus SMA dan kuliah di STMIK DHARMAWACANA METRO dengan biaya sendiri dan mendapat beasiswa dari kampus. Saat skripsi dan akan wisuda Sari membutuhkan dana kurang lebih 6 juta, saat itu Tri mengajukan ke Ehipassiko agar dapat membantu dan hasilnya Sari lulus sarjana. Dan sekarang ibu Sugiyem tidak bekerja menjual kacang lagi melainkan mengupas singkong produksi klanting. Anak pertama sudah menikah mempunyai anak 3 tapi terkadang masih minta orang tua, anak ke-2 bekerja sebagai tukang bangunan,  anak ke-3 bekerja mengajar agama Buddha di SD dengan  honor 350 ribu per tiga bulan, dan mengajar di SMP hanya pengabdian saja. Anak ke-4 ikut suaminya bekerja di Kalimantan. Anak ke-5 sekarang duduk di bangku sma kelas 1. Sekarang ibu Sugiyem  harus membiayai sekolah putranya dan biaya kebutuhan hidup dirumahnya sebanyak 6 orang dengan 1 cucu.

[box type=”tip” fontsize=”14″ radius=”10″]

Diserahkan dana bantuan donatur kepada 10 orang umat Buddha yang aktif mengikuti kegiatan puja bakti di Vihara Buddha Dipa,  Gantimulyo 37b, Kecamatan Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur. Vihara ini sendiri memiliki umat yang cukup banyak lebih kurang sekitar 60 Kepala Keluarga. Kabupaten Lampung Timur adalah bagian dari provinsi Lampung (Sang Bhumei Ruwai Jurai). Salah satu yang menarik dari Kabupaten Lampung Timur adalah adanya tempat Pelatihan Gajah, Way Kambas.  Umat Buddha di vihara ini berprofesi sebagai petani, peternak dan merupakan sentra kelanting yang terkenal di seluruh provinsi Lampung. Klanting adalah salah satu camilan tradisional Jawa. Klanting terbuat dari tepung jagung, menjadikan tekstur makanan ini seperti karet mirip agar-agar. Warna klanting dapat bermacam-macam, termasuk merah dan hijau. Makanan ini sebenarnya hambar, dan secara tradisional dibubuhi parutan kelapa dan gula merah. Total dana yang disalurkan untuk 10 orang ini adalah sebesar 8 juta, pemberian uang tunai sebesar masing-masing 500 ribu dan dalam bentuk sembako senilai 300 ribu per orang.

1. Bapak Suhadi, beliau duda dan tinggal sendiri di rumah. Tidak bekerja lagi. Aktif membantu di Vihara setiap ada kegiatan. / 2. Ibu Lina, hanya sebagai ibu rumah tangga. Suaminya awalnya bekerja mencetak batu bata. Namun semenjak menderita sakit hernia, otomatis tidak dapat bekerja lagi. Ia memiliki 2 orang anak, dan anak bungsunya menderita sakit flek pada paru-parunya.
3. Ibu Nurhayati, bekerja sebagai wiwir klanting. Ia menderita penyakit asma menahun. Suaminya tidak bekerja sehabis menjalani operasi usus. Ibu Nurhayati menjadi tulang punggung keluarga untuk membiayai kebutuhan anaknya yang masih duduk kelas 2 SMP. / 4. Mbah Supri, bekerja sebagai wiwir klanting, suaminya juga tidak bekerja karena menderita sakit prostat. Memiliki 1 anak yang mengalami masalah mental. Mbah aktif di vihara dan kegiatan anjangsana kerumah umat.
5. Mbah Welas, seorang janda. Tinggal bersama anaknya yang juga susah ekonominya. Mbah bekerja sebagai di peternakan kambing. / 6. Ibu Rum, bekerja sebagai wiwir klanting. Suaminya bekerja sebagai tukang belah kayu. Memiliki 2 orang putri, yang pertama telah bekeluarga, dan yang bungsu menjalani kehidupan Atthasilani.
7. Ibu Suliyah, bekerja sebagai penjual sayur keliling. Suaminya berprofesi sebagai buruh tani. / 8. Ibu Sulami, bekerja sebagai tukang mencari buah sawo atau pisang yang dapat dijual. Suaminya juga tidak bekerja sehabis operasi hernia. Memiliki seorang putri yang masih duduk di bangku kelas 2 SD.
9. Mbah Harjo, seorang janda yang tinggal sendirian. Saat ini tidak bekerja. / 10. Mbah Sam, seorang janda yang tinggal bersama putranya. Semua putranya telah beralih keyakinan. Hanya mbah sendiri yang tetap teguh mempertahankan ajaran Buddha sebagai pedoman hidupnya. Mbah sendiri bekerja menjadi buruh tani.

[/box]

Diserahkan dana donatur kepada 3 orang umat Buddha Vihara Dhamma Loka yang beralamat di dukuh Garon, Desa candi Kecamatan Sumowono, Semarang – Jawa Tengah. Masing -masing menerima sebesar 500 ribu rupiah. Adapun penerima adalah Mbah Gini (80 tahun), Mbah Tukirah (86 tahun), dan mbah Sarni (75tahun). Mereka adalah para janda yang hidup sendiri, tanpa pekerjaan dan keluarga.

[box type=”error” fontsize=”14″ radius=”10″]

Disalurkan dana donatur kepada 7 orang umat Vihara Tendaun Giri Sena masing masing sebesar 300 ribu tunai, dan 200 ribu dalam bentuk sembako. Mereka rata-rata adalah janda dan tak memiliki sanak keluarga. Tinggal di gubuk yang sangat sederhana. Pekerjaan mereka adalah buruh tani atau menggembala ternak.

[/box]

[box type=”note” fontsize=”14″ radius=”10″]

Diserahkan bantuan donatur sebesar 500 ribu kepada mbah Kai, yang beralamat di mungsari sampetan. Kecamatan Ampel.Diusia senjanya beliau tinggal seorang diri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup ia bekerja sebagai tukang pecah batu koral. Mbah sendiri aktif melakukan puja bakti di Vihara Damar Suci.

[/box]

[box type=”info” fontsize=”14″ radius=”10″]

Diserahakan dana berupa uang tunai sebesar 500 ribu, dan dalam bentuk sembako senilai 500 ribu kepada mbah Patrinem yang aktif mengikuti puja bakti di Vihara Buddha Gantimulyo kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur. Ibu Patrinem sekarang hanya tinggal dirumah saja karena kondisi usia, dan sering sakit-sakitan. Ia juga sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit.

[/box]

Diserahkan bantuan donatur berupa uang tunai sebesar 500 ribu, dan sembako senilai 500 ribu meliputi beras, telur, bumbu dapur, dan kue serta biskuit untuk merayakan Waisak kepada mbah Po yang berdomisili di daerah Tritisan, Lampung. Ia sehari-hari bekerja sebagai pengupas singkong. Aktif mengikuti kegiatan puja bakti di Vihara Buddha Dipa. Semoga Waisak kali ini dapat dirayakan oleh mbah dengan penuh kebahagiaan.

Berikut ini adalah nama harum para dermawan yang telah berkontribusi pada kegiatan berbagi kasih Waisak 2560 yang dikoordinir oleh segenggamdaun.com.

Semoga dengan  dana yang diberikan dengan keyakinan dimanapun juga, dapat segera terkondisi berupa kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang berlimpah; elok dipandang, tampan/cantik, bagaikan keindahan bunga teratai yang mengagumkan.

“Di dunia ini ia berbahagia, di dunia sana ia berbahagia; pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia itu, ia akan berbahagia ketika berpikir, ‘aku telah berbuat kebajikan’, dan ia akan lebih berbahagia lagi ketika berada di alam bahagia.” (Dhammapada, 18).

[box type=”note” fontsize=”20″]Total Dana Sementara per 10 Mei pukul 10.00 : Rp. 103.720.437,-

Total Dana Yang telah Disalurkan sekitar Rp. 96.500.000,- (bukti terlampir berdasarkan dokumentasi diatas)

[/box]

Vinkmag ad
Apakah Anda Menyukai Artikel Ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Read Previous

Laporan Penerimaan & Penggunaan Dana – Bp. Djap Nam Fon

Read Next

DOKUMENTASI Penyerahan Bantuan & Nama Donatur Berbagi Kebahagiaan WAISAK 2562

Leave a Reply

Your email address will not be published.